Married By Incident

Married By Incident
Pingsan



Di lantai empat ruangan CEO PT. Globe Tbk, tampak seorang laki-laki terlihat serius di depan tumpukan berkas yang menunggu legalisasi tanda tangan. Di depannya, sedang duduk asisten pribadi sekaligus wakil CEO perusahaan tersebut.


"Bagaimana Tama, apakah sudah kamu selidiki kasus yang menimpa PT. Gemati," tanya Yudha kepada Pratama.


"Sudah boss, sepertinya yang disampaikan Nyonya Muda kepada boss semuanya benar." jawab Pratama.


"Kalau begitu segera dieksekusi saja, dan siapkan pengacara kita untuk memberikan counter attack pada pengkhianat itu." tegas Yudha.


Yudha memang terkenal di kalangan pengusaha, yang tidak akan memberi ampun pada siapapun yang terbukti melakukan pengkhianatan.


"Siap boss. Tapi apakah boss yakin untuk melakukan penanaman modal pada perusahaan keluarga Reno. Bukankah Reno itu..." Pratama tidak melanjutkan perkataannya.


"Reno menaruh hati pada istriku ya maksudmu. Aku sudah tahu, tapi untuk kali ini aku akan memberi istriku sebuah kepercayaan. Kebahagiaan Dev adalah prioritas utamaku dan salah satu tujuan dalam hidupku."


"Lakukan seperti yang aku perintahkan Tama."


"Baik boss, secepatnya saya akan hubungi Reno secara langsung, untuk membicarakan syarat dan ketentuan penanaman modal."


"Ya, kamu memang bisa untuk diandalkan." kata Yudha sambil membubuhkan tanda tangan di berkas yang sudah diverifikasi.


Setelah selesai di tandatangani, Yudha menyerahkan berkas kepada Pratama untuk didisposisikan.


*****


Siang hari selepas jam istirahat, Dev berada di meeting room PT. Diamond. Kedatangannya di perusahaan tersebut, karena dia diminta oleh Bianca untuk membantu menjelaskan konsep riset pemasaran. Riset tersebut dilakukan dalam rangka melakukan estimasi permintaan, tentang produk yang akan segera diluncurkan.


Sudah hadir di meeting room saat ini antara lain empat manajer madya, tim surveyor, sekretaris, Bianca, Baskara dan Andrew. Kehadiran Dev kali ini hanya menjadi peninjau dan pendamping Bianca yang kepercayaan dirinya belum sepenuhnya muncul dalam mengelola perusahaan.


"Bu Bianca... bisa dijelaskan tentang metode yang akan diambil perusahaan kita dalam collecting data." salah satu manajer madya menanyakan teknis pelaksanaan.


"Menurut pendapat saya, dua metode baik langsung maupun tidak langsung bisa kita tempuh secara bersamaan. Hasilnya akan saling melengkapi, dan mereduce kelemahan masing-masing." Bianca menjawab pertanyaan dari manajer madya.


"Untuk teknis pelaksanaannya bagaimana," cecar tim surveyor.


Bianca menyenggol Dev dengan kakinya, untuk membantunya berbicara.


"Tim surveyor dan tim riset di perusahaan sebenarnya bisa collab bareng. Untuk metode tidak langsung, kita bisa menggunakan data yang sudah published oleh Disperindagkop, BPS, BI dengan mengkaryakan tim riset di belakang layar."


"Atau kalau masih ada surplus dana, kita bisa membeli data dari lembaga -lembaga survey sehingga kita tinggal mengolahnya."


"Sedangkan tim surveyor bisa membagi anggota timnya ke beberapa kelompok untuk melakukan ujicoba dari berbagai metode. Apakah mau menggunakan metode simulasi pasar, ghost shopping atau controller market. Nanti bisa kita observasi metode mana yang paling efektif." Dev menambahkan penjelasan untuk melengkapi penyampaian gagasan dari Bianca.


"Tapi yang perlu kita pahami bersama adalah target atau pasar sasaran harus jelas. Konsumen mana yang akan kita layani."


"Kemungkinan resiko paling fatal yang akan kita hadapi," sahut participant rapat.


Dev menjawab pertanyaan dari peserta rapat dengan didasari argumentasi yang rasional. Logika berpikir dibangun dengan melihat kapabilitas perusahaan saat ini dari ketersediaan SDM, teknologi, situasi persaingan, bahkan juga melihat bagaimana posisi keuangan perusahaan. Bianca sebagai pemimpin rapat banyak dibantu oleh kehadiran Dev.


Tepat pukul 15.00 rapat koordinasi diakhiri oleh Bianca. Participant rapat sudah mulai meninggalkan meeting room.


"Dev..., dari pertemuan kita yang pertama, saya selalu dibuat takjub dan angkat jempol untuk analisis kamu yang luar biasa." puji Baskara sambil mengacungkan dua ibu jari tangannya. Andrew juga ikut-ikutan mengacungkan jempolnya.


"Pak Baskara dan pak Andrew terlalu memuji saya. Hiperbola pak, bisa-bisa baju saya jadi sesak." sahut Dev dengan sikap merendah.


"Bi .., kamu harus banyak belajar dari Dev," kata Andrew pada Bianca.


"Iya pa, makanya rapat kali ini, Bianca bela-belain nelpon pak Gunawan untuk mengirimkan Dev kesini." jawab Bianca.


"Udah sore, kalau begitu saya ijin untuk meninggalkan ruangan ini ya." Dev berpamitan untuk keluar duluan.


"Belum tahu nih, mungkin langsung pulang ke rumah. Lagian sudah hampir jam 16.00,"


"Ga ngopi ngopi dulu Dev " tawar Bianca.


"Sudah satu minggu lebih aku belum ngopi Bi, perutku agak error', rasanya mual kalau kemasukan kopi."


"Asam lambung kali."


"Ya mungkin, aku cabut dulu ya Bia. Pak Andrew, pak Baskara mohon ijin Dev duluan ya."


"Ya hati-hati."


"Aku juga sekalian pamitan ya, terlalu sore tidak baik untuk tulang tua. He..he..., " Baskara ikut meninggalkan ruangan.


*****


Sesampainya di depan, Dev bermaksud menelpon pak Sholeh untuk menjemputnya. Dia berencana untuk langsung pulang ke rumah, karena merasa tidak beres akan tubuhnya. Mendadak kepalanya sedikit pusing, dan perutnya agak terasa sebah.


Akhirnya Dev kembali masuk ke lobby untuk mencari tempat duduk sambil nenunggu pak Sholeh.


"Dev.., belum jadi pulang," tanya Baskara tiba-tiba sudah sampai di lobby.


"Baru nunggu jemputan pak, tapi mau cari tempat duduk dulu. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba kepala saya mendadak pusing."


"Cancel saja jemputannya. Ayuk pulang bareng Bapak." Baskara menawarkan diri untuk mengantar Dev.


"Tidak perlu pak, saya nunggu saja. Lagian sudah di jalan sopirnya." Dev menolak secara halus.


"Sudah, itu sopir saya sudah nunggu di depan." kata Baskara sedikit memaksa.


Akhirnya Dev mengiyakan tawaran Baskara, dan segera mengikutinya masuk ke mobil yang sudah menunggu di dalam lobby. Di dalam mobil, Dev menyenderkan kepalanya di sandaran kepala. Tiba-tiba Dev mendadak merasa mual mencium bau parfum mobil yang menyengat.


"Pak, mohon maaf. Apakah ada minyak angin ya. Tiba-tiba perut saya terasa mual." tanya Dev pada sopir pak Baskara.


"Ada mbak tapi minyak kayu putih," kata sopir sambil memberikan minyak kayu putih pada Dev.


"Kamu kenapa Dev, bapak antar ke dokter ya." tanya pak Baskara khawatir.


Dev menganggukkan kepalanya, dan setelah mengoleskan minyak kayu putih, dia memejamkan matanya.


"Kita ke rumah sakit **loam Jl. Solo." perintah Baskara pada sopir.


"Ya pak."


Lima belas menit kemudian Dev dan Baskara sudah berada di ruang IGD RS **loam. Sopir Baskara mengurus administrasi Dev, sedangkan Dev ditemani Baskara menunggu untuk mendapatkan pelayanan dari dokter.


"Saya ke toilet dulu ya pak," Dev memberi tahu Baskara ijin untuk menggunakan toilet.


Tanpa diminta, Baskara yang sedikit khawatir dengan kondisi Dev menunggu di dekat toilet rumah sakit. Setelah lima menit, Dev keluar dari toilet, dan baru berjalan lima langkah tiba-tiba tubuh Dev limbung. Dev jatuh pingsan.


"Tolong, anak saya pingsan," teriak Baskara mencari pertolongan.


Beberapa orang berlari untuk segera menolong Dev, kemudian membopongnya dan langsung membawa ke ruang UGD. Baskara yang panik, ikut bergegas menuju ruang UGD.


****