
Siang selepas jam istirahat, pak Gunawan mengajak Dev untuk diskusi santai tentang pekerjaan kantor.
"Dev, bagaimana projects dengan PT. Diamond." pak Gunawan menanyakan progress PT. Kalingga menerima project branding PT. Diamond.
"Lancar pak, tim IT, influencer, buzzer juga sudah kita push, untuk penciptaan brand awareness produk dari yang ditawarkan Diamond. Apalagi target pasar sasaran yang kita incar adalah mahasiswa dan pelajar SMA." Dev menjelaskan strategi branding untuk PT. Diamond yang sudah menjadi client mereka.
"Anak-anak generasi Z saat ini mereka lebih suka aktif di media sosial, sehingga buzzer kita kerahkan untuk membangun opini positif. Sedangkan untuk influencer kita endorse selebgram dengan tarif yang jauh lebih murah, daripada kalau kita menggunakan artis."
"Bu Bianca setuju tidak dengan konsep yang kita tawarkan."
"Setuju pak, karena Bu Bianca juga secara intensif selalu diskusi dengan tim kita. Setiap konsep baru selalu kita informasikan kepada beliau." lanjut Dev.
"Bagus Dev .. good job, hanya tim kalian yang paling bisa kuandalkan disini."
"Terima kasih pak."
Tiba-tiba Donna masuk ikut bergabung dengan diskusi Dev dan pak Gunawan.
"Apakah saya diijinkan bergabung pak Gun, Bu Dev " tanya Donna. Donna tetap bertindak profesional terhadap Dev saat berada di lingkungan perusahaan.
"Silakan kalau Bu Donna berkenan untuk ngobrol ngalor ngidul dengan kami." jawab Dev dengan menunjukkan sikap ramahnya.
"Jangan merendah Bu, siapa sih yang tidak tahu sepak terjang Bu Devina dalam mematahkan hati lawan-lawan main dalam perebutan tender." sahut Donna tanpa bermaksud sarkasme.
"Jujur, tadi saya mendengar diskusi tingkat tinggi antara pak Gunawan dan Bu Devina, saya jadi tertarik untuk belajar banyak dari Bu Devina."
"Halah ada-ada saja dengan Bu Donna. Silakan duduk Bu." tawar pak Gunawan.
Donna langsung duduk di samping Dev, dan akhirnya mereka bertiga terlibat dalam diskusi seru tentang meningkatkan market share perusahaan dari sisi IT dan web.
"Drttt...drrrttt...," tiba-tiba ponsel Dev berdering.
Setelah melihat layar ada panggilan masuk dari Bianca, Dev mengira obrolan tentang project antar perusahaan. Tanpa ragu Dev mengangkat panggilan masuk Bianca di depan pak Gunawan dan Donna.
"Selamat siang Bu Bianca, ada yang bisa kami bantu."
"Hei Dev...., kenapa formal amat. Santai donk." protes Bianca karena dipanggil Bu.
"Iya Bia,. ada apa."
"Temani aku yukkkk girl."
"Jangan hari ini Bia. Kemaren aku sudah pulang malam, suamiku sudah di rumah lebih dulu."
Mendengar Dev menyebut kata suami, pak Gunawan dan Donna saling berpandangan.
"Siapa yang disebut suami oleh Dev?"
"Apakah ketenangannya selama ini karena dia didukung sumber daya oleh suaminya."
"Belum ada tiga bulan dia putus dengan Andre, kapan nikahnya,"
Donna dan pak Gunawan bertanya-tanya sendiri tentang status pernikahan Dev.
"Halah..., ini jaman emansipasi Dev, ga usah takut-takut lah sama suami. Kendor dikit napa."
"Bia...., bisa-bisa perusahaanmu digilas suamiku kalau kamu mengajakku untuk membohonginya." tanpa sadar Dev kelepasan bicara tentang suaminya yang berkuasa.
"Ha...ha...ha .., emang sebesar apa perusahaan suamimu girl... berani-beraninya akan menggilas PT. Diamond. Meskipun kami baru di kota ini, perusahaan pusat kami di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia sangat - sangat establishment." tanpa sadar mereka malah semakin menyombongkan diri saling meledek.
Sesaat Dev teringat jika dia sedang berada dalam diskusi dengan Donna dan pak Gunawan.
"Sudah ya Bia..., nanti kita ngobrol lagi selepas jam kantor."
"Bentar dulu girl ...Ayuk tolonglah temani aku."
"Maaf Bia...sore ini aku ga bisa. Kemarin aku sampai rumah, suamiku sudah menunggu. Dia ga marah sih..., tapi aku ga enak tahu...," Dev tetap menolak ajakan Bianca.
"Ya udah besok siang jam makan siang temani aku ya, ke perusahaan teman papaku."
"Oke girl...Bia undur diri dulu ya. Muachh..., btw... salam ya buat Reno girl...,'
"What...., ok ok deh..," kata Dev sambil mengakhiri panggilannya.
Setelah Dev menyimpan ponselnya.
"Maaf pak Gun, Bu Donna..., saya pikir Bu Bianca telpon masalah project, ternyata ngajakin jalan." kata Dev malu.
"Ternyata kalian akrab ya," tanya pak Gunawan.
"Iya pak." jawab Dev singkat.
"Dev ..tadi Bapak dan Bu Donna mendengar kata suami dari pembicaraan Dev dengan Bu Bianca. Apa benar Dev sudah punya suami." tanya pak Gunawan pelan penuh kebapakan.
Mereka terdiam sesaat, akhirnya...Dev menganggukkan kepalanya.
"Iya pak, Bu Donna, saya sudah menikah hampir tiga bulan yang lalu."
"Siapa suamimu Dev," tanya pak Gunawan.
Dev tersenyum.
"Seperti yang pernah Dev sampaikan pada pak Gunawan beberapa waktu lalu, dialah suami Dev pak."
"Dev...., benarkah suamimu Andhi Yudha Baskara, CEO arogan dari PT. Globe Tbk?" kata Pak Gunawan kaget.
"Iya pak, pak Yudha suami Dev. Sekaligus ini sebagai jawaban atas gosip yang menimpa saya akhir-akhir ini di perusahaan."
"Apakah dengan Yudha sebagai suami saya, masih ada laki-laki lain yang bisa meluluhkan hati saya pak." Dev berkata sambil tersenyum.
Donna tiba-tiba menjadi puas wajahnya. Dia tidak menyangka, jika selama ini dia sudah salah menuduh dan mencurigai Dev merayu Andre kembali.
"Kemudian untuk kejadian di malam Gala dinner di hotel Phoenix, saya rasa Bapak dan Bu Donna sudah tahu jawabannya tanpa saya harus menyampaikan secara rinci."
"Malam itu suami dan asisten pribadinya Pratama turut menghadiri undangan yang dikirimkan ke perusahaan. Apakah mereka berdua akan duduk, diam, dan hanya melihat jika ada orang yang berusaha untuk menindas istrinya."
Pak Gunawan menahan nafas mendengar apa yang dikatakan Dev. Tiba-tiba selaku tuan rumah yang mengundang tamu, pak Gunawan jadi merinding, membayangkan kalau Yudha akan membalas dendam.
"Bu Donna... tolong review kembali kejadian di hotel ***cure beberapa bulan yang lalu."
Donna hanya tertunduk malu merasa mendapat penghakiman dari Dev.
"Jika ibu berada dalam posisiku sebagai seorang wanita, apakah ibu akan menerima laki-laki itu kembali."
"Bagi saya dia adalah barang bekas, dan saya alergi untuk menggunakan barang bekas itu kembali." Dev berkata dengan penuh penegasan.
Pak Gunawan hanya menjadi penengah dan pendengar, ketika obrolan mereka menjadi sebuah klarifikasi dan penjelasan tentang status seorang Devina Renata istri dari Andhi Yudha Baskara.
"Dev...., saya yang dituakan di perusahaan ini, mewakili semua orang disini tolong kita semua dimaafkan ya." pak Gunawan meminta maaf atas nama perusahaan.
"Iya pak, saya bukan pendendam, tapi suami saya seorang pendendam. Mungkin bapak sudah tahu sendiri bagaimana sepak terjang suami saya."
"Kalau saya pendendam pak, saya yakin semua orang di sini sudah dihancurkan karirnya oleh suami saya."
"Ya saya tahu Dev. Terus rencana kamu selanjutnya bagaimana Dev."
"Jangan-jangan kamu akan meninggalkan perusahaan ini untuk bergabung dengan perusahaan suamimu." tanya pak Gunawan khawatir.
"Kalau saya masih dibutuhkan tenaga saya di perusahaan ini, saya akan bertahan pak. Saya mencintai pekerjaan ini, teman-teman kerja dan semuanya."
"Disini orang mengenali saya sebagai Devina Renata. Tapi kalau saya bergabung dengan perusahaan suami saya, orang akan mengenali saya sebagai istri dari Andhi Yudha Baskara."
Diskusi kecil mereka siang ini menjadi momentum untuk penjelasan Dev atas kekacauan selama ini.
*****