Married By Incident

Married By Incident
Sebagai yang Utama



Kinanthi agak sibuk bekerja, karena dengan kepergian makan siangnya dengan Pratama, betul-betul memangkas waktunya. Berkali-kali dia memasukkan data ke sistem informasi perusahaan, tetapi karena pikirannya tidak tenang, dia harus melakukan pengulangan.


"Kring..., kring..," bunyi air phone di depannya mengagetkan konsentrasinya.


"Selamat siang, dengan Kinanthi disini."


"Sekarang ke ruangan saya Kinan." pimpinan tempatnya bekerja yang bernama Bayu, meminta Kinanthi datang ke ruangannya.


"Iya pak, saya save pekerjaan saya dulu ya pak." belum selesai Kinanthi menjawab, Bayi sudah mengakhiri panggilan.


"Waduh..., apa pak Bayu tahu ya kesalahanku input data tadi." Kinanthi berpikir sendiri.


Secepatnya Kinanthi menyimpulkan soft file, kemudian segera menuju ke ruangan pak Bayu. Dia langsung mengetuk pintu, dan langsung diminta masuk oleh Bayu.


"Duduk dulu Kinan, saya tak review berkas ini dulu." perintah Bayu yang tetap fokus melihat hard file yang sedang dia pegang.


"Iya pak." Kinan langsung duduk di kursi depan pimpinannya.


Untuk mengisi waktu, Kinanthi mengambil majalah dan membacanya. Tetapi pikirannya tetap khawatir memikirkan kenapa dia dipanggil pak Bayu.


Setelah beberapa saat, Bayu telah selesai mereview berkasnya.


"Kinan..., bagaimana pekerjaanmu hari ini?"


"Maaf pak atas keteledoran saya. Input data belum selesai saya lakukan, karena tadi saya harus keluar makan siang. Tapi saya janji deh, habis dari sini langsung saya selesaikan pak."


Melihat kegugupan Kinanthi, Bayu tersenyum geli.


"Kamu bicara apa Kinan, lagian kamu lagi input data apaan. Bukannya input data itu di bagian produksi, kok bisa jadi kamu yang mengerjakan."


"Ups, iya pak Bayu, maaf. Sekarang memang yang mengerjakan saya, dulu saya memang berniat membantu mereka. Saat ada timnya yang sedang cuti melahirkan, tetapi kok jadi saya yang mengerjakan ya." Kinanthi malah bingung dengan kerjaannya sendiri.


"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan kerjaan itu. Jika tidak selesai hari ini, tidak usah dipaksakan. Nanti aku kembalikan saja pekerjaan itu pada tim bagian produksi."


"Aku cuma mau nanya, bagaimana hubunganmu dengan Pratama?" tanya Bayu pelan.


"Maksud pak Bayu apa ya?" kata Kinanthi balik bertanya. Dia memberanikan diri menatap wajah pimpinannya.


"Kamu tidak perlu khawatir Kinan. Aku dan Pratama sudah berteman sejak SMA. Yah, memang sih orangnya agak kaku, tapi dia laki-laki yang baik."


"Mohon maaf pak Bayu. Tolong Bapak jangan salah paham ya dengan hubungan kami. Saya dengan pak Pratama hanya berteman pak, kebetulan sempat ketemu beberapa kali."


"Ha..., ha..., ha.., Kinan, Kinan. Hari ini aku ijinkan kamu pulang lebih awal, Pratama sudah menelpon aku. Jam 15 dia akan menjemput kamu."


"Pak Bayu ., tolong Kinanthi dong pak. Saya mau menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda pak. Tolong bilang pada pak Pratama, jika Kinan Masih harus kerja lembur hari ini." Kinanthi memohon pada pak Bayu


"Heh..., kamu jangan bersikap aneh Kinan. Kan tadi aku sudah bilang di awal, jika Pratama itu temanku dari SMA. Lagian kamu mau mengerjakan apa, input data? Sudah nanti tim produksi saya panggil, agar mengambil kembali kerjaan mereka."


Kinanthi hanya diam, kemudian menundukkan wajahnya.


"Aku berani jamin Kinan, Pratama itu orang baik, dan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Makanya, begitu dia menanyakan tentangmu, aku ikut senang." lanjut Bayu sambil tersenyum.


"Yah sudahlah, sekarang sudah jam 14.30. Segera bersiap-siap, Pratama akan datang menjemput kamu jam 15."


"Jadi bapak manggil saya hanya untuk urusan ini pak? Tahu gitu, tadi lewat telepon juga tidak apa-apa pak. Kalau begitu saya permisi pak. Selamat siang."


"Ya, siang."


Bayu memandang punggung Kinanthi yang berjalan keluar dari ruangannya. Sebenarnya dia juga memiliki ketertarikan dengan Kinanthi, tetapi dia sudah memiliki tunangan.


*********************


Pratama sudah menunggu keluarnya Kinanti dari tempat bekerjanya. Dia memarkirkan mobil, tepat di depan pintu akses keluar masuk karyawan. Jadi, begitu Kinanthi keluar dari kantor, akan langsung melihat Pratama. Setelah hampir 1/2 jam, Pratama keluar dari mobil dan akan menghubungi Bayu. Tapi dia langsung tersenyum melihat Kinanthi sudah keluar. Dia langsung membuka pintu mobil bagian depan.


"Baru bisa keluar Kinan, banyakkah kerjaan hari ini?" sapa Pratama sambil tangannya memberi kode agar Kinanthi masuk ke dalam mobil.


Kinanthi tersenyum dengan hati deg-degan, dan mengikuti yang diinginkan Pratama. Setelah Kinanthi masuk ke dalam mobil, Pratama langsung berjalan memutar dan langsung duduk di belakang kemudinya.


"Terima kasih mas Tama sudah menjemput Kinan hari ini, tetapi besok-besok lagi sepertinya tidak perlu lagi." ucap Kinanthi tiba-tiba.


Pratama menoleh sebentar ke arah Kinanthi, kemudian tetap mengemudi.


"Kenapa memangnya, ada yang marah apa kalau aku menjemputmu?" tanyanya.


"Bukannya begitu mas, tetapi masak jam kantor belum habis, aku sudah Harus keluar. Di kantor banyak teman-teman yang lain, yang mereka juga ingin cepat sampai di rumah karena banyak kepentingan. Tetapi mereka tidak bisa seperti itu kan?" Kinanthi berusaha mengungkapkan ketidak sukaannya.


"Kinan itu cuma pegawai rendahan mas di Perusahaan pak Bayu, jadi Kinan minta tolong ya, mas Tama tidak perlu bilang apa-apa ke pak Bayu. Kinan malu mas." lanjutnya lagi.


"Ha..., ha.., ha.., si Bayu bilang apa sama kamu Kinan. Dia pasti hanya bicara berdasarkan isi hatinya, tetapi kamu jangan sampai menyimpulkan kalau itu perkataanku." Pratama malah tertawa menanggapi perkataan Kinanthi.


"Oh ya, hari ini Kinanthi pingin kemana, aku akan antar lagi. Yah, lumayan untuk mengisi waktuku. Semenjak bossku ke New Zealand dengan keluarganya, aku agak mati gaya ini. Jadi banyak waktu terbuang." Pratama bercerita tentang yang sedang dia alami saat ini.


"Oh gitu ya mas, jadi bagi mas Tama saat ini, Kinanthi hanya digunakan untuk pelampiasan ya. Nanti kalau Boss sudah datang kembali ke kota ini, Kinanthi tidak dianggap lagi." sahut Kinanthi menanggapi Pratama.


"He ., he.., kalau Kinanthi mau bisa kok, aku menjadikan kamu sebagai yang utama untukku." ucap Pratama yang seperti tanpa sadar berkata seperti itu.


"Apa maksud mas Tama? Kinan kok tidak paham apa yang mas Tama maksudkan."


"Sudah diabaikan saja apa yang tadi aku katakan. Anggap saja tidak ada." ucap Pratama tanpa menoleh.


Keduanya diam untuk waktu yang lumayan lama, dan Kinanthi menatap keluar dari kaca mobil. Demikian juga dengan Pratama yang tampak agak malu karena keceplosan bicara.


"Mas, mas Tama..., ini kita mau ngapain. Ini kan kampus adik Kinan, ada apa mas?" tiba-tiba Kinanthi menoleh ke arah Pratama.


"Aku tadi janjian sama seseorang untuk menjemputnya hari ini. Itu orangnya sudah menunggu di halte depan kampus." sahut Pratama sambil menghentikan mobilnya.


Dari arah luar terlihat Seno adiknya Kinanthi berjalan ke arah mobil. Kinanthi langsung menengok ke arah Pratama, tetapi laki-laki itu hanya diam tidak menanggapinya.


*********************