
Dengan membawa satu keranjang kecil bunga tabur, Dev dan Yudha memasuki Pemakaman Bukit Lama Palembang. Rasa haru menyelimuti hati Dev, dia kembali teringat saat-saat mamanya masih ada di sampingnya. Pasangan suami istri itu duduk bersimpuh di sisi kanan dan kiri makam Larasati.
"Ma..., Dev hari ini datang berkunjung. Dev membawa seseorang yang akan Dev kenalkan sama mama."
"Kenalkan ini suami Dev ma, namanya Andhi Yudha Baskara, dipanggilnya dengan nama Yudha."
"Saat ini Dev sudah tidak lagi sendiri, tidak lagi merasa takut, tidak lagi merasa kesepian."
"Ada Yudha yang menjaga Dev, melindungi Dev. Dev sudah menikah ma. Restui pernikahan kami ya ma." terisak Dev di samping makam Larasati.
Yudha membiarkan Dev mengeluarkan semua emosinya, kemudian dengan lembut dia berbicara pada istrinya.
"Dev..., sudah ya nangisnya. Kasian mama disana, mama sudah tenang di surga. Lebih baik mari kita do.akan mama ya."
Dev menatap mata suaminya, kemudian mengangguk. Keduanya mendoakan mama Larasati agar tenang di alamnya, diampuni semua dosa dan kesalahannya. Setelah berdoa mereka membersihkan rumput liar yang menutupi makam, kemudian menaburkan bunga di atas nisan.
Selama satu jam, mereka menghabiskan waktu di makam. Setelah Dev puas melepaskan kerinduan dengan mamanya, mereka meninggalkan makam Larasati.
*****
Sepulang dari pemakaman Bukit Lama, Dev kembali ke Rumah Sakit untuk menemani ayahnya. Yudha tetap setia mendampingi istrinya, meskipun dia agak khawatir jika Dev kelelahan, tetapi dengan tetap ada di sampingnya, Yudha akan dapat memastikan istrinya terjaga.
Dalam perjalanan kembali menuju rumah sakit, mereka mampir ke restoran penjual empek-empek di Jl. Sudirman. Setelah membeli lima porsi empek-empek take away, mereka langsung melanjutkan perjalanan.
"Capai badannya sayang." Yudha menanyai istrinya.
"Sedikit, tapi aku merasa sangat bahagia hari ini."
"Yudh...., terimakasih ya, kamu telah membantuku, mewujudkan harapanku."
Yudha tidak menjawab, tetapi dengan penuh kasih dia merangkul istrinya dan menyandarkan kepala Dev di pundaknya.
"Istirahatlah dulu sebentar, nanti kalau sudah sampai rumah sakit aku bangunkan." ucap Yudha.
Dev menuruti perintah suaminya, tidak lama kemudian dia sudah terlelap. Setelah satu jam perjalanan, sopir sudah menghentikan mobil di halaman rumah sakit. Yudha menengok istrinya yang dengan nyaman masih tertidur, kemudian memerintahkan sopir.
"Pak..., cari tempat parkir yang teduh ya."
"Istriku masih tertidur, kita kesini kalau istriku sudah terbangun
'
"Baik Tuan." jawab sopir sambil menginjak pedal gas perlahan untuk memarkir mobil di tempat teduh.
Sambil menunggu Dev terbangun, Yudha membaca laporan perusahaan via gadget di tangannya. Sebenarnya salah satu pundak Yudha sudah merasa kebas seperti mati rasa. Tetapi untuk kenyamanan istrinya, Yudha ikhlas melakukan apa saja.
Sepuluh menit kemudian Dev terbangun, dan dia langsung menyadari kalau suaminya masih dalam posisi tubuh yang sama seperti di awal dia akan tertidur.
"Yudh..., kamu capai ya."
"Kenapa tadi tidak memindahkan kepalaku." tanya Dev kemudian dia memijat pundak dan lengan suaminya.
Yudha tersenyum bahagia menikmati perlakuan istrinya.
"Kita masuk sekarang ya, menemui papa terus kita kembali ke hotel." ajak Yudha.
"Tapi aku pingin nemani papa Yudh."
"Tidak, nanti kita kembali ke hotel."
"Kamu harus istirahat yang cukup, kalau tidur di rumah sakit kamu tidak akan tidur dengan sehat." kata Yudha tegas.
"Besok pagi-pagi kita ke rumah sakit, kita bisa pulang sore hari, jadi seharian kamu bisa menemani papa seharian."
"Yah..., terserah kamu aja Yudh. Aku akan ngikut." jawab Dev.
Keduanya segera keluar mobil, dan kembali memasuki rumah sakit.
*****
Dev menghentikan langkahnya di depan pintu kamar inap. Tangannya yang sudah memegang handle pintu, dia tahan. Dari dalam kamar terdengar suara ibu dan adik tirinya yang sedang bercakap-cakap. Dev ragu-ragu untuk memasuki kamar, karena dia menyadari bahwa selama ini dirinya tidak bisa bersikap akrab dengan ibu tii.
"Kenapa berhenti sayang." tanya Yudha.
Dev terdiam tidak menjawab pertanyaan suaminya.
"Ayuk masuk, ada aku suamimu yang akan selalu melindungimu." ucap Yudha meyakinkan.
"Aku ragu Yudh, takut aku tidak dapat mengendalikan emosiku." kata Dev dengan kepala tertunduk.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Baiklah aku yang di depan. Kamu di belakang."
"Selamat sore papa." sapa Yudha mengabaikan ibu dan adik tiri istrinya. Dia langsung menghampiri bed papa mertuanya dengan menggandeng tangan istrinya.
"Selamat sore nak Yudha. Kalian sudah kembali,?"
Sontak ibu dan adik-adik tiri Dev menengok ke arah sumber suara, dan matanya terbelalak karena melihat laki-laki tampan dengan badan tinggi proporsional menyapa pak Burhanuddin. Tetapi begitu melihat orang yang digandengnya, mereka langsung memasang muka judes.
"Eh kalian berdua, punya sopan santun tidak, datang-datang langsung nyelonong seperti orang tidak kenal etika." teriak Sonya ibu tiri Dev.
"Akhirnya setelah sekian lama, kamu datang juga." ucap Tiara adik tiri Dev dengan sinis.
Yudha hanya menengok sekilas ke arah mereka, dan kembali fokus menghadap pak Burhanuddin. Dia sudah mendengar dari Pratama tentang perlakuan mereka yang selalu menindas Dev.
"Nak Yudha..., mereka saudara dan ibunya Dev," ucap pak Burhanuddin pelan.
"Huh..., ya." Yudha menanggapi ucapan papa mertuanya dengan ekspresi tak peduli.
"Ma, kenalkan ini nak Yudha suaminya Dev. Ini menantu kita ma." pak Burhanuddin mengenalkan Yudha kepada istri dan adik-adik tiri Dev.
"Oh pantaslah kalau begitu, istri dan suami sama-sama kehilangan etika dan tata krama."
Dalam hati Sonya sangat mengagumi penampilan dari Yudha.Tetapi melihat bagaimana dia tidak menghormatinya, dan sekaligus tahu kalau dia adalah suami dari Dev maka yang ada di pikirannya adalah bagaimana dia bisa menindasnya.
Yudha dan Dev mengabaikan perkataan ibu tirinya, karena mereka menjaga rasa dan stabilitas emosi dari papanya.
"Gimana pa kabarnya, papa sudah makan." Dev menanyakan kabar pak Burhanuddin tetapi mengabaikan keberadaan saudara dan ibu tirinya.
"Alhamdulillah papa sudah baik nak. Kata dokter besok siang papa sudah bisa pulang."
"Beneran pa?"
Pak Burhanuddin tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Darimana saja kalian hari ini."
"Ke tempat mama pa. Minta restu dan mendoakannya." sahut Yudha.
"Kemudian mengantar Dev ke restoran Candy, kayaknya putri papa hari ini sedang mengidam empek-empek pa." kata Yudha dengan maksud untuk bercanda.
"Benarkah, papa sudah akan menimang cucu."
"Papa jangan percaya pa, papa dikerjain Yudha. he...He," ucap Dev.
"Lho ucapan dan keyakinan itu do.a sayang."
"Aamiin."
"Kalian semua ini. Benar-benar ya, tidak ada rasa hormat-hormatnya." kata Sonya.
"Sudahlah ma, ini ada anak dan menantu kita. Tidak bisakah kalian berdamai untuk sementara." sahut pak Burhanuddin.
"Mohon maaf pa. Yudha ijin bicara."
"Bu Sonya, anda bicara tentang rasa hormat. Tetapi dari awal kehadiran kami disini, apakah Bu Sonya sudah menunjukkan sikap yang layak untuk dihormati."
"Saya lebih tua, bagaimana cara kalian menghormati yang lebih tua." ucap ibu tiri Dev.
"Orang tua ada yang layak dihormati, dan ada juga yang tidak layak untuk dihormati. Kemudian putri anda, apakah dia juga menunjukkan bagaimana dia menghormati kakaknya." kata Yudha tegas sambil menunjuk ke arah Tiara.
"Dan saya Andhi Yudha Baskara menyatakan, bahwa aku tidak akan mengampuni orang yang melanggar garis batasku."
"Tidak peduli itu siapapun. Dan perlu kalian ingat, garis batasku adalah Devina Renata istriku."
"Siapapun yang berani menindas istriku, maka aku akan mengejarnya sampai manapun."
Dev khawatir akan emosi papanya, kemudian dengan lembut dia menarik suaminya.
"Sayang sudah, aku ga pa."
"Kita ada disini untuk papa, bukan untuk siapa siapa."
Mendengar ucapan istrinya, Yudha kembali stabil emosinya. Sedangkan Sonya langsung keluar dengan menarik Tiara tanpa pamit pada mereka.
"Sudahlah nak Yudha, biarkan mereka." ucap pak Burhanuddin.
"Maafkan saya ya pa, saya tidak bisa membiarkan orang yang berani menindas istri saya."
Pak Burhanuddin sangat bahagia melihat cara Yudha menyayangi putrinya, meskipun dia juga prihatin dengan sikap istrinya.
******