Married By Incident

Married By Incident
Tahanan



Akhirnya esok hari setelah kekacauan di rumah sakit, Dev diijinkan pulang ke rumah. Untuk menghilangkan beban moral, Dev menyerahkan urusan kasusnya dengan Tiara dan Bukman kepada pihak kepolisian. Tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap masa lalu Tiara, Dev meminta bantuan Yudha untuk membantu meringankan hukumannya. Sebagai kompensasi bantuan yang diberikan, Dev harus menyepakati kemauan Yudha yang tidak boleh membawa ibu tirinya ke Hyatt Regency. Mau tidak mau Dev menyetujui kemauan suaminya, meskipun dalam hati dia ingin bersama papanya.


"Bibi.. Dev kangen rumah." kata Dev pada Bi Siti yang menyambutnya di pintu rumah.


"Iya Nyonya Muda, Bibi juga kesepian. Rumah ini terasa sepi setelah beberapa hari tak ada penghuninya. Hanya Bibi dan beberapa pengawal yang berseliweran di tempat ini." kata Bi Siti yang langsung mengambil barang-barang bawaan dari tangan pak Sholeh.


"Mau langsung ke kamar atau duduk di luar dulu." tanya Yudha masih merangkul pundak istrinya.


"Istirahat di ruang tengah saja sayang, aku mau selonjoran dulu disitu." kata Dev sambil menatap Yudha.


Yudha mengantar Dev sampai di sofa ruang tengah, kemudian Dev langsung duduk dan segera meluruskan kakinya. Yudha mengambil bantal kursi sebagai ganjal sandaran agar Dev bisa duduk dengan nyaman.


Dari arah dapur, Bi Siti membawa nampan yang berisi dua cangkir teh manis panas.


"Apa itu Bi Siti." tanya Dev.


"Teh Nasgithel kesukaan Nyonya Muda," jawab Bi Siti.


"Terima kasih Bi Siti. Bawa ke dekat sini Bi tehnya, mumpung masih panas. Teh panas di rumah sakit tidak enak, bau obat," kata Dev sambil mengambil cangkir dari tangan Bi Siti.


"Pelan-pelan minumnya, tidak akan ada yang minta minumanmu." kata Yudha mengingatkan Dev untuk hati-hati minum teh panasnya.


"Bi.., ada pisang kepok tidak di dapur. Aku kok tiba-tiba pingin makan pisang goreng, yang atasnya diberi lelehan karamel ya." ucap Dev.


Yudha sontak menengok ke arah Dev, dia agak bingung karena selama hamil dari triwulan pertama sampai saat ini, Dev belum pernah minta yang aneh-aneh. Saat ini tiba-tiba istrinya menginginkan pisang goreng dengan lelehan karamel.


"Ada Nyonya Muda, Tunggu sebentar, tidak sampai satu jam, bibi akan bawa pisang goreng dan karamel sesuai keinginan Nyonya Muda." Bibi Siti bergegas menuju dapur dan segera mengeksekusi pisang kepok untuk memenuhi keinginan Dev.


"Dev .., kamu ngidham." tanya Yudha penuh tanda tanya.


"Ngidam? Masa cuma pingin makan pisang goreng dianggap ngidam. Rugi dong, masa ngidam cuman pisang goreng. " kata Dev tersenyum lucu.


"Iya juga ya, orang bilang kalau istri hamil akan minta macam-macam dan sulit untuk dicari. Masa ini yang diminta sudah ada di depan mata."gumam Yudha lirih.


"Kamu tu kenapa sayang, pingin banget apa aku repotin minta sesuatu yang aneh-aneh. He..he..," tanya Dev heran dengan sikap Yudha.


"Kalau sekali-kali bolehlah. Biar ada cerita sesama bapak-bapak kalau pada kumpul. Hot Daddy kata orang. He..he..he.." jawab Yudha asal ceplos.


"Ha..ha..ha.. besok kalau aku ngidam, aku maunya pisang goreng kipas yang belinya langsung dari Pontianak. Aku tidak mau kalau hanya buatan bi Siti." kata Dev menggoda suaminya.


"Pasti akan aku turuti, jika perlu penjualnya aku pekerjakan disini. Aku ke atas dulu ya, mau mandi gerah," sahut Yudha sambil berjalan menuju tangga.


******


Burhanuddin dan Sonya saat ini berada di kepolisian untuk menjenguk Tiara. Untuk keperluan penyidikan ulang sesuai prosedur, Tiara saat ini ditahan disana. Meskipun Yudha dan Dev tidak intervensi dalam penyidikan Polda, mereka tidak mempersulit orang tuanya untuk memberikan dukungan pada Tiara. Bahkan Yudha memberikan bantuan dengan mengirimkan pengacara untuk membela Tiara.


"Maafkan papa nak, papa yang salah. Tapi caramu juga salah. Lampiaskan semua kekesalan pada papa, jangan pada kakakmu." ucap Burhanuddin berusaha memegang tangan Tiara. Tapi dengan cepat Tiara menarik tangannya.


"Papa yang salah, papa pengecut dan tidak memiliki nyali untuk mengakui semua. Tapi papa tidak mau nak, putri papa saling bertengkar." air mata tampak mengalir di pipi Burhanuddin yang semakin tampak guratan usia.


Sonya tidak mampu bicara, sejak datang hanya menangisi kondisi Tiara di dalam tahanan kepolisian. Ketiganya terisak dan terdiam dalam lamunan masing-masing.


"Selamat siang bapak/ibu, mohon diingat ya. Waktu kunjungan sudah habis, tapi mengingat pesan dari pak Yudha kami beri tambahan waktu 10 menit. Mohon manfaatkan waktu dengan baik." tiba-tiba seorang petugas jaga mengingatkan batas waktu kunjungan.


"Tiara, jaga dirimu baik-baik sayang. Meskipun kamu sudah berniat buruk pada kakakmu, tapi dia tetap membantu kita untuk keringanan masa tahananmu." kata Sonya lirih.


"Kita putus ya nak semua dendam ini, kakakmu sudah mengetahui semua cerita ini. Papamu sudah menceritakan semuanya." lanjutnya lagi.


"Iya nak, sekali lagi papa minta maaf. Kalaupun papa yang harus membayar semuanya, papa bersedia Tiara. Yang penting anak papa bisa rukun semua." kata Burhanuddin mencoba melunakkan hati Tiara.


Tiara masih diam tidak berbicara apapun. Sonya menghampiri putrinya, kemudian memeluknya erat. Isak tangis semakin keras keluar dari mulutnya.


"Jaga dirimu baik-baik sayang, mama akan kembali ke hotel. Kasihan adikmu mama tinggal sendiri, besok mama dan papa kesini lagi." kata Sonya pamit kemudian memberikan ciuman lembut di pucuk kepala putrinya.


"Mama...Tiara takut ma, Tiara mau pulang." kata Tiara tiba-tiba sambil menangis tersedu-sedu. Sonya memeluk erat Tiara, Burhanuddin hanya menatap keduanya dengan berlinang air mata.


"Sabar ya nak, bersikaplah baik disini. Mama selalu berdoa agar hukumanmu diringankan." ucap Tiara berusaha menenangkan putrinya, kemudian perlahan dia melepaskan pelukan.


Tanpa menoleh ke belakang, Sonya menarik tangan suaminya dan bergegas meninggalkan ruangan. Tiara menangis tersedu, kemudian dia kembali ke kamar tahanan.


*******


"Maaf Tuan, kita langsung ke hotel atau ada yang mau Tuan dan Nyonya kunjungi terlebih dahulu." tanya Sholeh sopan pada Burhanuddin dan Sonya.


Burhanuddin menatap sopir putrinya yang beberapa hari ini sudah mengantarkan kemana-kemana.


"Bisa mampir ke fast food Drive thru pak, mau mencari makan siang untuk adiknya Dev." kata Burhanuddin.


"Baik pak, kalau begitu saya tak ambil jalan memutar sedikit." kata Sholeh sambil membelokkan arah mobilnya menuju Ringrod Utara.


"Iya pak Sholeh, tidak apa-apa. Yang penting jangan ngebut, pelan-pelan saja mengemudinya." sahut Burhanuddin.


"Iya pak."


Setelah masuk Ring road Utara, Sholeh langsung mengemudikan mobil menuju ** Donald yang terletak di sebelah kanan Ring road Jl. Magelang.


*****"