Married By Incident

Married By Incident
Pulang



Pagi hari di tempat tinggal kakek Baskara, semua anggota keluarga berkumpul di teras belakang rumah. Zidan dan Vian berlarian di halaman, diawasi oleh maid di rumah itu. Sedangkan Baskara sedang berbicara dengan Yudha dan Dev di kursi panjang yang ada di teras.


"Kek, besok kita harus sudah balik ke Indonesia." tiba-tiba Yudha membicarakan kepulangan kembali ke Indonesia, yang membuat Baskara terkejut.


Hari-hari sebelumnya jika dia menanyakan pada cucunya kapan akan balik, selalu dijawab masih ingin menikmati suasana di New Zealand. Tetapi saat pagi hari menikmati teh bersama, Yudha membicarakan esok hari akan balik. Dev juga ikut terkejut, tetapi dengan cepat dia menyesuaikan dirinya.


"Maksudmu apa Yud? Baru semalam, kakek tanya kapan akan balik. Kamu menjawab belum terpikir. Sekarang kamu bilang jika besok pagi sudah akan kembali."


Baskara menanyakan kalimat yang baru saja disampaikan cucunya itu. Jika besok pagi keluarga cucunya akan balik ke Indonesia, dia merasa belum menyiapkan hatinya.


"Pratama akan menikah, rencana besok pagi dia akan menikah. Tetapi Yudha bisa memintanya untuk mengundur satu hari dari jadwal yang sudah mereka tentukan. Syukurnya Tama dan istrinya tidak masalah."


"Pratama menikah? Dengan siapa Dad kira-kira?" Dev bertanya seakan pingin tahu.


Yudha menoleh ke arah Dev, dia agak curiga kenapa istrinya menjadi sangat kepo dengan berita pernikahan ini. Menyadari suaminya termasuk posesif, Dev tersenyum kemudian Memeluk suaminya itu.


"Aduh, aduh suami Mommy. Jangan begitu dong tatapannya, wajar kan kalau Mommy bertanya seperti itu pada Daddy."


"Pratama itu kan sangat besar jasanya untuk keluarga kita Dadd. Mommy menganggap dia sudah seperti Saudara, swear." kata Dev sambil mengacungkan dua jari ke depan suaminya.


Melihat sifat Posesif Yudha, Baskara hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Kalau begitu, kakek juga harus pulang. Pratama sudah kakek anggap seperti cucu sendiri. Dari jaman ayahnya, mereka sudah banyak membantu keluarga kita. Kapan rencana pulang ke Indonesia Yudh, biar maid menyiapkan perlengkapan kakek."


"Benar kek? Dev seneng sekali mendengar jika kakek akan bareng kita pulang ke Indonesia."


"Iya benar, dulu kakek sudah ditinggal cucu kakek menikah. Masak sekarang harus ditinggal lagi oleh cucu satunya lagi." kata Baskara tersenyum seakan menyindir Dev dan Yudha.


"Besok pagi saja kita pulang. Hari ini Pratama baru mengurus perijinan ke kantor imigrasi, agar kita bisa pulang dengan jet pribadi. Lebih cepat kita sampai ke kota kita."


"Zidan dan Vian akan sangat bahagia, karena opa buyutnya ikut pulang. Mereka akan punya teman bermain di rumah." sahut Dev.


Baskara tersenyum, kemudian mereka melanjutkan acara minum teh bersama. Pancake dengan lelehan saos maple menjadi teman untuk kudapan mereka di pagi ini.


"Opa.., mari kita ke kebun. Zidan mau petik buah lagi." terdengar suara Zidan memanggil Baskara untuk datang.


Mereka segera menengok ke si kembar, terlihat Zidan sedang berlari sambil memanggil opa buyutnya. Baskara segera meletakkan cangkir tehnya, kemudian turun ke halaman untuk mencegat Zidan."


"What does my great-grandson want this morning?" tanya Baskara pada Zidan. Dia memegang tangan buyutnya itu.


"Zidan wants to pick fruit in the garden. Come with us"


"Okay, come on...,"


Zidan menggandeng tangan jaket buyutnya dan mengajaknya menuju ke arah kebun. Vian berjalan tenang di belakang mengikuti mereka berdua. Melihat si twins sudah bersama dengan kakek buyutnya, maid meminta ijin untuk masuk ke dalam rumah.


Dev tersenyum melihat kedekatan putra-putranya dengan buyutnya. Dia menyandarkan kepalanya di pundak suaminya, dan Yudha seperti biasa selalu memanfaatkan kesempatan itu. Dia memberi kecupan manis di kening istrinya. Tanpa disangka Dev, tiba-tiba Yudha sudah mengangkatnya dan membawanya ke dalam kamar.


Dev tersenyum malu, kemudian menengok anak-anak dan kakek Baskara, Untungnya mereka sudah tidak terlihat. Akhirnya dia menggantungkan kedua tangannya di leher suaminya, dan dengan berani memberikan kecupan dan gigitan di dada Yudha. Yudha tersentak melihat keberanian istrinya, dan dengan tersenyum langsung meletakkan istrinya di sofa dalam kamar.


"Kenapa tidak di atas bed sayang?"


"Daddy ingin menikmati sensasi di atas sofa ini." bisik Yudha lembut.


Akhirnya mereka berdua memanfaatkan kesempatan dengan beradu di atas Sofa.


*************************


Keesokan harinya, mereka berlima jadi akan pulang ke Indonesia. Dalam waktu singkat, Pratama sudah mendapatkan ijin dari kantor imigrasi untuk menerbangkan jet pribadi dari Auckland ke kota mereka di Yogyakarta. Maid sangat kehilangan Zidan dan Vian, dia mencium dan memeluk erat mereka berdua sambil meneteskan air mata.


Baskara meninggalkan pesan untuk maid, dan meminta maid untuk mengajak saudaranya untuk menempati rumah itu. Karena Baskara menyampaikan, bahawa dia belum tahu kapan akan kembali ke negara itu. Dev tersenyum melihat kedekatan mereka, akhirnya dengan diantarkan driver mereka menuju ke bandara.


"Semua duduk dulu disini, Daddy akan mengurus administrasi terlebih dahulu."


Yudha meminta Dev dan si twins untuk duduk menunggu dia mengurus administrasi.


"Ayo kakek temani biar cepat urusannya." akhirnya Yudha dan Baskara berdua mengurus administrasi mereka.


Setelah Yudha mengutus administrasi penerbangan, akhirnya mereka sudah berada di dalam pesawat jet pribadi. Zidan dan Vian duduk diapit Baskara, di bagian belakang. Sedangkan Yudha dan Dev duduk di bagian depan. Karena membawa anak kecil, banyak Snack sudah disiapkan oleh pramugari yang ikut mendampingi penerbangan mereka.


Hampir sehari semalam, karena pesawat transit untuk mereka istirahat dan mencari makan, akhirnya mereka sudah sampai di bandara YIA.


"Mommy...., Zidan capai, sakit-sakit badannya." dengan manja Zidan berbicara dengan Dev.


Dev langsung mengangkat tubuh putranya itu, kemudian menggendongnya.


"Sabar ya sayang, putra mommy kuat, besok pagi Mommy panggil tukang pijat okay."


Zidan meletakkan kepalanya di atas pundak Dev. Yudha menghampiri mereka, dan bermaksud untuk meminta Zidan untuk dia gendong. Tapi Dev melambaikan tangannya untuk menghentikan Yudha.


Yudha melihat ke putranya yang satu, dan langsung mengangkatnya.Tetapi Vian minta turun, mau berjalan sendiri.


"No Daddy. Vian is a strong boy. Vian will walk alone." mendengar jawaban Vian, Baskara tersenyum kemudian menggandeng Vian.


Di depan pintu kedatangan, terlihat Pratama dan Mijan sudah menyambut kedatangan mereka.


"Hi boys...,kalian menikmati perjalanan kalian ke New Zealand?" Pratama menyapa si twins.


"Of course, uncle." Vian langsung melakukan tos dengan Pratama.


Yudha tersenyum melihat kedekatan Pratama dengan Vian. Mereka sering terlihat mengobrol bersama jika Pratama pas datang ke rumah. Kemudian mereka pulang dengan Pratama, sedangkan Mijan mengurus dan membawa pulang perlengkapan mereka.


*********************