
Satu bulan kemudian bertepatan dengan hari pernikahan Bianca, tiba-tiba Yudha memberi tahu pada Dev untuk merestrukturisasi pekerjaannya. Beberapa tugas penting yang biasanya harus diputuskan oleh Dev atau Bianca, Yudha meminta istrinya untuk mulai mendelegasikan pada bawahannya. Sebenarnya Dev belum bisa mencerna, hal apa yang mendasari pemikiran Yudha, tetapi dia berpikir bahwa mengelola perusahaan lebih lama ditangani Yudha daripada dirinya sendiri. Akhirnya dia mulai berpikir untuk mendelegasikan pada orang-orang kepercayaannya di PT. Diamond.
Beberapa tugas penting mulai Dev delegasikan pada Icha, karena dia sudah relatif sering bekerja sama waktu masih di PT. Kalingga. Sedangkan tugas yang tidak terkait dengan keuangan, dia mulai delegasikan pada orang-orang di bawah Bianca.
"Dev..., sebenarnya ada apa ini. Kenapa tiba-tiba kamu mendelegasikan beberapa tanggung jawab penting terhadapku." protes Icha akan keputusan tiba-tiba dari Dev.
Dev tersenyum mencoba mendengarkan keluh kesah dari mantan anak buahnya di perusahaan sebelumnya.
"Icha..., kamu cukup mengenalku bukan. Aku juga sangat mempercayai dedikasi kamu pada perusahaan. Aku hanya ingin membagi sebagian beban pekerjaan, yang selama ini mutlak menjadi hanya tanggung jawabku. Aku juga ingin waktuku untuk kedua putra kembarku tidak terampas oleh kerjaanku. Jadi, aku kali ini mulai memutuskan untuk membagi semua bebanku padamu." jawab Dev sambil tersenyum pada Icha.
"Apakah kamu tidak khawatir atau takut kalau aku membawa pergi semua kepercayaanmu padaku." tanya Icha.
Dev hanya tersenyum menanggapi protes dan pertanyaan dari Icha sahabatnya.
"Icha...., kamu itu bicara apa. Aku kenal kamu itu bukan baru kemarin sore. Meskipun sebagian pekerjaan aku delegasikan padamu, keputusan akhir akan tetap minta persetujuanku. Tanpa ACC dariku, maka semua bisa dinyatakan batal demi hukum." Dev menjelaskan tentang statusnya terhadap keputusan penting dari perusahaan.
"Bantu aku Cha..., atau kamu ingin aku tetap di rumah menjadi pengasuh si kembar. Aku ingin tetap mengasuh kedua putraku, tapi aku juga ingin mewujudkan mimpi-mimpiku." lanjutnya lagi dengan tetap tersenyum.
"Iya Dev.., tanpa kamu mintapun aku akan tetap membantumu. Siapa sih yang tetap berada di sampingku, saat aku mengalami banyak masalah dalam hidupku. Hanya kamu Dev, aku dan Bertho yang bukan siapa-siapa, akhirnya kami menikah dan memiliki seorang putra itu juga karena andil besarmu Dev." tanpa terkontrol akhirnya Icha menyampaikan rasa terima kasih atas jasa-jasa Dev selama ini.
"Sudah, sudah. Tidak baik kita selalu mengingat kejadian di masa lalu. Yang penting kamu mau kan Cha untuk membantuku. Itu yang paling penting." akhirnya Dev memotong pembicaraan dengan Icha.
"Sekarang pelajari tugas-tugas barumu, jika ada pernyataan silakan mumpung hari ini aku baru berbaik hati." sahut Dev sambil menggoda Icha.
"Baik, Dewi keberuntungan keluargaku. Aku pelajari dulu ya, awas jangan tinggalkan aku hari ini. Aku akan terus menganggumu. Aku balik ruangan dulu ya." Icha berpamitan untuk kembali ke ruangannya.
Dev merasa tenang, karena sebagian fungsinya akan digantikan oleh Icha. Sepeninggalan Icha, akhirnya Dev mencoba memberikan review atas dokumen yang sudah banyak menumpuk di atas meja kerjanya.
******************
Hari ini Dev berniat pulang kerja lebih awal dari biasanya. Jam dua siang dia sudah bersiap untuk menelpon pak Sholeh agar menjemputnya. Baru saja dia akan melakukannya panggilan telepon, air phone di ruangannya tiba-tiba berbunyi.
"Iya, selamat siang." Dev menyapa si penelpon.
"Selamat siang ibu, ini saya Deni yang kebetulan bertugas di bagian front line. Mau memberi informasi, jika ibu hari ini sudah ditunggu seseorang di lobby kantor." kata Deni bagian front office.
"Tapi hari ini saya merasa tidak ada janji dengan siapapun mbak. Bisa minta tolong agar dia kesini lain hari. Kebetulan saya juga sudah bersiap untuk pulang ke rumah saat ini." Dev menolak dengan tegas terhadap tamu yang meminta untuk ketemu.
"Baiklah, suruh dia menunggu kalau mau. Aku mau membereskan perlengkapanku sekalian." akhirnya Dev memutuskan untuk menemuinya sambil pamit pulang ke rumah.
Setelah berbenah, kurang lebih lima menit kemudian, Dev sambil sekalian membawa tas tangannya segera berangkat keluar ruangan. Dia sudah menyiapkan jawaban jika tamu yang tidak ada janji terlebih dahulu itu memaksa untuk bertemu. Sesampainya di lobby, Dev tidak melihat tamu siapapun, akhirnya dia mendatangi Deni.
"Mbak Deni, mana tamunya yang mau ketemu saya." tanya Dev.
"Tadi duduk di sofa tunggu Ibu. Atau mungkin baru ke toilet ya Ibu." Deni agak kelimpungan karena tamu yang ngotot ingin ketemu dengan Dev tiba-tiba menghilang.
Tapi tidak menunggu waktu lama, wajah Deni menjadi cerah. Melihat perubahan wajah Deni, Dev kemudian akan memutar badannya untuk melihat di belakangnya. Tetapi tiba-tiba sepasang tangan sudah memeluknya dari belakang.
"Mau cari siapa," bisik Yudha di telinga Dev, yang langsung membuat mukanya memerah. Tapi dia masih berada di lingkungan perusahaan, jadi sikap profesionalitas masih menjadi tuntutan yang utama.
"Terima kasih mbak Deni. Besok lagi kalau tamunya ini, jangan mau dikerjain ya." sahut Dev sambil melepaskan pelukan dari Yudha.
Sambil merangkul pundak Dev, akhirnya Yudha langsung membawa ke mobil yang diparkir di depan pintu lobby. Sesampainya di mobil, Yudha langsung membukakan pintu untuk Dev masuk. Kemudian agak memutar untuk masuk ke kemudinya.
"Kok tumben jemput mommy agak awal. Tadi baru saja mau nelpon pak Sholeh untuk jemput." tanya Dev pada Yudha.
"Berarti hati kita itu sudah jadi satu sayang. Malam ini kita terbang ke Australia sama si kembar. Kita akan datang di pernikahan sahabatmu Bianca dan Reno." kata Yudha yang sangat mengejutkan Dev.
"Benar yang aku dengar saat ini sayang. Aku tidak sedang bermimpikah." tanya Dev sambil memegang tangan Yudha yang sedang diatas kemudi mobil.
"Iya, kan aku pernah berjanji padamu. Kalau aku akan mengajakmu dan anak-anak untuk hadir di acara teman-temanmu." sahut Yudha sambil tetap fokus tatapannya di jalan raya.
Tanpa diminta Dev langsung memberikan kecupan di pipi Yudha. Yudha langsung menengok ke arah Dev.
"Bolehkah suamimu ini memilih sayang, bagian mana yang perlu mendapatkan ciuman terlebih dahulu." ucap Yudha menggoda Dev.
Sambil tersenyum Dev pura-pura tidak memperhatikan respon dari suaminya. Tatapan matanya malah dia arahkan pada jendela yang ada di sebelah kirinya. Yudha juga tidak kehilangan akal, spontan kakinya menginjak rem mobil, kemudian dengan sedikit paksaan dia mencium mesra Dev.
Setelah berhasil dan mendapatkan pelototan dari Dev, akhirnya sambil tertawa lebar Yudha kembali menginjak pedal gas mobilnya.
***********************