Married By Incident

Married By Incident
Terbuka



Yudha membanting pintu Porsche Cayman dengan kencang, kemudian langsung menginjak pedal gas melaju di sepanjang Ringrod Barat. Dev hanya melirik dari sudut matanya, melihat wajah suaminya yang merah menahan emosi dia tidak berani memulai pembicaraan. Suasana sepanjang perjalanan sangat hening, hanya deru suara mesin mobil dan klakson mengisi keheningan malam.


Merasa tidak melakukan kesalahan apapun, Dev berusaha menjaga ketenangannya. Begitu mobil berhenti di halaman rumah, tanpa basa-basi Yudha langsung keluar mobil dan mengabaikan Dev yang masih berada di dalam mobil. Dengan santai Dev mengikuti Yudha turun dan segera masuk ke dalam rumah.


Dev meletakkan barang-barangnya di atas meja kamar bawah. Setelah mencuci tangan dan menyimpan barang bawaan, Dev menaiki tangga menuju kamar di lantai atas.


Dev tidak melihat keberadaan Yudha, tapi mendengar guyuran shower dari kamar mandi. Dev menggunakan kesempatan itu untuk mengganti bajunya. Kemudian duduk di depan meja rias, dan perlahan mulai membersihkan riasannya.


Tak berapa lama Yudha keluar dari kamar mandi, dan dari cermin di depannya Dev melihat Yudha hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Dev segera membuang pandangannya pura-pura tidak melihat, padahal jantungnya berdegup kencang.


Selesai membersihkan riasannya, tanpa bicara Dev beranjak ke dapur untuk membuat sesuatu untuk dimakan. Dia yakin jika suaminya belum sempat makan malam. Tiga puluh menit Dev menghabiskan waktu di dapur untuk membuat teh panas manis dan kwetiau goreng, kemudian membawanya ke kamar atas.


"Makanlah sedikit, kamu belum makan kan." kata Dev lembut meminta suaminya untuk makan malam, dan meletakkan piring dan gelas di meja kecil samping bed.


Yudha memandang Dev sekilas, lalu mengambil piring dan menikmati kwetiau buatan istrinya. Kurang lebih sepuluh menit, Yudha menyelesaikan makan malam. Ekspresi tegang perlahan menghilang dari wajahnya yang tampan.


Dev segera membereskan peralatan makan dan meletakkannya di luar pintu kamar. Perlahan Dev menghampiri Yudha dan duduk disampingnya.


"Ada yang mau ditanyakan kepadaku." tanya Dev lembut sambil memberanikan diri memegang kedua tangan Yudha.


Yudha menatap mata Dev, kemudian bicara perlahan.


"Apakah kamu sudah melupakan sesuatu, atau tidak ingat tentang hal apa yang tidak kusukai."


"Yudha..., sebelum aku jawab pertanyaanmu, tolong dengarkan aku dulu, baru kemudian kamu menilai aku."


"Hari ini aku merasa dan yakin tidak sedikitpun melakukan kesalahan. Tetapi aku merasa jika kamu kesal padaku, tanpa memberi tahu apa dan dimana letak kesalahanku."


"Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa aku adalah seorang istri, dengan batasan-batasan yang tidak boleh aku langgar. Aku akan selalu ingat dan paham dimana posisiku."


"Please..., beri tahu aku apa kesalahanku, apa yang membuat suamiku marah."


Dev menatap mata Yudha, dan dengan lembut mengangkat kedua tangan Yudha kemudian menciumnya.


Yudha merasa leleh hatinya diperlakukan Dev begitu manis, dan tiba-tiba dia memeluk Dev dengan begitu erat.


"Maaf.... aku posesif hari ini, aku tidak mau kehilanganmu. Jangan tinggalkan aku Dev." bisik Yudha.


"Apa yang kamu katakan Yudha, apakah hal ini bisa aku artikan kalau kamu cemburu?" tanya Dev penuh keterkejutan.


Tanpa disangka sama sekali Yudha menganggukkan kepalanya. Sedangkan Dev bingung harus bereaksi apa, akhirnya dia putuskan untuk menjelaskan kesalahpahaman tadi.


"Aku akan tetap di sisimu, aku akan jadi istrimu selama kamu menginginkanku, selama kamu mempertahankanku Yudha.


"Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dengan Jay. Aku baru mengenalnya tadi. Dia putra dari Tuan Hendarto calon investor perusahaan, please... trust me."


Untuk meluruskan salah paham, Dev menceritakan duduk perkaranya dari awal sampai akhir cerita dia bisa berada di ***"lake Resort.


"Yudh..., semua terjadi mendadak. Aku juga baru diperintah pak Gunawan untuk presentasi tadi sore pukul 15.00."


" Bagaimana cara aku untuk menghubungi suamiku, kalau nomor telponnya saja aku tidak tahu."


Yudha terkejut, tidak pernah terpikir baginya untuk memberikan nomor telepon pada istrinya. Dia berpikir dengan keberadaannya, orang akan berusaha mendapatkan nomornya. Tetapi Dev istrinya memang berbeda dengan kebanyakan orang. Yudha menghela nafas.


" Kenapa kamu tidak menanyakan nomorku pada Pratama."


"Huh..., nomor Pratama aku juga tidak tahu."


".....",


"Dev..., aku adalah suamimu. Dan aku menginginkan suatu pengakuan darimu kalau aku adalah suamimu."


" Tadi aku sedikit kecewa karena kamu tidak mengatakan pada Jay kalau aku adalah suamimu."


"Aku yakin, di masa depan Jay akan berharap lebih kepadamu. Dia akan berusaha untuk mengejar dan mendekati kamu."


"Yudh...., aku rasa siapapun bebas berteman denganku. Tidak mungkin kan, kamu akan melarang setiap laki-laki untuk mendekatiku. Semuanya tergantung pada diriku, jika aku tidak pernah menanggapi dan memberi mereka peluang untuk lebih dari itu, maka semua kemungkinan buruk yang kamu pikirkan tidak akan pernah ada."


" Dan apakah kamu memiliki rencana untuk mempublikasikan pernikahan kita sekarang." tanya Dev tiba-tiba.


"Aku masih memiliki papa kandung Yudh, bagaimanapun hubunganku dengan beliau saat ini, beliau tetap papa kandungku."


" Aku belum menginginkan publikasi pernikahan kita, sebelum aku memberi tahu papaku tentang pernikahan ini." lanjut Dev.


"Pada saatnya aku yakin semua akan berakhir dengan indah. Kita hanya menunggu waktu yang tepat."


Yudha semakin erat memeluk Dev, menghirup aroma harum dari rambutnya. Dev pun ikut terbawa alur, membalas pelukan Yudha yang penuh kehangatan.


"Kita bisa mengatur waktu untuk menemui ayahmu. Aku akan menemanimu, dan meminta ijin untuk mengambil putri cantiknya." kata Yudha berbisik pelan di telinga Dev.


Dev menatap Yudha seakan tak percaya. Pada awal pernikahan, Yudha menyatakan bahwa pernikahan ini hanya Simbiosis mutualisme, tapi semakin kesini Dev merasakan adanya ikatan yang tidak nampak dalam hatinya. Ikatan untuk saling mempertahankan hubuy ini.


"Tidurlah sudah malam." ucap Yudha melepaskan pelukan dan tiba-tiba dengan lembut memberikan kecupan di kening Dev. Melihat Dev terdiam kaget, Yudha menjadi lebih berani, memberikan kecupan lembut di setiap inci wajah istrinya. Dan terakhir Yudha memberikan kecupan singkat di bibir Dev. Menyaksikan ekspresi istrinya sangat kaku, Yudha memiliki keyakinan bahwa Dev belum memiliki pengalaman berciuman selama ini.


Dev merasa tubuhnya dialiri oleh aliran listrik, dengan muka merah terbakar malu. Ciuman pertamanya sudah diambil suaminya tanpa permisi. Sambil menutup mukanya, Dev merebahkan badannya diatas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Yudha merasa bahagia melihat keimutan istrinya, setelah mengganti lampu kamar dengan lampu yang lebih redup dia ikut membaringkan badan di sisi istrinya. Perlahan dia menggeser tubuhnya mendekat ke arah Dev, dan memeluk istrinya dari belakang.


Malam itu berlalu sangat indah dan hangat. Perlahan-lahan Yudha dan Dev sudah mulai saling membuka hati.


*****