Married By Incident

Married By Incident
Komitmen



Andrew dan Baskara sedang berada di wilayah kota Klaten bagian barat. Saat ini mereka sedang mencari kuliner nasi merah, dan menemukan rasa yang sesuai selera mereka di Warung **pi Prambanan.


Sambil mengaduk gula batu di cangkir kopi, Baskara mengajak berbincang Andrew.


"Aku sudah pikirkan rencana untuk menikmati hariku An.., sudah bukan masa-masa kita lagi untuk mengumpulkan receh. Aku akan kembali ke New Zealand, menikmati pinggiran kota disana." Baskara menyampaikan keinginan pada Andrew.


"Benar juga yang kamu katakan Bas, biarkan anak-anak kita yang mulai berjuang untuk mengembangkan perusahaan. Kita sudah membuatkan mereka pondasi yang kokoh. Mungkin aku akan mengikuti jejakmu Bas. Tapi aku menunggu Bianca menemukan pendamping yang tepat terlebih dahulu." kata Andrew yang masih memiliki beban Bianca yang belum menikah.


"Sepertinya Bianca mulai dekat dengan temannya cucuku yang bernama Reno. Nikahkan saja mereka segera," Baskara memberi saran.


"Masak beli kucing dalam karung Bask, aku belum mengenal siapa dan asal usul anak laki-laki itu."


"Kamu menyindirku An. Aku kemarin bersedia kesini ikut andil di PT. Diamond karena aku mau menguji Yudha. Aku pikir Yudha asal ngomong waktu mengirim bukti akta nikah dengan Dev."


"Akhirnya aku bersedia bergabung denganmu, dan meskipun Yudha asal comot perempuan untuk dinikahi. Ternyata istri yang diperoleh melebihi batasan ku. He .he.. jangan remehkan anak sekarang. Kita yang harus sudah merubah pola pikir." Baskara menceritakan bagaimana Yudha menikah dengan Dev.


"Aku malah kemarin sempat berharap, Bianca akan aku tawarkan padamu agar menikah dengan Yudha." sahut Andrew sambil melamun.


"Lha sama dengan pikiranku, untung aku tidak salah melangkah. Kalau salah, aku akan menyesal dan merasa bersalah dengan Dev." kata Baskara sambil tersenyum kecut.


"An..., kalau aku boleh kasih saran. Turunkan standarmu. Yang penting dia laki-laki dari keluarga baik-baik. Dan yang pasti menyayangi anakmu Bianca. Nikahkan segera, kita yang harus mengalah dengan anak-anak." Baskara memberikan pandangan pada Andrew.


"Yah, nantilah aku coba bicara dengan Bianca." kata Andrew yang akan mencoba memberikan kesempatan pada Reno.


Kedua laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu, terlihat lahap menikmati masakan tradisional yang sudah jarang didapatkan di restoran maupun masakan rumahan saat ini. Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan pembicaraan.


"Bask..., kamu mengajakku kesini pasti bukan hanya untuk mengajakku makan kan, aku yakin ada yang ingin kamu sampaikan." Andrew menanyakan pada Baskara tentang maksud utama pertemuan mereka hari ini.


Baskara mengambil nafas sebentar, ke kemudian meminum seteguk air putih.


"Iya An, menyambung yang tadi sudah aku sampaikan di awal pembicaraan."


"Yang mana," kata Andrew tidak sabar.


"Rencanaku untuk kembali menetap di New Zealand." Baskara menjeda sejenak.


"Aku ingin melimpahkan semua kepemilikan sahamku pada Dev, dia aku minta segera resign dari PT. Kalingga. Tapi itupun jika kamu setuju, kalau tidak, yah... terpaksa aku minta kamu untuk melakukan Buy back saja. Aku sudah tidak sanggup dan tidak mau berpikir keras lagi." lanjut Baskara.


Andrew tersenyum kemudian menepuk bahu sahabatnya.


"Hanya untuk bicara hal itu saja, kenapa kamu harus sungkan Bas.., Bas... Untuk orang sekaliber cucu menantumu itu, perusahaan mana yang akan menolak. Yah, pastilah aku menyetujui idemu itu." Andrew terlihat sangat senang mendengar rencana yang disampaikan Baskara.


"Bianca bisa banyak berlatih dengan Dev tentang banyak hal. Dan aku akan tenang mengikuti jejakmu, jika Bianca sudah menikah, dan didampingi Dev dalam mengelola perusahaan." kata Andrew dengan mantap.


"Syukurlah kalau kamu setuju, aku juga sangat tenang. Aku tidak tega melihat Dev dikurung Yudha di rumah, hanya karena protektif akan keselamatannya. Aku yakin, Yudha tidak akan pernah menyetujui kalau Dev kembali ke PT. Kalingga" kata Baskara.


"Iya, tapi Yudha juga tidak bisa disalahkan. Karena kejadian kemarin ada di jam kerja, dan di lingkungan kantor, yang menunjukkan bahwa sistem keamanan di perusahaan itu lemah. Terus kapan Dev akan resmi bergabung ke perusahaan Bask." tanya Andrew terlihat tidak sabar dengan kabar baik ini.


"Dan aku memintanya, saat ini Dev untuk fokus menghadapi persalinan. Aku tidak perbolehkan dia memiliki banyak pikiran." kata Baskara yang tersenyum hangat, memikirkan sebentar lagi penerus Baskara akan dilahirkan.


"Baiklah aku mengikuti saranmu teman, kita tunggu kabar baik dari cucu menantumu itu "


Kedua sahabat itu akhirnya memiliki sedikit harapan untuk kelanjutan perusahaannya.


**********


Di tempat lain, Bianca dan Reno sedang berbincang serius. Bianca terlihat menanyakan


"Maaf ya Ren..., aku terlalu dini ya ngajak bicara tentang keseriusan komitmen kita ke depan." kata Bianca menunduk malu.


Kalau bukan desakan dari keluarganya untuk segera memiliki pasangan hidup, hari ini dia tidak akan mempermalukan dirinya bertemu dengan Reno kemudian menanyakan komitmen mereka.


Reno tersenyum mendengar pertanyaan Bianca. Kemudian dia menengadahkan wajah Bianca agar sejajar dengannya.


"Bia..., kita sudah tidak muda lagi, dan bukan saatnya kita untuk main-main. Hal yang wajar kalau kamu menanyakan hal itu padaku." kata Reno tersenyum untuk meyakinkan Bianca.


"Tapi kamu tahu situasi yang sedang aku hadapi saat ini kan. Aku baru saja mulai membangun kembali perusahaan papa, itupun dengan bantuan modal yang ditanamkan oleh Pak Yudha. Aku punya tanggung jawab moral untuk mengembalikan modal tersebut dengan membukukan sejumlah profit yang bisa kita share bersama-sama." Reno menyampaikan alasan belum siapnya dia berkomitmen dalam waktu dekat.


"Tapi Ren, bukannya beban ini bisa kita pikul bareng-bareng. Kita bisa saling bersinergi untuk berkembang bersama." kata Bianca pelan.


Reno mendekatkan duduknya ke arah Bianca. Kemudian dia meletakkan tangannya di bahu Bianca.


"Bianca.., aku ini laki-laki. Masa sih, baru awal aku sudah akan membebanimu dengan tanggung jawab yang berat. Tapi percayalah, aku serius dengan hubungan kita. Trust me." ucap Reno kemudian meletakkan kepala Bianca di pundaknya.


Keduanya terdiam untuk waktu yang lama, kemudian Reno memulai pembicaraan.


"Kamu kecewa padaku Bia," tanya Reno pelan.


Bianca menatap mata Reno.


"Aku hanya takut dan bingung Ren." kata Bianca.


Reno menggenggam tangan Bianca, kemudian menciumnya.


"Apa yang membuatmu takut dan bingung." tanya Reno lirih.


"Dulu kamu pernah menaruh hati pada Dev. Kamu belum mau berkomitmen lebih padaku apakah karena kamu belum yakin terhadapku, belum melupakannya atau memang belum siap. Aku tidak siap untuk mengetahui kebenaran jawabannya."


"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku dan Dev adalah sahabat dari SMA, aku sangat bahagia jika sahabatku juga bahagia. Semua masa lalu Bia. Semoga kamulah yang akan menjadi masa depanku."


Bianca merasa tenang mendengar kalimat Reno terakhir. Akhirnya dia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Reno.


********