
Dari kejauhan, Wijaya agak terkejut melihat kehadiran Dev dan Yudha. Dia dan Donna mengira bahwa mereka tidak akan hadir dalam acara dikarenakan pernah terjadi insiden dengan Andre. Bergegas Wijaya menyambut pasangan suami istri itu ke depan pintu masuk.
"Dev..., Yudha..., keluarga kami sangat tersanjung atas kehadiran kalian di acara pernikahan Donna." sapa Wijaya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Pasti kami hadir Jay.., akan sangat disayangkan apabila kami sampai ketinggalan momen acara ini. Bahkan aku juga menunggu undangan untuk momen pernikahanmu Jay." sahut Yudha sarkasme.
Khawatir jika suaminya menimbulkan kekacauan, Dev mencubit pinggang Yudha mengisyaratkan untuk diam.
"Terima kasih Jay..., kami juga menunggu kehadiran kalian di setiap momen kebahagiaan kami di waktu yang akan datang." kata Dev mengalihkan pembicaraan.
"Pasti Dev, kami akan pastikan untuk hadir di setiap kebahagiaan kalian." kata Wijaya. tulus.
"Terima kasih Jay "
"Silakan masuk lewat sini, tidak perlu bergabung dengan tamu-tamu lain. Kasihan putra dalam perutmu." Kata Wijaya kemudian membukakan jalan dan membawa mereka masuk jalur tamu VVIP.
Wijaya melihat masih ada sekitar 10 antrian untuk memberikan ucapan pada pengantin di lajur VVIP.
"Yudh, sepertinya masih ada antrian untuk memberikan ucapan selamat pada pengantin. Kamu bisa bawa Dev langsung ke kursi tamu VVIP."
"Kalian tidak perlu berjabat tangan. Aku akan menyampaikan kepada Donna dan Andre, bahwa kalian hadir kesini untuk memberikan doa dan restu." kata Wijaya memberi saran pada Yudha.
"Bagaimana, kita langsung duduk," Yudha menanyakan balik pada Dev.
"Jangan khawatir, staminaku fit. Aku akan memberi ucapan selamat langsung pada mereka. Aku udah jauh-jauh lho datang ke ibukota. Masak aku tidak punya foto bareng pengantin." Dev menolak saran Yudha dan Wijaya.
"Baiklah kalau memang itu maumu." kata Yudha mengalah.
******
Sementara di pintu masuk, terlihat Bukman sedang antri mengisi buku tamu. Sedangkan Tiara berdiri di samping pintu, menunggu Bukman selesai. Tiara mengedarkan pandangannya ke seluruh ballroom.
"Mewah sekali pestanya, aku akan meminta Bukman untuk melakukan hal yang sama jika kami jadi menikah." Tiara berbicara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Tiara melihat antrian di VVIP, dan matanya menangkap seseorang.
"Apa mataku tidak salah melihat? Bukannya itu Dev, dan yang berdiri di sampingnya itu, apakah laki-laki yang pernah dibawa pulang. Tapi, kenapa sangat berbeda."
"Laki-laki itu sekarang menjelma seperti dewa Yunani dengan aura kekuasaan tak terkalahkan."
"Sialan.., aku selalu kalah dan selalu menjadi nomor dua dibandingkan dia."
"Aku harus mencari cara bagaimana aku bisa masuk ke dalam tapi terpisah dengan Bukman."
Tiara tenggelam dalam lamunan dan pikirannya, sampai tidak menyadari saat ini Bukman sudah berdiri di sampingnya.
"Ayo masuk," kata Bukman sambil menarik lengan Tiara.
"Bang, tiba-tiba aku malas untuk masuk ke dalam. Aku nunggu di mobil saja ya. Antriannya lumayan panjang" kata Tiara.
"Bagaimana sih kamu. Gara-gara kamu, aku membuang uang yang tidak sedikit untuk mengakuisisi sebagian saham dari PT. Kalingga."
"Apa kamu tidak tahu siapa keluarga ini."
"Keluarga Hendarto juga memiliki cukup banyak saham di PT. Kalingga. Bahkan dua putranya Donna dan Wijaya juga memiliki peran penting dalam setiap pengambilan keputusan di perusahaan."
"Jadi dengan mengambil hati mereka, aku lebih mudah untuk mempengaruhinya dalam rapat umum pemegang saham." kata Bukman sedikit emosi.
"Tapi, coba lihat di antrian VVIP." kata Tiara yang akhirnya mengakui alasannya untuk tidak ikut ke dalam.
Bukman melongokkan kepalanya melihat barisan antrian VVIP.
"Apa karena Dev dan suaminya hadir di acara ini." tanya Bukman.
"Iya." jawab Tiara singkat.
"Apa yang kamu takuti. Kamu saat ini sedang bersamaku, seorang pengusaha dengan banyak perusahaan di berbagai bidang usaha."
Tiara terdiam.
"Atau jangan-jangan kamu meremehkan aku." tanya Bukman.
"Sudahlah bang, ayok masuk. Kita malah memalukan diri kita sendiri dengan ribut di acara orang." kata Tiara memutus perdebatan.
Akhirnya Tiara masuk ke barisan antrian dan berdiri di samping Bukman.
*****
"Terima kasih Dev, akhirnya kamu datang. Restui dan do.akan kami ya Dev," bisik Donna sambil memeluk Dev dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Pasti Donna, semoga keberkahan dan kerahmatan selalu melingkupi keluarga kalian. Hapus air matamu, ini hari bahagia kalian. Selamat ya." kata Dev pelan sambil melepaskan pelukannya.
"Selamat," ucap Yudha singkat di belakang Dev.
Dengan hati yang kacau, Andre menyaksikan Dev dan Donna berpelukan. Sedangkan di belakangnya, sorot mata tajam suaminya tampak mengawasi mereka. Donna mengaitkan tangannya ke lengan Andre, untuk memberinya kekuatan menghadapi Dev dan suaminya.
"Selamat ya Andre atas pernikahanmu, tolong jaga Donna dengan baik-baik." ucap Dev tulus.
"Terima kasih Dev, semoga kedatanganmu ini sebagai jawaban bahwa kamu sudah memaafkan aku." kata Andre lirih.
Dev tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Andre menggenggam erat tangan Dev, tapi tiba-tiba Yudha menyentakkan tangannya dari tangan Dev.
"Dev memaafkanmu, tapi aku belum. Semoga pernikahan kalian hari ini, sebagai awal kamu tidak akan pernah mengganggu istriku lagi." bisik Yudha di telinga Andre.
"Sudah sayang.., kasihan di belakang banyak yang antri untuk mengucapkan selamat." kata Dev sambil menarik lengan Yudha.
"Kita foto dulu ya Dev, pak Yudha." kata Donna mengalihkan topik, kemudian memberi kode pada fotographer untuk mengambil gambar mereka.
Setelah sesi pengambilan foto, Dev dan Yudha meninggalkan stage, dan tiba-tiba...
"Aduh." seru Dev.
"Aaw...," beberapa tamu ikut berteriak.
Shoe heel Dev yang sebelah kanan masuk di sela-sela lobang stage, tubuh Dev hampir kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Yudha menahan tubuh Dev, dan menyeimbangkannya kembali. Donna dan Andre serta beberapa tamu dengan cemas ikut memperhatikan mereka.
Yudha langsung berjongkok di kaki Dev.
"Lepaskan sepatunya." perintahnya pelan.
Dev mengikuti apa yang dikatakan suaminya. Setelah sepatunya dilepas, Yudha melemparkan sepatu di ujung stage kemudian mengangkat tubuh Dev dengan bridal style di depan para tamu.
"Plok...plok..plok..." beberapa tamu memberikan tepuk tangan atas respon sigap dari Yudha.
Yudha membawa Dev ke round table yang disediakan oleh tamu VVIP, kemudian mendudukkannya di kursi.
"Pak, tolong bawakan teh panas kesini." seru Yudha memanggil pramusaji untuk membawakan teh panas.
"Ini pak tehnya, ada lagi yang perlu saya ambilkan."
"Cukup terima kasih."
"Minumlah dulu," kata Yudha sambil memberikan cangkir teh pada Dev
Setelah itu dia memeriksa pergelangan kaki Dev, dan menepuk-nepuknya.
"Kakiku tidak apa-apa sayang, hanya sedikit kaget saja tadi." kata Dev sambil minum teh panas.
Yudha menarik nafas lega, kemudian duduk sebentar dan menyeruput teh.
"Kamu mau makan apa biar saya minta pramusaji mengantarkannya" tanya Yudha.
"Bakso sama empek-empek," jawab Dev.
Yudha menarik dua lembar uang ratusan ribu, kemudian memberi kode pramusaji agar mendekat.
"Layani istriku, sekarang bawakan bakso dan empek-empek." Yudha memerintah pramusaji , kemudian memberikan dua lembar uang di tangannya.
"Baik pak, terima kasih."
"Sayang, aku tinggal sebentar ke mobil ya." tanya Yudha.
"Ya, ga pa pa. hati-hati sayang." jawab Dev.
Yudha segera berjalan cepat keluar ballroom, dan berpapasan dengan Wijaya di pintu keluar.
"Jay.. nitip istriku sebentar. Aku ada urusan."
"Ya, nanti aku temani sebentar lagi."
Wijaya bergegas masuk untuk menemani Dev.
******