Married By Incident

Married By Incident
Promosi



Setelah dua hari beristirahat, Dev sudah beradaptasi dengan kondisi barunya. Komunikasi dengan Yudha juga sedikit mulai cair dan saling terbuka, karena Dev merasa sudah menjadi milik Yudha seutuhnya. Hubungan penyatuan mereka menjadikan keduanya menjadi lebih dekat satu sama lain. Tetapi sifat posesif Yudha terhadap istrinya, tidak berkurang sedikitpun.


Hari ini Senin pukul 07.45, Dev kembali menjalani rutinitas kesibukannya di kantor. Bertho, Koko dan rekan kerja satu timnya yang lain seperti biasa sangat tergantung dengan Dev, selalu tidak pernah ketinggalan untuk merecoki pekerjaannya.


"Dev, ada undangan meeting jam 10.00 di ruang Direksi." beritahu Koko yang sedang mendatangi Dev di kubiknya


"Ya, noted. Agenda yang akan dibahas apa Ko, biar aku bisa menyiapkan materinya." sahut Dev santai dengan tetap memandang komputer yang ada di depannya.


"Sepertinya calon investor, Tuan Hendarto yang Minggu lalu kamu paparkan konsep rencana pengembangan di ****lake resort, sudah memutuskan untuk melakukan suntikan modal ke perusahaan kita."


"Bagus donk."


"Dan putra Tuan Hendarto akan ikut bergabung menjadi salah satu anggota tim direksi di perusahaan ini"


"Wijaya? Apakah laki-laki yang pada acara presentasi ikut menemani Tuan Hendarto."


"Kurang tahu juga sih, tadi rekan-rekan lain juga pada menebak-nebak. Tapi kemungkinan besar iya."


"Apa ada instruksi lanjutan dari pak Gunawan."


"Belum ada sih, mungkin nanti acaranya tunggal tentang pemberitahuan investasi masuk ke perusahaan.


"Yupz, semoa saja. Kita tidak perlu kepo terhadap urusan tingkat tinggi perusahaan Ko."


" Biarlah itu menjadi urusan mereka. Kita kerja sesuai porsi dan tanggung jawab kita masing-masing" katanya sambil menepuk bahu Koko.


"Ayuk kerja, kerja. Sana balik ke kubikmu, jangan disini. Mengganggu konsentrasiku saja.". kata Dev mengusir Koko


Tanpa mempedulikan informasi yang baru disampaikan Koko, Dev seperti biasa fokus mengerjakan desain di kubiknya. Meskipun dua hari Dev tidak berangkat kerja, dia sangat bersyukur karena hari ini dia melihat pekerjaan tetap dalam batas yang wajar, tidak menumpuk seperti biasanya.


Bagi Dev, bekerja merupakan hobby, jadi sesulit apapun tugas yang diberikan kepadanya Dev akan menganggapnya sebagai sebuah tantangan.


****


"Dev..., bahagia dan rasa syukur yang tidak terhingga, akhirnya kita bisa bertemu lagi," sapa Jay sambil mengulurkan tangannya mengajak Dev salaman.


Dev menyambut uluran tangan Jay dengan tersenyum manis. Namun, Dev terkejut karena tiba-tiba Jay mengangkat tangannya ke atas, dan dengan manis mencium tangan Dev. Secara reflek, Dev menarik tangannya kembali.


"Tidak lucu. Tahu tidak etika kesopanan, kita berada di lingkungan perusahaan, bukan di dalam hutan." ucap Dev cemberut sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kamu kalau cemberut, bibirmu nampak semakin menggemaskan Dev. Aku suka itu." Jay menggoda Dev.


Karena muak dengan tingkah Jay yang semakin gila, Dev meninggalkan Jay sendirian dan langsung memasuki ruang pertemuan.Jay senyum-senyum sendiri dan mengikuti Dev masuk ke ruang pertemuan.


Setelah menunggu lima belas menit semua tim inti PT. Kalingga sudah siap di ruang pertemuan. Pak Gunawan selaku Direksi menginformasikan bahwa Tuan Hendarto bersedia memberikan suntikan modal untuk kepentingan ekspansi di wilayah Indonesia Timur.


Kehadiran Jay di perusahaan ternyata mewakili papanya yang berhalangan hadir. Dia juga memberikan informasi kepada semua peserta rapat, untuk menunjukkan komitmen bersama perusahaan Tuan Hendarto akan mengirimkan wakilnya untuk ikut duduk sebagai Direksi di perusahaan ini.


Sedangkan acara resmi penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama secepatnya akan di jadwalkan kemudian.


Secara khusus, Jay juga menyampaikan apresiasi atas kerja keras Dev beserta tim yang sudah sukses menyampaikan feasibility study, sehingga menimbulkan ketertarikan perusahaannya untuk memberi suntikan modal.


Seusai acara rapat terbatas, para peserta rapat mengucapkan apresiasi atas kerja keras Dev dan tim dalam meyakinkan investor. Tapi seperti biasanya, Dev tidak pernah peduli dengan apresiasi yang dia dapatkan.


Jam 11.30 rapat dibubarkan, dan semua peserta rapat meninggalkan ruang pertemuan.


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu."


"Duduklah dulu."


Dev segera duduk kembali di kursi yang tadi dia duduki. Perlahan pak Gunawan menyampaikan maksudnya. Duduk di sebelah pak Gunawan, Jay yang dari tadi mengulum senyum sambil memandangi Dev. Karena risih, Dev memelototi Jay.


"Begini Dev, malam sesudah acara di ****lake Resort kami sudah mengadakan pembicaraan terbatas antara saya, pak Jay, dan pak Hendarto."


"Kami menyepakati suatu keputusan bersama, yaitu kami akan mempromosikan kamu Dev."


"Atas dedikasi yang kamu berikan pada perusahaan selama ini, kompetensi yang kamu miliki, dan kerja kerasmu kami telah sepakat untuk mempromosikan kamu menjadi Kepala Divisi."


Dev tetap diam tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya tetap datar.


"Apakah kamu tidak merasa senang Dev." tanya pak Gunawan perlahan.


Dev tersenyum dan akhirnya bersuara.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kepercayaan pak Gunawan, pak Wijaya, dan pak Hendarto kepada saya secara pribadi."


"Saya senang bekerja di perusahaan ini, dan saya sangat mencintai profesi saya."


"Tetapi bagi saya, kepuasan kerja akan saya peroleh jika client, user dari produk desain yang saya hasilkan dapat memuaskan dan memenuhi keinginan mereka."


"Indikator keberhasilan bagi saya, bukan jabatan yang akan diraih. Jabatan adalah sebuah jaket, yang sewaktu-waktu harus siap untuk ditanggalkan jika sedang tidak digunakan."


"Pada waktu saya memiliki posisi menjadi seorang karyawan biasa, saya hanya bertanggung jawab pada apa yang menjadi porsi tugas saya."


"Namun, ketika menjadi seorang atasan, maka selain saya akan bertanggung jawab pada apa yang harus saya kerjakan, tetapi juga harus bertanggung jawab pada apa yang dikerjakan oleh bawahan saya."


"Atas dasar hal tersebut, mohon dimaafkan kalau saya menyatakan jika saya tidak siap untuk saat ini dalam mengemban amanah tersebut." ucap Dev menolak dengan sopan


Jay dan pak Gunawan berpandangan, dan mereka sangat terkejut dengan penolakan yang dilakukan Dev. Mereka sangat tahu persis bagaimana ekspresi orang lain yang akan saling berlomba untuk bersaing agar mendapatkan jabatan sesuai yang diinginkan, tetapi Dev tidak peduli.


"Dev, ini bukan masalah kamu mau atau tidak. Tapi ini masalah kepercayaan, Bapak harap kamu tidak menolak untuk mengembannya."


"Beri saya waktu untuk berpikir pak." akhirnya Dev meminta waktu untuk berpikir. Dia berencana akan bertanya pada suaminya terlebih dahulu.


"Jika sudah cukup, saya mohon ijin kembali ke ruangan Pak Gun, pak Jay." pamit Dev sopan.


"Ya, silakan." jawan pak Gunawan.


Dev segera beranjak dari tempat duduknya, dan keluar dari ruang pertemuan kembali ke kubik tercintanya. Jay mengikuti Dev di belakangnya, dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Dev.


"Dev..., aku sangat berharap besar kamu akan menerima tawaran ini Dev." ucap Jay.


"Kan tadi aku sudah sampaikan di dalam. Beri aku waktu untuk berpikir." sahut Dev tersenyum.


" Yah baiklah, aku sangat tertarik dan penasaran dengan gadis yang keras kepala." kata Jay ikut tersenyum.


"Sudah ya Jay, jangan menggombal siang-siang di kantor. Aku akan kembali bekerja. Bye...," tanpa mempedulikan jawaban Jay, Dev langsung ngeloyor pergi meninggalkan Jay.


Sedangkan Jay hanya tersenyum sambil memandang punggung Dev yang berjalan meninggalkannya.