Married By Incident

Married By Incident
Cinta dan Kasih Sayang



Setelah lima hari berada di rumah sakit, Yudha membawa Dev dan si kembar pulang ke rumah. Sebenarnya dari hari ketiga, Dev sudah mengajak pulang, tapi Yudha menunggu agar jahitan jalur rahim Dev betul-betul kering. Kamar baru yang disiapkan untuk si kembar, juga baru dilakukan pembersihan dan sterilisasi. Setelah semuanya siap, baru Yudha membawa mereka pulang.


"Selamat datang ke rumah Vian, Zidan..." ucap Dev di depan pintu masuk rumah.


Lengan Yudha masing-masing membawa bayi yang nampak lelap tertidur, dan sepertinya kedua bayi itu menikmati kehangatan dan kekuatan lengan kokoh Daddy-nya, karena mereka tidur dengan nyaman. Dev sudah memintanya untuk menggunakan stroller, tetapi Yudha bersikeras untuk membawanya langsung dengan kedua lengannya.


Di belakangnya terlihat Pratama dan Baskara membawa perlengkapan ibu dan bayi yang mereka gunakan di rumah sakit. Bibi Siti dan pak Sholeh juga membawa barang-barang kiriman dari teman-teman Dev untuk si kembar.


"Kita ke kamar langsung saja agar Zidan dan Vian bisa tidur lebih nyenyak." kata Dev berusaha memimpin jalan dan segeralah menuju tangga.


"Kamar kita sekarang ada di bawah sayang, connecting dengan kamar kedua anak kita." jawab Yudha tersenyum.


"Kapan kamar itu disiapkan, bukannya Daddy menungguiku terus di rumah sakit." seru Dev tidak percaya dengan kerja cepat suaminya.


"Apa sih Nyonya Muda, yang tidak bisa dilakukan oleh Tuan Boss." sahut Pratama tidak bermaksud untuk menyindir, kemudian berganti mengarahkan rombongan menuju kamar baru mereka.


Dev memandang takjub pada kamar baru mereka, bahkan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca. Kamar dengan warna dominan biru laut, dengan lukisan langit biru di plafon kamar, lukisan pohon kelapa, ombak lautan di tembok, menampilkan kesegaran dan kenyamanan. Dua box bayi berbentuk kapal pinisi terlihat melengkapi suasana pantai dan laut yang dipindahkan di kamar ini. Tanpa Dev bercerita, suaminya sudah menyuguhkan view favorit untuk Dev istrinya. Ya, Dev memang sangat menyukai pantai, lautan biru, dan langit biru.


Kamar itu terconnect dengan kamar yang disiapkan Yudha untuk mereka berdua. Tidak ada perubahan apapun dalam kamar ini, yang persis sama seperti replikasi dengan kamar mereka di lantai dua.


"Terima kasih sayang untuk semuanya." ucap Dev perlahan dan langsung memberikan ciuman lembut di bibir suaminya.


"Tolong jaga sikapmu Momm..," bisik Yudha tiba-tiba di telinga Dev, dan selalu menghasilkan rona merah di pipi.


Pratama menolehkan kepalanya ke samping karena suguhan kemesraan pagi hari di depan matanya.


"Bisakah kalian berdua tahu tempat dan tahu diri," seru Baskara tiba-tiba menegur perilaku mereka.


Sontak Dev kaget, dan dengan muka merah menahan malu pura-pura menyiapkan box untuk kedua bayinya. Sedangkan Pratama hanya menutup mulutnya menahan tawa, yang akhirnya dihadiahi pelototan mata oleh Yudha. Dengan muka tebal seperti tidak terjadi apa-apa, Yudha dengan dibantu Dev memindahkan kedua bayi ke dalam box masing-masing.


"Apakah kamu tidak berpikir untuk mengumumkan kelahiran putramu Yudh. Kakek pikir kamu bisa membagikan berita bahagia kepada kolega-kolega dan juga media." tanya Baskara yang sangat bangga akan dua jagoannya.


"Untuk saat ini belum kek, aku masih mau menikmati kenyamanan dengan keluargaku tanpa.publikasi berlebihan. Hal ini akan jauh lebih aman untuk keluarga Yudha" sahut Yudha yang tidak setuju dengan pendapat kakeknya.


"Iya kek, Dev juga sependapat dengan Daddy-nya anak-anak. Kami membutuhkan privacy untuk bebas bergerak kemana-mana, tanpa ada sorotan dan tanda tanya dari orang luar." sahut Dev memperkuat jawaban suaminya.


Baskara mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya. Meskipun sedikit kecewa, tetapi dia menghargai privasi keluarga Cucunya.


"Yah, baiklah kalau memang keinginan kalian seperti itu." kata Baskara yang akhirnya mengalah pada keduanya.


"Pratama, siapkan akikah untuk Zidan dan Vian. Selenggarakan acara di panti asuhan daerah pelosok, agar tepat sasaran pada pihak yang membutuhkan. Siapkan segera dua hari dari sekarang." Yudha langsung memberikan instruksi pada Pratama secara tiba-tiba.


"Dad...apa tidak terlalu cepat. Kasihan kan kalau Pratama harus mengurus semuanya dalam dua hari. Belum lagi cari empat kambing langsung." kata Dev membela Pratama.


"Memang Pratama menangani sendiri? Dia tinggal angkat telepon, semua akan beres." sahut Yudha tidak bergeming dengan pendapatnya.


Baskara tersenyum menanggapi komunikasi antara cucu dan asisten pribadinya itu.


"Sekarang silakan tinggalkan tempat ini, kami butuh privacy keluarga."


Yudha tanpa perasaan mengusir Baskara dan Pratama dari kamar mereka.


Baskara menghampiri Yudha, kemudian menjewer telinga cucunya.


"Anak tidak tahu diuntung, sudah dibantu tidak berterima kasih. Malah berani-beraninya mengusir kami."


Setelah menjewer Baskara mengomeli Yudha kemudian melangkah keluar. Dengan menahan tawa dan menutup mulutnya, Pratama mengikuti Baskara keluar kamar.


Dev yang sudah hafal dengan karakter suaminya, hanya menanggapi dengan senyuman.


Sepeninggal Baskara dan Pratama, Yudha menghampiri Dev kemudian memeluknya erat.


"Ada apa sayang," tanya Dev bingung dengan sikap Yudha yang tiba-tiba.


"Pingin memelukmu saja mommy. Terima kasih untuk semuanya sayang." kata Yudha lirih.


"Sama-sama sayang, aku juga sangat bahagia. Ini semua bukti bahwa aku menyayangi dan mencintaimu." ucap Dev yang membuat Yudha ingin melonjak tak percaya.


Selama pernikahannya, belum pernah mereka menyatakan perasaan sayang dan cinta secara langsung. Meskipun tindakan dan perlakuan mereka menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang, tetapi terkadang kita membutuhkan ungkapan secara verbal dan lisan untuk menguatkan relationship antara mereka.


"Mommy ...., tolong ulangi sekali lagi. Daddy ingin mendengarnya sekali lagi." tanya Yudha sambil memegang wajah Dev.


Dengan mantap, Dev menganggukkan kepala.


"Ya Daddy..., mommy sangat menyayangi dan mencintai Daddy." bisik Dev pelan, dan diikuti tindakan.


Dengan berjinjit Dev secara agresif berusaha mencium bibir Yudha. Dengan perasaan melambung Yudha mengangkat tubuh Dev dan membawanya ke atas King Size Bed di kamarnya yang baru. Tanpa jeda, Yudha merangsek bibir istrinya dan memberikan ******* tanpa henti. Menyadari sesuatu yang keras di bawah sana, Dev mendorong tubuh suaminya untuk menjauh darinya.


Dengan mata sipit dan perasaan kecewa Yudha menatap mata istrinya.


"Momm..., sudah bolehkah," tanya Yudha dengan mata menyipit dan nafas memburu.


"No... forbidden." jawab Dev tegas.


"Baiklah, istirahatlah dulu. Tapi ingat Momm, setelah kering, jangan harap sedetikpun bisa melarikan diri dariku." sahut Yudha sambil melangkah ke arah kamar mandi.


Hanya dengan berendam air dingin, dia dapat menghilangkan rasa panas di tubuhnya. Dengan tak berdaya Dev menatap punggung suaminya yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.


********