
Setelah satu Minggu menghabiskan masa cuti, Senin pagi pukul 07.30 Dev sudah sibuk di dalam ruang kubiknya. Kelelahan tubuh dan pikirannya sudah menghilang. Sambil menunggu komputernya siap dipacu kecepatannya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, dengan cekatan dia memilah-milah hard files sesuai tingkat urgensinya masing-masing. Tak berapa lama ruangannya tampak mulai sibuk karena kedatangan rekan kerjanya yang lain.
"Selamat pagi...., wow yang habis cuti panjang. pagi ini sudah kembali menguasai wilayah kekuasaannya." teriak Zepta tiba-tiba.
"Iya tambah fresh Zept, seperti baterai habis dicharge" sahut Koko sambil ngeloyor ke kubiknya.
"Yoi..., gimana Zept, Ko...selama aku tinggal cuti. Ada yang mau kudeta wilayahku tidak." gurau Dev santai.
"Woles girl...., ga ada yang bakalan tertarik menghabiskan waktu depan komputer sepertimu. Bisa-bisa jadi keriting rambutnya." kelakar Zepta.
"Khan jadinya ga perlu ngeluarin duit tambahan donk buat ke salon. Keriting rambut sekarang mahal boooo." sahut Dev.
"He...he... bener juga ya. Tapi Dev, kalau sampai ada yang mau kudeta kerjaanmu, kutambahi separo bonus gajiku bulan ini dech." seru Koko.
"Lah...sama aja bohong deh, sejak kapan dirimu dapat bonus bulanan Ko. Kwk...kwk..."ledek Dev.
"Yaaahh, jangan buka kartu donk." kwk...kwk...
"Attention please....please everyone to be quiet for a moment....This is the office guys.......we are not in the market...." seru Bertho di depan pintu. Baru saja akan masuk ruangan, terdengar gelak tawa dari dalam.
Sontak semua menengok ke arah pintu masuk. Bertho terlihat masuk masih lengkap menggunakan hazmat. Teman-teman menyebutnya hazmat, karena outfit harian Bertho adalah helm, jaket, kaos tangan. Dia memang tergila-gila dengan motor dan accesories pelengkapnya.
"Kwkkkkk.... kwkkkkk, bilang aja iri Bert...makanya pagian dikit donk datengnya." sahut Zepta.
"Tahu kagak, suara tawa kalian menggelegar sampai kedengaran dari halaman kantor."
"Kagak, ha...ha.., "serentak mereka ngerjain Bertho.
"Huh...awas ya kalian semua, berani-beraninya konspirasi di belakangku."
"Betewe.... memang ada apaan, pagi-pagi dah pada bikin pecah kantor." kepo Bertho sambil nyimpan outfit hazmatnya di Drive locker.
"Tuch... ada yang fresh habis ngumpet di freezer satu minggu." tunjuk Koko ke arah Dev. Bertho menengok ke arah kubik Dev.
"Owalah... pantesan aja Loe semua pade heboh. Welcome back to face the real reality of Princess Dev." kata Bertho ikut-ikutan heboh.
"Mana nih upeti, biasa jatah preman... Karena pangeran ini telah bersusah payah menyelesaikan tugasmu selama Tuan Putri beristirahat." goda Bertho.
"Tuch di ruang discuss...pilih sendiri oleh-oleh kalian." sahut Dev menunjuk ruang discuss di pojok ruangan.
"Now that everyone is back in their respective cubicles, I have to focus on finishing my pending work. Okay..." jawab Dev.
"Yoi...mari kita pilih guys...," sahut mereka dulu-duluan
Akhirnya keributan pindah ke ruang discuss. Dev hanya geleng-geleng menyaksikan kekonyolan rekan-rekan kerjanya. Kembali dia fokus ke layar komputer. Untuk mencegah gangguan konsentrasi, headset putih terpasang manis di telinganya.
*****
Sampai jam 12.00 siang, Dev masih berkutat di kubiknya. Desain-desain baru dengan berbagai konsep dari pagi sudah diciptakan Dev, dan siap untuk dipresentasikan kepada perusahaan mitra. Ajakan rekan kerja untuk keluar maksi, dengan halus dia tolak karena Dev harus ngebut menyelesaikan beberapa creative design.
"Kring...."dering Intercom di meja memutus konsentrasinya.
"Selamat siang, dengan Dev.. ICT Designer...ada yang bisa dibantu."
"Dari bagian receptions Dev, menginformasikan ada tamu yang mau ketemu."
"Waduh mohon maaf ya, hari ini kerjaanku numpuk, banyak banget dan butuh konsentrasi. Bisa minta tolong untuk disampaikan kembali kalau hari ini saya tidak menerima tamu." jawab Dev.
"Ashiap. Selamat lembur siang Dev." kata receptions mengakhiri panggilannya.
Dev bernafas lega, dan kembali fokus pada design nya. Namun tak lama kemudian,
"Kring...." kembali dering Intercom berbunyi
"Siang...., Dev... ICT Designer disini, ada yang bisa saya bantu." jawab Dev malas.
"Maaf Dev... ini dari receptions lagi. Mohon ijin ya Dev, tamunya akan bicara."
"Assalamualaikum ..Dev, bisa kita bicara."
"Deg...," terdengar suara Andre di ujung Intercom. Dev mencoba untuk tenang, dan setelah mengambil nafas panjang, dia berbicara perlahan.
"Wa Alaikum salam.... Maaf Ndre, mungkin sudah tidak ada yang perlu lagi untuk dibicarakan. Dan saat ini, maaf bangetttt... aku ga bisa keluar. Kerjaanku banyak banget, maaf ya."
"Aku seperti orang kesurupan mencari kabarmu Dev, nomor ponselmu tidak bisa aku hubungi. Ada yang akan aku jelaskan padamu."
"Ndre... ingat Ndre.., ini Intercom kantor. Jangan biarkan rekan-rekan kantor mengetahui kehidupan pribadiku. Mohon maaf aku tutup ya Ndre, aku harus mengerjakan ketertinggalan pekerjaanku.wassalamu alaikum." tegas Dev, dan tanpa memberi kesempatan Andre menjawab, dia memutuskan saluran Intercom ke kubiknya.
"Hadeh... kenapa Andre datang lagi menggangguku." gumam Dev.
"Tapi kali ini aku harus bersikap tegas, tidak kubiarkan sekecil apapun dia menggangguku lagi." Dev bertekad untuk segera mengakhiri keruwetan dengan Andre.
****
Beberapa saat ruangan kembali tenang, dan Dev kembali fokus menyusun draft powerpoint dan segera dikirim ke team project untuk dievaluasi.
" Huh... akhirnya, Alhamdulillah..., ucap Dev mengucap syukur dengan mengangkat kedua tangan, dan mengusap wajahnya. Dev hari ini telah berhasil menyelesaikan empat initial design concept.
"Sekarang waktuku untuk istirahat." bisiknya lirih. Dengan segera dia meluruskan kakinya, dan bersiap memejamkan matanya. Namun tiba-tiba terdengar keributan di luar ruangan.
Dua security memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, dan menuju kubik Dev diikuti seorang laki-laki di belakangnya.
"Mohon maaf mbak Dev mengganggu istirahatnya, saya tidak bisa menolak bapak Pratama yang memaksa menemui mbak." kata security sambil menundukkan wajahnya ketakutan.
"Kamu," teriak Dev setelah melihat Pratama dengan congkaknya berdiri di belakang kedua security.
"Sudah ga pa pa pak , bapak berdua bisa kembali ke tempat bertugas," kata Dev pada kedua security.
"Baik mbak, tapi mbak Dev tidak apa-apa kalau kami tinggal," sahutnya sambil melirik Pratama.
"Jangan khawatirkan saya pak, harimau melahirkan saja bisa saya hadapi, apalagi Manusia yang hilang sopan santunnya." jawab Dev ketus.
"Baiklah kami permisi mbak Dev, kalau ada apa-apa hubungi kami ya." pamit security kembali ke tempatnya bertugas.
Setelah mengatur emosinya, perlahan Dev berbicara.
"Ada apalagi Tuan Pratama yang terhormat, belum cukupkah anda menghantui hidup saya."
"Nyonya Muda... apakah kembali saya harus mengingatkan tentang batasan yang tidak boleh dilewati."
"Maksudmu? batasan mana yang sudah saya tabrak." kata Dev jengkel.
"Ternyata Nyonya Muda belum paham juga, bahwa Nyonya Muda tidak boleh menemui laki-laki lain tanpa persetujuan Boss."
"Oh begitu rupanya. Dan apakah tuan Pratama juga tidak menyadari kalau anda sendiri adalah seorang laki-laki? kata Dev balik bertanya.
"Malam, pagi, siang anda menemui saya dengan dalih mengawasi, apakah itu semua bukan karena alasan kalau anda ingin mencuri waktu menemui saya."
"Saya menemui Nyonya Muda karena memiliki tujuan tertentu, dan saya yakin Boss tidak akan pernah salah paham dengan saya."
"Huh... sangat pintar anda membuat pembelaan. Semua laki-laki yang menemui saya, mereka juga punya tujuan dan alasan."
"Sekarang siang ini anda datang menemui saya, jelaskan apa tujuan dan alasan anda."
Pratama menaruh shopper bag diatas meja.
"Ini adalah tujuan dan alasan saya datang kesini Nyonya Muda. Silakan nikmati makan siangnya, dan jangan bekerja sampai malam. Permisi."
Pratama bergegas meninggalkan ruang kerja Dev tanpa bicara lagi. Sekilas Dev melirik isi di dalam shopper bag, dan melihat box Pecking Duck menunggu untuk segera dibuka. Dev merasakan kehangatan di lubuk hatinya, dan tanpa rasa malu dia un boxing menu kesukaannya.
*****