
I hate Monday.... hari ini Dev betul-betul merasakan keinginan untuk istirahat total di rumah. Tapi sebagai karyawan yang berkomitmen tinggi, rasa tanggungjawab tetap menjadikan prioritas utama. Setelah selesai menyiapkan dirinya, Dev menuruni tangga dengan malas. Sedangkan Yudha sudah menunggu di meja makan untuk sarapan pagi. Melihat istrinya yang terbiasa semangat dalam bekerja, terlihat lesu Yudha menyarankan pada istrinya.
"Kalau masih capai, istirahatlah dulu. Tidak perlu kamu memaksakan diri berangkat kerja."
"Ini perusahaan orang sayang, masak aku kerja semauku." jawab Dev.
" Apa kamu mau memiliki perusahaan sendiri? Kalau mau, ambil resign, nanti aku beri modal untuk buka perusahaan sendiri."
"Ga mau, ribet."
"Lha gimana maunya, atau pindah kerja ke perusahaan kita."
"Kamu akan memiliki kebebasan untuk berangkat kerja, kerjamu hanya mendampingi aku kemanapun." kata Yudha sambil tersenyum.
"Ogah, no challenge...
"Challenge, gampang sayang. Kamu cukup berpikir bagaimana caranya untuk memuaskanku setiap hari." Yudha menggoda istrinya.
"Ihhh ... pikiranmu mesum melulu." Dev pura-pura marah.
"Bukan mesum sayang, kita cuman berpikir bagaimana kita bisa mengasah keahlian kita."
"Daratan dan pulauan kita masih banyak yang belum kita eksplorasi."
"Ah .. Yudh, hentikan."
Yudha tertawa melihat istrinya sewot. Setelah sarapan sandwich dan segelas Nasgithel, mereka beriringan keluar rumah.
"Kok pak Sholeh jam segini belum datang."
"Pak Sholeh libur, Ayuk aku antar, kita berangkat bareng."
"Tapi kamu harus janji, ga ngisruh di kantorku." kata Dev cemberut.
"Siapa yang ngisruh sayang. Masak suami antar jemput istri ada larangan."
Dari pagi Yudha tidak bosan menggoda istrinya. Melihat muka semburat merah istrinya,. menjadikan hati Yudha menghangat sangat bahagia.
Akhirnya Dev berangkat ke kantor dengan diantar suaminya, dan seperti saat pertama Yudha mengantar Dev, dia menurunkan istrinya di depan lobby kantor.
"Nanti dijemput jam berapa sayang?"
"Nanti aku nelpon pak Sholeh saja sendiri, kalau dah siap mau pulang sehingga pak Sholeh ga kelamaan nunggu"
"Pak Sholeh sedang cuti hari ini, jam 15.00 aku sampai di lobby."
"Masak sering banget pak Sholeh cutinya,"
"Sudahlah ga usah terlalu mikir pak Sholeh. Dia sudah tua, jadi harus banyak istirahat."
"Aku berangkat dulu ya sayang, ada yang akan aku diskusikan dengan Pratama pagi ini. Ingat, jam 15.00 aku sudah nunggu di lobby."
Seperti biasanya sebelum mereka berpisah, Dev mencium tangan suaminya, dan Yudha mencium kening istrinya.
Security segera membukakan pintu mobil, kemudian menutupnya kembali.
"Terima kasih pak."
Dev segera memasuki kantor, dan tanpa basa-basi langsung memasuki kubiknya.
*****
"Kring...," Intercom di meja ruangan Dev membuyarkan konsentrasinya.
"Selamat pagi, dengan Dev IT Designer ada yang bisa saya bantu."
"Ke ruanganku sekarang ya Dev.'
"Ya pak Gun, saya langsung ke ruangan."
Dev beranjak keluar ruangan menuju ruangan Direksi. Setelah mengetuk pintu ruangan tiga kali, Dev mendorong pintu ke dalam.
"Duduk dulu Dev,"
"Ya pak," Dev segera menempatkan diri duduk di sofa depan meja pak Gunawan.
Setelah lima menit menunggu, pak Gunawan duduk di depan Dev.
"Gimana kabarnya Dev, habis week end pasti segar ya seperti di charge energi nya,"
"Ya pak, Alhamdulillah."
"Dev..., bapak memanggilmu karena bapak mau minta tolong."
"Kalau saya bisa, Inshaa Allah pak, Dev siap untuk membantu."
"Terima kasih Dev, Saya yakin kamu pasti bisa."
Dev antusias mendengarkan pak Gunawan.
"Saya minta tolong, kamu koordinir rekan-rekanmu untuk menyiapkan acara ini."
"Siap pak, untuk acara nanti, konsep dibuat seperti apa kira-kira."
"Putri pak Hendarto minta dikonsep gala dinner, dengan semua tamu duduk di round table."
Pak Gunawan dan Dev mendiskusikan konsep acara penandatanganan PKS, dan didapatkan kesepakatan bahwa acara akan dilaksanakan hari Jum.at malam.
Setelah kesepakatan awal diperoleh, Dev segera kembali ke ruang kerjanya.
*****
"Gila... keren banget ternyata gebetannya
Dev."
"Orangnya atau mobilnya yang keren. Orang perut buncit, tua naik Porsche Cayman juga akan terlihat keren.'
"Orangnya tahu, badannu tinggi, tegap, kulitnya bersih, tampan lagi. Gak kuatt aku lihatinnya."
"Halah.., tunggu aja berapa lama dia akan bertahan,"
"Kok bicaramu tajam sih."
"Tajam, silet kali tajam."
"Baru saja Minggu lalu mencari perhatian dengan Tuan Wijaya, hari ini sudah ganti dengan gebetan baru."
"Ehmm...uhuk..uhuk..., pagi tuh kerja ibu ibu...,. Rumpi aja." Koko menegur sekelompok orang yang sedang membicarakan Dev dari belakang.
Sudah beberapa waktu mereka berbicara yang tidak baik tentang partner kerjanya, dan Koko yang sangat mengenal Dev merasa panas telinganya.
"Siapa Ko yang rumpi? Kita tuh bicara yang sebenarnya, jangan mentang-mentang kamu akrab sama Dev sehingga kamu menutup mata."
"Kalau ngantuk, tidur ya tutup mata dong." sahut Koko ga mau kalah.
"Iya kamu tuh cowok Ko, ngapain ngributin kita."
"Aku tuh ga ribut, hanya negur kalian buuuuu, pagi tuh kerja jangan malah rumpi ngomongin orang dari belakang."
"Kalau mau, tanya langsung tuh sama Dev."
"Emang ada penjahat ngaku Ko, kalau ada penjara penuh."
"Halah...bener juga kata orang-orang, karena wanita punya bibir dua makanya kalau bicara ga pernah ada titiknya." sahut Koko kesal.
Daripada gantian dia yang emosi, akhirnya Koko mengalah meninggalkan mereka. Dengan muka kesal, Koko kembali ke ruang kerjanya.
"Kenapa mukamu ditekuk Ko," tanya Icha.
"Kupingku panas, ga ada henti-hentinya orang-orang kantor membicarakan Dev di belakang."
"Ga usah ditanggapi Ko, ntar juga reda sendiri."
"Iya, Dev aja tenang tak terusik, kenapa malah kita yang sakit hati." sahut Bertho.
"Iya juga ya, btw...Dev kemana nih, kok ga kelihatan dari tadi anaknya."
"Tasnya ada tuh di meja, komputernya juga dah nyala."
"Atau dia dipanggil Direksi ya,"
"Bisa jadi, hanya Dev kan yang bisa komunikasi lancar dengan pak Gunawan."
"Ayuk pada balik kubik, kerja, kerja" ajak Icha
*****
Setelah menyusun draft run down dan desain tema, siang hari Dev mengumpulkan teman-teman satu timnya untuk membahas acara. Dia membentuk commitee untuk kelancaran acara, dan masing-masing orang sudah dibagi job desc agar semua tugas memiliki penanggung jawab.
"Icha tugas awal menghubungi pihak hotel Phoenix dan komunikasi dan dengan banquet hotel untuk perlengkapan."
"Siap 86," jawab Icha.
"Koko tugas mencari MC dan mengarahkannya."
"Yupz."
"Bertho, bantu aku membuat desain kreatif nya "
Setelah semua tugas terbagi, Dev mengirimkan draft booklet, rencana dress code, draft run down, lay out kepada sekretaris yang mewakili pihak Tuan Hendarto via email. Bahkan sampai hari ini, Dev belum mengetahui putri investor yang ditugaskan menjadi salah satu Direksi di PT Kalingga.
******