Married By Incident

Married By Incident
Transaksional



"Kamu tertarik sama gadis itu Tam, sepertinya kamu begitu mengkhawatirkannya." tanya Yudha di balik kemudinya.


"Ga boss, jujur saya hanya kasihan. Dia tinggal seorang diri di apartemen, dan sepertinya dia tidak ada keluarga. Dia gadis yang mandiri, gadis yang baik."


"Ha..ha..Sejak kapan Pratama asistenku menjadi pengamat gadis-gadis." cetus Yudha sambil tertawa ngakak.


" Pengamat sih bukan, tapi secara kebetulan gadis ini sering ketemu saya di lift dan di lobby."


"Dan sepertinya dia masih single, karena kemana-mana selalu sendirian. Tapi kenapa dia berlari sambil menangis seperti sedang patah hati." sahut Tama membela diri.


"Aduh, kepalaku pusing, dimana aku."tiba-tiba Dev tersadar, dan dengan linglung dia menyadari kalau dia berada di dalam mobil.


Tersentak dia bangun dan duduk, menatap Pratama yang memegangi Pepermint essentials oil.


"Minumlah dulu, jangan takut aku menemukanmu pingsan di traffic light perempatan "G" Mall." kata Pratama sambil mengulurkan air mineral.


"Aku ga mau tahu apa masalahmu, dan aku ga sempat membawamu ke RS."


"Aku dan bossku ada urusan sebentar, setelah selesai, nanti kami antar ke apartemen mu." lanjut Tama pelan.


"Terimakasih" ucap Dev lirih, dan memejamkan matanya kembali.


Air matanya kembali keluar, merembes melalui bulu matanya yang panjang dan lentik.


Di balik kemudinya, Yudha melirik kaca tengah mobilnya.


"Cari masalah kamu Tam." batin Yudha sambil membelokkan mobil ke halaman KUA "K".


"Kami ada urusan di KUA kurang lebih 1 jam. Kamu mau ikut turun atau tetap istirahat di dalam mobil." tanya Tama pelan.


Melihat gadis itu, mengingatkan akan adiknya yang kesakitan berjuang melawan penyakit leukemia. Tetapi, Tuhan berkehendak lain.


"Bolehkah aku menunggu disini." tanya Dev pelan meminta ijin.


Tama menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan keluar mobil.


Yudha ikut keluar setelah mengatur suhu AC agar stabil. Yudha yang memiliki hati keras, tidak tahu alasannya hari ini dia tergerak untuk menolong gadis itu.


*****


"Sudah jam 09.00, harusnya gadis itu sudah menunggu di dalam. Ayuk aku tidak mau bertele-tele, waktuku terlalu berharga untuk menginjakkan kaki di sini." kata Yudha tegas.


Mereka berdua memasuki KUA, terlihat Kepala KUA dan penghulunya sudah menunggu, dan siap menikahkan pasangan pengantin.


"Selamat pagi pak Yudha dan pak Pratama, semua sudah siap tinggal menunggu calon pengantinnya."


Dengan acuh Yudha dan Pratama tersenyum singkat, sambil menarik kursi untuk diduduki.


Pratama mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tapi tak sedikitpun Cynthia atau keluarganya kelihatan batang hidungnya.


"Drttt..."tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama Chyntia muncul di layar.


Pratama melangkah keluar ruangan, dan mengangkat panggilan telepon Chyntia.


"Selamat pagi, mohon ijin agak terlambat ya pak. Ini riasan muka saya blom selesai, sebentar lagi finish." terdengar suara gadis di ujung telepon.


"Segera kami meluncur setelah selesai." gadis itu mengakhiri panggilan.


"Sial, belum menikah saja sudah membuat boss menunggu." gerutu Pratama.


Pratama mendatangi Yudha, dan membisikkan informasi kalau Cynthia datang terlambat.


"Time limit yang kujanjikan hanya 15 menit, dia terlambat datang, berarti pernikahan batal. Siapa dia, beraninya mengatur waktuku." ujar Yudha geram.


"Sepertinya ga akan nyampai boss dalam waktu 15 menit."


"Persiapkan calon pengganti segera, atau kukirim kamu ke cabang Papua." ancam Yudha.


Yudha sudah terlanjur memberi tahu keluarganya, kalau hari ini dia akan menikah, dan akan segera mengirimkan salinan akta menikah sebagai bukti omongannya.


Daripada pernikahan diatur keluarganya, lebih baik dia sendiri mengatur pernikahannya.


"Ampun boss, kemana harus nyari dalam waktu 15 menit. Tidak bisakah kita nunggu Chyntia satu jam lagi."pinta Pratama.


"Kamu dah berani membantahku Tam." Yudha berjalan keluar dari ruangan KUA, dan tanpa sadar langkahnya mengarah ke mobil.


Kepala KUA dan penghulunya kaget, mereka berpandangan. tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk berbicara. Mereka sudah mendengar sepak terjang Andhi Yudha Baskara, yang tidak memiliki ampun terhadap orang yang mengecewakannya.


*****


Sementara Pratama sibuk dengan telponnya, Yudha masuk mobil dan menghempaskan tubuhnya ke kursi depan samping kemudi.


Dia menggeser kursinya ke belakang dan meluruskan kakinya. Matanya melirik ke samping, dan tiba-tiba Dev membuka matanya. Tanpa disangka, mata mereka bertatapan.


"Sepasang mata yang bening dan jernih tapi penuh kepedihan." batin Yudha.


Tiba-tiba dia kembali duduk karena terlintas ide cemerlang.


"Siapa namamu," tanya Yudha.


"Teman-teman memanggilku Dev." jawab Dev kebingungan. Dia ingat, bahwa laki-laki di sampingnya itu, orang yang berjalan disamping laki-laki yang tadi menolongnya waktu di kafe "S".


"Maafkan aku karena merepotkan kalian."


"No problem, kalau mau aku gantian merepotkanmu."


"Apa yang bisa saya bantu." Dev sudah relatif stabil emosinya.


"Menikahlah denganku sekarang. Penghulu sudah siap didalam. Aku akan memberikan apapun yang kau minta, asalkan kamu mau memenuhi permintaanku untuk menikah denganku sekarang juga."


"Apa??? Jangan meledekku dengan suasana hatiku saat ini." ucap Dev sambil menatap sengit ke arah Yudha.


"Aku tidak akan mengulang permintaanku. Dan kalo kamu bersedia, aku juga tidak akan memaksamu untuk berada di sampingku. Kita lakukan transaksional sekarang, atau simbiosis mutualisme."


"Aku butuh akta nikah hari ini juga. Dan kamu butuh pelampiasan atas sakit hatimu."


"Kuberi waktu lima menit berpikir, kalau mau segera susul aku kedalam." tanpa memberi kesempatan Dev bicara, Yudha langsung keluar dari mobil.


*****