Married By Incident

Married By Incident
Quality Time



Yudha berdiri di depan pintu walk in closed, menunggu Dev keluar untuk mengambil baju ganti. Karena terlalu fokus dengan baju ganti yang dibawanya, Dev tidak melihat suaminya yang berdiri di depannya. Tidak ayal lagi tubuh kecilnya menubruk badan Yudha yang keras dan alot.


"Aduh" teriakan kecil Dev terlontar dari mulut mungilnya saat hidungnya dengan sukses bertengger di dada bidang Yudha.


"Sudah sedemikian kangennya ya dengan dada Daddy, sampai main tubruk-tubruk," dengan terkekeh pelan Yudha menggoda Dev, dan tanpa menunggu jawaban keluar dari mulut istrinya, Yudha mengangkat tubuh Dev dan mendudukannya di atas sofa. Tangannya dengan cekatan melempar baju yang sedang ada di tangan Dev.


"Denganku, baju ini tidak di perlukan lagi," bisiknya dengan tatapan mesum. Dev hanya menanggapi kegilaan Yudha dengan senyum manisnya.


Dev memaklumi perilaku suaminya, karena akhir-akhir ini quality time untuk mereka berdua, dalam melakukan ritual


untuk penyaluran hasrat warisan purba sering mengalami rintangan-rintangan kecil, Hadirnya si kembar menjadi semangat kebahagiaan mereka, tetapi terkadang menjadi penghalang untuk penyatuan mereka. Pemenuhan kebutuhan mereka dilakukan Yudha dan Dev dengan quickie service. 


"Mumpung kedua Mucil itu baru saja tidur, rawat Daddy ya Mom," bisik Yudha di telinga Dev.


Bisikan itu seakan menjadi stimulus bagi Dev, dimana seketika tubuhnya merinding, dan dengan masih duduk di atas sofa, dia mengalungkan kedua tangannya di leher Yudha. Dengan sekali hentakan, Yudha mengangkat tubuh Dev berdiri diatas sofa, dan dengan gerakan leluasa mereka saling meredakan kehausannya yang sudah lama mereka tahan. Mata jernih Dev berkali-kali melirik ke arah box tempat si kembar tidur, dan seakan memahami kekhawatiran istrinya, dengan tetap menggendong istrinya, Yudha berjalan menuju connecting door kemudian menutupnya secara perlahan.


Beberapa saat dan beberapa kali mereka melakukan penyatuan dari siang ke sore. Sofa, ranjang, walk in closed dan kamar mandi menjadi lokasi tempat kejadian mereka dalam memenuhi hasrat warisan purba.


"Sudah terbayar lunas hari ini ya utang Mommy sama Daddy," bisik Dev menggoda Yudha.


"Apa hanya dengan empat kali pelepasan hari ini, Mommy pikir itu cukup untuk membayar hutang-hutang selama ini," dengan senyum dan pandangan mesum Yudha balik bertanya pada Dev.


"Kenapa suamiku sekarang menjadi lebih tidak tahu malu. Ingat Dad, kita sudah memiliki si kembar. Kita perlu mengurangi frekuensi kita dalam hal ini," ucap Dev sambil menggigit kecil pundak Yudha.


"Yang harus dihilangkan itu kebiasaan Mommy yang suka menggigit pundak Daddy. Aku bisa mengirim si kembar ke New Zealand ke tempat opa buyutnya, kalau si Mucil itu terus-terusan mengganggu urusanku." ucap Yudha tanpa ekspresi.


Mendengar kalimat itu, Dev seperti tersengat lebah. Dengan lembut Dev memberikan kecupan di bekas gigitan yang ada di pundak Yudha. Melihat perlakuan manis istrinya, Yudha terkekeh sambil mengelus puncak kepala Dev.


Pasangan suami istri yang selalu membuat iri itu, selalu pintar memanfaatkan celah waktu sependek apapun untuk merekatkan hubungan mereka yang semakin berkualitas. Apakah dengan sentuhan kecil maupun perhatian kecil, keduanya selalu bisa mendapatkan manfaat besar dari interaksi mereka.


Setelah ritual pelepasan kepenatan mereka hari ini, mereka selalu memberikan sajian penutup dengan mandi bersama, saling memandikan, saling menyabuni kepemilikan mereka masing-masing. 30 menit kemudian, dengan merangkul istrinya Yudha membuka connecting door dan melangkah masuk ke kamar si kembar.


Hati Dev seperti copot melihat Vian yang terbangun tanpa bersuara. Matanya bersinar tajam menatapnya, seakan menghakimi telah meninggalkannya sementara waktu.


"Dad......, lihatlah Vian. Apakah Daddy tidak menyadari seperti ada yang aneh dengannya. Jarang dia menangis seperti bayi-bayi yang lainnya, bahkan beda jauh dengan Zidan yang sedikit-sedikit menangis. Dan kali ini tatapan mata Vian seakan menusuk ke jantung mommy. Apa dia bisa merasakan ya karena mommy nya meninggalkan dia, untuk memberikan perawatan pada Daddynya." kata Dev lirih pada Yudha.


Yudha tersenyum lembut, sambil mengangkat Vian dan memindahkannya di ranjang samping Dev duduk. Setelah itu, dia mengangkat Zidan dan meletakan dalam gendongannya.


"Mommy terlalu banyak berhalusinasi," kata Yudha menenangkan Dev. Sebenarnya bukan karena Yudha tidak peka dengan tahapan tumbuh kembang kedua putranya, tapi dia tidak mau membuat istrinya merasa ketakutan dan khawatir. Pada saat Dev tertidur, Yudha sering bangun  dan mengamati lebih dekat pada kedua putranya. Vian jauh lebih dewasa untuk ukuran anak-anak seusianya, seakan nalarnya sudah jalan sejak dia dilahirkan. Tetapi sepanjang tidak ada gejala yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan putranya, Yudha masih bisa mentolerirnya.


************


Sore itu setelah memandikan kedua putranya, Yudha dan Dev membiarkan si kembar bermain dengan baby sitter di taman belakang. Mereka memiliki sedikit keleluasaan menikmati quality time dengan minum teh panas Nasgithel ditemani mendoan dan pisang goreng. Tahu kegemaran Nyonya Mudanya, Bi Siti terbiasa menyediakan kudapan itu saat Dev berada di rumah. Karena sering sewaktu-waktu Dev akan menanyakan kedua camilan favoritnya.


"Bagaimana hari pertama kerjamu," tanya Yudha sambil menyesap teh dari cangkirnya.


"Fine, semua lancar untuk hari ini. Semua divisi dan karyawan dapat menerimaku tanpa resistensi, dan bahkan tadi sudah sempat diskusi kecil dengan divisi yang berada di bawah koordinasiku." Dev menceritakan pertemuan mereka tadi siang.


"Selain itu, ada kabar bahagia  dari Reno dan Bianca. Bulan depan Bianca sementara akan Off dulu dari PT. Diamond karena akan fokus pada persiapan pernikahannya, Bulan berikutnya mereka akan menikah di Australia, karena lebih dekat dengan keluarga Reno, dan om Andrew juga memiliki beberapa property disana. Tapi sayang...," Dev tidak melanjutkan perkataannya karena khawatir Yudha akan menjadi repot untuk mewujudkannya. Tapi Yudha adalah suami yang sangat mengenal dan memahami istrinya.


"Aku akan memastikan kita berempat akan pergi kesana. Lagian si kembar dua bulan lagi sudah berusia empat bulan, sehingga sudah lumayan kuat untuk menempuh perjalanan jauh." kata Yudha seperti dapat membaca keinginan istrinya.


"Benarkah itu sayang," tanya Dev tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tapi begitu menatap mata suaminya, dia tidak menemukan kebohongan di dalamnya, dan dia semakin mantap karena dengan tersenyum Yudha menganggukkan kepala.


Kehangatan kembali mengalir di hati Dev, dengan penuh haru Dev menyandarkan kepala di pundak Yudha.


"Hati-hati sayang, kamu bisa menindih kepala Zidan kalau begini," tiba-tiba Dev tersentak mendengar ucapan pelan Yudha, sehingga dia langsung mengangkat kepalanya kembali. Yudha terkekeh berhasil menggoda istrinya.


"Zidan dan Vian sedang bermain dengan Baby sitter di belakang sayang, tapi aku akui reflek seorang mommy yang tidak ingin menyakiti putranya sangat luar biasa." kata Yudha sambil mengangkat dua jempolnya di hadapan Dev. Dev memukul pelan lengan suaminya yang sukses mengerjainya.


*****************************