
"Makan dimana sayang" tanya Andre sambil menatap Dev.
"Terserah Ndre, kebetulan kerjaanku dah selesai. I.m free sekarang, sampai malam aku ga ada acara." jawab Dev.
"Asyik donk kita bisa ngobrol sampai sore. Jam 17.00 aku harus balik hotel, kebetulan mitraku akan menyerahkan draft kontrak sore ini."
Jam 17.00 Andre janji sama Donna mengantar nya pergi ke sentra batik di daerah "I", mereka akan mencari batik tulis khas daerah tersebut. Dengan terpaksa Andre membohongi Dev.
"Kalo gitu kita ke "S" aja daerah "K", disana ada private room dan menunya lengkap. Ada lokal, Chinese, western. Kebetulan aku lagi pingin tempe mendoan dan onion ring." ajak Dev.
"Pingin??? Kamu ga ngidam kan sayang, Khan nikahnya belom, kok sudah ngidham."goda Andre.
Dev memukul lengan Andre, dan menarik Andre dari tempat duduknya.
"Kita naik apa, online?" tanya Dev
"Aku bawa mobil sayang, kebetulan mitra Bisnisku memfasilitasi mobil lengkap dengan driver selama aku di kota ini. Tapi karena aku mau berduaan sama kamu, drivernya tak minta Off hari ini."
Mereka menuju tempat parkir di halaman samping kantor Dev. Setelah membukakan pintu mobil, Andre berjalan memutari mobil dan menuju kemudinya. Tangan kanan Andre memegang kemudi, dan tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Dev. Karena mobilnya Matic, tidak menggangu Andre menjalankan mobilnya.
Keduanya terdiam dalam lamunan masing-masing, dan menikmati genggaman tangan yang semakin erat. Andre sangat mencintai Dev, sehingga dia selalu sopan memperlakukannya. Tidak pernah sekalipun Andre berani bertindak kurang ajar terhadap Dev, beda dengan Donna yang setiap ketemu selalu berakhir di ranjang.
Kurang lebih 15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di cafe "S", dan langsung menuju ruang private room di lantai 2. Setelah melakukan order menu, keduanya memilih duduk berhadapan dengan meja kecil sebagai pemisah.
"Dev, kamu masih sabar kan untuk menungguku?" dengan lembut Andre bertanya pada Dev sambil meraih kedua tangan Dev. Dengan penuh kelembutan Andre mengecup tangan Dev.
Jantung Dev berdegup kencang, dan sambil malu-malu dia mengangguk sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Tunggu aku sebentar lagi, setelah perusahaan papa kembali seperti semula, aku akan segera menikahimu." lanjut Andre sambil memegang dagu Dev, dan menyibakkan rambutnya yang menutupi matanya.
"Tujuh tahun tanpa kabar saja aku setia menunggu Ndre. Asal jangan kecewakan aku saja nantinya."ucap Dev lirih.
"Terimakasih sayang atas pengertiannya.Semoga ga butuh waktu lama, perusahaan papa bisa stabil."
Mereka melanjutkan obrolan sampai jam 16.30, bahkan Andre sudah memesan tambahan minum sampai 3 kali. "S" memang memberikan kelonggaran waktu bagi customer yang memesan private room. Cafe yang dimiliki oleh eks Menteri BUMN itu buka 24 jam, dilengkapi dengan showroom Moge Harley Davidson dan butik milik artis ibukota asal pulau "B".
"Btw..Udah hampir jam 17.00 Ndre, katanya ada janji sama mitra." Dev mengingatkan Andre.
"Oh iya, kamu gimana sayang. Tak anter balik kantor atau pulang ke apartemen." tanya Andre.
"Langsung apartemen saja, aku dah ga ada kerjaan di kantor."
Keduanya turun ke lantai 1 sambil bergandengan tangan. Andre menuju kasir memberesi bill, sementara Dev menunggu di pintu keluar.
Tiba-tiba mata Dev melihat tetangga apartemen yang sering bareng di lift memasuki kafe. Sepertinya dia ada meeting di kafe ini, dengan penampilannya yang luar biasa keren dia berjalan tegap. Di sampingnya, ada laki-laki yang lebih keren dan super duper ganteng berjalan menjajari langkahnya. Tapi perform laki-laki itu menunjukkan bahwa dia susah untuk dijangkau.
Pas depan pintu keluar, tatapan mata Dev bertemu dengan tatapan Pratama. Pratama sedang mendampingi Yudha untuk ketemu kliennya diatas. Dev menganggukkan kepalanya menyapa Pratama untuk menunjukkan keramahan sebagai tetangga, meskipun mereka belum pernah berinteraksi. Seperti panas setahun diguyur hujan sehari, tiba-tiba Pratama balas menganggukkan kepala.
"Mari mbak" sapa Pratama.
"Ya mari mas, eh mari pak." jawab Dev kaget mendengar sapaan Pratama.
"Siapa sayang, kok sampai bengong mandanginya." tiba-tiba Andre sudah ada di samping Dev dengan tatapan kurang suka.
"Tetangga apartemen Ndre, dia tinggal di lantai atas. Kamu jealous?"
"Jealous sih enggak, cuman kurang suka aja. Mana ada sih cowok yang ikhlas, melihat ceweknya mandang cowok lain sampai terpana."
"Ha..ha.. , don.t worry Ndre. Aku hanya nyapa untuk nunjukkan bahwa aku tetangga yang humble, tidak sombong. Meski jujur sih, sayang banget ada cogan dianggurin ga dilihat. Apalagi yang jalan disampingnya tadi lho, super duper extra gantengnya.'
"Awas ya kalo matanya tidak dilatih etika dan tata krama. Aku cium kamu di muka umum, untuk ngumumkan ke dunia bahwa kamu hanya milikku."
"Ampun Ndre, jangan nekat ya sayang."
"What? tolong ulangi sayang perkataannya." bahagia Andre mendengar tiba-tiba Dev memanggilnya sayang.
Keduanya tertawa bersama, dan dengan penuh kebahagiaan mereka menuju mobil untuk Balik ke apartemen Menara.
*****
Sesampainya di depan apartemen.
"Sampai sini saja ya Ndre. Apartemenku sempit, ga ada ruang tamu. Hanya Sasa yang pernah masuk kamarku."
"Iya ga pa pa sayang, aku juga tergesa harus kembali ke hotel. Jaga dirimu baik-baik ya." tiba-tiba Andre meraih tengkuk Dev, dan dengan lembut mencium keningnya.
Mendapatkan kecupan di kening tiba-tiba menjadikan muka Dev merah merona. Jantungnya sudah berdegup tak kendali. Dengan berat hati dia keluar dari mobil.
"Sekalian aku pamit ya sayang, besok jam 10 aku sudah harus di bandara." ucap Andre.
"Aku pingin mengantarmu ke Bandara, bolehkah?"
"Ga usah sayang, aku dianter mitra Bisnisku ke bandara. Karena sekalian membicarakan kelanjutan project kemitraan kami."
"Oh ya udah, jaga dirimu juga ya Ndre. Semoga setiap langkah kita penuh keberkahan. Aamiin."
Dev melambaikan tangannya mengiringi mobil Andre pergi. Bergegas masuk ke apartemennya.
*****
"Dah ketemu Andre Dev." Sasa membuka chat percakapan di WhatsApp.
"Udah Cin, barusan tadi jam 17.00 dia balik dari apartemen."
"WTF. Loe ijinkan Andre masuk kamar."
"Hush... bukan muhrim. Maksudnya jam 17.00 pulang dari apartemenku, karena mengantarkan ku pulang. Tadi kita jalan bareng dari siang."
"Oooo kirain. Wkkk..wk..., makanya kalau jelasin yang gamblang donk, biar ga jadi multi tafsir."
"Kok jam segini Loe dah di apartemen. Ntar malam mau keluar lagikah sama Andre."
"Ga Cint, tadi Andre sekalian pamitan. Malam ini dia ada janji ketemuan lagi sama mitranya. Dan besok pagi, ke bandara "Y" juga dianter sama mitra bisnisnya sambil follow up project yang kemaren disepakati."
"Really?? Kok Loe ngikut banget sih sama kemauan Andre. Loe ga ada kecurigaan sedikitpun ma dia."
"Hadeh Cint, aku ga boleh egois gitu donk. masak aku jadi posesif, Inshaa Allah aku ngertiin dia kok."
"Terserah Loe aja deh. Aku sebagai sahabat cuman mengingatkan, karena aku menyayangi Loe seperti saudara sendiri."
"Makasih Cint, memang Cintaku Sasa yang paling mahami aku. Muach.." tulis Dev sambil mengirimkan emoticon love 10 kali.
"Gombal Loe Dev. Betewe... Loe ga kirim oleh-oleh ke Andre. Kenang-kenangan gitu, biar dia keinget terus sama loe."
"My God..., iya aku lupa Cint. Trus gimana ya aku nganternya. Kalau via Ojol, aku ga tahu nomor kamarnya."
"Yaelah dodol... Dev cantik, ngapain send via Ojol. Emang hotel "A" jauh dari apartemen Menara apa?"
"Loe bisa Dateng ke hotel, nemuin receptions untuk nanya informasi kamar Andre. Loe anter langsung ke kamarnya. Aku yakin, Andre akan mendapatkan surprise."
"Antar kesana gih malam ini. Aku pamit ya, takut Loe ga fokus nyiapin oleh-oleh buat Andre. Bye"
"Oke, bye Cintaku Sasa sayang. Miss U..."
"Maafkan aku Dev. Bukannya aku kejam, aku hanya mau nunjukin siapa Andre yang sebenarnya." batin Sasa sambil merasakan kesedihan sahabat baiknya tatkala besok dia tahu siapa Andre sesungguhnya.
Setelah berkutat membuat merchandise dadakan untuk Andre, dan memasukkan ke goodie bag, Dev bersiap untuk berlayar di lautan menuju pulau mimpi.
****