Married By Incident

Married By Incident
Extra Part 1 New Zealand



Yudha akhirnya mengajak Dev dan kedua putranya mengunjungi kakek Baskara di New Zealand. Penerbangan pertama transit di Sydney, kemudian setelah istirahat sekitar satu jam perjalanan dilanjutkan lagi menuju Auckland.


"Mommy...., kita mau ketemu siapa Mom." tanya Zidan dengan agak cedal.


"Kita mau berkunjung ke tempat opa buyut sayang." Dev menjawab pertanyaan dari Zidan sambil tersenyum.


Zidan menganggukkan kepala, sedangkan Vian hanya sekilas melihat ke arah mereka, kemudian kembali fokus menatap ke depan. Yudha gemas melihat tingkah laku Vian, kemudian mengangkat Vian dan hendak memangku.


"No Daddy....., Vian lebih suka duduk sendiri." ucap Vian sambil turun dari pangkuan Yudha, dan kembali duduk di kursi sendiri.


"Okay, putra Daddy kuat-kuat." Yudha gemas melihat perilaku si twins.


Dev tersenyum melihat interaksi suami dan Vian. Kemudian dia kembali fokus memangku Zidan. Dari dulu Dev berniat ingin membawa konsultasi tentang tumbuh kembang si Vian ke psikolog. Tetapi Yudha tidak mengijinkan, mereka akan tetap memperlakukan kedua putranya dengan cara yang sama untuk anak seusianya.


"Masih lama Daddy perjalanan kita ke Auckland." tanya Dev.


"Tidak, 30 menit lagi kita akan landing di bandara. Jaga agar si twins tidak tidur, agak kita turunnya lebih mudah."


"Okay," jawab Dev singkat.


Kemudian Dev membuat satu permainan untuk mereka, sambil menunggu 30 menit waktu landing.


*********************


Baskara menjemput kedatangan keluarga cucunya dengan membawa driver yang bernama Smith. Dia merentang kedua tangannya ke kiri dan ke kanan melihat empat orang yang sudah dia tinggi dari dua jam tadi.


"Opa buyut ....," Dev menyapa Baskara sambil mengulurkan tangan kedua putranya.


Baskara langsung memeluk keduanya, dan menciumi si twins dengan sangat gemas


"Kalian sudah besar sekarang buyut opa, sudah gagah dan tinggi."


"Opa sehat kan." Dev menyalami tangan Baskara kemudian menciumnya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Yudha, kemudian Baskara memeluk mereka. Tanpa sadar mereka menjadi tontonan di bandara, tetapi mereka tetap cuek dan berusaha tidak memperhatikan.


"Opa sehat selalu. Ayo kita segera keluar, kita menunggu di food court saja." Baskara mengajak mereka untuk istirahat.


"Smith..., I want you to take my grandson's luggage. We'll be waiting for you at the food court." lanjut Baskara memerintah Smith untuk mengurusi bagasi Yudha.


Baskara memesan banyak makanan untuk mereka semua. Sambil menikmati hidangan yang sudah tersaji, Baskara mengajak mereka membicarakan banyak hal.


"Di kebun belakang, kakek menanam buah dan sayur. Untungnya pas siap panen, nanti kita akan buat acara disana." cerita Baskara.


"Wow .., buah apa yang kakek tanam. Sekalian nanti kita kenalkan si twins dengan sayuran dan buah disana." sahut Dev sambil menyuapi si twins satu persatu.


Sedangkan Yudha hanya membantunya, karena kedua putranya hanya mau disuapi oleh Mommy nya. Sesekali dia menyesap kopi panas dari cangkirnya, dan menyuapi Dev dengan potongan roti.


"Untuk sayuran, kakek menanam tomat, paprika, Chilli, dan banyak lagi. Untuk buah ada kiwi dan beberapa buah lokal khas sini."


"Kakek kenapa tidak ikut makan. Masa dari tadi hanya kami yang sibuk makan." tanya Dev yang dari tadi Baskara hanya berbicara, tanpa sedikitpun menyentuh makanan.


"Kakek sudah makan tadi Dev, jangan khawatirkan kakek. Melihat kalian semua lagi dalam keadaan sehat, kakek jadi tambah sehat. Bagaimana perusahaan Yudha."


"Masih jalan seperti biasa Kek. Ya, kalau masalah ya ada, datang satu persatu. Tetapi Yudha dan tim bisa menyelesaikannya." sahut Yudha.


"Iya kek, Pratama yang handle perusahaan setiap Yudha tinggalkan. Untuk calon istri Pratama, tugasnya Dev itu kek untuk mencarikan." sahut Yudha sambil mengusap lelehan saos di sudut bibir Dev.


"Waduh .. , kok jadi Dev ini yang kedapatan tugas mulia." ucap Dev sambil tersenyum.


"Carikan Dev. Kakek banyak dibantu oleh keluarga Pratama di masa lalu Dev. Sampai sekarangpun, Pratama selalu berada di belakang Yudha. Mencari pendamping untuknya itu kewajjban kita." kata Baskara sambil tersenyum.


"Siap, iya kek. Nanti Dev coba tak menanyakan sendiri pada Pratama. Kira-kira gadis yang seperti apa, yang masuk kriterianya." Dev menyanggupi saran kakek dan suaminya untuk mencari gadis buat Pratama.


Setelah beberapa saat, akhirnya Smith muncul di depan mereka. Baskara menyilakan Smith duduk kemudian mengenalkan keluarga cucunya.


"Come on Smith, drink and eat first. Then we go home." Yudha menawarkan Smith untuk makan dan minum terlebih dahulu.


"Okay," sahut Smith.


Setelah mereka selesai makan dan minum, dan semua bagasi sudah masuk mobil akhirnya mereka pulang ke rumah Baskara. Baskara tinggal di Matakana sebuah kawasan pedesaan di Utara Auckland. Satu jam perjalanan dibutuhkan Smith dari bandara untuk menuju rumah Baskara.


"Mommy..., banyak pohon, ada danau." seru Zidan yang sangat senang mengamati pemandangan baru di kota ini.


"Nanti, di tempat opa buyut juga banyak pohon. Nanti setelah istirahat, besok kita berkebun sambil memetik buah dan sayur." Baskara menanggapi ucapan Zidan.


"Iya sayang, nanti di tempat opa juga banyak pohon." jawab Dev.


"Really?" tanya Zidan sambil memandang wajah mamanya.


"Yupz, coba Zidan tanya opa." Dev mengalihkan pertanyaan ke Baskara.


"Really opa, banyak pohon di rumah opa." Zidan mengajukan pertanyaan pada Baskara.


Baskara tersenyum bangga, kemudian meminta Zidan lebih mendekat padanya. Sepanjang perjalanan, Baskara menjelaskan pada Zidan tentang apapun yang mereka lihat di jalan.


"Vian mau minum sayang," tanya Dev pada Vian yang duduk dekat dengan Yudha.


"No." jawab Vian cepat.


Yudha menoleh ke arah putranya, kemudian tersenyum menatap Dev


"Vian akan mengambil sendiri sayang, tidak perlu ditanyakan. Dia sedang mencerna dan menikmati perjalanan." kata Yudha.


Dev tersenyum kemudian menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Vian. Tapi tiba-tiba Yudha menarik lengannya, dan meminta Dev menggeser duduknya lebih mendekat ke arahnya.


"Sudah, biarkan anak-anak belajar sendiri tentang lingkungan. Nanti mereka akan menanyakan pada kita, jika ada yang kurang mereka pahami. Sekarang duduk dekat Daddy." kata Yudha sambil merangkul pinggang Dev


Akhirnya Dev duduk mendekati suaminya, dan meletakkan di pundak Yudha. Tidak berapa lama, akhirnya mobil memasuki sebuah rumah yang memiliki halaman luas dengan banyak pepohonan di sekitarnya.


"Selamat datang di tempat opa." kata Baskara.


"Wow .., sangat menyenangkan sekali opa rumahnya." sahut Dev.


Setelah Smith memarkirkan mobilnya, kemudian membuka pintu mobil satu persatu. Mereka dengan hati-hati segera turun, Zidan langsung berlari dan duduk di kursi panjang yang terletak di bawah pohon. Dev segera turun kemudian merentangkan tangannya dan menghirup udara sekitar. Dia tersenyum melihat perilaku Zidan, sedangkan Vian digandeng papanya langsung menuju teras.


*******************