
Yudha meletakkan tubuh istrinya perlahan di atas sofa kamar, kemudian mengambil bantal kursi dan menyandarkan tubuh Dev di sandaran sofa. Melihatnya diam, hati Yudha terasa sakit dan timbul rasa bersalah di hatinya. Jika dia bisa mengantisipasi lebih awal, dia akan bisa menjaga Dev istrinya dan tidak membiarkan hati istrinya sampai tersakiti.
Pratama menyiapkan gelas berisi setengah air mineral, kemudian memberikan kepada Yudha.
"Tama, tinggalkan kami. kembalilah ke lokasi, amankan barang-barang istriku."
"Siap boss, perlu tidak saya panggilkan dokter,"
"Tidak perlu, Dev hanya sedikit shock dan perlu sedikit istirahat menenangkan diri."
"Baik boss, saya permisi," Pratama keluar kamar meninggalkan pasangan suami istri itu sendiri.
"Minumlah sedikit sayang, kamu aman disini bersamaku." kata Yudha sambil mendekatkan gelas air minum ke bibir istrinya.
Dev membuka sedikit mulutnya, kemudian mencecap sedikit air tersebut, dan setelah beberapa saat dia meneguk semua air di gelas sampai habis. Yudha meletakkan gelas di atas meja, dan tanpa dinyana Dev memeluk tubuh Yudha dengan erat.
"Terimakasih Yudh, kamu ada bersamaku, kamu tidak meninggalkanku." ucap Dev pelan dengan air mata mengalir di pipi lembutnya.
Yudha meraih wajah istrinya dengan kedua tangannya, mengangkatnya kemudian menyeka air mata yang mengalir dengan kedua ibu jarinya.
"Aku takut Yudh," ucap Dev lirih.
"Ada aku disini sayang, tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku akan menemanimu, menjagamu, dan tidak akan meninggalkanmu." bisik Yudha perlahan.
Yudha menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir Dev, dan dengan lidahnya berusaha membuka bibir istrinya. Dev menyambutnya dengan membiarkan lidah suaminya mengeksplorasi semakin ke dalam. Setelah beberapa saat, Yudha menghentikan ciumannya, karena merasa istrinya mulai kehabisan nafas.
Perlahan Yudha memberikan kecupan manis di kening istrinya, kemudian kecupan itu turun ke hidung, geser ke pipi, dan dagu istrinya. Semuanya dilakukan Yudha begitu lembut, pelan untuk menghapus ingatan buruk yang baru saja dialami istrinya.
Dev merasakan sedikit kehangatan dan ketenangan di hatinya, sehingga tubuhnya berbicara dengan semakin mendekatkannya ke tubuh Yudha. Dia ingin mengubur dirinya lebih dalam ke pelukan suaminya. Melihat reaksi istrinya, Yudha semakin merasa posesif, dan mendekap erat tubuh istrinya. Perlahan kecupan bibir Yudha menyapu ke belakang telinga Dev, dan dengan lembut membisikkan sesuatu yang membuat Dev tanpa sadar mendesah.
"Bertahanlah denganku Dev, aku menyayangi dan selalu menginginkanmu."
Dev tiba-tiba meraih leher Yudha, mengalungkan kedua tangannya di leher Yudha kemudian menatap kedua mata suaminya. Melihat mata suaminya yang menawarkan perlindungan, Dev menganggukkan kepalanya kemudian dia berkata pelan.
"Aku juga menginginkanmu."
Begitu kata-kata itu keluar dari bibir istrinya, Yudha merasa tubuhnya melonjak seperti dialiri panas afrosidiak. Yudha dengan lembut mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Pasangan suami istri itu akhirnya larut dalam kegiatan intim bersama.
Setelah istirahat beberapa saat, Yudha mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaan Yudha, setelah melepaskan adrenalin dengan Dev, dia akan menuntaskan aktivitasnya dengan memperlakukan istrinya seperti ratu.
Yudha memandikan Dev dengan penuh kesabaran, bahkan menyabuni seluruh tubuh istrinya. Setelah selesai, Yudha membungkus tubuh istrinya dengan handuk dan kembali mengangkatnya ke kamar.
Setelah membaringkannya di ranjang, dia menyelimuti istrinya dan dengan lembut kembali memberikan kecupan di kening Dev.
"Tidurlah dulu, aku akan mencari baju ganti untukmu."
"Terima kasih untuk semuanya Yudh," ucap Dev lirih.
"Jangan memikirkan apapun, kita suami istri dan aku ingin untuk ke depannya hanya ada aku di pikiranmu." kata Yudha.
Dev menganggukkan kepalanya. Setelah mengenakan pakaiannya, Yudha pamit kepada Dev.
"Aku keluar dulu." kata Yudha sambil melangkah keluar kamar.
*****
#Ballroom
"Cha..., ada keributan di toilet." kata Koko memberi tahu Icha.
"Keributan apa," tanya Icha kepo.
"Kurang tahu, banyak orang berkerumun disana, tapi security sudah datang mengamankan pelakunya."
"Pelaku apa, pencurian atau apa,"
"Hah, kamu tuh sudah dijawab tidak tahu, masih nanya terus, " ucap Koko kesal
"Makanya bawa informasi itu yang tuntas, jangan nanggung."
"Cha, Ko...Dev kan barusan pamit ke toilet." Cory tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Iya, waduh jangan-jangan." Icha mendadak mengkhawatirkan Dev, apalagi ekspresi Dev terakhir sangat menimbulkan banyak pertanyaan.
"Aku akan menyusulnya," ucap Bertho sambil bergegas ke toilet untuk mencari Dev.
"Mana Dev, Bertho." tanya Cory.
"Ga ketemu," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Apa dia pulang duluan." tanya Koko.
"Ga mungkin ah, ini clutch nya saja masih di atas meja." kata Icha sambil tangannya menunjuk clutch Dev yang ada diatas round table.
"Trus Dev kemana ya,"
"Sudahlah kita tunggu saja disini, lagian tidak mungkin Dev lari dari tanggung jawab. Dia kan ditunjuk pak Gunawan untuk mengatur acara malam ini.'
"Iya juga ya."
Keempat orang satu tim kerja di PT. Kalingga itu tetap bertahan duduk di kursinya. Sebagai penanggung jawab acara, mereka harus tetap fokus memastikan semua acara dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Meskipun hati mereka penuh kekhawatiran karena belum kembalinya Dev, mereka tidak bisa seenaknya meninggalkan acara itu berjalan sendiri.
Sampai sessie akhir acara di ballroom, Dev juga belum kembali ke tempat duduknya. Beberapa tamu sudah mulai meninggalkan ballroom. Mereka berempat semakin gelisah karena khawatir akan keberadaan Dev.
Tapi tak lama kemudian Pratama muncul di hadapan mereka.
"Permisi, selamat malam... apakah kalian tahu tas dan perlengkapan Nona Devina ada dimana?" tanya Pratama.
"Eh kamu siapanya Dev," ucap Bertho protektif.
"Oh aku ingat sekarang, kamu kan tadi mendatangi teman kami kemudian berbisik menyampaikan sesuatu kepadanya." seru Cory.
"Jangan jangan hilangnya Dev ada sangkut pautnya dengan kamu." ucap Koko penuh selidik.
"Kenapa kalian semua terlihat begitu menakutkan, malah mengintrogasi aku." seru Pratama kesal.
"He...coba berpikir bung. Datang datang kamu langsung menanyakan barang-barang milik teman kami. Padahal teman kami baru saja menghilang, wajar tidak kalau kami mencurigaimu." omel Cory.
"Hadeh .. berat, berat..," Pratama berbicara pada dirinya sendiri sambil memegang kepala.
Karena tidak mau memperpanjang urusan, Pratama mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan kartu nama dan menyerahkannya kepada Koko.
"Anggara Pratama Asisten Manajer PT. Globe Tbk." Koko membaca kartu nama yang diberikan kepadanya.
"Wow ... berarti kamu asisten CEO legendaris itu ya," kata Icha ramah merubah image nya.
"Cha ..fokus ke permasalahan," tegur Koko keras.
"Oh maaf aku lupa." jawab Icha sambil menutup mulutnya.
"Apa hubungannya kartu namamu dengan teman kami." cecar Cory.
Pratama mengambil nafas panjang, dan tidak mau berlarut-larut dalam urusan panjang.
"Kalau ada urusan hubungi aku di PT. Globe Tbk.,"
"Nyonya Muda Devina Renata aman bersama kami. Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya." tegas Pratama.
Mereka berempat saling berpandangan, dan Icha langsung mengambil clutch milik Dev bermaksud untuk mengamankannya.
"Tolong jangan mempersulit keadaan, berikan clutch Nyonya Muda sekarang. Saya tidak memiliki waktu untuk bermain-main dengan kalian semua,"
Pratama berbicara dengan nada tinggi dan mulai habis kesabaran, kemudian merampas clutch dari tangan Icha. Setelah mendapatkannya, Pratama bergegas meninggalkan mereka.
"Security..., hentikan dia," teriak Cory memanggil security untuk menghentikan Pratama.
Security yang sedang mengawasi tamu mencoba menghentikan Pratama, tapi kemudian
"Selamat malam pak Pratama, ada yang bisa kami bantu." security memberi salam kepada Pratama dengan ramah.
"Urus mereka," jawab Pratama sambil menunjuk Koko dan kawan-kawan.
"Siap pak."
Kemudian Pratama dengan cepat menghilang di kerumunan tamu yang akan keluar dari ballroom.
******