Married By Incident

Married By Incident
Kedatangan



Pada hari Sabtu jam dua sore akhirnya Dev dan Yudha berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan Donna dan Andre, dengan menggunakan jet pribadi. Mereka turun di bandara Halim Perdanakusuma, karena semua pesawat kecil, Carter, pribadi dikhususkan untuk take off dan landing melalui bandara ini.


Acara pernikahan Andre dan Donna sendiri diadakan di Jakarta Convention Center pada pukul tujuh malam. Untuk menjaga agar istrinya tidak kelelahan, Yudha bermaksud untuk mengajak Dev beristirahat terlebih dulu di the Sul*** Hotel and Resort, yang berjarak 300 meter dari lokasi pernikahan.


"Sayang kita makan dulu ya, aku sudah lapar lagi. Itu di depan ada restoran yang menjual sop buntut. Sepertinya enak." kata Dev sambil menunjuk restoran yang menyajikan sop buntut di depan bandara.


"Yakin, mau makan disitu. Kita tidak keluar dulu saja dari bandara. Kita makan di tempat lain." kata Yudha merasa agak ilfill melihat restoran kecil dengan banyaknya orang yang berdiri untuk mengantri.


"Makan itu dulu, aku pingin, keburu laper juga." rengek Dev pada suaminya.


Yudha melirik istrinya yang tidak dapat ditunda jika menginginkan sesuatu.


"Sudah lapar lagi ya nak, aduh kasihan putra Daddy kelaparan di dalam," jawab Yudha sambil mengusap perut Dev.


Yudha kemudian menggandeng Dev menyebrangi jalan. Setelah mendapatkan tempat duduk, Yudha segera meminta Dev untuk istirahat.


"Istirahatlah, biar aku yang pesan. Selain sop buntut, pingin makan apa lagi " tanya Yudha.


"Tempe saja kalau ada, sama kerupuk, minumnya biasa teh manis panas." kata Dev.


Yudha segera antri di barisan pemesanan. Dia yang biasanya dilayani dan disediakan, saat ini dia rela melakukan antri dan menunggu demi istrinya. Sebenarnya Pratama bermaksud untuk mengawalnya, tetapi Dev ingin mereka seperti orang-orang kebanyakan, yang bebas kemana-mana tanpa ribet.


Setelah menunggu 30 menit akhirnya Yudha berhasil membawa dua porsi sop.buntut, nasi, tempe dan dua gelas teh manis panas


"Kok minumnya teh panas juga sayang." tanya Dev


"Malas nunggu lagi, yang ready langsung bawa hanya teh panas. Ayo segera makannya, nanti kalau masih lapar di hotel kita cari makanan yang lebih bergizi."


Yudha sangat senang memperhatikan istrinya yang sedang menikmati sop buntut dengan sangat lahap. Beberapa kali Yudha mengambil daging dari mangkuknya, dan menambahkan di mangkok Dev.


"Kenapa dagingnya ditaruh semua di mangkokku? Sayang, kamu tidak makan..., " tanya Dev heran.


"Aku masih kenyang, nanti saja makan kalau sudah sampai di hotel." jawab Yudha sambil mengambil satu tempe goreng.


Setelah selesai makan, dan merasa cukup beristirahat, Yudha terlihat sedang memanggil seseorang lewat panggilan telepon.


"Putar balik lagi, tunggu di depan terminal keberangkatan." kata Yudha tegas.


Setelah lima menit, Yudha melambaikan tangan pada seseorang yang berada di dalam mobil, kemudian menghampiri Dev. Orang tersebut kemudian mengarahkan mobilnya ke depan restoran sop Buntut. Dengan sopan pengemudi turun, dan segera membukakan pintu mobil.


"Sudah," tanya Yudha dengan tatapan hangat.


Dev menganggukkan kepala, kemudian dengan hati-hati Yudha memegangi pundak Dev dan membantunya berdiri. Setelah melihat istrinya berdiri dengan imbang, Yudha membantunya untuk masuk ke dalam mobil.


"Man...,Langsung hotel," kata Yudha memerintahkan sopir yang bernama Maman untuk menuju hotel.


"Siap Tuan, mungkin kita akan terkendala kemacetan di jalan. Tuan dan Nyonya bisa istirahat dulu." kata Maman.


"Mau tidur dulu," kata Yudha pada Dev


"Belum mengantuk, tadi di pesawat sudah tidur sebentar." jawab Dev sambil melihat kemacetan jalan menuju Jl. Gatot Subroto.


"Kira-kira berapa lama perjalanannya Man."


Setelah hampir satu jam, Maman menghentikan mobil di lobby The ***tan Hotel & Resort. Maman bergegas keluar untuk membukakan pintu Yudha, kemudian mengambil barang dari bagasi dan membawanya ke dalam.


"Tuan dan Nyonya tunggu sebentar disini, saya ambilkan kunci kamar dulu." kata Maman meminta Yudha dan Dev untuk duduk di lounge.


Tidak berapa lama, Maman sudah membawakan kunci kamar.


"Man..., kamu Istirahat saja, barang saya bawa sendiri saja ke kamar. Pastikan pukul 18.30 kamu sudah standby di hotel ya."


"Baik Tuan, Permisi." Maman kemudian keluar meninggalkan lobby.


Yudha segera mengajak Dev ke kamar yang berada di lantai lima.


******


Sementara itu di hotel yang sama, pada kamar 707 terlihat Bukman baru selesai mandi, kemudian menghampiri Tiara yang sedang duduk menghadap jendela.


"Bang.., apa kamu yakin untuk membawaku ke acara pesta pernikahan nanti malam." tanya Tiara.


"Ya yakinlah..., untuk apa jauh-jauh kamu menemani aku hanya untuk bersembunyi di dalam kamar. Sekalian kamu akan kukenalkan pada relasi-relasi." jawab Bukman sambil meletakkan dagunya di pundak Tiara.


"Apakah kamu tidak khawatir, jika dari relasimu ada yang tahu bahwa aku bukan Istrimu."


"Tenanglah cepat atau lambat aku akan segera menikahimu." sahut Bukman sambil tangannya bergerilya di tubuh Tiara.


"Aku malahan yang khawatir, jika nanti disana kakak tiriku hadir dan dia mengenaliku. Bisa-bisa aku dicoret beneran dari daftar ahli waris papa." kata Tiara.


"Kakak tirimu sekarang baru hamil, dan pengantin laki-laki adalah mantan pacarnya. Tidak mungkin suaminya akan mengijinkan dia hadir." sahut Bukman meyakinkan Tiara.


"Di kantor saja, suaminya menugaskan tiga bodyguard untuk mengawasi keamanannya, aku yakin dia tidak akan membiarkannya untuk menghadiri pesta seorang diri."


"Lepaskan tanganmu bang, aku mau gantian mandi." kata Tiara yang jengah dengan tangan Bukman yang sudah masuk kemana-mana.


"Mandi saja nanti sekalian, sekarang kita bersama-sama dulu," jawab Bukman sambil membaringkan tubuh Tiara di ranjang kemudian menindihnya.


*****


"Sudah siap, kalau sudah kita berangkat lebih awal agar tidak berdesakan di buku tamu" kata Yudha.


"Sepertinya undangan yang diberikan Donna untukku VIP, jadi kita tidak melalui antrian bareng tamu-tamu yang lain."


"Syukurlah kalau begitu."


Mereka segera turun ke lantai 1 untuk mencari Maman, dan ternyata Maman sudah siap menunggu dengan mobilnya di depan pintu lobby. Yudha dengan hati-hati menuntun Dev untuk masuk ke dalam mobil. Hatinya agak khawatir karena Dev mengenakan sepatu berhak, dengan perut yang sudah nampak buncit.


Tidak sampai sepuluh menit perjalanan, Maman sudah menghentikan mobil di depan lobby JCC. Dengan sigap, Maman membuka pintu mobil dan menunggu Tuannya keluar.


Kehadiran Dev dan Yudha sangat menarik perhatian tamu. Yudha terlihat tampan mengenakan batik tulis warna merah maroon. Dev juga mengenakan baju batik dengan warna dan motif senada. Sebuah tas tangan melengkapi penampilan Dev, meskipun tanpa perhiasan mewah, tampilan Dev malam ini terlihat sangat mewah dan elegan. Perut buncit Dev menjadi pemanis aura keibuan yang muncul di wajahnya.


*****