Married By Incident

Married By Incident
Pregnant



Merasa ada elusan tangan di wajah dan hembusan nafas berat di sampingnya, Dev perlahan membuka matanya. Dia melihat Yudha sedang duduk di kursi dan meletakkan kepala di atas ranjang dengan tangan mengelus pipinya.


"Apa yang kamu rasakan sayang," tanya Yudha perlahan dengan rasa penuh kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja sayang, tidak perlu khawatir berlebihan." kata Dev menenangkan Yudha.


"Kalau baik-baik saja, tidak mungkin kamu akan tidur di kamar ini."


"Sebenarnya dokter tadi mengijinkan aku pulang, sambil menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium. Tapi pak Baskara memaksa dokter untuk merawat aku disini. Dimana beliau sayang."


Mendengar suara pembicaraan, Baskara dan Pratama segera menuju ke samping bed.


"Kamu sudah bangun nak," tanyanya dengan senyum tulus.


"Terima kasih pak Bask.., maaf ya saya sudah sangat merepotkan Bapak." kata Dev memohon maaf dengan tulus pada Baskara


"Tidak perlu minta maaf. Sudah tugasnya untuk menjaga keluarga, bukan melanglang buana untuk mencari petualangan." sahut Yudha ketus.


Dev merasa bingung, kemudian menatap mata Pratama dan pak Baskara untuk mencari penjelasan. Pratama hanya tersenyum sambil menutup mulutnya, sedang pak Baskara tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Sayang..., tidak boleh seperti itu. Pak Baskara lah yang sudah membawaku kesini."


"Tidak perlu dipikirkan, ga penting. Mau makan apa sayang, biar dicarikan Pratama." tanya Yudha sambil mencium lembut tangan kanan Dev.


"Aku tidak pingin makan apa-apa, bawaannya mual dari tadi pagi."


"Tapi harus tetap dipaksakan, Meskipun sedikit, agar tetap ada nutrisi yang masuk."


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk tiga kali, kemudian seorang perawat masuk ke dalam dengan membawa nampan.


"Selamat malam," sapa perawat dengan ramah.


"Selamat malam Suster," ucap Dev. menjawab salam.


"Ini ada air kacang hijau nanti diminum ya mbak, sekalian sama ini vitaminnya."


"Baik mbak,"


"Mohon maaf, dari bapak-bapak ini apa ada yang suaminya ibu Devina, kalau ada bisa mengikuti saya ke ruang dokter jaga."


"Ya suster," kata Yudha.


Yudha mengikuti suster menuju ruang dokter jaga. Baskara perlahan ikut menyusul Yudha di belakangnya. Pratama tinggal di dalam kamar menemani Dev.


"Tama...., ada apa dengan suamiku. Apakah sebelumnya Yudha sudah kenal pak Baskara?" tanya Dev penasaran.


"Ha...ha... dua orang itu kalau jauh bilang rindu, kalau sedang bersama, adanya perang urat syaraf." jawab Pratama sambil tertawa.


"Maksudmu apa?"


"Baskara itu kakeknya Tuan Boss. Sudah satu Minggu lebih, saya dan Boss menugaskan orang-orang untuk mencari keberadaan Tuan Besar. Tapi ternyata Tuan Besar lebih licik, bahkan namanya saja tidak terendus." kata Pratama menjelaskan.


"Hubungan keluarga macam apa itu." gumam Dev.


"Nyonya Muda jangan kaget melihat kehidupan mereka. Tapi sebenarnya mereka sangat menyayangi satu sama lain, Tuan Besar sering membuat sensasi, datang, menghilang tanpa diketahui."


"Mungkin Tuan Besar membutuhkan hiburan. Semoga Nyonya Muda segera bisa memberikan keturunan, sehingga bisa mengalihkan perhatian Tuan Besar." kata Pratama sambil tertawa kecil.


"Kamu meledekku, awas saja." sahut Dev sewot. Kemudian Dev menceritakan pertemuannya dengan Baskara.


"Sebenarnya aku sudah ketemu dengan Pak Baskara satu Minggu yang lalu. Bahkan kami sempat jalan bareng dan ngopi di *Co & Donut,s,"


"Saya kagum dengan pak Baskara. Beliau orangnya baik, pengetahuannya luas tentang banyak hal. Tapi beliau tidak pernah bercerita tentang keluarga. Kebetulan aku mengerjakan project branding untuk PT. Diamond, dan beliau bergabung di Advisory board."


Dev manggut-manggut mendengarkan cerita Pratama. Terlalu banyak misteri yang belum diketahui tentang keluarga suaminya.


******


Yudha langsung menyelonong masuk ke ruang dokter jaga tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Baskara hanya geleng-geleng kepala melihat keangkuhan cucunya. Ternyata hanya di depan Dev, Yudha bisa menundukkan kepala dan membuang rasa egoisnya.


"Silakan duduk mari." kata dokter menawarkan mereka duduk dengan ramah.


Yudha dan Baskara segera mengambil tempat duduk, dan mereka berhadapan dengan dokter.


"Kenalkan saya Dokter Ferdy, dokter spesialis di bidang kebidanan dan kandungan yang kebetulan jaga malam ini." Dokter mengenalkan diri.


Karena Dev menginap di Presidential suite, dokter spesialis sesuai kondisi pasien akan didatangkan untuk mendampingi pasien.


"Ya dokter, saya suaminya Devina. Bagaimana keadaan sebenarnya dari istri saya dok." tanya Yudha tidak sabar, dan tidak ada waktu untuk sekedar berbasa-basi.


"Oh anda suaminya ibu Devina. Selamat ya pak, anda dalam waktu yang tidak lama lagi akan segera menjadi seorang bapak."


"Apa maksudnya dok," tanya Yudha bingung.


"Maksud saya, ibu Devina saat ini dalam keadaan hamil kurang lebih selama dua Minggu."


Yudha tiba-tiba terdiam melamun, seperti orang kehilangan ingatan.


"Anak, bapak," Yudha berbisik lirih sambil menatap dokter dan Baskara. Dia seperti tidak mempercayai pendengarannya.


Dokter tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Benar pak, Bu Devina hamil. Selamat ya atas berita bahagia ini." kata dokter menegaskan, dan menyalami Yudha. Yudha menyambut tangan dokter untuk bersalaman dengan tatapan kosong.


"Terima kasih dokter, terus treatment apa yang harus kita siapkan untuk perkembangan janin buyut saya dokter." Baskara lebih bisa menguasai emosi kebahagiaannya.


"O..bapak kakek buyutnya. Baiklah saya akan jelaskan, karena sepertinya cucu bapak belum percaya akan kabar bahagia ini."


Dokter menjelaskan kepada Baskara dan Yudha tentang treatment untuk trimester pertama, kedua dan ketiga untuk pertumbuhan janinnya. Selama 30 menit mereka berada di ruang dokter, untuk mendapatkan kursus singkat tentang pregnancy.


*****


Di luar ruang dokter jaga, Baskara tidak bisa meluapkan rasa emosi bahagianya. Sambil menangis, Baskara memeluk erat tubuh Yudha.


"Terima kasih cucuku, terima kasih masih memberi kakek kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini." ucap Baskara.


Yudha tiba-tiba menurunkan badannya dan melakukan sujud syukur di lantai rumah sakit. Baskara segera membangunkan tubuh Yudha, kemudian merangkul dan mengajaknya kembali ke kamar.


Sampai di kamar inap Dev, Yudha langsung menghampiri Dev. Dengan penuh haru Yudha menciumi seluruh badan Dev, dan berhenti lama di perut Dev.


"Ada apa sayang, jangan begini, badanku risi," kata Dev bingung dan berusaha menarik rambut Yudha.


Yudha menengadahkan kepala, kemudian memberikan kecupan lembut di kening Dev.


"Terima kasih Dev, kita akan menjadi papa dan mama." bisiknya lembut.


"Apa," tanya Dev sambil menatap mata suaminya.


Yudha mengangguk, dan menghapus air mata yang menggenang di mata istrinya.


Pratama dari sudut ruangan memperhatikan keluarga yang sedang berbahagia itu. Hatinya ikut terharu dan bahagia untuk keluarga Baskara, keluarga yang telah menolong mereka selama tiga generasi.


******