Married By Incident

Married By Incident
Laporan Aktivitas



Senin pagi Dev sengaja berangkat ke kantor lebih pagi untuk menghindari pertanyaan dan gosip tentang kejadian Jum.at malam di Hotel Phoenix dari orang-orang di luar unit kerjanya. Meskipun Dev yakin tidak semua orang mengetahui kejadiannya dengan persis, tapi tidak ada yang bisa mencegah banyak pengembangan cerita baru yang pasti akan menyudutkannya.


Di dalam mobil perjalanan ke kantor, tangan kiri Yudha menggenggam tangan kanan Dev untuk menguatkannya.


"Kamu sudah siap sayang dengan kemungkinan gosip berkembang tentangmu di kantor." tanya Yudha di belakang kemudinya.


"Siap Yudh, lagian bukan kali ini saja kan orang-orang di kantor bergosip tentang aku." sahut Dev sambil tersenyum.


"Jika ada yang menekanku karena masalah kemarin, kan aku punya suami. Suamiku tidak akan pernah mentolerir siapapun yang menggangguku. Iya kan sayang," katanya lagi sambil memberikan kecupan singkat di pipi suaminya dengan muka memerah.


Yudha gemas melihat keimutan Dev yang berani menggodanya, tiba-tiba Yudha menginjak rem dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Tanpa diduga oleh Dev, tangan Yudha memegang dagu istrinya, mengangkatnya sedikit ke atas. Tanpa bisa mengelak bibir Yudha sudah bertengger di atas bibir yang baru saja menggodanya, dan mengeksplorasi ke dalam.


Setelah merasakan istrinya kehabisan nafas, Yudha menghentikan keusilannya dan kembali menekan gas dan melajukan Porsche Cayman di sepanjang Ringrod.


"Curang, jahat....," dengan nafas tersengal-sengal Dev memukul pundak suaminya.


"Ha...ha..., makanya jangan memancingku sayang. Melihat bibir yang sedang manyun saja, bibirku pingin menangkapnya, apalagi yang barusan." kata Yudha tertawa melihat istrinya sewot.


"Lipstikku jadi hilang tahu," kata Dev sambil melihat kaca di depannya.


"Nanti Pratama biar mengirimkan satu lusin sayang ke kantormu untuk menggantinya." ucap Yudha dengan tetap menggoda istrinya.


"Buat apaan, memang aku jualan."


"Untuk stock, kalau sewaktu-waktu bibirku pingin ketemu lagi kan ga ada alasan lipstik habis. Tinggal mengoles lagi."


"Terserah lah apa kata juragan."


"Ha...ha..., hanya istriku yang imut yang bisa membuatku ketawa senam mulut pagi ini." kata Yudha sambil mengelus rambut Dev menggunakan tangan kirinya.


Melihat mood istrinya stabil, Yudha merasa lega. Pagi sebelum berangkat, Yudha yang sangat mengkhawatirkan psikologis istrinya sudah menanyakan kesiapan Dev untuk bertemu Donna tunangan Andre. Dev berhasil meyakinkan suaminya, bahwa dia sudah menutup dalam kotak semua hal terkait dengan mantan kekasihnya.


Bahkan Dev berjanji, jika Donna tidak profesional dan melakukan penekanan dengan memanfaatkan posisi di perusahaan, Dev tidak segan-segan akan resign dari PT. Kalingga.


Tak berapa lama, Yudha menghentikan mobil di depan pintu lobby PT. Kalingga.


"Sudah sampai sayang, nanti jam dua belas temani aku makin siang ya."


"Kalau ga repot kerjaan ya," jawab Dev.


"Ya. Sudah turunlah, langsung masuk ruangan."


Seperti biasa Dev menyalami dan mencium tangan suaminya sebelum pergi, dan kecupan di kening Dev menandakan suaminya sudah mengijinkan.


Security lobby dengan sigap membukakan pintu depan mobil, kemudian Dev segera turun.


"Terima kasih pak," kata Dev pada security.


"Ya mbak, sama-sama."


Setelah memastikan istrinya memasuki gedung, Yudha segera melajukan mobilnya.


Sesampainya di kubik, Dev menyiapkan laporan pelaksanaan kegiatan MOU dan gala dinner penyambutan Donna Arkana sebagai salah satu Direksi PT. Kalingga yang sudah terlaksana. Memiliki tim kerja yang solid, sangat memudahkan Dev dalam menyusun laporan. Masing-masing person in charge sudah membuat laporan per aktivitas yang dikirim ke email, sehingga Dev selaku Penanggung jawab utama tinggal melakukan kompilasi akhir, dan menyusun analisisnya.


Pukul delapan saat Dev sudah selesai print laporan, ruangan mulai riuh dengan kedatangan teman-temannya. Melihat Dev sudah ada di kubik, Icha langsung menghampiri diikuti Cory di belakangnya. Dev tersenyum melihat kedatangan kedua temannya.


"Dev, Ayuk utangnya dibayar lunas hari ini," kata Icha.


"Utang apaan," jawab Dev bingung.


"Halah kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu, jangan ngeles ya." sahut Cory.


"Utang penjelasan tahu."


"Kwkkk... kwkkk..., dasar Kemal, kepo Maksimal." jawab Dev.


"Ayuk donk Dev, jangan bikin kita penasaran." kata Cory tidak sabar.


"Hei tunggu kami dulu kalau mau rumpi girls....," Koko dan Bertho tiba-tiba nongol di belakang Cory dan Icha.


"Kita sudah menikah resmi di KUA Kecamatan "K" satu bulan yang lalu."


"Haaa...,sakit Dev, rontok hatiku." ucap Bertho yang langsung disambut pukulan Koko.


"Berisik tahu."


"Kenapa ga mengundang kami Dev, tega Loe ya."


"Maaf ya teman-teman, ada keadaan yang tidak perlu aku ceritakan pada kalian saat itu. Keadaan itu yang membuatku mengambil keputusan untuk menerima tawaran pernikahan dengan Yudha." ucap Dev sambil mengambil nafas.


"Tawaran? Seorang Andhi Yudha Baskara menawarimu untuk menikah, bukan kamu yang mengejarnya Dev," tanya Cory tak percaya.


"Iya, Yudha yang memintaku untuk menikah."


"Oh my God, seorang CEO tampan, incaran para sosialita menawari wanita untuk diajak menikah,"


"Yah begitulah, dan saat kita menikah, Demi Allah aku belum mengetahui latar belakangnya."


"Teman-teman ini aku mimpi bukan, kalau mimpi cepat bangunkan aku." ucap Icha.


"Aduh, jahat kamu Ko," kata Icha sambil memukul balik Koko.


"Katanya diminta membangunkan. Udah jangan hiperbola." kata Koko cengengesan.


"Sudah ya ceritanya teman-teman, aku mau masukkan laporan ini ke meja pak Gunawan." kata Dev sambil menunjukkan print out laporan pelaksanaan kegiatan.


"Ha.., sudah jadi, kapan ngerjainnya Dev?," ujar Bertho.


"Barusan, aku sengaja datang pagi untuk nyusun ini. Kalian kan Jum.at malam sudah capai handle kegiatan sampai selesai. Sekarang giliran aku donk yang kerja,"


"Good job," kata Cory.


"Ayuk balik kubik masing-masing, Dev aku masih butuh waktu untuk mencerna ceritamu." kata Cory sambil berjalan menuju kubiknya.


"Baik teman-teman, kapan-kapan kalian tak undang ke rumah, kalian akan kukenalkan secara resmi dengan suamiku." kata Dev.


"Jangan lupa Dev, pengawal tampan suamimu dihadirkan ya." kata Icha tak tahu malu.


"Pratama??? Icha mau..., ok deh nanti ku comblangin,"


"He..he...ashiap."


Keempat orang itu segera kembali ke kubik masing-masing. Setelah merapikan meja, Dev membawa print out laporan yang sudah dijemput dengan paper Clip dan dimasukkan map ke ruang Direksi.


Di depan ruang Direksi, Dev menemui sekretaris pak Gunawan untuk menitipkan laporannya.


"Selamat pagi pak Fahmi."


"Selamat pagi mbak Dev, ada yang bisa saya bantu."


"Pak Gunawan sudah di tempat pak."


"Belum datang mbak, mungkin sebentar lagi. Lha gimana, ada keperluan apa nanti tak sampaikan beliau."


"Kalau gitu Dev nitip ya pak. Ini baru draft laporan kegiatan Jum.at malam kemaren. Mohon kalau sudah ok, baru kita siapkan yang untuk arsip pelaporan."


"Jadi masih bisa dikoreksi ya."


"ya memang harus dikoreksi pak, karena semakin bnyak yang koreksi kan semakin bagus."


"Iya juga ya."


Setelah mengumpulkan laporan, Dev kembali ke kubik mengerjakan tugas yang lain.


*****