Married By Incident

Married By Incident
Pelarian



Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Dev merasa kondisinya sudah membaik. Yudha dengan setia selalu mendampingi, dan bahkan beberapa pekerjaan perusahaan diantar ke rumah sakit. Sedangkan teman-teman Dev satupun tidak ada yang diperbolehkan untuk datang berkunjung. Kejadian yang menimpa Dev dan bayinya kali ini, dianggap sudah melewati garis batasnya, sehingga aturan main dikendalikan oleh Yudha.


"Sayang, kapan aku boleh pulang, aku merasa tubuhku sudah pulih seperti biasanya" tanya Dev pada suaminya.


"Tunggulah sebentar lagi kalau dokter sudah memperbolehkan." kata Yudha lembut, kemudian dia meletakkan dokumen yang sedang berada di tangannya. Perlahan dia mendatangi istrinya.


"Dev..., dirimu dan bayiku adalah hal terpenting dalam hidupku saat ini. Jangan menyiksaku, aku akan bisa menghabiskan semua orang yang terlibat denganmu jika terjadi sesuatu dengan dirimu. Kali ini menurutlah denganku." Yudha meletakkan kepalanya perlahan, dan memastikan tidak memberikan beban berat di atas perut Dev yang membuncit.


"Tapi aku bosan di tempat ini sayang, tidak ada yang bisa aku kerjakan disini," kata Dev sambil merajuk.


"Turuti aku sayang, tolong jangan membantah untuk kali ini. Setelah aku dan Pratama selesai membereskan urusan ini, kita akan segera pulang." ucap Yudha sambil mencium perut Dev.


"Baiklah, aku akan menurutimu sayang," ucap Dev sambil memainkan rambut di kepala suaminya. Meskipun agak kecewa, tetapi hatinya merasa hangat, dia merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari suaminya tanpa batas.


*******


Di gudang tua tempat penyekapan Mijan, petugas kepolisian yang sedang tidak berdinas membanting seorang laki-laki ke samping Mijan. Mukanya sudah tidak berbentuk, dan satu tendangan dihadiahkan lagi sebelum petugas itu meninggalkan ruangan.


Sepeninggalan petugas kepolisian, Mijan menghampiri laki-laki itu dengan tatapan marah. Dia merasa gara-gara laki-laki itu, Mijan harus dikurung di tempat itu dan harus meninggalkan anak istrinya.


"Jadi kamu yang melakukan perbuatan kejam itu pada Bu Devina," bentak Mijan dengan nada tinggi.


Laki-laki itu hanya diam tidak menjawab, dia masih merasakan kesakitan disiksa oleh beberapa orang sampai akhirnya dia mengaku.


"Jawab..., apakah kamu tidak terlahir dari seorang ibu, tidak terlahir dari seorang wanita."


"Ibu Devina orang yang baik, dan saat ini beliau sedang mengandung. Biadab sekali kamu, melebihi seorang binatang," teriak Mijan dan ikut menendang laki-laki itu untuk melampiaskan kekesalannya.


"Maafkan aku pak Mijan, aku sedang membutuhkan uang untuk biaya anakku sekolah. Aku terpaksa melakukannya pak." kata laki-laki itu dengan penuh penyesalan.


"Anak??? Kamu bukan manusia, kamu bukan seorang bapak. Kamu tega menghilangkan nyawa seorang anak yang lain, hanya untuk alasan agar anakmu bisa tetap sekolah."


"Apakah kamu tidak berpikir, aku juga seorang bapak? Karena ***** keserakahanmu, aku harus berpisah dengan anakku,"


Mijan meluapkan emosinya pada laki-laki itu. Sudah dari hari kemarin, dia berada di bawah tekanan Pratama dan orang-orangnya. Saat ini di hadapannya, terkapar seseorang yang bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Semua rasa marah dan jengkelnya dia lampiaskan pada laki-laki yang tidak berhenti mengaduh kesakitan.


*******


"Tiara..., ayo segera kita tinggalkan tempat ini. Beresi cepat semua perlengkapanmu." kata Bukman tiba-tiba mengagetkan Tiara yang sedang bersantai menyaksikan acara televisi.


Tiara segera melompat dari tiduran santai di sofa, kemudian langsung bergegas membereskan semua perlengkapannya. Bukman sendiri juga segera berbenah, dan membereskan semua barang-barang penting.


"Bersiaplah ke pintu belakang Tiara, aku akan melihat siapa yang datang malam-malam." kata Bukman sedikit panik. Ketukan pelan di pintu saat ini sudah berganti menjadi gedoran keras yang tidak berhenti.


"Iya bang, hati-hati," kata Tiara sambil membawa barang seperlunya yang dianggap penting.


Tiara segera berlari menuju pintu belakang, yang menghubungkan pada tembok pembatas residen. Setelah membuka kunci pintu, Tiara merasa merinding buku kuduknya melihat remang-remang kegelapan di depannya. Dia agak maju mundur antara kembali bersama Bukman, atau maju melarikan diri.


"Aku harus berani, aku tidak boleh takut " akhirnya dengan mencoba bersikap tenang, Tiara memberanikan diri menerobos kegelapan malam.


Bersyukurnya, di tembok sudah disiapkan tangga untuk menuju ke hamparan sawah yang berada di seberang tembok. Tanpa menghiraukan rasa takut dan cemas, Tiara menaiki anak tangga satu persatu, dan akhirnya sampai di tembok pembatas bagian atas. Sampai di atas Tiara merasa kebingungan, bagaimana dia harus turun ke bawah. Akhirnya dengan susah payah, Tiara menuruni tembok dengan merambat pada pohon nangka yang tumbuh di balik tembok.


Rasa pedih tergores tembok yang kasar, ranting sudah tidak dia pedulikan. Dengan bercucuran air mata bercampur rasa takut, Tiara teringat ibunya yang berada di kota Palembang. Tiba-tiba dia ingin melakukan panggilan kepada Sonya, kemudian mengambil ponselnya dan mulai menghubungi ibunya.


"Ada apa Tiara, malam-malam menghubungi mama." tanya perempuan dengan suara serak di seberang telepon.


"Mama, mama, Tiara takut ma, tolong Tiara mama." ucap Tiara sambil menangis pilu dengan suara ketakutan.


Sonya langsung terduduk mendengar suara anaknya yang ketakutan meminta pertolongannya. Dengan penuh pertanyaan, Sonya berusaha menenangkan putrinya.


"Tenang sayang, ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi saat ini." kata Sonya yang tetap berusaha tenang, meskipun hatinya juga sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya.


Dengan tergagap-gagap Tiara menceritakan secara ringkas kejadian yang sedang dialaminya.


"Sekarang, cari tempat yang aman dulu untuk bersembunyi sayang. Mama akan mencari cara untuk rnenyelamatkanmu dengan segera. Jika perlu mama akan minta bantuan pada papa sayang." kata Sonya berusaha menenangkan Tiara.


"Tolong Tiara ma, tolong ma," dengan ketakutan Tiara terus menangis ketakutan.


"Iya sayang, saat ini kita berbeda pulau. Mama tidak mungkin akan sampai ke tempatmu malam ini juga. Segera mama akan menyusulmu kesana. Sekarang ambil nafas dalam." kata Sonya memandu dari seberang telepon.


Tiara mengikuti perkataan mamanya, dengan segera dia mengambil nafas panjang kemudian mengeluarkannya kembali.


"Tiara dengar mama sayang, hanya bersikap tenang kamu akan bisa terlolos dari bahaya ini. Sekarang berlarilah selagi kamu bisa, bersembunyilah nak. Mama usahakan besok pakai penerbangan pertama dari sini, mama akan datang untuk menjemputmu." kata Sonya mengarahkan putrinya.


"Benar ya ma, mama akan menjemput Tiara" tanya Tiara penuh harap.


"Iya sayang, mama akan membangunkan papa. Malam ini juga mama bersiap-siap untuk menjemputmu besok pagi. Sekarang tutup teleponnya, dan segera bersembunyilah di tempat yang aman." kata Sonya mengakhiri panggilan telepon.


Begitu Sonya mematikan panggilan telepon, Tiara kembali merasa kesepian dan ketakutan dalam kegelapan malam. Akhirnya dengan membulatkan tekad, dia kembali berjalan melintasi pematang sawah menuju jalan yang terlihat di depannya.


********