Married By Incident

Married By Incident
Nyonya Muda



Pagi hari Dev terbangun setelah semalaman tidur tanpa sekalipun terjeda.Dia tidak menjumpai Yudha di kamar. Perlahan Dev menyibakkan selimutnya dan menjumpai bahwa dia tidak mengenakan penutup apapun di bawah selimutnya. Muka Dev memerah ranum mengingat malam panas antara dia dan Yudha, dan dengan cepat dia kembali mengubur dirinya dalam selimut.


Pintu kamar terbuka, Yudha masuk dengan membawa nampan berisi segelas susu panas dan sandwich.


"Kamu tidak bangun sayang, mandilah dulu baru sarapan. Pagi ini biarkan aku yang melayanimu. " ucap Yudha lembut sambil menghampiri Dev di sisi ranjang.


"Terimakasih sayang, kamu telah menghadiahkan aku yang pertama dan selamanya." katanya sambil mencium kening Dev.


Dev terkesiap dan tanpa sadar mendorong Yudha.


"Jangan mendekat, aku bau belum mandi."


"Kamu imut sayang, aroma tubuhmu mengalahkan semua parfum dari negara manapun. Segeralah mandi, kalau tidak aku akan dapat berubah pikiran," kata Yudha menggoda istrinya. Kemudian dia berjalan kamar mandi, menyalakan kran air hangat mempersiapkan untuk mandi istrinya.


Dev sontak terjaga, dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya dengan malu-malu dia beranjak menuju kamar mandi.


"Auwww," tiba-tiba Dev merasa kesakitan saat mencoba melangkahkan kakinya. Bagian intinya terasa perih. Dengan sigap Yudha melepaskan selimut, mengangkat Dev dan membawanya ke kamar mandi. Perlahan dia baringkan tubuh Dev di dalam bath up yang sudah berisi air hangat dan sedikit essentials oil."


"Mau aku mandikan"


"Jangan, aku akan mandi sendiri. Keluarlah Yudh, aku malu." kata Dev menutup mukanya.


"Ha...ha.. kenapa harus malu Dev... aku sudah melihat semua bagian tubuhmu." Yudha tertawa melihat istrinya yang begitu polos dan imut. Karena tidak mau lagi membangunkan hasrat warisan purba, Yudha keluar dari kamar mandi.


"Panggil aku kalau sudah selesai, aku akan mengangkatmu."


*****


Tertatih Dev keluar dari kamar mandi dan melihat Yudha sudah bersiap untuk berangkat bekerja.


"Hari ini aku berangkat lebih pagi, Pratama sudah menungguku di bawah."


" Pagi ini aku akan berangkat ke kota "S", ada yang akan aku diskusikan dengan pejabat Kotamadya tentang rencana penataan kawasan perkotaan." Yudha memberi tahu Dev akan rencananya hari ini.


"Ya hati-hati."


"Sepertinya hari ini aku tidak mungkin untuk berangkat ke kantor, dengan penampilanku hari ini aku tidak mau menjadi bahan omongan teman kantor." ucap Dev malu.


"Sudahlah, istirahat dulu di rumah."


"Secepatnya aku akan kembali jika urusanku sudah selesai."


"Mau menemaniku ke bawah sayang, ada Pratama kalau mau ketemu. Sudah berhari-hari kan kamu belum menjumpainya." Yudha sangat senang menyaksikan pertengkaran kecil antara Pratama dan istrinya. Dia seperti mendapatkan hiburan yang menghangatkan hatinya.


"Ogah, kalau ketemu dia bawaannya aku pingin menimpuk jidatnya." sahut Dev cepat.


"Ha...ha... kalian seperti tikus dan kucing kalau ketemu. Jangan galak galak dengan Tama, karena dia dan keluarganya selalu loyal menjaga kami sejak kakekku yang memimpin perusahaan di kota ini."


"Sudah ya aku berangkat dulu."


Dev melangkah mendekati suaminya, kemudian dengan penuh takzim dia mencium tangan suaminya. Yudha terkejut dengan perlakuan yang tidak pernah dia dapatkan selama ini. Dia merengkuh bahu kemudian memeluk istrinya, dan diakhiri dengan mencium keningnya.


"Terimakasih sayang. Hati-hati di rumah." Yudha segera meninggalkan kamar, dan baru mencapai pintu


"Yudh..., apakah teman-teman ku diijinkan maen kesini? tanyanya penuh harap.


Sejenak Yudha terdiam, kemudian menggangguk.


"Boleh, tapi pelan-pelan kamu harus menceritakan kepada mereka kalau kamu sudah menikah." ucapnya sambil melangkah keluar kamar.


"Terimakasih suamiku." bisik Dev meskipun suaminya sudah pergi.


******


Dev menghubungi Divisi Human Resource Development untuk menyampaikan ijin dua hari lamanya via telepon, dan secara resmi mengirimkan surat ijin tidak masuk kerja lewat email. Hari ini dia memiliki rencana untuk menghabiskan waktunya dengan bersantai.


Menjelang siang, Dev merasa kesepian karena terbiasa hari-harinya terisi dengan aktivitas. Dia iseng mengirim WhatsApp kepada Sasa.


"Assalamualaikum Cint..." tanpa diduga dengan cepat Sasa merespon message nya.


"Wa Alaikum salam, kesambet apa jam segini Loe punya waktu untuk chatt gue."


"Aku gabut Cint, maksudnya hari ini ijin ga masuk kerja ternyata malah bosen di rumah."


"Kenapa ga dari tadi pagi Loe WhatsApp nya, kan aku juga ikutan ijin ga masuk.'


"Ha..ha... dasar,"


"Minta dibawain apa,"


"Ga usah, di rumah banyak makanan." Dev mengirim share loc Hyatt Regency ke Sasa. Kemudian Dev memberi tahu penjaga rumah untuk menyampaikan kepada security komplek perihal kedatangan teman-temannya. Komplek Hyatt Regency memiliki tingkat privacy dan keamanan yang sangat tinggi. Tanpa ijin dari penghuni komplek, tidak ada siapapun yang diperbolehkan masuk.


"Asyik donk... Alhamdulillah duitku utuh. Tungguin ya, jam satu aku meluncur." ucap Sasa bersemangat empat lima. Dari jaman SMA, Sasa memang paling getol dan semangat jika diajak bolos sekolah.


Sasa langsung menelpon Reno sepupunya untuk diajak kabur dari tempat kerja. Karena Reno kerja di perusahaan milik ayahnya, dengan bebas Reno bisa keluar perusahaan kapan saja.


*****


Pukul 13.30 Sasa dan Reno sudah sampai di halaman rumah tempat tinggal Dev dan Yudha. Bi Siti mempersilakan mereka duduk, kemudian memberitahu Dev kedatangan teman-temannya. Reno dan Sasa saling berpandangan karena kagum dengan interior rumah. Mereka juga berasal dari keluarga kaya, tapi melihat rumah Yudha mereka berdecak penuh kekaguman.


Selang beberapa menit, Dev menemui mereka.


"Alhamdulillah.... terimakasih Cint..., akhirnya aku tidak mati gaya kering di rumah sendirian." Dev memeluk dan cipika cipiki dengan Sasa.


"Aku kok ga dipeluk." celetuk Reno cengar-cengir.


"Pilar tuh Ren, bisa dipeluk sepuasnya." kata Sasa disambut dengan tawa mereka.


Ketiganya akhirnya duduk, Bu Siti datang membawakan camilan dan lemon squash.


"Makasih Bi," Dev mengungkapkan terimakasih pada Bi Siti.


"Nyonya Muda mau disiapkan makan siang sekarang,"


"Nanti saja Bi, aku pingin ngobrol dulu sama mereka."


"Baik Nyonya Muda, Bibi ke belakang dulu." pamit Bi Siti sopan.


Sasa dan Reno berpandangan. Karena kepo,


"Dev...., Loe nutupin sesuatu ya dari kita? Nyonya Muda, berarti Loe nikah dengan Tuan mereka,"


Dev tersenyum menganggukkan kepala.


"Sebentar..., gimana ini ceritanya? Kapan Loe nikahnya? Baru dua Minggu Loe ribut sama Andre." berondong Sasa.


Reno speechless, hanya melihat Sasa dan Dev secara bergantian.


"Kalo Loe patah hati sama Andre, bukan berarti Loe nikah sama orang sembarangan, tanpa kenal terlebih dahulu."


" Loe gila Dev, Loe ngancurin masa depan Loe sendiri." dengan penuh keprihatinan Sasa memberondong Dev dengan pertanyaan, tanpa memberi kesempatan Dev untuk berbicara.


"Loe kan bisa nikah sama Reno yang sudah pasti sangat menyayangi dan mencintai mu dari dulu."


Reno sendiri tidak mempercayai apa yang dia dengar, akhirnya dia hanya terdiam.


"Jangan bilang loe menjadi istri kedua" tanya Sasa tiba-tiba. Sasa begidik membayangkan suaminya Dev. Dalam bayangannya suami Dev tua, perutnya buncit, rambutnya penuh uban.


"Hiiii..." Sasa begidik ngeri sambil menutup wajahnya.


"Sudah...sudah... kapan-kapan aku kenalkan kalian dengan suamiku." jawab Dev tersenyum.


"Ayuk minum dulu, udah pada makan belum, makan disini ya nemeni aku." Dev menawarkan mereka makan siang bersama.


"Ga Dev, hilang nafsu makanku." sahut Sasa cemberut.


Sa... kamu ga bisa begitu. Kamu marah tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu." kata Reno


"Huh..." Reno mengambil nafas panjang.


"Jujur aku juga kecewa, tapi mau gimana lagi."


"Aku hanya berharap, semoga pernikahan Dev bisa langgeng, apapun dasar pernikahannya. Usia Dev sudah 25 tahun, dia sudah matang dan dewasa untuk memikirkan dampak baik maupun buruk dari setiap keputusannya."


"Selamat ya Dev." Reno dengan jiwa ksatria mengucapkan selamat pada Dev sambil mengulurkan tangannya.


"Terimakasih Ren atas pengertianmu." kata Dev sambil berkaca-kaca.


Sasa akhirnya mengalah dan memeluk erat sahabatnya.


"Selamat Sa..., meskipun aku belum rela, aku selalu mendoakan agar pernikahan kalian bisa langgeng.".


******