
Setibanya di rumah, Wijaya memanggil Pramono.
"Pram, cari informasi tentang CEO PT. Globe Tbk. yang bernama Andhi Yudha Baskara. Apa latar belakangnya, pacar, atau mungkin istrinya." Wijaya memberi perintah pada Pramono orang kepercayaannya.
"Sebentar boss, saya lacak jejak digitalnya." kata Pramono.
Setelah beberapa menit.
"Boss, saya tidak bisa menembus keamanan data PT. Globe. Tbk."
"Siapa yang nyuruh nembus sistem keamanannya. Mereka terkenal memiliki sistem keamanan informasi yang bagus, bisa-bisa jejakmu meninggalkan Malware. Kalau sampai IP mu terlacak, urus sendiri."
" Aman boss, sudah tak antisipasi."
"Untuk jejak social media, status Clear. Belum menikah, dan saat ini no relationship."
Wijaya terlihat mengacak-acak rambut dan memukul kepalanya sendiri.
"****...siapa kamu Yudha."
"Kenapa aku terjebak dalam situasi rumit ini dengan gadis yang bernama Devina Renata dan Andhi Yudha Baskara."
*****
Jam sembilan pagi suasana di PT. Kalingga terlihat lebih ramai dari hari-hari biasanya. Para karyawan bersiap-siap mengikuti pertemuan pleno perusahaan yang rutin dilaksanakan setiap tiga bulanan. Dalam forum ini, dimanfaatkan para karyawan sebagai ajang brainstorming, penyampaian tuntutan, keluhan dari semua bagian dan divisi yang ada pada perusahaan tersebut.
"Dev...ke aula jam berapa? " tanya Cory.
"Bentar Cor, nunggu sepi. Paling-paling sekarang masih pada desak-desakan rebutan kursi di aula."
"Iya juga ya."
Dev dan timnya terlihat masih asyik santai di ruangan, padahal karyawan dari divisi yang lain sudah pada berebut kursi untuk posisi duduk di aula. Mereka tidak pernah mempermasalahkan dimana tempat duduk yang masih kosong untuk mereka tempati. Tepat pukul sepuluh, Dev baru mengkoordinir teman-temannya untuk menuju aula.
"Ayuk guys kita ke aula." ajak Dev pada teman-temanku.
"Yoii." sahut Koko.
Mereka berlima bergegas menuju aula tempat rapat pleno berlangsung.
"Wah ga ada lima seats yang kumpul jadi satu." gerutu Icha.
"Masih satu ruangan, terserah mau pilih dimana," sahut Dev.
"Okay, depan sendiri Bertho dan Dev, kita bertiga di belakang, kebetulan ada tiga kursi kosong," kata Koko
"Terserah kamu, sesukamu Ko." jawab Bertho melangkahkan kaki menuju seat kosong di bagian depan.
"Baiklah karena waktu sudah jam 10.15 menit rapat koordinasi pleno.akan kita mulai." MC mengumumkan jika acara akan segera dimulai.
MC membacakan semua agenda yang akan dibahas pada hari ini. Di barisan depan bagian tengah, Wijaya tampak mencuri pandang ke arah Dev, tetapi seperti biasanya Dev akan selalu cuek dengan lingkungan sekitar. Banyak cara untuk menembus informasi Dev dan Yudha, sampai saat ini belum ada hasil yang bisa menjawab rasa penasarannya.
Di samping Wijaya, terlihat Donna Arkana selaku Direksi baru di PT. Kalingga berusaha duduk dengan tenang. Tapi ancaman dari Wijaya kakaknya untuk bersikap profesional, menjadikan dia hari ini duduk manis tak bersuara. Kejadian di malam gala dinner betul-betul menjadi pukulan telak baginya. Rasa benci, cemburu bercampur jadi satu, meskipun dia juga sadar, kalau dirinya yang merusak hubungan Dev dengan Andre. Tapi adanya fakta Andre masih mengejar Dev, menjadikan kebencian terhadap Dev semakin naik.
Dev penuh perhatian memperhatikan jalannya rapat. Bisikan dan gunjingan tentangnya sama sekali dia abaikan. Sekarang Giliran pak Gunawan menyampaikan laporan capaian sasaran mutu.
"Puji syukur pencapaian target bulan ini naik 110%, dan pencapaian ini sangat di support oleh IT Designer and Creative Team."
"Bahkan belum masuk pada capaian keberhasilan hari ini, dua hari lalu kita bersama dengan IDC Team telah mendapatkan project branding dari PT. Diamond yang sedang membuka branch di kota ini."
"Atas capaian keberhasilan tersebut, berdasarkan rapat direksi perusahaan, kita memutuskan bahwa IDC Team kita jadikan divisi baru pada perusahaan ini, dan sebagai Kepala Divisi kita angkat Saudara Devina Renata sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasnya selama ini."
Dev tersentak mendengar penyebutan dirinya oleh Pak Gunawan, padahal dia telah menolak jabatan yang ditawarkan sebelumnya.
"Saya harap Saudara Devina Renata maju ke depan untuk mendapatkan SK Penugasan pada posisi baru."
Dengan langkah berat Dev maju ke depan untuk menerima SK.
"Kami mohon perkenan Ibu Donna Arkana dan Bapak Wijaya untuk menyerahkan SK kepada Saudara Devina Renata."
Wijaya dan Donna dengan senyum menawan melangkah ke depan. Wijaya memberikan SK kepada Dev, dan Donna mendampingi kakaknya turut menyalami dan memberikan ucapan selamat.
"Selamat Bu Devina, semoga amanah." ucap Wijaya dengan senyum manisnya.
"Selamat," ucap Donna dengan tatapan rumit.
"Terima kasih."
Setelah sesi foto, Dev kembali turun ke belakang diiringi dengan tepukan tangan para karyawan lainnya.
"Halah, paling dekati bosnya dulu biar dapat project." bisik-bisik suara karyawan dari belakang.
"Iya kencan sama pak Wijaya kali, kok tiba-tiba ada jabatan baru."
Bertho menoleh ke belakang dan memelototi karyawan yang dari tadi bergosip.
Semua keluhan, masukan ditampung oleh perusahaan, dan acara selesai pukul 12.00. Semua karyawan bergegas keluar desak-desak. Dev dan keempat rekannya masih bertahan di ruangan.
Tiba-tiba Donna mendatangi kursi Dev, dan dengan senyum ramah dia mengajak Dev bicara.
"Hi Dev, masih ingat aku." sapa Donna. Wijaya yang melihat gelagat adiknya merasa khawatir, dan ikut berdiri menghampiri Dev.
"Hai Bu Donna,. masih pakai banget."
"Bisa memberiku waktu untuk bicara."
"Bisa, mau dimana?"
"Keluar sambil makan siang?"
"Ok, tapi aku ajak Bertho ya, Bu Donna bisa ajak pak Jay."
Setelah sepakat mereka berempat makan bareng di *um*u Desa.
"Aku ijin panggil Dev ya, kamu bisa panggil aku Donna," kata Donna memulai pembicaraan.
Dev tersenyum mengiyakan. Setelah selesai makan, Donna mulai membuka pembicaraan.
"Dev, kamu tahu apa yang terjadi dengan Andre di malam itu." tanya Donna.
"Yang aku tahu Andre dihajar Yudha dan Pratama." jawab Dev ketus.
"Kalau itu semua orang sudah tahu. Apa penyebabnya,"
"Donna, Jay... apa mau kalian sebenarnya? Mau mengajakku berdamai, atau menantang peperangan denganku."
"Dev..., tenanglah, bukan maksud Donna seperti itu." kata Wijaya menenangkan Dev.
"Mati-matian aku berusaha menghilangkan ingatan buruk itu dari pikiranku, sama seperti aku menghilangkan ingatan buruk di Hotel Mercu"" dua bulan yang lalu." Dev bicara dengan nada tinggi emosional.
"Tapi kalian berdua menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku," ucap Dev sambil menunjuk Wijaya dan Donna.
"Kapan kalian berhenti menyiksaku." Dev mulai tersengal-sengal menahan emosi.
"Dev, tenanglah..."Bertho mengambilkan segelas air putih.
"Minumlah dulu." Dev menerima gelas dari Bertho kemudian minum seteguk dan meletakkan kembali ke atas meja.
Mereka berempat terdiam tidak ada yang bersuara. Wijaya dan Donna tidak menyangka akan reaksi Dev yang sangat emosional.
"Donna, Jay...bagiku Andre adalah barang bekas yang tidak akan kugunakan lagi."
"Dan apa kalian pikir, aku orang yang suka merangkak di tempat tidur untuk mencapai impianku, seperti yang digosipkan orang-orang." Dev tersenyum sarkasme.
"Aku peringatkan kalian, jangan pernah berani mengusikku, jika terkait manusia bejat itu."
"Bu Donna, pak Wijaya... Dev bukan seperti yang dibicarakan orang-orang. Tanyalah kami kalau ada yang ingin tahu siapa Dev." ucap Bertho tegas.
"Maafkan kami Dev, aku ikut datang kesini, karena aku ingin menjaga Donna agar tidak bertindak impulsif."
"Dengan Andhi Yudha Baskara di sisimu, meskipun aku tidak tahu ada hubungan apa di antara kalian, kamu tidak akan pernah melirik laki-laki lain." kata Wijaya.
"Baiklah, aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Mari kita kembali." kata Dev.
****