Married By Incident

Married By Incident
Cinta...



Dengan perasaan cemas dan marah, Pratama setengah berlari menuju ruangan Yudha. Panggilan telepon yang baru saja dia terima dari Jatmiko betul-betul sangat mengejutkannya, dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dengan kasar dia mendorong pintu. Yudha yang sedang berada di belakang meja kerjanya, mendongak ke arah kedatangannya dengan penuh tanda tanya.


"Tuan Muda.., tolong ikuti saya ke Rumah Sakit ***tesda sekarang." kata Pratama dan langsung membuat Yudha berdiri dari kursinya.


Mendengar kata rumah sakit, pikiran Yudha langsung mengarah pada istrinya yang sedang hamil. Tanpa bertanya lebih lanjut, dia bergegas meninggalkan ruangan dengan Pratama yang mengikuti di belakangnya.


Sesampainya di rumah sakit, terlihat ketiga pengawal Dev menunduk ketakutan. Di depan pintu pemeriksaan pasien, Baskara sudah berdiri dengan emosi yang tidak bisa ditebak. Posisinya yang sedang dalam perjalanan menuju PT. Diamond untuk menghadiri rapat, memudahkannya untuk memutar arah dan sampai lebih dulu di rumah sakit


"Maafkan kami pak, kami sedikit lengah untuk mengawasi Nyonya Muda," kata Jatmiko mewakili teman-temannya. Mereka tidak berani menatap mata Yudha secara langsung. Wajah tegang dan emosi yang terlihat pada Tuannya, sudah menjadikan mereka keder.


"Nyonya Muda sepertinya terkena zat asing dalam minuman teh panas yang dikonsumsinya. Laboratorium sedang memeriksa sampel minuman tersebut." lanjutnya lagi dengan ketakutan.


Tiba-tiba,


"Bug.., bug.., bug..," Pratama menghantamkan pukulan dan tendangan kepada tidak pengawal yang disewanya. Petugas keamanan rumah sakit berlari untuk mencegah tindakan brutal Pratama.


Yudha tidak menghiraukan mereka, dan langsung melangkah menuju ruang pemeriksaan istrinya. Baru saja dia akan masuk, lengannya dicekal oleh Baskara.


"Beri waktu dokter untuk melakukan pemeriksaan tanpa tekanan." kata Baskara tegas.


Dengan sangat terpaksa Yudha menuruti perintah kakeknya, kemudian dia ikut menunggu di depan pintu. Untungnya tidak lama kemudian, dokter yang melaksanakan pemeriksaan tiba-tiba membuka pintu dari dalam. Melihat ketegangan dua laki-laki beda usia di depan pintu, dokter tersenyum ramah.


"Keluarga terdekat ibu Devina, ikut saya sebentar." kata Dokter.


Yudha segera mengikuti dokter agak menjauh dari ruangan perawatan, sedangkan Baskara bergegas masuk ke dalam menemui Dev.


"Jangan terlalu berpikir berlebihan, semuanya tidak segawat yang kalian pikirkan." kata dokter sambil tersenyum.


Melihat latar belakang keluarga pasien, dia sangat berhati-hati mengambil kalimat. Yudha mendengarkan analisis dokter dengan seksama.


"Tanpa sengaja pasien sudah menelan obat yang tercampur dalam minuman. Pada sampel minuman, ditemukan kandungan nifedipine yang sangat berlebihan." dokter memberikan penjelasan.


"Zat kimia apa itu dok, dan bagaimana zat tersebut bisa ada dalam secangkir teh." tanya Yudha mulai tidak sabar.


"Obat dengan kandungan ini, biasa digunakan bagi para penderita hipertensi. Sebenarnya dalam dosis normal, obat ini bisa digunakan untuk untuk ibu hamil yang menderita hipertensi."


"Tapi yang jadi masalah, obat ini dikonsumsi ibu Dev yang tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi."


"Terkait kandungan zat, kenapa bisa muncul dalam secangkir teh itu diluar kemampuan saya untuk menjawab. Tanpa ada kesengajaan atau kecerobohan memasukkan unsur zat tersebut, tidak mungkin teh memiliki kandungan seperti itu." Dokter mengambil nafas dan jeda sebentar.


"Terus efek apa yang paling riskan untuk istri dan bayi saya." tanya Yudha dengan mata yang mulai berapi-api.


"Bapak bisa tenang dulu, kita akan berusaha semaksimal mungkin, agar zat tersebut tidak banyak memberikan dampak buruk untuk kesehatan ibu dan bayi."


Baru saja Yudha akan melangkah menuju pintu ruangan, tiba-tiba Baskara keluar dalam keadaan panik.


"Dokter..., tolong cucu saya. Dia merasa tidak nyaman." teriak Baskara. Dokter dan dua perawat segera berlari menuju kamar pasien. Yudha segera mengikuti mereka, tapi di depan pintu dia dihalangi oleh perawat.


"Tolong keluarga untuk mengendalikan diri. Keberadaan anda di dalam dapat mengganggu proses tindakan."


"Pergi, jangan halangi aku." teriak Yudha dengan tatapan membunuh.


Tangannya dengan kasar mendorong perawat ke samping pintu, dan bergegas mendatangi tempat Dev berbaring. Yudha yang berhati dingin merasa mencelos hatinya, begitu melihat istrinya tanpa daya berbaring lemah dengan wajah pucat.


"Sayang..., jangan khawatir. Aku ada disini untuk menemanimu." katanya lirih dengan mata berkaca-kaca sambil memegang dan mencium tangan istrinya.


"Jika terjadi sesuatu denganmu dan anak kita, aku akan mengikutimu kemanapun. Dan sebelum itu, akan kupastikan untuk menghancurkan semua yang telah menyakitimu." Para perawat terkejut dengan reaksi laki-laki dingin di depannya.


"Bapak.., sepertinya ibu Devina perlu menyiapkan diri kemungkinan bayi kita lahirkan secara prematur." kata dokter yang sontak sangat mengejutkan Yudha. Hatinya merasakan sakit dan sedih untuk penderitaan istrinya. Dengan mata sendu dan berkaca-kaca Yudha menatap istrinya.


"Tenanglah sayang, aku kuat. Tidak akan terjadi apa-apa denganku." kata Dev dengan wajah pucat menenangkan suaminya. Tangannya dingin dan berkeringat dirasakan Yudha. Tiba-tiba tangan Dev mencengkeram erat dengan kuku menancap di tangan Yudha, dan menahan rasa sakit dan nyeri di perutnya.


"Dokter sepertinya pasien mengalami kontraksi," bisik salah satu perawat kepada dokter.


"Bawa ke ruangan operasi segera. Saya sendiri yang akan menangani langsung." perintah dokter tegas, dan seperti petir yang menyambar di hati Yudha.


Dengan sigap beberapa perawat bersiap mendorong bed menuju ruang operasi, dan tanpa sadar mereka mendorong Yudha ke pinggir tembok. Dengan tatapan kosong, Yudha menatap bed didorong menuju ruang operasi.


"Dokter, jika harus memilih, selamatkan istriku." teriak Yudha dengan suara serak dan tercekat. Dia tidak dapat membayangkan, akan hidup sendiri tanpa kehadiran istri yang dinikahinya dengan tawaran. Nyeri, kesakitan ternyata makna hakiki dari yang disebut sebagai CINTA.


Baskara menghampiri Yudha yang sedang terpuruk dan duduk di lantai kamar perawatan pasien. Hatinya ikut merasakan kesakitan dan kepedihan cucunya. Dia tidak pernah menyangka jika perasaan Yudha bisa terikat begitu dalam dengan seorang perempuan.


"Bangunlah nak.., ayo kita temani Dev di luar ruang operasi. Dia akan tahu, bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkannya." Baskara berbicara pelan, kemudian memegang tangan Yudha untuk mengajaknya menemani Dev di luar kamar operasi.


Melihat Yudha berjalan tanpa daya di samping Baskara, dengan sigap Pratama menghampiri Yudha kemudian mendukung badannya. Tanpa sadar, Yudha memeluk erat Pratama dan mulai mengalirkan air mata di bahunya.


"Tama.., istriku," ucapnya pelan.


"Nyonya Muda orang yang kuat Tuan. Aku yakin Nyonya Muda dan bayi tuan akan baik-baik saja." sahut Pratama berusaha menenangkan hati Yudha.


Pratama kemudian memapah Yudha yang seperti lemah tanpa tulang, dan membawanya duduk di kursi tunggu depan kamar operasi.


******