Married By Incident

Married By Incident
Undangan



Dev tetap menjalani hari-hari kerja seperti biasanya. Adanya surat teguran yang diterima dari Board of Directors tidak dihiraukan oleh Dev. Dia menghargai upaya yang diberikan suaminya untuk memastikan keamanan dan keselamatannya.


Gunawan sebagai salah satu Direksi di PT. Kalingga juga tidak berani memaksakan pada Dev untuk menarik semua pengawal yang ditempatkan CEO PT. Globe Tbk di perusahaannya. Peran dan kontribusi yang diberikan Dev ke perusahaan sangat penting untuk sustainbility perusahaan yang saat ini dipimpinnya. Berbagai ide kreatif, kemampuan personal selling dalam meyakinkan calon rekanan dikuasai dengan baik oleh Dev.


"Hi Dev .. bagaimana kehamilanmu." sapa Donna di pintu masuk ruangannya.


"Alhamdulillah.., sehat dan baik Donna. Baru datang," tanya Dev.


"Iya, tadi baru scan surat-surat."


"Kenapa ga scan di kantor, bisa minta tolong petugas admin."


"Urusan pribadi Dev, aku mau ikut caramu yang selalu memisahkan urusan pribadi dan urusan kantor. Pokoknya di kantor ini, aku referent darimu Dev " kata Donna tulus.


"Ah kamu bisa saja Donn. Aku mau masuk ruangan, mampir atau gimana." tanya Dev pada Donna.


"Aku mau menyampaikan informasi sedikit sebenarnya Dev, tapi aku khawatir timingnya kurang tepat. Aku takut menyita waktumu" kata Donna lirih.


"Halah...kayak dengan siapa saja. Ayok masuk ruanganku." kata Dev sambil membuka pintu ruangan dan mempersilakan Donna masuk.


Donna kemudian duduk di sofa, diikuti oleh Dev yang duduk di hadapannya. Setelah mengambil nafas, Donna mulai berbicara.


"Dev..., Minggu depan aku akan melangsungkan pernikahan di Jakarta." ucap Donna lirih sambil menundukkan kepala.


"Luar biasa, semoga barokah Donna. Aku selalu berdo.a untuk kebahagiaanmu. Selamat, selamat ya atas keputusan yang luar biasa." seru Dev meluapkan rasa bahagianya.


Donna menatap Dev.


"Dev..., apa kamu tidak menanyakan siapa yang akan menjadi suamiku." tanya Donna.


"Siapapun suamimu Donn, aku yakin kamu sudah mempertimbangkan dengan sangat matang. Karena ikatan pernikahan adalah sesuatu yang sakral, aku yakin kalian sudah cukup dewasa untuk memahaminya." sahut Dev.


"Dev..., aku akan menikah dengan Andre, karena aku tidak akan dapat membohongi perasaanku sendiri. Saat ini aku hanya menginginkan Andre untuk menjadi suamiku."


"Itu pilihanmu Donna, Andre sebenarnya laki-laki yang baik. Selain denganku dulu, dan sekarang denganmu, aku tidak pernah mendengar affair Andre dengan wanita yang lain."


"Meskipun dengan cara yang salah dia mendekatimu, tapi aku yakin Donna. Kamu akan dapat mengarahkan Andre menjadi pribadi yang lebih baik." ucap Dev tulus.


Dengan berlinang air mata, tiba-tiba Donna memeluk Dev.


"Kamu ternyata wanita yang sangat baik dan tulus Dev. Maafkan aku yang dulu pernah menyakitimu."


"Bangunlah Donna, apa kamu tidak sadar kalau kamu sekarang menyakiti bayiku." bisik Dev di telinga Donna untuk menggodanya.


Mendengar perkataan Dev, Donna sontak memundurkan tubuhnya.


"Maaf," ucap Donna lirih.


"Jangan khawatir aku tidak apa-apa." sahut Dev dengan senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya.


Donna mengambil undangan dari dalam tas, kemudian menyerahkan pada Dev.


"Dev, ini undangan pernikahan Aku dan Andre. Besar harapanku kamu bisa hadir di acaraku Dev." kata Donna.


Dev menerima surat undangan, dan mengamati kertas dengan warna dominan ungu burgundy muda.


"Donna.., sebelumnya maafkan aku. Kamu tahu sendiri kan kondisiku saat ini." katanya pelan.


"Yudha tidak akan pernah mengijinkan aku pergi jauh tanpa dia di sisiku."


"Jadi aku tidak akan berani mengambil resiko untuk kemarahan suamiku, maka mohon dimaafkan aku Donn. Aku ijin tidak dapat menghadiri pesta pernikahan kalian." kata Dev menegaskan di awal tentang alasannya tidak bersedia hadir.


Donna memandang Dev, kemudian setelah mengambil nafas panjang.


"Baiklah Dev, terima kasih atas semuanya. Do.a yang tulus, maaf yang tulus untuk kami," kata Donna.


Dev berdiri kemudian memeluk Donna. Donna agak khawatir dengan kehamilan Dev, sehingga dia agak memundurkan tubuhnya ke belakang.


"Ayolah peluk aku, tadi aku hanya bercanda." kata Dev.


Kedua wanita yang pernah ada di hati laki-laki bernama Andre berpelukan erat di ruangan Dev dengan penuh keikhlasan.


*******


Jam tiga sore Porsche Cayman yang dikendarai Yudha masuk di lobby PT. Kalingga. Pengawal yang ditugaskan Yudha untuk mengawal istrinya, dengan sigap membukakan pintu Tuannya, dan mengambil alih kemudi untuk memarkirkan mobil. Yudha segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki lounge dengan aura arogannya. Tanpa banyak kata Yudha langsung duduk di kursi tunggu, dan membuka ponsel untuk mengisi waktu menunggu istrinya keluar.


Melihat kehadirannya yang seperti tidak tersentuh, para karyawan PT. Kalingga yang kebetulan berpapasan dengannya, hanya memandang tanpa berani menyapa. Kelembutan dan kepasrahan Yudha hanya diberikan untuk Dev istrinya dimana dia akan berubah menjadi lembut dan lunak jika berada di hadapan Dev.


Pukul 15.30 Dev berjalan keluar untuk meninggalkan ruangannya. Perlahan dia keluar menuju lobby, dan dengan senyum merekah, Dev melihat suaminya sudah menunggu di lounge.


"Sayang..., sudah lama nunggunya." sapa Dev dengan menggayut manja ke tubuh Yudha.


Yudha langsung berdiri kemudian merengkuh istrinya, memberikan kecupan di dahi, dan membawanya keluar.


"Uh...uwu banget..., mau..," batin Ocha karyawan yang bertugas di front office saat melihat kemesraan Dev dan Yudha.


"Heh...sadar, mupeng loh." tegur Adit teman semeja di front office.


"Pemandangan menyegarkan di depan mata, ya harus dinikmati to Dit. Masih ada tidak ya stock laki-laki cool seperti suami mbak Dev." kata Ocha sambil melamun dan menaruh dua telapak tangannya menyangga dagu.


"Cari di kulkas atau di freezer sana gih." sahut Adit.


Ocha langsung cemberut mendengar perkataan Adit, kemudian dia langsung melanjutkan pekerjaannya.


*****


Saat berdua di dalam mobil, Dev menyandarkan kepalanya di bahu kiri Yudha. Untuk menjaga keseimbangan istrinya dan agar mengendalikan kecepatan mobil, Yudha mengemudi mobil dengan pelan-pelan. Sesekali bibirnya akan memberikan kecupan dalam di dahi istrinya.


"Sayang..., aku dapat undangan ke Jakarta." kata Dev.


"Acara apa, dengan perut seperti ini memangnya aku mengijinkan kamu pergi sendiri." sahut Yudha.


"Aku juga tidak ingin pergi. Aku dapat undangan pernikahan Andre dan Donna."


"Benarkah, kalau begitu kita berdua akan hadir disana untuk mendoakan mereka. Kita bisa menggunakan jet pribadi sehingga kamu tidak kecapaian menghabiskan waktu di perjalanan." kata Yudha semangat.


"Kok jadi suamiku yang semangat untuk berangkat kesana. Sayang...., kamu sedang tidak sarkasme kan," tanya Dev sedikit khawatir dengan antusiasme Yudha ingin menghadiri pernikahan Andre dan Donna.


"Oh tentu tidak sayang, hal ini harus dirayakan dan didoakan. Karena kalau mereka hidup bahagia selamanya, tidak akan ada lagi yang akan merecoki dan mengganggu kehidupan istriku." sahut Yudha sambil senyum-senyum.


"Hadeh..., aku pikir suamiku tulus." kata Dev sambil menepuk jidatnya perlahan.


"Ha .ha .ha.., aku tulus sayang. Nanti malam kita juga harus merayakannya." kata Yudha tertawa dengan pandangan mesum.


"Dasar laki-laki, lebih dari 95% isi otaknya tidak akan jauh-jauh dari tempat tidur." gerutu Dev dalam hati.


******