
Pratama dan Seno terlihat sekali jika mereka sudah akrab. Seno yang tidak memiliki Saudara laki-laki dan sudah menjadi yatim piatu, seperti mendapatkan seorang kakak dengan mengenal Pratama. Apalagi Pratama sering membelikan barang-barang yang dia inginkan. Seperti saat ini, Kinanthi merasa dicuekin mereka berdua, karena Seno sedang mengajari Pratama memainkan sebuah game.
"Ayo kak Tama..., pakai tombol yang ini. Tekan kak, tekan..., ayo lanjut terus." suara Seno terdengar keras di telinga kakaknya.
"Di Depan kak, di belakang menara. Shoot kak, ayo."
"Wow..., mati kamu akhirnya. Sekarang kakak sudah bisa main Sen." terlihat Pratama merasa girang bisa memainkan game nya.
Kinanthi hanya melihat ke arah mereka berdua sambil menggelengkan kepala. Dia turut merasa senang melihat adiknya bisa tertawa bahagia, dimana dia sendiri merasa tidak pernah bisa membuatnya tertawa lepas.
"Pause dulu lah, ayo makan dulu. Keburu dingin lho nanti makanannya." akhirnya Kinanthi meminta mereka menghentikan dulu mainannya.
"Sebentar dulu kak, ini game online kak. Baru kompetisi, ya tidak bisa dong kalau di pause. Sebentar lagi lah kak." seru Seno dengan mata tetap berada dalam gadget yang dia pegang.
Pratama hanya tersenyum mendengar ajakan Kinanthi, tetapi seperti Seno dia juga melanjutkan permainannya.
"Ya sudah, terserah kalian berdua. Kakak keburu lapar, mau makan duluan."
Kinanthi mulai mengambil piring, dan menuangkan nasi ke atasnya. Pratama melihat Kinanthi sebentar, kemudian dia meletakkan gadgetnya.
"Seno, Kakak istirahat dulu. Mau makan dulu, lapar."
"Wah kak Tama, Seno selesaikan dulu ya saja. Nanggung."
Kinanthi mengambil piring Pratama, kemudian mengambilkan nasi di atasnya.
"Segini cukup mas." tanya Kinanthi lembut.
Mendengar suara lembut Kinanthi, menjadikan Pratama tidak fokus. Pikirannya kemana-mana.
"Kak Tama, ini kurang banyak atau kebanyakan." sekali lagi Kinanthi mengagetkannya.
"Yah cukup Kinan, terima kasih." akhirnya dia menjawab, dan menerima piring yang sudah disiapkan oleh wanita di depannya itu.
"Seno, makan dulu yok. Nanti mainnya lagi, kan tadi kesini kota mau makan bukan untuk main game online." Pratama mengajak Seno untuk ikut makan.
"Ya kak, Untungnya ini pas selesai. Nasiku mana kak Kinan? Masak Seno tidak diambilkan juga." protes Seno pada kakaknya.
"Ambil sendiri, lihat tidak tangan kak Kinan kotor."
"Halah, kakak alasan saja." akhirnya Seno mengambil nasi dan lauk sendiri.
Mereka bertiga akhirnya makan bersama, sesekali Seno usil mengerjai kakaknya. Tapi untung ada Pratama disitu, jadi saat maksud Seno ngerjain Kinan, tetapi Pratama yang membantu Kinanthi. Tiga puluh menit mereka habiskan untuk makan malam.
"Biasanya kalau malam ini, kalian makan apa kalau di rumah?" tanya Pratama.
"Kalau malam kak, biasanya telur dadar atau telur ceplok. Atau sama nugget juga sih. He..he..," sahut Kinanthi.
"Terus sayurnya?"
"Ya cuma itu kak. Kak Kinan kalau malam hari suka capai kak. Kasihan sudah pulang kerja, yah Seno ya harus tahu diri juga ya."
Mendengar perkataan adiknya, Naura memerah pipinya. Pratama memandang mereka berdua.
"Besok kak Tama tidak mau lho kalau hanya dimasakin itu." tiba-tiba Pratama berbicara seperti itu, dan membuat Kinanthi tersedak.
"Kenapa sih kak, makanya hati-hati dong kalau makan." Seno langsung memberikan air mineral pada kakaknya.
"Kak Tama, memangnya kakak mau makan di rumah kami. Ya tidaklah, kalau mau makan di rumah ya bilang dulu. Jadi kak Kinan bisa masakin dulu nanti."
"Kalau makannya setiap hari boleh tidak?" Pratama menggodanya mereka.
"Kalau setiap hari, mending kakak berdua menikah dulu. Biar tidak menjadi omongan tetangga. Kak Kinan juga belum punya pacar, tapi kak Tama sudah punya belum?"
Mendengar perkataan Seno, Kinanthi langsung memukul lengan adiknya itu.
"Ini kakak kenapa sih? Seno lagi bicara sama kak Tama. Ingat lho kak, meskipun Seno lahir lebih akhir dari kakak. Tapi kalau kakak menikah, harus Seno yang menikahkan."
"Kamu itu kalau bicara jangan asal ngawur. Gunakan pikiranmu, ini tempat umum. Tidak baik kalau ada yang ikut mendengarkan."
Pratama tersenyum mendengar perdebatan antara Kinanthi dan Seno.
"Seno, Kak Tama mau nanya nih. Tapi harus dijawab dengan benar ya. Jawaban jangan karena tidak enak hati dengan kakak."
"Iya kak."
"Berarti kalau kak Tama akan nikahi kak Kinan, Seno mengijinkan tidak?" Pratama tiba-tiba bertanya, dan membuat Kinanthi melotot.
"Mas Tama..., Kinan mohon jangan membuat pernikahan menjadi bahan candaan ya. Kinan tidak suka." seru Kinanthi menegur Pratama.
"Kinan, mas lagi nanya sama Seno lho. Tolong dong hargai aku juga."
Seni tersenyum bahagia.
"Benar kak Tama. Kakak yang akan menikah dengan kak Kinan. Kalau ini tidak usah ditanyakan lagi kak, Seno langsung setuju."
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut adiknya, Kinanthi menjadi malu dan marah. Kemudian dia langsung berdiri, dan berlari keluar dari resto.
Tetapi untungnya hari ini mereka lagi makan di ***tlake resto yang terletak di tengah sawah. Untuk mencapai akses jalan besar, harus melewati jalan pinggir selokan.
"Kejar kakakmu Seno, Kaka Tama bayar bill dulu." Pratama langsung Ikut berdiri dan langsung berjalan ke arah kasir. Dia menarik 10 lembar uang ratusan ribu, kemudian menaruh di meja kasir.
"Jika masih kurang, ini card name ku. Hubungi aku, nanti aku transfer." kata Pratama langsung pergi menuju mobil.
Sebelum masuk mobil, dia melihat Seno sudah berhasil mengejar Kinanthi. Kemudian Pratama menjalankan mobilnya ke arah mereka.
Seno memaksa Kinanthi masuk ke dalam mobil, akhirnya dengan diam mereka masuk ke mobil.
"Mau kemana kita, rumah atau masih ada yang akan dicari?" tanya Pratama.
"Terserah kak Tama saja. Aku ngikut." sahut Seno.
"Kamu ada usul mau kemana Kinan?" tanya Pratama lembut.
Kinanthi tetap terdiam tidak menjawab lery Pratama, dia malah menyandarkan mukanya dan memejamkan matanya. Pratama tersenyum melihat respon Kinanthi, kemudian dia menjalankan mobilnya ke arah apartemennya. Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya Pratama sudah memarkirkan mobil di basement.
Dia mengambil kunci apartemennya, dan memberikan pada Seno
"Seno, naiklah dulu. Kinan masih tidur, aku akan menunggunya sampai dia terbangun."
"Iya kak, titip kak Kinan ya." Seno langsung keluar dari mobil, dan menuju lift untuk naik ke atas.
Pratama melihat ke arah sebelahnya, dan dia masih melihat Kinanthi tertidur dengan pulas. Akhirnya dia menurunkan kursi mobilnya, dan ikut memejamkan matanya sambil menunggu Kinanthi terbangun. Sesekali dia melirik ke arah Kinanthi.
"Cantik, kamu cantik Kinan." bisik Pratama sendiri.
"Aku harap kamu mau untuk aku nikahi."
Tidak lama kemudian, Pratama ikut tertidur di samping Kinanthi.
**********************
PENGUMUMAN
Tengok novel author terbaru ya
PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Like ya, thank you