Married By Incident

Married By Incident
Menikmati Malam



"Bagaimana kantor, banyak kerjaan numpuk atau masuk kantor kembali segar sayang?" Yudha memeluk Dev dari belakang.


"Biasalah Dadd, pimpinan semua perempuan. Ada saja kerjaan yang sengaja disisakan buat aku."


"Sudah makan belom, kita makan dulu saja ya. Atau bagaimana kalau kita makan berdua di luar."


"Baik sayang, Mommy ambil dompet dulu."


"Tidak perlu, begini saja. Ada daddy, ayo langsung berangkat."


"Pamit si Kembar dulu ya, nanti mereka mencari kita."


"Sudah ayo, nanti malah mereka berdua ikut. Nanti di jalan, aku telpon kakek, memberi tahu kalau kita berdua sedang berada di luar."


"Tidak kasihan sama kakek memangnya, harus jaga dua anak."


"Kakek sudah biasa, lagian di rumah ada baby sitter juga kan yang mengasuh mereka." Yudha langsung merangkul Dev dan membawanya keluar rumah.


Yudha membukakan pintu mobil untuk Dev, baru dia masuk dan mengemudi sendiri.


"Mau makan apa kita sekarang?" tanya Yudha.


"Ini dah malam Dadd, bagaimana kalau kita makan burung dara saja. Lesehan di kaki lima Malioboro. Sepertinya enak, ada hiburan musik dari pengamen jalanan lagi."


"Yakin, mau makan disana? Tidak di restoran saja, lebih bersih dan higienis. Ada jaminan lagi dari owner-nya?"


"Tapi Dev kok pingin burung dara mas, sama lalapan dan sambal terasi. Ehm.. yummy banget terasa di lidah."


"Bentar, aku kondisikan tempatnya dulu. Agar kita dapat tempat duduk, sudah sampai sana, malah parkir penuh, terus duduk desak-desakan lagi."


"Halah Dadd, namanya juga kaki Lima. Ya wajar dong, kalau lumayan antri cari tempat duduk."


Yudha tidak menanggapi perkataan Dev, dia malah melakukan panggilan pada Pratama.


"Tama.., kondisikan sekarang lesehan burung dara yang ada di depan toko batik Malioboro. 30 menit lagi aku dan istriku akan sampai disana."


"Sudah ajak istri sama adikmu sekalian. Tapi ingat duduknya agak jauh dikit dariku. Aku mau menikmati malam disitu."


Dev tersenyum kemudian melihat ke arah suaminya.


"Nelpon Pratama ya? Aduh Daddy, masak cuma mau makan burung dara saja mesti ganggu orang lagi bulan madu sih."


"Nikah sudah satu minggu, memang mau bulan madu terus? Biar dia juga ajak Istrinya sekalian."


"Yah, terserah Daddy sajalah."


Akhirnya Dev diam dan memainkan ponsel di tangannya.


"Ini suaminya nyetir, kok malah ditinggal main ponsel ya."


"Maaf Dadd, nih ponselnya sudah Mommy simpan lagi." sahut Dev sambil tersenyum.


"Sudah sampai mana kita, bukannya Malioboro kalau habis Maghrib jalannya untuk kawasan pedestrian ya?"


"Tidak apa-apa, kita bisa lewat sisi timur, kita belok lewat hotel ke kiri."


"Okelah, yang penting dapat parkir kita disana."


Setelah lewat depan Kantor Gubernur, ada dua orang yang menghentikan mobil mereka. Yudha membuka kaca mobil di sampingnya.


"Selamat malam, dengan Tuan Yudha ya?"


Yudha menganggukkan kepalanya.


"Tuan turun disini saja, kami yang akan memarkirkan mobilnya. Barusan Tuan Pratama menghubungi kami."


Yudha menengok ke arah Dev.


"Sayang, kita turun sini ya. Ke depan parkiran penuh."


"Oke, no problem."


Dev kemudian membawa tissue dan hand sanitizer, dan pintu mobil sampingnya sudah dibukakan dari luar.


"Terima kasih."


Yudha menyerahkan kunci mobil pada petugas parkir, kemudian menghampiri Dev dan merangkul bahunya dan mengajak menuju lokasi lesehan.


"Tuan, ikuti kami."


Yudha dan Dev mengikuti seorang laki-laki yang sepertinya pemilik warung lesehan. Melihat kedatangan Yudha dan Dev, empat orang yang duduk di atas tikar kemudian berdiri.


"Huh, terima kasih."


********************


"Selamat malam Tuan Muda, Nyonya Muda." Pratama menyapa Yudha dan Dev.


Pratama datang dengan istri dan adik iparnya.


"Malam, ayo duduk Tam. Kinan ya, ayo pada duduk sini. Masih luas kok sampingku sini."


Yudha hanya melihat ke arah mereka, kemudian kembali melanjutkan makan malamnya.


"Terima kasih Nyonya Muda, ayo duduk Kinan, Seno."


Pelayan datang ke tempat mereka, menyodorkan pilihan menu. Kemudian Pratama memesan makanan untuk makan bertiga.


"Bagaimana Kinan si Tama, pergi terus atau menemani kamu di rumah?" tanya Dev pada Kinanthi.


"Sudah biasa mbak, Kinan juga kalau pulang juga tidak tentu. Karena Kinan sudah terbiasa kerja sambilan ngeles anak-anak sepulang kerja."


Dev dan Kinanthi ngobrol berdua. Sedangkan Yudha dan Pratama membicarakan tentang rencana meeting besok pagi. Seno agak duduk ke pinggir, sambil melihat pengamen jalanan memainkan musik.


"Sudah kamu kondisikan belum tempat untuk menemui pak Menteri Pariwisata. Jangan lupa keamanan disiapkan. Dari airport, pastikan polisi untuk mengawal sampai ke hotel."


"Sudah boss, tadi sebelum pulang saya sudah lakukan Koordinasi dengan tim kita."


"Untuk hotel, Pak Menteri minta yang Monumen Jogja Kembali ke Utara. Katanya mau sekalian main golf."


"No problem, layani beliau. Apa yang dia inginkan, penuhi semua. Banyak project kita karena penunjukan langsung darinya."


"Siap Boss. Oh ya Boss, untuk tawaran dari PT. Kendari apa tadi sudah boss review. Tadi saya baca sekilas dia mintanya Fifty-Fifty sih. Sepertinya ketinggian, karena sumberdaya pakai punya kita."


"Sudah belum sampai di anggaran sih. Jawab saja besok 80-20% mau tidak mereka Atau mentoknya mereka 25%, karena resiko juga kita yang akan kena."


"Baik, besok saya antarkan ke sekretaris. Biar segera kita follow up, agar feedback kita dapatkan secepatnya."


"Hm..hmm.., makan dulu Tam. Daddy.., bukannya tadi dari rumah kita mau makan kan. Masak disini, masuk ngomongin kerjaan. Besok kan bisa dibicarakan di kantor." Dev mengingatkan suaminya.


"Iya sayang, maaf. Daddy lupa. Kita lanjutkan besok pagi saja Tam, nanti kita bicarakan sekaligus sekretaris kamu datangkan."


"Siap Boss."


Kinanthi mengambilkan nasi putih ke piring dan burung dara, kemudian memberikan pada Tama.


"Makan dulu mas."


"Terima kasih sayang."


"Ehm.., uhuk..uhuk..,"


"Kenapa Nyonya Muda, kok jadi batuk?" tanya Pratama.


Kinanthi tersenyum malu, kemudian memanggil Seno untuk segera bergabung makan. Tanpa sadar mereka berada di lokasi lesehan sampai pukul 11 malam.


"Dadd.., sudah malam. Pulang yok. Kakek ada ngabarin tidak, kalau Vian dan Zidan rewel."


"Sudah sayang, jangan khawatirkan mereka berdua. Kakek tidak bilang apa-apa, nih kalau mau baca. Kakek pesan, hati-hati dan katanya jangan lupa adik perempuan untuk si kembar."


"Iih.., pikir dulu donk kalau mau bicarakan itu. Ini tempat umum, tahu."


Kinanthi dan Pratama menutup mulutnya tertawa kecil.


"Tidak perlu malu, kan aku hanya membacakan pesan yang dikirim kakek kan."


"Iya, iya.., jalan yok mas. Mumpung sepi."


"Jalan kemana, sudah pada tutup. Ke club'?"


"Ya tidaklah, kita jalan susuri jalan ini saja sampai depan mall. Terus balik lagi, pulang deh."


"Oke, oke apa sih yang tidak buat kamu sayang."


"Tama, urusi semua. Aku mau jalan dulu sama Dev."


"Siap Boss."


Dev dan Yudha betul-betul menikmati me time. Mereka berjalan bergandengan tangan, dan mampir duduk di kursi yang ada di sepanjang jalan.


**************