
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan operasi. Baskara dan Yudha berdiri dari tempatnya duduk, dan segera mendatangi dokter dengan wajah tegang. Melihat wajah dengan tatapan menakutkan di depannya, dokter tersenyum kepada mereka.
"Pak Yudha, tindakan Operasi terhadap ibu tidak jadi kami lakukan. Ternyata Ibu Devina saat ini hanya mengalami kontraksi Braxton-Hicks. Mohon sabar menunggu ya, sebentar lagi pasien akan kami pindahkan ke kamar rawat inap." kata dokter yang sedikit melegakan hati Yudha dan Baskara.
"Kontraksi apa Dokter," tanya Yudha yang sangat awam dengan istilah-istilah dalam ilmu kedokteran.
"Kontraksi Braxton-Hicks. Kontraksi ini sebenarnya sama dengan proses kontraksi menjelang persalinan. Tetapi pola kontraksi ini terjadi secara tidak teratur, terkadang kerap hilang dan timbul kembali. Hal ini sering terjadi pada usia kehamilan trimester kedua dan akan sering terjadi pada trimester ketiga." Dokter menjelaskan dengan sangat sabar untuk menenangkan kondisi keluarga pasien.
Baskara terlihat menganggukkan kepala, sedangkan Yudha berusaha menggali informasi tentang istilah kedokteran yang terkait dengan kesehatan istrinya.
"Jika kontraksi ini terjadi, hal ini tidak perlu dikhawatirkan, karena proses kontraksi merupakan cara tubuh untuk mempersiapkan dan menyambut proses persalinan."
"Tapi yang dikhawatirkan adalah jika kontraksi ini tidak terjadi secara alami, tetapi karena adanya stimulus yang berbahaya. Seperti yang saat ini dialami oleh istri bapak, dimana kontraksi dipicu oleh stimulus zat nifedipine." kata Dokter sambil melepaskan sarung tangan dari tangannya.
"Terus treatment yang akan dilakukan apa dokter, dan apakah setiap kontraksi menimbulkan rasa sakit" tanya Yudha dengan antusias.
"Untuk treatment sementara, Ibu Devina harus dirawat di rumah sakit sampai kondisi pasien dan bayi benar-benar stabil. Jadi, jika sewaktu-waktu ada keluhan, langsung bisa ditangani dengan dukungan peralatan yang lengkap. "
"Untuk masalah sakit atau tidak, besok bapak bisa menanyakannya sendiri pada istrinya." sahut Dokter tersenyum.
"Baiklah saya rasa sudah cukup informasi yang saya berikan. Saya tinggal dulu untuk periksa medical check up pasien yang lain." kata dokter mengakhiri pembicaraan.
"Baik, terima kasih dokter." kata Yudha dan Baskara bersamaan.
Tidak berapa lama, akhirnya Dev sudah dipindahkan di ruang rawat inap paviliun Anggrek. Yudha duduk di pinggir bed, sambil memandang wajah istrinya yang masih terlihat pucat. Hatinya kembali sakit, bahkan jika dia tahu kalau kehamilan bisa sangat menyakiti istrinya, dia lebih memilih untuk tidak memiliki anak di saat sekarang. Keselamatan Dev saat ini menjadi prioritas utamanya.
Setelah memastikan istrinya tidur dengan tenang, Yudha berdiri dan akan keluar meninggalkan kamar. Hatinya mendadak hangat melihat kakeknya tertidur kelelahan di atas sofa. Sejak dulu kakek Baskara adalah orang yang selalu menjaga dan merawatnya. Dengan hati-hati, dia keluar kamar, kemudian mengeluarkan ponsel untuk melakukan panggilan.
"Ya boss, lima menit lagi saya sampai lokasi." jawab Pratama di seberang telepon. Saat ini dia dan tiga pengawal Dev sedang berada di kantin untuk mencari kopi hitam.
"Tidak perlu kesini, aku harapkan kamu paham apa yang harus kamu lakukan." kata Yudha.
"Siap boss, beberapa orang sudah kami interograsi, dan rekaman CCTV di pantry dan sekitar PT. Kalingga sudah di hack oleh Ersa. Pihak PT. Kalingga juga melakukan penyelidikan untuk masalah ini." Pratama menjelaskan.
"Baik, sekarang Carikan selimut dan baju ganti. Aku akan menginap di rumah sakit sampai istriku betul-betul dinyatakan sehat, dan kami diijinkan pulang. Juga kirim makanan untuk kakek" kata Yudha memerintahkan Pratama.
"Baik boss, saya segera ke **lleria Mall depan rumah sakit ini untuk mencari barang sesuai permintaan boss." Secara kebetulan Rumah Sakit ***hesda terletak di pusat kota, tepat di depan salah satu mall yang ada di kita ini.
******
Tengah malam di koridor rumah sakit, Yudha terlihat sedang mengarahkan orang-orangnya. Baskara melihat mereka dari pintu paviliun, tapi dia memutuskan untuk tetap berada di dalam kamar menemani cucu menantunya.
"Maafkan saya Tuan, saya lengah. Saya tidak pernah berpikir ada yang licik memasukkan obat ke dalam teh yang sedang disiapkan oleh Mijan." kata Jatmiko.
"Jangan kamu pikir, dengan meminta maaf kamu akan terlepas dari tanggung jawab dan hukumanmu." sahut Yudha sinis.
"Saya tidak berani Tuan." jawab Jatmiko ketakutan.
"Waktu itu Mijan dibuat panik karena ada api di dekat tabung gas yang timbul karena lap yang terbakar. Pada saat Mijan berusaha memadamkan api, ada orang datang dan memasukkan obat ke dalam cangkir teh untuk Nyonya Muda." kata Janu pengawal satunya mencoba menjelaskan kronologi awal kejadian.
"Ersa, bagaimana hasil penyelidikanmu." tanya Yudha pada Ersa.
"Untungnya perintah untuk hack security system' di lakukan secepatnya, jadi saya masih bisa melakukan pengambilan data gambar rekaman video. Kalau untuk saat ini, rekaman video CCTV sudah tidak ada, jadi kita tidak akan dapat mengambil." sahut Ersa menjelaskan hasil peretasan sistem yang dia lakukan.
"Saat ini Pratama dengan meminta bantuan tim Reserse dari Polda sedang melakukan interogasi pada tersangka yang memasukkan obat ke cangkir teh Nyonya Muda."
"Tapi sepertinya tersangka tersebut hanya merupakan orang bayaran, dan saya yakin akan ada banyak pengembangan dalam kasus ini." kata Ersa menyambut analisisnya.
Mereka terdiam beberapa saat. Kemudian Saiful salah satu pengawal Dev menyampaikan informasi.
"Tadi sore ada empat orang dari PT. Kalingga datang kemari untuk mengunjungi dan memastikan keselamatan Nyonya Muda. Tapi saya berusaha untuk menghalangi mereka."
"Bagus, untuk siapapun yang mengatas namakan dari perusahaan itu ingin mengunjungi istriku. Aku tidak akan mengijinkan, sebelum hasil penyelidikan polisi selesai, dan dapat diketahui siapa pelakunya. Istriku mulai saat ini tidak ada lagi urusan dengan perusahaan itu."
Mata Yudha menyipit, dan dia memastikan untuk melarang Dev memiliki hubungan dengan perusahaan itu lagi. Masalah keamanan dan keselamatan istrinya tidak bisa ditawar dan dibandingkan dengan apapun. Semua itu menjadi garis batasnya. Dia berjanji bahwa dia tidak akan segan-segan melakukan tindakan kriminal, bagi siapapun yang berani melewati garis batasnya.
Pukul dua pagi, pembicaraan mereka berakhir. Ersa bergegas meninggalkan rumah sakit, sedangkan ketiga pengawal tetap berada di sekitar rumah sakit untuk memastikan keamanan Tuannya.
Yudha kembali masuk ke dalam kamar. Setelah membasuh muka dan mencuci tangan, Yudha perlahan duduk di kursi samping ranjang tempat berbaring istrinya. Raut muka tampak lelah tidak dirasakannya, kemudian dia meletakkan kepalanya di ranjang samping istrinya, kemudian perlahan memejamkan matanya.
******