Married By Incident

Married By Incident
Wellcome to Lombok



#Dev


Sesampainya di Ringrod selatan, Dev menyalakan aplikasi "G" untuk order mobil menuju bandara "Y". Tak berapa lama, mobil yang dipesannya datang.


"Selamat siang. Apakah dengan mbak Dev." sapa driver ramah.


"Benar pak, langsung menuju bandara ya."


"Siap mbak, tapi nanti mohon saya dibantu pembayaran uang parkir di bandara ya."


"Ya, nanti saya yang akan membayar."


"Terimakasih."


"Yupz, sama-sama."


Di dalam mobil Dev langsung menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Dia berdoa dalam hati.


"Ya Allah, lancarkan lah urusanku hari ini. Aamiin."


"Mau terbang kemana mbak. Sudah pesen ticket" tanya driver.


"Pingin ke "L" pak, tapi belum beli ticket sih. Sepertinya ada jadwal penerbangan langsung tanpa transit pesawat "G" pukul 14.45 wib."


"Memang masih bisa "Go Show" mbak, bukannya sudah tidak dibolehkan."


"Iya sih beritanya. Tapi sepertinya masih bisa. Lagian Gambling aja pak saya, kalau tidak ada pesawat kesana, yah sedapatnya pesawat saya terima."


"Lho, mbaknya ini lucu. masak naik pesawat seperti naik angkot, sedapatnya." sahut driver sambil tersenyum.


"Dah biasa pak saya backpacker an kemana-mana sendiri."


"Udah ya pak ngobrolnya, saya mau istirahat sebentar. Kalau dah mau masuk bandara, tolong saya dibangunkan."


"Baik mbak, selamat beristirahat, nanti kalau sudah mau sampai mbaknya saya ingatkan."


Dev tetap nekad berangkat ke bandara. Dia tidak peduli apakah ada ticket atau tidak menuju ke kota "L". Yang penting hari ini dia bisa meninggalkan kota "Y" untuk sementara waktu.


****


"Maaf mbak, sudah masuk ke gerbang bandara." dengan suara pelan driver memberi tahu Dev.


"Terimakasih pak." Dev menegakkan posisi badannya sambil menyiapkan uang 20 ribu.


"Saya turunkan depan pintu keberangkatan ya, biar mbak lebih dekat dengan bagian ticketing." saran driver.


"Oke."


Tak berapa lama.


"Akhirnya dah sampai bandara mbak, hati-hati perjalanannya. Tadi dah bayar pakai OVO ya, sekarang tinggal bayar parkirnya mbak 5.000 rupiah."


Dev mengulurkan uang 20.000 ke driver Ojol, sambil membuka pintu mobil.


"Terimakasih ya pak, ambil saja kembaliannya. Semoga rejeki bapak lancar hari ini."


"Aamiin, terimakasih banyak ya mbak."


"Sama-sama."


*****


Dev bergegas memasuki lobby, dan melangkah menuju escavator arah basement. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan petugas, Dev langsung mendatangi bagian ticketing.


"Selamat siang mbak, apakah penerbangan ke "L"; masih ada seat."


"Ada kak, kebetulan tinggal satu seat di kelas Bisnis. Apakah akan diambil."


"Bisa diinformasikan harganya dulu, kena berapa harga mbak."


"Kebetulan karena tinggal satu seat, dan penjualan akan segera kita Close, kita ada promo diskon 50%." jawab petugas counter ticketing.


"Jadi kakak cukup membayar 750.000. Apakah akan diambil?" tanya petugasnya.


"Aneh ini maskapai, seharusnya tinggal satu seat kan dijual mahal, tapi kok malah ada potongan harga." batin Dev penuh tanda tanya.


"Tapi bodo amat, yang penting dapat harga murah." segera Dev menganggukkan kepala.


"Baik, tunggu sebentar ya. Apakah ada bagasi kakak."


"Tidak" sahut Dev cepat.


"Ini boarding pass nya kak. Pesawat terlaporkan on time. Kami harap semua penumpang maksimal pukul 14.00 sudah siap di waiting room. Masih ada yang bisa saya bantu." kata petugas counter.


"Terimakasih mbak, sudah cukup informasinya. Permisi."


Dev meninggalkan counter ticketing, dan sebelum masuk waiting room dia mencari chip telepon seluler. Untuk sementara dia akan mengganti nomor selulernya.


*****


Begitu mendapatkan chip telepon seluler baru, Dev segera mengganti chip lamanya dengan chip baru. Setelah terpasang, dia langsung melakukan panggilan kepada Berto.


"Selamat siang, dengan siapa ini." suara Berto di seberang telepon.


"Bro, ini aku Dev. untuk sementara nomorku pakai yang ini. Tolong jangan diinformasikan Nomor ini ke siapapun ya." pinta Dev.


"Astaghfirullah, tak pikir nomor siapa Dev. Untung saja tidak ku reject karena Unknown number."


"Tolong bantu aku ya bro. Untuk sementara, selama satu Minggu ini aku akan cuti mendadak."


"Tapi aku siap menyelesaikan pekerjaan yang mendesak secara online. Nanti kita komunikasi via email, dan untuk pekerjaan Offline tolong kamu tangani dulu ya."


"Sebentar .. sebentar.. cerita dulu ada apa sebenarnya. Tiba-tiba tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu main cuti segala."


"Memang kamu mau nikah, trus lanjut bulan madu." tanya Berto.


"Please brooo, kumohon jangan tanya aku sekarang." sahut Dev sambil terisak.


"Dev, how about you? Are you fine, and where are you now?" dengan rasa khawatir Berto memberondong Dev.


Tiba-tiba terdengar suara announcement


"Perhatian para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 301 dengan tujuan Lombok dipersilakan naik ke pesawat udara melalui pintu A5."


"Dev, kamu di bandara? Mau kemana."


"Maaf ya bro, aku harus segera boarding ke pesawat. Please, help me please."


"Iya iya, hati-hati di jalan. Kamu berhutang penjelasan padaku."


Segera Dev mematikan ponselnya, dan bergegas ke arah pintu A5. Setelah dilakukan pengecekan boarding pass dan ID Card, Dev menuju pesawat dengan menaiki bus bandara.


*****


Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya pesawat mendarat di bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok Tengah. Karena selisih waktu antara WIB dan WITA adalah satu jam, saat ini jam menunjukkan pukul 16.50 WITA. Beruntung Dev tidak membawa bagasi, sehingga dia tidak mengalami kerepotan untuk mengambil barang-barang.


Sejenak Dev beristirahat di kursi luar pintu kedatangan, sambil menghidupkan ponselnya. Kemudian dia masuk ke aplikasi travel untuk mencari tempat penginapan yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan. Karena dia tidak membawa perlengkapan apapun, otomatis harus belanja kebutuhannya selama disini.


Setelah mendapatkan kamar di hotel Santika Mataram, Dev beranjak keluar untuk mencari transportasi.


"Pak, taksi" teriak Dev memanggil taksi bandara.


"Siap mbak." sahut driver taksi sambil mengarahkan mobilnya ke tempat Dev.


" Lombok Episentrum mall ya pak."


"150 000 mau mbak, karena jauh di Mataram."


"Ya ga pa pa."


*****


Setelah 45 menit perjalanan, taksi yang ditumpangi Dev memasuki parkiran Episentrum mall.


"Sudah sampai mbak."


"Ya, terimakasih pak." jawab Dev sambil memberikan ongkos taksi.


Segera Dev memasuki mall, dan langsung menuju "M" department store. Kemudian dia mengambil beberapa lembar setelan baju santai, pakaian dalam, deodorant, dan parfum.


Setelah belanja perlengkapan, Dev mampir di "PH" untuk membeli makanan, dan langsung menyetop taksi untuk mengantarkan ke hotel.


****