
Yudha dan Dev bertatapan dalam kesedihan, mereka saat ini berada di rumah sakit yang ada di New Zealand. Tampak terbaring di depannya, kakek Baskara dengan tubuh yang penuh dengan alat-alat medis. Dengan penuh kasih, Yudha menyandarkan kepala Dev di sisi bahunya. Mereka mendapatkan kabar mendadak tentang masuknya kakek ke rumah sakit oleh Nanny yang menemani dan merawat Baskara selama ini.
"Mommy istirahat dulu saja, biar Daddy yang menjaga kakek disini!" dengan suara lirih, Yudha meminta Dev untuk istirahat. Yudha ingat, dari airport mereka langsung minta diturunkan di hospital. Sedangkan ketiga anaknya, langsung diajak pulang ke mansion untuk istirahat.
"Ga Dadd.., Mommy ingin menemani kakek disini bareng Daddy. Sejak kita datang sampai sekarang kenapa kakek belum sadar ya Dadd?" tanya Dev pelan.
"Kita berdoa saja Momm.. Semoga kakek diberikan yang terbaik. Usia kakek memang sudah 88 tahun, yah kita masih harus bersyukur masih ditemani kakek sampai hari ini." kata Yudha pelan, tampak air mata lolos menetes dari pelupuk matanya.
Dev langsung menghapus air mata itu, kemudian memberikan ciuman lembut di pipi suaminya. Dia memahami apa yang saat ini dirasakan oleh suaminya. Semenjak kedua orang tua Yudha meninggal karena kecelakaan, laki-laki tua yang tengah berbaring itu, berjuang membesarkan Yudha sendirian. Bahkan saat nenek Yudha meninggal, sampai sekarang laki-laki tua itu juga tidak menikah lagi.
"Maafkan Daddy sayang.., Daddy merasa tidak kuat melihat ini semua!" ucap Yudha sendu. Baru kali ini, selama mereka menikah, Dev melihat suaminya terpuruk tanpa daya. Dev langsung meraih kedua bahu Yudha, kemudian menariknya ke depan. Dia memeluk suaminya dengan erat. Di pundak Dev, tanpa malu Yudha menangis terisak.
Semasa Baskara masih sehat, mereka selalu bilang dengan kakeknya itu untuk bersama-sama menghabiskan waktu di kota Yogyakarta. Tetapi Baskara tidak berkenan, dan tetap ngotot ingin kembali ke New Zealand. Akhirnya untuk melegakan perasaan Baskara, keluarga Yudha mengijinkannya. Baskara memang selalu menyampaikan pada mereka, jika ingin menghabiskan akhir hidupnya di negara ini. Bahkan juga berpesan, jika meninggal minta dikuburkan menjadi satu dengan nenek Yudha.
"Tok.., tok.., tok..," terdengar ketukan tiga kali di pintu kamar. Kemudian pintu dibuka dari luar, dan muncul seorang dokter dengan didampingi dua perawat masuk ke dalam kamar.
Dev menghapus air mata suaminya, kemudian menegakkan badannya dan menyambut kedatangan dokter.
"Good morning Doctor... we are grandsons of Baskara's grandfather. How is our grandfather doing?" Dev berbicara pada Dokter jika mereka adalah cucu Baskara, dan bertanya tentang kondisi yang dialami oleh Baskara.
"Wait a moment!" Dokter meminta mereka untuk menunggu, kemudian dibantu perawat melakukan pengecekan kondisi Baskara.
Sekitar lima menit berlalu, akhirnya Dokter selesai melakukan pemeriksaan pada Baskara. Dokter tersenyum, kemudian mendatangi Yudha dan Dev.
"I just want to let you know, Baskara's condition only depends on the medical equipment attached to his body. If this equipment is removed, there will be no more life." dokter menyampaikan jika kehidupan Baskara saat ini hanya tergantung dari peralatan medis yang menempel di tubuhnya.
Dokter juga menyarankan agar peralatan itu dilepas, dan membiarkan Baskara untuk secara alami membangun kekebalan tubuhnya. Jika kuat, maka di akan selamat, tetapi jika tidak..,
"Sorry Doctor, give us some time to think!" Dev meminta waktu pada Dokter untuk berpikir.
********
"Mommy..., bagaimana keadaan opa?" Vian menanyakan kabar tentang Baskara. Dev baru membantu Aileen menyisir rambutnya.
"Vian mau ikut Mommy ke hospital hari ini? Menemani Daddy disana." kata Dev sambil membuat kepang rambut Aileen.
"Zidan mau Momm.." seru Zidan.
"Baiklah.., segera siap-siap ya! Mommy akan siapkan dulu makanan untuk Daddy." setelah urusan Aileen beres, Dev segera berdiri dan akan menuju ruang makan.
"Aileen boleh ikut juga ya Momm?" Dev menganggukkan kepala, kemudian melangkah keluar dari kamar.
Tidak menunggu waktu lama, Dev dan ketiga anaknya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Vian membawa tempat makan untuk Daddy-nya, dan Dev menggandeng tangan Aileen. Mereka berempat segera memasuki mobil yang sudah siap untuk mengantarkan mereka.
"Just go straight to the hospital, the kids want to see their grandfather soon."Dev meminta langsung ke rumah sakit.
"Okay Momm.."
Driver segera menjalankan mobilnya langsung menuju rumah sakit. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya mobil sudah berhenti di tempat parkir di depan rumah sakit. Dev langsung mengajak tiga anaknya segera masuk.
"Daddy..," Aileen langsung menghampiri Yudha yang sedang memejamkan mata sambil duduk di sofa.
Yudha membuktikan matanya, kemudian memeluk Aileen dan melihat kedua putranya. Dev langsung membuka bekal makanan yang dia bawa dari rumah, kemudian menyiapkan untuk suaminya.
Vian dan Zidan langsung mendekat pada kakek Baskara.
"Opa.., kami datang. Kenapa Opa tidur, kalau opa tidur.. tidak yang menemani kami jalan-jalan disini." Zidan mengangkat telapak tangan Baskara, kemudian menciumnya. Aileen melepaskan pelukan Daddy-nya dan ikut bergabung dengan kedua kakaknya. Mereka mengerubungi Baskara yang masih terdiam.
"Makan dulu ya Dadd.., atau Mommy suapin?" tanya Dev dengan suara pelan. Dia membawa piring ke sofa tempat suaminya duduk.
Yudha tidak menjawab pertanyaan istrinya, tapi dia langsung membuka mulutnya. Dengan penuh kelembutan, Dev menyuapi suaminya. Mereka tidak malu memamerkan kasih sayang di depan putra-putranya.
"Daddy.., Mommy.. tangan Opa buyut bergerak." seru Aileen, dia merasakan tangan yang dia pegang dari tadi bergerak.
"Itu namanya Opa menyambut kedatangan kalian sayang. Opa buyut kangen dengan kalian semua." ucap Dev sambil berpandangan dengan Yudha.
Setelah Yudha selesai makan, Dev mencuci peralatan makan.
"Momm.., call Doctor..., opa siuman!" teriak Vian. Yudha langsung berdiri dan menekan tombol untuk memanggil para medis.
"Kakek.., ini kami. Ada Vian, Zidan dan juga Aileen. Buyut kakek kumpul disini untuk menyapa kakak." dengan suara terbatas, Yudha berbicara pada Baskara.
Mata Baskara mengerjap, dan tampak senyum muncul di mulutnya. Tiba-tiba dokter dan perawat berlari mendatangi kakek.
"Mr. Baskara..., how do you feel?" melihat Baskara tersadar, dokter meminta cucu-cucu untuk minggir. Dokter menanyakan apa yang dirasakan. Baskara tidak menjawab, tetapi tangannya ingin menggapai sesuatu.
Untungnya Yudha tanggap dan merasa mendapatkan firasat.
"Mommy.., Vian, Zidan, Aileen., come here!! Kakek ingin berbicara dengan kita.
Empat orang segera bergeser mendekat di dekat kepala Baskara. Yudha menautkan tangan semua anggota keluarganya dengan tangan kakek. Dokter memberi isyarat pada dua perawat untuk mundur dan memberi ruang untuk mereka.
Baskara tersenyum, kemudian menganggukkan kepala. Tidak berapa lama, mata Baskara terpejam dan tidak membuka lagi. Dev menutup mulutnya dengan menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dia letakkan di pundak suaminya.
**********