
Hari ini Dev sampai di kantor sudah jam 08.45, sangat lumayan terlambatnya. Baru saja dia akan duduk di kursinya, terdengar suara ketukan di pintu.
"Tok..tok..tok.., "
"Masuk," Dev meminta tamunya masuk, tanpa melihat siapa yang sudah mengunjunginya.
Tidak lama terlihat Corry masuk ke ruangan Dev, sambil membawa laptop dalam posisi membuka. Raut wajahnya terlihat kesal.
"Dev..., bantuin donk." datang-datang Cory sudah meminta bantuannya.
Dev melihat ke arah Cory, teman dan sekaligus anak buahnya.
"Ada apa, ayo duduk dulu." kata Dev meminta Cory duduk.
"Aku tadi bingung utak utik Adobe illustrator. Lama ga coba, blank jadinya. Bulan depan kalau kamu cuti, pak Gunawan minta ke aku, jadinya bubar semuanya." Cory meletakkan laptop di hadapan Dev, kemudian dia duduk.
"Lha ini sudah bisa masuk, bingungnya yang mana." tanya Dev dengan sabar.
"Ini, dari tadi aku bingung cara operasikan clipping mask, sama tadi gunakan pen tool hasilnya tidak bisa presisi." sahut Cory agak kesal.
"Kamu sudah coba tanya teman yang lain belum." tanya Dev dengan tersenyum.
"Boro-boro tanya Dev, lihat aku saja mereka sudah pada defend," kata Cory mengadu.
"Ya sudah, coba tak lihat dulu."
"Gini lho Corr..., ini fotonya tinggal dimasukkan dalam objek yang akan kita buat. Jangan lupa move tool dipilih." dengan sabar Dev membimbing Cory sampai bisa.
"Untuk memotong gambar gunakan clipping path ya." lanjutnya lagi.
Setelah melalui berkali-kali trial and error, akhirnya Cory bisa mengoperasikan dengan lancar.
"Matur tengkyuuu Dev...., you are the best pokoknya." seru Cory dengan bahagia.
"Ya sama-sama, kalau dah bisa, segera kembali ke ruangan. Banyak yang harus aku kerjakan hari ini." sahut Dev bercanda.
"Oh my Lord..., aku diusir. Hiks..hiks," sahut Cory pura-pura menangis, kemudian dia langsung meninggalkan ruangan Dev.
Tapi di depan pintu sepertinya Cory teringat sesuatu.
"Dev ..., hampir lupa. Tadi ada pesan dari Pak Gunawan, kalau kamu sudah datang diminta langsung ke ruangan beliau." katanya.
"Ya makasih,. aku nyalakan komputer dulu baru aku ke sana." sahut Dev dengan mata fokus ke layar komputer built-in di mejanya.
Setelah mempersiapkan semua perangkat on, Dev segera menuju ruang Gunawan. Perlahan dia mengetuk pintu ruangan Gunawan, dan baru satu kali ketukan sudah terdengar suara dari dalam.
"Masuk," Dev segera mendorong pintu ke dalam, dan terlihat Gunawan sedang duduk di sofa.
"Selamat pagi pak Gun," sapa Dev cerah.
"Pagi Dev, silakan duduk." sahut Gunawan dengan sikap ramah.
"Maaf kan Dev pak Gun, hari ini saya terlambat datang," Dev baru kali ini dia datang terlambat ke kantor.
Gunawan tersenyum memaklumi keterlambatan Dev. Sebagai karyawan yang sangat berpotensi, dengan didukung latarbelakang istimewa, Gunawan harus hati-hati untuk melakukan treatment kepadanya. Karena jika salah strategi maka perusahaan akan kehilangan talent langka.
"Bagaimana kandunganmu Dev," tanya Gunawan kebapakan.
"Alhamdulillah, sehat pak Gun. Mohon doanya ya, agar persalinan nanti normal dan lancar." jawab Dev.
"Selalu bapak doakan Dev. Semoga ibu dan bayi dalam keadaan sehat semuanya." kata Gunawan dengan muka arif.
"Aamiin. Oh iya pak, mau konfirmasi. Tadi Corry menyampaikan kalau bapak tadi mencari saya." tanya Dev.
"Tadi bapak memang ke ruanganmu pagi-pagi. Mau minta tolong dibuatkan laporan tim kreatif untuk bulan lalu. Nanti akan saya compare dengan laporan bulan ini,"
"Siap pak, nanti akan segera kami siapkan." jawab Dev.
"Kamu tidak bertanya untuk apa Dev," tanya Gunawan pelan.
"Ya tidak berani pak. Wajar kan pimpinan minta laporan dari anak buahnya." sahut Dev dengan tersenyum.
"Ha..ha.. bukan begitu. Bapak minta itu untuk bapak pelajari Dev, paling tidak bapak bisa tahu sedikit."
"Sebentar lagi kamu akan cuti, jadi agar besok bisa ambil alih divisimu dan mengarahkan timmu, ya Bapak harus banyak belajar." Gunawan menjelaskan alasan meminta laporan.
"Nanti tolong sebelum cuti, bapak diajarkan secara garis besar ya." lanjutnya lagi.
"Baik pak, tim kami akan segera menyiapkannya. Kira-kira masih ada lagi pak yang akan disampaikan." tanya Dev.
"Saya rasa sudah cukup, kamu bisa kembali ke ruangan."
"Baik pak Gun, saya akan kembali ke ruangan, dan menyiapkan dokumen yang bapak butuhkan."
"Saya permisi ya pak, selamat pagi."
"Pagi."
******
Jam makan siang, dihabiskan Dev di perusahaan tanpa pergi kemana-mana. Perutnya yang semakin membuncit, menjadikan dia untuk mengurangi aktivitas fisik. Pada saat Dev baru menikmati makan siang, tiba-tiba dia menginginkan teh manis panas. Kemudian dia melangkah ke pantry, dan sebelum sampai dia bertemu dengan Mijan petugas bagian pantry.
"Pak Mijan, saya bisa minta tolong dibuat teh manis panas." tanya Dev.
"Iya Bu, tunggu sebentar. Nanti saya buatkan, dan langsung saya antar ke ruangan Bu Dev," sahut Mijan ramah.
"Baik pak Mijan, saya tunggu di ruangan ya. Terima kasih." kata Dev sambil berjalan kembali ke ruangan.
"Sama-sama Bu Dev."
Sesampainya di ruangan, Dev melanjutkan kembali makan siangnya. Sepuluh menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk." seru Dev.
Pintu di dorong dari luar, dan terlihat Jatmiko pengawal yang disewa Yudha masuk dengan membawa secangkir teh panas.
"Lho kok kamu Jat, yang bawakan teh," tanya Dev keheranan.
"Iya Nyonya Muda, kebetulan pak Mijan lagi benerin kompor di dapur. Tiba-tiba apinya membesar seperti mau kebakaran. Akhirnya saya mencoba untuk membantunya" Jatmiko menjawab pertanyaan Dev.
Dev kemudian menyeruput teh, tapi dia merasakan sedikit keanehan.
"Jat, kamu tahu teh apa tadi yang digunakan pak Mijan." tanya Dev kemudian meletakkan kembali cangkir ke meja.
"Sepertinya sama seperti teh biasanya Nyonya Muda. Memangnya ada apa Nyonya." Jatmiko balik bertanya.
"Rasa teh dan baunya aneh, seperti menyengat ada obatnya." kata Dev.
Jatmiko langsung bergegas ke meja Dev, kemudian dia membaui teh di hidungnya.
"Nyonya Muda harus segera berangkat ke dokter. Saya akan kirim sampel teh panas ke laboratorium untuk diperiksa." seru Jatmiko panik.
Dengan sigap Jatmiko segera menghubungi pengawal lainnya, kemudian berbagi tugas dengan cepat.
*****
Tidak lama kemudian di rumah sakit ****esda Yogyakarta. Dua pengawal Dev dengan cepat mengambil kursi roda, kemudian meminta Dev untuk segera naik. Ketakutan dan kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
Setelah menunjukkan kartu kontrol privilege, Dev langsung mendapatkan prioritas penanganan. Perawat rumah sakit menyarankan agar Dev langsung masuk di ruang ICU untuk segera mendapatkan pelayanan cepat, karena mengingat perutnya yang membuncit.
******