Married By Incident

Married By Incident
Bodyguardku



Di lantai lima PT. Globe Tbk., tepat di Coffee Corner Pratama sedang berbicara dengan Yudha. Baru saja Pratama mendapatkan informasi terkait istri bosnya, dari mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan Dev di PT. Kalingga.


"Informasi apa yang kamu dapatkan." tanya Yudha pada Pratama, dengan tangan yang sibuk mengaduk gula aren pada cangkir kopinya.


"Ada desas-desus bahwa PT. Kalingga memiliki pemegang saham baru, yang katanya hari ini berbicara keras dengan Nyonya Muda pada forum rapat pemegang saham terbatas." Pratama menyampaikan informasi yang baru saja dia terima.


"Terus," kata Yudha dengan mata yang mulai menyipit.


"Untungnya Nyonya Muda tidak terpancing, dan dapat mengatasi emosi saat adu argumentasi dengan orang tersebut."


"Tapi dalam rapat orang tersebut berusaha memprovokasi pemegang saham lainnya."


"Orangnya Wijaya atau Donna,"


"Sepertinya bukan boss, karena menurut informasi Wijaya dan Donna berada di pihak Nyonya Muda pada waktu rapat."


"Siapa namanya orang itu,"


"Sepertinya Bukman, tapi untuk nama lengkapnya belum ada informasi."


"Terus selidiki orang itu, atau panggil Ersa sekarang. Minta dia untuk menemukan informasi tentang Bukman."


Pratama segera melakukan panggilan pada Ersa lewat telepon.


"Cepat ke Coffee Corner sekarang, ditunggu boss." Pratama langsung memerintahkan Ersa untuk menyusul ke tempat mereka.


Sepuluh menit kemudian Ersa datang dengan menenteng gadget. Dia sudah paham yang dikehendaki kedua atasannya, jika ada panggilan mendadak mesti terkait dengan hacker.


"Sore boss," sapa Ersa.


"Duduk, cari informasi tentang Bukman pemegang saham mayoritas terbaru PT. Kalingga." Yudha langsung memberi instruksi pada Ersa.


"Siap, beri waktu lima menit." jawab Ersa cepat.


Tangannya langsung menari di atas gadget, dengan mata fokus pada screen.


"Bingo..., I finally found you" celetuk Ersa tiba-tiba. Yudha dan Pratama melihat ke arah Ersa.


"Nama Bukman Lian, owner perkebunan teh di Gunung Dempo. Juga pemilik kebun sawit dan pabrik pengolahannya di Lubuk Linggau. Duda beranak dua." kata Ersa menyampaikan temuannya.


Yudha terdiam, matanya mulai menyipit.


"Gunung Dempo itu ada di daerah mana." tanya Pratama.


"Sepertinya daerah Palembang." jawab Ersa.


"Mungkinkah,"... Yudha membatin sendiri.


"Baiklah...,silakan kembali ke ruanganmu." kata Yudha pada Ersa.


"Siap boss," jawab Ersa sambil berjalan meninggalkan ruangan.


"Bagaimana boss langkah kita selanjutnya." tanya Pratama.


"Awasi terus orang-orang PT. Kalingga, jika bisa cari informasi sebanyak mungkin tentang Bukman Lian."


"Kira-kira ada orang dalam perusahaan yang terlibat tidak ya," gumam Pratama pada dirinya sendiri.


"Jika aku temukan ada orang PT. Kalingga yang ada di kota ini berulah, aku tidak akan segan-segan menghancurkan mereka." kata Yudha tegas.


"Aku akan pulang dulu menjemput istriku di PT. Kalingga. Jika tidak ada yang urgent, kamu juga boleh pulang sekarang"


"Siap boss, saya sebentar lagi. Masih ada dokumen yang perlu saya koreksi."


*****


" Sama sekali tidak mengira, seorang CEO yang terkenal menjulang angkuh, bisa menjadi Bucin wanita yang bekerja pada perusahaan kecil." tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang meledek Yudha.


Yudha mengalihkan pandangan dari ponselnya kemudian dengan mata tajam menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Wijaya yang pernah mengejar Dev, datang menghampirinya.


"Huh ..," Yudha tidak menanggapi, hanya tersenyum sinis.


"Jangan marah bung, aku tidak mau mencari masalah. Boleh duduk." kata Wijaya yang mengambil tempat duduk di depan Yudha.


"Ini wilayahmu, kenapa harus basa basi,"


"Aku tahu kedatanganmu menjemput Dev, ada kaitannya dengan rapat pemegang saham tadi siang." tebak Wijaya sambil tersenyum.


Yudha memandang Wijaya.


"Kalau terjadi sesuatu dengan istriku, aku akan hancurkan perusahaan ini." ancam Yudha pada Wijaya.


Wijaya tersenyum menanggapi emosi Yudha. Orang kalau Bucin terkadang rasionya muncul belakangan.


"Aku juga tidak akan membiarkan pengacau berada di perusahaanku. Untuk sementara aku akan berkantor di perusahaan ini, karena bukan hanya Dev, tapi adikku juga ada disini." kata Wijaya kemudian berdiri meninggalkan Yudha.


Yudha hanya memandang kepergian Wijaya dari hadapannya.


****


Dari dalam kantor, terlihat Dev seperti biasanya terlihat ceria sedang berjalan dan berbincang dengan Cory dan Icha.


"Dev...Dev.., duduk di lounge itu, bukannya CEO PT. Globe Tbk? Ada satu lagi buatku tidak Dev," ucap Cory dengan mata dan mupeng.


"Ucapkan terima kasihku untuk suamimu yang sudah banyak membantuku ya Dev. Karena campur tangannya, semua masalahku terselesaikan.” kata Icha sambil menunduk.


Kalian bicara apa, ayo aku kenalkan suamiku." ajak Dev pada teman-temannya.


Dev menemui suaminya dengan mengajak Cory dan Icha. Melihat kedatangan istrinya, Yudha langsung berdiri dan menyambutnya dengan pelukan ringan.


"Capai," tanyanya lembut sambil mengulurkan tangan kanannya. Dev meraih tangan Yudha, kemudian menciumnya. Satu kecupan lembut diberikan Yudha di kening istrinya.


Melihat interaksi Dev, kedua teman kantor itu Corry dan Icha saling berpandangan kemudian keduanya tersenyum.


"Corry, Icha..., kenalkan ini suamiku, body guardku yang menjagaku dimana-mana." kata Dev mengenalkan suaminya.


Yudha mengangkat kedua tangannya, kemudian menangkupkan di depan dadanya sebagai tanda berjabatan tangan. Tapi kemudian, dia langsung merangkul istrinya dan mengajaknya pergi.


Dev mengikuti ajakan suaminya, dan melambaikan tangan pada kedua temannya sebagai isyarat perpisahan.


Sepeninggalan Yudha dan Dev.


"Huh..kita mah apa, cuma remahan rengginang. Masak berkhayal ingin dijabat tangan sama CEO." ucap Corry sedikit kecewa karena merasa dikacangin Yudha.


"Hush.., kamu tu bicara apa. Itu tandanya pak Yudha sangat menyayangi dan menjaga hati istrinya. Memang kamu mau, besok kalau sudah menikah suamimu umbar pesona di teman-teman perempuanmu." kata Icha membela Yudha.


"Iya juga ya, upz.. sorry Dev." kata Corry.


"Kamu sendiri bagaimana Cha, Bertho seperti pak Yudha tidak." kepo Corry gantian pada pernikahan Icha dan Bertho.


Icha hanya tersenyum malu, menikah tanpa cinta, apalagi yang dinikahi adalah teman sendiri memang agak sedikit serba salah. Corry menyadari perkataanya membuat Icha menjadi tidak nyaman.


"Sorry, abaikan saja perkataanku. Kita pisah disini ya, aku bawa motor soalnya. Bye Icha...," pamit Corry dan meninggalkan Icha.


"Bye Corry, hati-hati." kata Icha. Dia tetap berdiri menunggu Bertho di depan pintu lobby.


Tidak menunggu lama, sebuah mobil ***uki Swift berhenti di depan Icha, dan pintu mobil dibuka Bertho dari dalam. Icha segera masuk ke dalam mobil, dan setelah memastikan seat belt dan pintu terkunci dengan benar, Bertho segera menjalankan mobilnya.


*****