Married By Incident

Married By Incident
Kedatangan Burhanuddin



Pratama menunggu di lobby Hotel **votel yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman. Sesuai instruksi Yudha, dia sendiri yang menyambut kedatangan mertua Yudha dan istrinya. Setelah menghabiskan satu cangkir hot Americano dan satu potong tuna sandwich, akhirnya mertua Yudha dan driver PT. Globe Tbk muncul juga di lobby. Pratama bergegas menghampiri Burhanuddin beserta istri dan anaknya.


"Selamat pagi pak, perkenalkan saya Pratama asisten pribadi menantu Bapak," Pratama mengenalkan dirinya dengan ramah


"Oh ya, terima kasih nak. Perkenalkan juga saya Burhanuddin, dan ini istri saya Sonya, serta anak saya ....," kata Burhanuddin mengenalkan balik dirinya. Kemudian dia menjabat erat tangan Pratama.


"Nak Pratama, kalau Bapak boleh bertanya. Kenapa saya dibawa ke hotel, dimana rumah anak dan menantu saya." tanya Burhanuddin penasaran.


"Mohon maaf pak, untuk saat ini rumah pak Yudha sedang disterilisasi dari orang lain. Hal ini untuk memastikan keamanan dan keselamatan Nyonya Muda Devina." sahut Pratama sambil melirik sinis ke arah Sonya.


Sedangkan Sonya dengan hati diliputi ketakutan dan kekhawatiran terhadap kondisi Tiara hanya bisa senyum terpaksa.


"Baiklah, semoga semua ini yang terbaik. Terus dimana saat ini anak dan menantu saya," Burhanuddin kembali bertanya.


"Bapak sebaiknya istirahat dulu di kamar. Jika bapak membutuhkan room service, silakan pesan apa yang keluarga bapak inginkan." kata Pratama.


"Nanti pada pukul 11.00 akan ada driver yang akan menjemput Bapak untuk membawa ke tempat Nyonya Muda dan menantu Bapak." lanjut Pratama.


"Baiklah nak Pratama, Bapak ikut apa yang sudah diatur. Nanti jam 11.00 Bapak akan siap di lobby kembali." kata Burhanuddin.


"Kalau begitu saya permisi pak. Selamat beristirahat." dengan perilaku sopan Pratama undur diri.


Burhanuddin segera mengajak Sonya dan ... ke kamar yang telah disiapkan Pratama.


*****


Pukul 10.45 Burhanuddin dan Sonya sudah menunggu di lobby hotel. Sedangkan putra laki-lakinya tidak ikut dibawa untuk menemui Dev dan Yudha.


"Selamat siang pak, saya Sholeh sopirnya Nyonya Muda Devina. Siang ini saya diperintahkan Tuan Pratama untuk mengantarkan Bapak mengunjungi Nyonya Muda." kata Sholeh . mengenalkan dirinya.


"Baik, mari kita langsung berangkat." jawab Burhanuddin. Kemudian dia menggandeng Sonya dan mengikuti Sholeh menuju mobil yang diparkir depan pintu lobby.


Setelah luna menit perjalanan memutar karena one way road, mereka sampai di depan pintu masuk pengunjung rumah sakit **thesda.


"Kenapa kami diturunkan disini pak, siapa yang sakit." tanya Burhanuddin kebingungan.


Sedangkan Sonya mendadak menggigil ketakutan. Tapi demi menyelamatkan putrinya, Sonya rela melakukan apa saja.


"Maaf pak, saya hanya ditugaskan untuk menjemput Bapak dan keluarga. Silakan masuk ke Paviliun VVIP, nanti Bapak akan tahu sendiri siapa yang sedang dirawat disana." Sholeh menjelaskan posisinya yang hanya pesuruh, sehingga tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan.


"Baiklah pak Sholeh, sebentar lagi saya akan tahu sendiri. Terima kasih pak saya sudah dijemput." kata Burhanuddin.


"Baik pak, saya tunggu di luar. Jika Bapak dan ibu sudah selesai, Bapak bisa whattaps saya, nanti saya akan standby. Ini nomor ponsel saya pak." kata Sholeh sambil mengulurkan catatan nomor ponselnya.


Burhanuddin segera menggandeng Sonya kemudian menyusuri koridor rumah sakit dan mencari letak paviliun. Burhanuddin masuk ke bagian informasi.


"Bapak masuk lurus kemudian belok kiri. Paviliun VVIP ada disitu Bapak." kata petugas receptionis dengan ramah menunjukkan arah menuju paviliun tempat Dev dirawat.


Setelah mengikuti petunjuk, Burhanuddin akhirnya tiba di depan pintu.


"Ny. Devina Renata," hati Burhanuddin seperti tersengat membaca name tag yang ditempel di pintu masuk. Tanpa mengetuk pintu, Burhanuddin tidak sabar langsung mendorong pintu ke dalam.


Yudha dan Dev menoleh ke arah sumber suara.


"Papa..," kata Dev pelan, kemudian berusaha untuk duduk dengan menegakkan tubuhnya untuk menyambut kedatangan papanya.


Yudha segera membantu istrinya, menaikkan bed agar istrinya bisa menyandarkan badannya dengan nyaman. Kemudian dia menyalami mertua laki-lakinya.


"Papa, selamat datang pa," sapa Yudha.


"Iya nak," sahut Burhanuddin.


Sonya mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan Yudha, tapi Yudha hanya melihatnya sekilas dan menolak ukuran tangannya. Sonya menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata menantu tirinya yang seperti menghujam. Kemudian Sonya berusaha untuk mendekati Dev, tetapi Yudha langsung menutup akses melarangnya menyentuh Dev.


Burhanuddin dan Dev melihat ke arah Yudha, tetapi tidak ada yang berani menanyakan sikap Yudha pada Sonya. Beberapa saat mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Air mata tampak menggenang di mata Burhanuddin.


"Sudahlah pa, Dev tidak apa-apa. Inshaa Allah, besok pagi Dev sudah boleh pulang." kata Dev berusaha menenangkan hati papanya.


"Sebenarnya ceritakan apa yang terjadi nak," kata Burhanuddin lemah menuntut kebenaran yang terjadi sebenarnya.


"Kenapa papa tidak menanyakan semua pada istri papa." tanya Yudha dengan sinis tanpa ada sopan-sopannya. Sedangkan Dev hanya terdiam tidak berani melarang sikap Yudha.


"Apa maksud semua ini. Sonya..., apakah ini jawaban atas pertanyaanku dari tadi malam." kata Burhanuddin pelan pada Sonya.


"Kamu mengajak aku datang ke kota ini untuk menolong Tiara. Apakah hubungannya dengan Dev putriku yang kini terbaring di hadapan kita." Burhanuddin terus mencecar pertanyaan pada Sonya.


Sonya langsung merosot ke lantai dan menangis terisak.


"Maafkan Sonya mas, maafkan. Tolong Tiara mas, dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia hanya mencari keadilan." kata Sonya sambil menangis. Kemudian Sonya bersimpuh di depan Dev, Yudha dan Burhanudin. Dia sampai meletakkan keningnya di lantai rumah sakit yang dingin.


"Apa maksud dari semua ini. Tolong siapapun, tolong ceritakan padaku." tanya Burhanuddin kebingungan.


Dev tidak berani berbicara, sedangkan Yudha dengan tatapan sengit menatap Sonya yang bersimpuh di lantai tanpa memiliki rasa iba sedikitpun.


"Mas, Tiara juga putrimu mas. Tolonglah mas, Tiara dan Dev sama posisinya, sama-sama mereka adalah anak kandungmu. Dia berhak mendapatkan perlakuan yang sama dari kecil." kata Sonya menghiba pertolongan.


"Maksudnya apa ini. Papa.., mama.., anak kandung, sama.posisinya dengan Dev. Apa maksud dari semuanya ini pa, ma?"


Dev yang dari tadi terdiam, akhirnya dia bertanya sambil menatap papa dan matanya secara bergantian. Sedangkan Yudha tetap diam tanpa ekspresi apapun.


Dev kaget mendengar perkataan Sonya barusan.Dia selama ini hanya tahu jika setelah mamanya meninggal, Papanya memutuskan untuk menikahi sekretaris pribadinya seorang janda beranak satu. Sedangkan latar belakang Sonya, papanya tidak pernah bercerita kepadanya.


"Jangan mencoba untuk mengalihkan fokus masalah." kata Yudha tegas. Sedikitpun tidak ada rasa iba yang tampak, sebaliknya tatapan sadis yang dia tunjukkan pada sekitarnya.


"Tolong Tiara, maafkan kesalahannya.. Limpahkan semua pada mama Dev," Sonya tetap menangis meminta maaf untuk anaknya.


Burhanuddin yang masih diliputi rasa bingung, hanya berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya. Tapi semua diam, hanya terdengar Isak tangis Sonya.


********