
Dev menaruh hasil pemeriksaan medis dari dokter yang memberi tahu tentang kehamilannya di dalam laptop Yudha. Dia ingin memberi surprise pada suaminya, tetapi hari kemarin sangat sulit baginya untuk memberikan. Yudha sudah berada di meeting room perusahaannya, hari ini dia mengumpulkan key person untuk menggarap sebuah project baru.
"Tuan Muda, untuk presentasi kita gunakan laptop perusahaan atau mau pakai laptop Tuan Muda?" Pratama sudah sibuk menyiapkan segalanya.
"Perusahaan saja, aku akan sekalian mereview tawaran kerjasama dari perusahaan lain."
"Baik Tuan Muda. Ini tumben juga, masa belum ada satu peserta yang sudah berada di ruangan ini."
"Bisakah sebelum kamu komentar, lihat dulu jam berapa undangan rapat kita hari ini?"
Pratama bengong mendengar komentar Yudha, dia menengok di chart, dan dia menepuk jidatnya sendiri.
"Maaf Tuan Muda, soalnya melihat dari tadi Tuan Muda sudah duduk disini. Saya pikir, rapat akan segera dimulai." kata Pratama sambil cengar-cengir.
Yudha membuka laptop, dan dahinya sedikit berkerenyit. Dia memegang amplop pemeriksaan medis dari RS JI*.
"Amplop rumah sakit? Siapa yang kesana?" Yudha heran siapa yang meletakkan amplop di lipatan laptopnya.
"Tuan Muda pegang amplop apa itu?" tanya Pratama penasaran.
"Coba Tam kamu buka. Aku juga bingung, perasaan tidak ada yang punya agenda di rumah sakit. Tiba-tiba kenapa amplop ini ada di dalam laptop." Yudha memberikan amplop tersebut pada Pratama.
Pratama dengan antusias membukanya, dan akhirnya,
"Selamat Tuan Muda, ternyata Tuan Muda sangat tok cer!" Pratama tersenyum menggoda Yudha.
"Apa maksudmu Tam? Bicara yang jelas, jangan pakai isyarat!"
"Ini informasi dari dokter kandungan Tuan Muda, tentang kehamilan Nyonya Muda."
"Apa Dev hamil lagi?" Yudha sedikit terkejut, tetapi tiba-tiba semburat kesedihan muncul di wajahnya.
Dia masih ingat saat istrinya hamil Vian dan Zidan, beberapa bulan dia harus menahan hasratnya. Belum lagi rasa sakit yang diderita Dev, saat melahirkan, Yudha masih mengingat itu semua. Melihat keheningannya Yudha, Pratama mencoba membuat Tuan Mudanya kembali.
"Tuan Muda apa yang terjadi? Kenapa Tuan Muda seperti kurang bahagia mendengar kehamilan Nyonya Muda." melihat perubahan ekspresi Tuan Muda, Pratama tampak khawatir.
"Dev pernah bicara padaku untuk hamil lagi, tetapi kenapa secepat ini. Vian dan Zidan saja masih butuh banyak kasih sayang dari Mommy nya, ini mereka harus ditinggal perhatiannya untuk si calon baby."
"Mungkin Nyonya Muda punya pertimbangan lain Tuan Muda, mungkin mikirnya agar sekalian repot ngurus anak-anak."
"Maksudnya?" Yudha memandang asisten pribadinya itu.
Dengan hati-hati khawatir menyinggung Tuan Muda, Pratama berbicara lirih.
"Yah, mungkin Nyonya Muda punya rencana ke depan yang lebih bagus, sehingga memutuskan untuk memiliki 3 balita dalam asuhannya."
"Baiklah Tama, aku mau pergi ke perusahaan istriku. Wakili aku untuk memimpin rapat dengan para divisi. Aku akan menanyakan padanya secara langsung, bagaimanapun aku tidak boleh Dev menanggung sendiri." Yudha langsung berdiri, dan meninggalkan laptopnya yang masih terbuka di atas meja.
Pratama bengong melihat Yudha yang berlalu dari meeting room. Akhirnya dia mengambil nafas panjang, kemudian mempelajari materi rapat yang akan mereka bicarakan siang ini.
"Yah, bagaimanapun dia, Tuan Muda adalah pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan ini. Aku ya harus mengikuti apa yang dia inginkan." gumam Pratama sambil mengutak-atik file dalam laptop.
*******************
"Dev..., untuk lengkungan yang di sudut kanan atas baiknya gimana?" tanya Icha pada Dev.
Mereka baru membicarakan desain rencana penempatan ruang display karya mereka. Sehingga jika ada tamu yang ingin mengajak berdiskusi, bisa terlebih dahulu mereka perlihatkan sebagian dari produk dan karya mereka. Bianca yang memang kurang begitu familiar dengan pemrograman, desain etc yang terkait dengan aplikasi komputer, hanya senyum-senyum melihat kesibukan dua key person itu.
"Coba diberi gradasi warna grey sedikit, biar terlihat elegan. Kemudian tambahkan poin of interest dengan warna utama."
"Okay, hasilnya jadi bagus Dev. Wow..," seru Icha kegirangan.
"Apa sih seru amat?" Bianca mendekat ke arah mereka.
"Wow, benar Cha. Sangat cantik banget, memang kalian berdua itu kalau sudah collab bareng, desainer manapun tidak ada yang bisa mengalahkan kalian berdua."
"Oh iya, aku lupa mau bicara padamu Bia. Kamu tetap disini tidak apa-apa Icha, bukan rahasia kok."
"Ada apa?"
"Aku mau menambah satu tenaga perempuan. Orangnya ulet, pinter, cewek lagi. Urusan desain nanti dia bisa join bareng kamu Cha. Karena ke depan aku akan mengurangi contact dengan layar komputer untuk sementara waktu."
"Memangnya kamu mau kemana Dev, atau ada apa kok tiba-tiba mau sedikit menjauh dari layar komputer?"
"Kapan-kapan aku ceritakan ya Cha, karena Yudha saja mungkin belum tahu kabar ini." kata Dev.
"Okay deh, apa sih yang tidak bukan kamu Dev." sahut Icha.
"Aku no problem Dev, lagian kita kan juga baru saja kehilangan karyawan kan?. Tapi dimana mau carinya? Atau kamu sudah dapat kandidatnya."
"Ya terang sudah dong. Makanya aku bisa cerita ciri-ciri orang yang."
"Siapa Dev? Jangan bilang kalau kamu ambil orang dari perusahaan lama kita?"
"Tuhanku, sebelum kesini, kamu sudah mengenal aku lama kan Cha. Tega bener, curigai aku."
"He..he..he.., bukannya begitu Dev sayang. Makanya tak perlu pakai rahasia-rahasiaan. Langsung aja cerita."
"Iya, iya. Dia istrinya Pratama, orang kedua di perusahaan suamiku, PT. Globe. Tbk.Namanya Kinanthi, semula dia kerja di New Arcade, tetapi diminta resign sama Pratama."
"Pratama? Aduh Dev, jangan sebut namanya di depanku. Serasa mau runtuh duniaku.'
"Hush..., sadar Cha. Ingat Bertho, ingat si kecil di rumah."
"Sorry Dev, habis kamu tahu sendiri kan bagaimana aku dulu." Icha tersenyum malu.
"Memangnya kenapa? Icha naksir sama asisten Yudha yang sok Cool itu."
"Hai Pratama itu memang cool, bukannya sok cool." semprot Icha.
"Uluh..uluh.. Iya Cha, aku benerin kata-kataku. Pratama yang cool. Kamu naksir sama dia Cha? Bukankah kamu sudah bersuami dan punya satu putra?"
"Dulu Bia..m, sudah ayok.out of Topic. Bagaimana rencanaku tadi?"
"Kalau aku sih Yess. Pokoknya kalau kamu yang rekomendasi, aku tidak perlu lagi ikut-ikutan. Biar ga jadi bubar, he..he..he.."
"Okay Nyonya Besar. Senin besok Kinanthi sudah aku suruh masuk. Langsung ruanganku atau langsung ke tempatmu Cha?"
"Ke tempatku juga ga pa pa sih. Untuk ganti karyawan kita yang resign kemarin."
"Okay, okay deal ya."
Ketiga orang inti itu sudah menyepakati bersama untuk menerima Kinanthi kerja di perusahaan ini.
*****************