Married By Incident

Married By Incident
Teguran



Bulan demi bulan tidak terasa perut Dev sudah mulai membuncit. Saat ini usia kehamilan Dev sudah memasuki bulan kelima. Tetapi karena Yudha mendatangkan jasa ahli gizi dan nutrisi, untuk mengatur pola makan Dev, wajah dan tubuhnya tidak mengalami pembengkakan.


"Bagaimana rencanamu, kira-kira akan melahirkan secara caesar atau alami." tanya Yudha sambil mengusap perut Dev.


"Seorang wanita manapun dalam hatinya selalu ingin melahirkan secara alami." kata Dev.


"Tapi aku dengar dan baca-baca artikel, akan sangat menyakitkan jika melahirkan secara alami. Aku tidak akan bisa melihatmu menderita." kata Yudha sangat mengkhawatirkan istrinya.


"Akan lebih sakit kalau perutku disobek, keluar darah. Hi..., ngeri." kata Dev sambil menutup mukanya.


"Tapi kan bisa dibius, jadi nanti rasa sakitnya tidak akan terasa."


"Itu kan pas operasi. Kalau sudah diambil bayinya, memang aku akan dibius terus. Sakit, perih. Ogah..., aku akan menderita lebih lama."


"Mending persalinan normal, hanya sebentar rasa sakitnya, dan aku akan merasa jauh lebih puas." kata Dev.


"Yah terserah, kan bukan aku yang mengalami. Tapi aku tetap tidak akan tega jika melihat kamu menderita." kata Yudha sambil mencium pucuk kepala istrinya.


"Yudh..., kira-kira kalau bayi kita sudah keluar, apa kamu juga akan memberikan perhatian penuh padaku. Aku khawatir, perhatian untukku jadi nomor dua." tanya Dev.


"Harusnya yang bertanya itu aku, sayang." kata Yudha sambil memberikan ciuman dalam ke dahi Dev, kemudian memeluknya.


"Sudah malam, tidurlah. Ngobrolnya kita lanjut besok pagi."


Mendengar perkataan Yudha, Dev bersembunyi dalam pelukan Yudha dan mencoba untuk tidur. Dengan penuh kasih sayang, Yudha memeluk Dev dengan satu tangan, sementara satu tangan lainnya membaca dokumen penawaran project.


Dalam pelukan Yudha, Dev merasakan tubuh Yudha seperti memanas. Tiba-tiba Dev kembali duduk.


"Ada apa, kenapa tidak jadi tidur," tanya Yudha lembut.


"Aku merasakan tubuh suamiku memanas," jawab Dev sambil tersenyum penuh makna.


"Sudah tidurlah lagi, jangan khawatirkan aku."


Dev tersadar bahwa suaminya sudah puasa cukup lama. Demi keamanan bayinya, dari pertama diketahui bahwa Dev hamil, Yudha tidak berani untuk melakukan penyatuan dengan istrinya. Dia berpikir, sudah sering dirinya mendapatkan kesenangan dengan menyatu dengan istrinya. Sehingga Yudha berpikir untuk berusaha menahannya, yang mungkin tidak akan bisa dilakukan oleh laki-laki lainnya.


"Apa suamiku butuh bantuanku untuk menyakurkannya." tanya Dev lembut.


Yudha meletakkan dokumen yang dipegangnya, dia tetap berjuang untuk menahannya sendiri. Perlahan dia memejamkan matanya.


Sebenarnya Dev sudah berkonsultasi dengan dokter, bahwa bayi yang dikandungnya dalam keadaan sehat dan stabil. Perlahan Dev mengusap dada Yudha naik turun. Yudha tetap bertahan memejamkan matanya, dia terlalu takut jika akan menyakiti bayinya.


"Ayolah Yudh..., aku sudah konsultasi dokter, dan dokter mengijinkan." bisik Dev di telinga suaminya.


Mendengar kalimat terakhir, Yudha perlahan membuka matanya. Dev memiliki keinginan saat ini untuk menggoda suaminya. Sambil menggigit kecil telinga suaminya, kembali Dev membisikkan kalimat "Ayolah Yudh... aku juga menginginkan kamu malam ini."


Tanpa menunggu lama lagi, Yudha dengan lembut menyentuh bibir Dev dengan bibirnya. Tangannya dengan lincah melepaskan dan melempar baju keduanya ke lantai. Dalam sekejap, dua tubuh saling terjalin erat, dan saling berusaha mencapai titik terdalam untuk memuaskan kebutuhan masing-masing.


Kerinduan selama berbulan-bulan akan jalinan erat tubuh mereka, tertuntaskan semua malam ini. Setelah beberapa saat,


"Apakah aku menyakitimu." tanya Yudha lembut pada istrinya.


"Tidak, sebaliknya malam ini kamu telah membahagiakan aku." kata Dev sambil memainkan jarinya di dada Yudha, menyusuri setiap kotak yang terpahat di perut suaminya. Hanya mereka berdua yang tahu dan merasakan, betapa erat dan intimnya hubungan mereka selama ini.


*****


Melihat kehamilan Dev yang sudah tidak bisa disembunyikan, Yudha sebenarnya melarang Dev untuk bekerja lagi. Tapi, Dev tidak bisa membayangkan akan melewati hari-hari yang menjemukan. Akhirnya dia bisa meyakinkan Yudha untuk tetap membolehkan dirinya bekerja. Tetapi demi melindungi Dev dan anak dalam kandungan Istrinya, Yudha memperketat penjagaan terhadap Dev. Bahkan teman-teman Dev tidak diperbolehkan mendekat sembarangan.


"Dev, maafkan Bapak ya," kata Gunawan sambil menyerahkan reprimand letter (surat teguran).


Dev mengambil surat dari tangan Gunawan, kemudian membacanya. Sambil tersenyum sinis, Dev melipat kembali surat tersebut.


"Pak Gun, kalau saya tetap tidak mengindahkan surat teguran ini, kira-kira punishment apa yang akan saya terima." tanyanya dengan suara pelan.


Gunawan diam tidak menjawab pertanyaan Dev.


"Saya rasa, hal yang wajar dan lumrah seorang suami yang mengkhawatirkan istri dan anaknya, menempatkan orang untuk memastikan keamanan isterinya."


"Dan sejak kapan pemegang saham membahas hal yang remehan seperti ini. Apakah saya memang dianggap orang penting di perusahaan ini, sehingga ada perhatian dan perlakuan khusus untuk saya." kata Dev memojokkan Gunawan.


"Maafkan Bapak Dev, bapak tidak dapat berbuat banyak. Karena surat ini dibuat secara sepihak, dan bapak yang hanya memiliki beberapa saham tidak kuasa untuk menggunakan hak suara." kata Gunawan berusaha menjelaskan posisinya.


"Pak Gun, saya lebih baik keluar dari perusahaan ini, daripada saya harus melanggar perintah suami saya. Dia hidup dan matiku. Terima kasih, saya permisi." kata Dev sambil berjalan keluar dari ruangan Gunawan.


Baru berjalan sepuluh langkah dari ruangan Gunawan, Dev sudah mendengar gunjingan tentang dirinya.


"Biar dia merasakannya, baru jadi manajer divisi sudah bergaya seperti general manager."


"Memang sampai kapan dia akan mengandalkan kekuatan suaminya."


"Lihat saja, besuk paling sudah tidak ada lagi orang yang akan mengawalinya."


"Ehm..ehm.., permisi numpang lewat." kata Dev menyapa para karyawan yang sedang menggunjingnya.


Seperti biasanya, Dev tidak akan mengurus gosip atau hal-hal mubadzir yang tidak penting. Sebelum kembali ke ruangan, Dev mampir ke kubik teman-temannya.


"Hai... selamat siang tim." sapa Dev tetap ceria seperti biasanya.


Mendengar suara Dev, semua menghentikan aktivitasnya.


"Hai Dev .. kangen," kata Corry sambil berlari untuk memeluk Dev.


"Eits... hati-hati jangan asal menubruk. Lihat tidak, perut Dev sudah mulai membesar." seru Koko sambil menarik tangan Corry.


"Oh iya, hampir aku lupa. Sorry Dev, habis kangennya sudah di ubun-ubun." kata Corry, kemudian melangkah pelan menghampiri teman sekaligus pimpinannya.


"Ayuk duduk sana saja," kata Corry sambil menggandeng Dev dan mengajaknya duduk di ruang diskusi.


Koko, Bertho, dan Utami karyawan baru ikut bergabung di ruang diskusi.


"Mana Icha, Berth," tanya Dev.


"Ijin tidak masuk Dev, katanya kandungannya agak kencang-kencang, aku juga baru nanti sore mau menengoknya." kata Bertho agak sedih.


"Ga perlu khawatir, paling kecapaian. Ibu hamil memang seperti itu. Lihatlah aku." kata Dev.


"Iya Dev, semoga kalian semua sehat, bayi sehat, dan bisa melahirkan dalam keadaan selamat."


"Aamiin." ucap mereka bersamaan.


Akhirnya Dev berbincang tentang banyak hal pada timnya. Dev selalu berusaha untuk memimpin dengan menggunakan hati dan empati, sehingga tidak pernah membuat jarak terhadap anak buahnya.


******