
Kinanthi terbangun dan membuka matanya, dia baru sadar kalau dirinya ternyata sedang tidur di dalam mobil. Dia menengok ke samping, dan melihat Pratama juga tertidur pulas di belakang kemudi. Dia kemudian mengingat-ingat sedang ada dimana, dan reflek dia menengok ke kursi belakang.
"Seno, kemana dia?" kemudian Kinanthi membuka pintu mobil, dan dia tidak mengenali sedang berada di mana.
Melihat sekelilingnya gelap dan sepi, Kinanthi kembali masuk ke dalam mobil. Dia bermaksud untuk membangunkan Pratama.
"Mas Tama...., bangun." panggil Kinanthi.
Tetapi Pratama seperti tidak mendengar panggilan gadis itu. Kemudian dia memberanikan diri menyentuh pundak Pratama untuk membangunkannya.
"Mas..., bangun to. Kinan takut mas, Seno tidak ada. Kita berada dimana mas?" Kinanthi bicara sendiri sambil berusaha menepuk pundak Pratama.
Pratama membuka matanya, dan pertama yang dia lihat adalah wajah Kinanthi yang sedang menghadapnya.
"Maaf, aku tertidur." ucap Pratama.
"Kita ada dimana mas, ini kok lampunya temaram dan sepi." ucap Kinanthi pelan dan penuh rasa khawatir.
"Ya terang gelap, ayo kita keluar dulu."
Pratama langsung membuka pintu mobil, kemudian dia memutar untuk membukakan pintu untuk Kinanthi. Tetapi gadis itu sudah terlebih dulu membuka sendiri pintu mobilnya. Setelah Kinanthi keluar, Pratama menutup pintu mobilnya, kemudian menarik tangan Kinanthi dan menuju lift.
"Mas, ini kita ada dimana, dan dimana Seno?"
"Sudahlah, diam dulu. Nanti kamu juga akan tahu kita saat ini sedang berada dimana."
Kinanthi diam dan hanya mengikuti langkah Pratama. Di dalam lift, dia melihat Pratama menekan tombol menuju lantai tujuan. Setelah keluar dari pintu lift, Kinanthi baru sadar jika dia saat ini dibawa Pratama ke apartemennya.
"Mas, antarkan Kinan pulang mas. Ini apartemen siapa, tolong mas jangan menjebak Kinan. Kinan gadis baik-baik mas. Mas Tama..., tolonglah Kinan mas." Kinan memohon pada Pratama.
Dengan geli Pratama menatap gadis itu, dia seperti ketakutan.
"Siapa yang akan menjebak kamu Kinan. Sudah, diam. Malu kalau tetangga mendengar perkataan kamu. Apakah kamu pikir hanya kamu yang gadis baik, sedangkan aku bukan?"
Pratama menekan tombol pintu, sedangkan Kinanthi sudah bersiap memikirkan jalur untuk melarikan diri jika yang membukakan pintu adalah seorang laki-laki. Tidak lama, pintu dibuka dari dalam.
"Seno, kamu disini ternyata. Ini apartemen siapa?"
Kinanthi melihat adiknya membuka pintu sambil mengucek kedua matanya.
"Ayo masuk, apakah kamu akan berdiri disitu sepanjang waktu. Hati-hati di luar pintu apartemenku sering ada penampakan." kata Pratama sambil berjalan masuk meninggalkan Kinanthi yang masih berdiri di depan pintu.
Sedangkan Seno sudah terlebih dulu kembali masuk ke dalam kamar, dan kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Mendengar ucapan Pratama, Kinanthi langsung berlari masuk mengikuti Pratama.
"Ditutup dulu pintunya, apakah kamu mau mengundang penampakan itu masuk ke dalam."
Kinanthi langsung berbalik badan, kemudian dia menutup pintu dan mengikuti Pratama.
"Aku mau mandi sebentar, kamu duduk dulu disitu." Pratama menunjuk ke arah sofa meja tamu.
"Kinan takut, nanti kalau penampakannya masuk ke dalam bagaimana."
"Tidak akan. Atau mau menemaniku mandi?" goda Pratama.
"Ah mas Tama mesum." kata Kinanthi dengan muka merah.
Pratama tidak menanggapi ucapan Kinanthi, dia langsung meninggalkan hadis itu kemudian masuk ke dalam kamar. Melihat laki-laki itu masuk ke dalam kamar, Kinanthi mendatangi kamar yang dipakai Seno tidur.
"Hadeh, Seno.., kenapa pintu pakai dikunci segala."
Akhirnya dengan wajah sedikit ketakutan, Kinanthi kembali ke sofa. Dia menyalakan televisi untuk memberikan suara untuk menemaninya.
************************
"Mandilah dulu di kamarku. Sementara pakai bajuku tidak apa-apa kan. Sudah aku siapkan di atas bed."
"Kinan mandi di rumah saja. Bisa antarkan Kinan pulang?"
"Seno baru tidur. Ini sudah jam 22.35 menit. Apakah kamu tidak mengkhawatirkan omongan tetanggamu? Kalau kamu tidak peduli, aku antar kamu pulang sebentar lagi. Tapi biarkan Seno untuk menginap disini."
Kinanthi diam, dia membenarkan perkataan Pratama. Dia akan jadi bahan omongan tetangga, jika dia pulang malam hari, apalagi jika pada tahu kalau dia pulang diantar laki-laki.
"Tetapi terus aku akan tidur dimana?" Kinanthi membatin sendiri.
"Sudahlah mandilah dulu, baru nanti berpikirnya. Jangan khawatir, baju yang disiapkan untukmu itu masih baru. Aku belum pernah memakainya, sepertinya cukup buatmu." kata Pratama kemudian meninggalkan Kinanthi, dan dia masuk ke dapur.
**********************
Pratama membuat teh manis panas di dalam teko, kemudian membawanya ke meja tamu. Dia melengkapinya dengan roti bakar.
Setelah mandi, Kinanthi menggunakan baju yang disediakan oleh Pratama, dan dia melihat masih ada label harga dan merk yang menempel di baju tersebut.
"Ternyata laki-laki itu tidak membohongiku, aku yang terlalu mencurigainya." Kinanthi berbicara sendiri.
"Agak kegedean sih sedikit, tapi ga pa pa daripada aku masih mengenakan baju kerjaku."
"Bau roti bakar, jadi lapar. Padahal tadi sudah makan malam."
Kinanthi membungkus pakaian kotornya dengan tas yang tadi sebagai tempat baju yang barusan dia kenakan. Setelah selesai, dia melirik bed dan interior kamar Pratama. Kamar yang elegan dengan Kong size bed, yang didominasi warna monochrome. Kamarnya sangat mewah, dan ketika Kinanthi membandingkan dengan kamarnya, dia menjadi malu sendiri. Tidak mau berlama-lama, akhirnya dia keluar dan kembali ke sofa yang tadi dia duduki.
"Duduklah disini. Minumlah teh panas dulu. Kebetulan aku juga baru membuat roti bakar." Pratama menawarkan minuman dan roti yang baru dia masak.
Kinanthi kemudian duduk di samping Pratama. Dengan sigap, Pratama menuangkan teh ke cangkir yang sudah dia bawa dari dapur.
"Minumlah dulu, mumpung masih panas."
"Terima kasih."
Kinanthi mengambil cangkir yang baru diisi teh oleh Pratama, kemudian menyesapnya sedikit.
"Enak, pahit sama manisnya pas." komentar keluar dari mulut Kinanthi, yang langsung disambut senyuman oleh Pratama.
Pratama mengambil roti bakar kemudian menggigitnya, dan diikuti oleh Kinanthi.
"Setelah minum, kalau kamu mengantuk tidurlah dulu. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan." kata Pratama.
"Kalau begitu kenapa mas Tama tidak segera kembali ke kamar. Kinanthi mau tidur setelah teh ini habis."
"Kamu yang tidur di kamarku. Nanti aku gampang, bisa tidur bareng Seno disitu."
"Atau aku saja yang tidur bareng Seno. Mas Tama kembali bekerja dan tidur di kamar mas sendiri."
"Hush, tidak boleh. Seno itu sudah dewasa, meski dia adikmu, tetap tidak boleh tidur bareng kakak perempuan."
Kinanthi diam, kemudian segera menghabiskan teh sama roti bakarnya.
"Selamat bekerja mas Tama, terima kasih ya sudah menampung kami malam ini."
Pratama melihat dan tersenyum ke arah Kinanthi.
"Kinan ke kamar mas Tama ya. Sudah mengantuk."
Tanpa menunggu jawaban Pratama, Kinanthi langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar. Pratama hanya menggelengkan kepalanya.
**********************