Married By Incident

Married By Incident
Favian dan Zaidan



Pagi hari berikutnya, Dev terbangun dan tidak melihat keberadaan Yudha di sampingnya. Perlahan dia bangun, kemudian mencoba untuk duduk di atas ranjang. Dev menggigit bibirnya menahan sedikit rasa nyeri pada jahitan jalur lahir bayinya.Tiba-tiba hatinya menghangat, dan tetes air mata haru membasahi pipinya. Dia melihat suaminya duduk di kursi sambil memandangi dua bayinya yang sedang tertidur.


"Daddy..., kamu sudah bangun, kenapa tidak membangunkan aku." tanya Dev.


Yudha menengok ke arah Dev, kemudian berjalan mendekati Dev.


"Mommy ingin melihat bayi-bayi kita." tanyanya lembut.


"Badanku bau, pingin mandi dulu. Baru kemudian latihan menggendong mereka." jawab Dev tersenyum bahagia.


"Tunggulah sebentar, aku siapkan air mandimu dulu." kata Yudha, kemudian masuk kamar mandi dan menyiapkan air mandi hangat untuk istrinya yang telah memberikan hadiah istimewa.


Setelah sesaat, Yudha keluar kemudian menghambat Dev.


"Ayo aku akan memandikanmu sayang." seperti biasa Yudha akan memandikan Dev, membantu menggosok punggungnya jika memiliki waktu luang


"Hush... tidak perlu. Ini di rumah sakit sayang, bisa habis kita jadi bahan omongan di antara perawat." kata Dev menolak tawaran Yudha. Tapi bukan Yudha namanya, kalau akan luluh dengan ancaman seperti itu.


Tangannya dengan cepat menekan tombol panggilan ke perawat jaga. Tidak lama, dua perawat tergesa-gesa datang ke kamar inapnya.


"Ada apa Bu Dev, apa yang bisa kami bantu." tanya perawat sambil melirik Yudha.


"Awasi dan jaga kedua bayiku. Aku akan memandikan Istriku." tanpa tahu malu, Yudha bicara terus terang pada kedua perawat, dan muka Dev sudah merah seperti kepiting rebus. Tapi Yudha tetap tidak peduli semuanya.


"Baik pak, kami akan memindahkan box bayi dulu sebentar, sekaligus kami menjaganya." dua perawat itu tidak mau memancing kegaduhan dengan Yudha, akhirnya mereka mendorong box bayi keluar ruangan. Mereka khawatir jika mereka menunggu di dalam kamar, bisa-bisa mereka tertekan dengan pandangan sadis Yudha.


Yudha segera menyiapkan baju ganti untuk Dev, kemudian memegangi istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Perlahan Yudha mengambil air dengan menggunakan gayung dan mulai membasahi tubuh istrinya. Yudha yang tidak terbiasa memegang gayung, terlihat agak kikuk memegang gayung khawatir akan lepas dari tangannya.


"Mommy saja yang pegang gayung." akhirnya Dev tidak sabar melihat kekakuan Yudha, dia mengambil alih gayung.


Yudha mulai menyabuni tubuh Dev, dan saat dia menggosok perutnya, dia merasakan kulit yang kendor menggelambir. Kulit yang biasanya kencang, saat ini menggelambir bahkan bisa dipegang dan dirasakan lipatan kulit dengan menggunakan kedua tangannya. Tiba-tiba rasa nyeri dan sakit kembali muncul di hati Yudha.


"Jangan khawatir, dengan sendirinya gelambir ini akan mengencang dengan pola makan dan perawatan yang telaten." kata Dev seakan tahu apa yang dipikirkan suaminya.


"Iya, ahli nutrisi dan gizi juga sudah aku hubungi untuk membuat pola makan untuk kita sekeluarga." sahut Yudha.


Karena keterbatasan fasilitas di kamar mandi, hanya sepuluh menit waktu yang mereka habiskan untuk membersihkan diri. Dengan penuh kelembutan, Yudha menyeka tubuh Dev yang basah menggunakan handuk yang mereka persiapkan dari rumah. Setelah membantu Dev mengenakan baju, perlahan Yudha menuntunnya menuju kursi.


"Aduh." Dev berteriak kecil takut dengan rasa sedikit perih pada waktu akan duduk di kursi.


"Pelan-pelan duduknya, sambil dipaskan agar tidak kena jahitan." kata Yudha dengan sabar memegang tangan Dev untuk melatihnya duduk di kursi.


*******


Pukul 08.00 pagi, kamar Dev tidak tenang banyak kegaduhan. Kedatangan Bianca dan Andrew, serta Reno yang mengajak Sasa dan Ivan membuat keributan kecil di dalam kamar.


"Lucu-lucu si twins..., aku mau menciwel pipinya," seru Bianca heboh yang dari tadi memandang takjub pada kedua bayi kembar yang tertidur di dalam box.


"Berani kamu memegang bayi-bayiku, aku pastikan kamu akan aku lempar ke jalanan." kata Yudha dengan nada penuh ancaman.


"Sayang...., Bianca hanya bercanda. Jangan seperti itu, mereka tamuku." Dev tidak enak dengan Bianca dan Andrew mendengar perkataan Yudha.


"Eh..., siapa yang akan melempar anak om ke jalanan tadi." sahut Andrew lucu.


"Tidak apa-apa Dev, aku sudah mulai terbiasa dengan karakter suamimu yang arogan dan pemarah." ucap Bianca.


Mendengar pembelaan yang keluar dari mulut istrinya, Yudha memberikan kecupan dalam di kening istrinya.


"Hadeh..., ini malah pamer kemesraan di depan kita." sahut Sasa yang berpikir bahwa suami Dev tidak kenal malu.


Meskipun sebagai bahan ledekan, sepatah katapun tidak terlontar dari mulut Yudha. Dia malah sibuk dengan aktivitasnya sendiri, yaitu memanjakan istrinya.


"Makanya dari luar seperti suara pasar Beringharjo, ternyata pada berkumpul disini semuanya." tiba-tiba Baskara muncul dari balik pintu.


"Ha...ha...ha.., ternyata sekali-kali kita perlu berkumpul dengan anak-anak muda Bask, jadi enteng pikiran." seru Andrew setelah melihat siapa yang datang.


"Selamat ya Bask.., kamu telah mendahuluiku dipanggil sebagai kakek buyut." kata Andrew lagi sambil memeluk sahabatnya.


"By the way...., siapa nama mereka Dev," tanya Ivan yang sejak tadi diam. Matanya dari tadi menatap kedua bayi lucu yang sepertinya memiliki magnet baginya.


"Yang dibungkus kain biru namanya Zaidan Putra Yudha Baskara, dan yang kain kuning Favian Putra Yudha Baskara." kata Yudha mantap, tanpa terlebih dahulu diskusi dengan Dev dan Baskara.


Dev langsung menatap suaminya, tapi melihat kebanggaan dan kebahagiaan yang terpancar di kedua mata suaminya, Dev hanya mengangguk dan mengiyakan nama yang diberikan Yudha.


"Kamu tu aneh, masak kasih nama bayi kok sedikitpun tidak minta masukan pada orang yang telah melahirkannya. Besok kamu tidak boleh begitu lho Ren." protes Bianca sambil menggelendot manja pada Reno.


"Kan anak kita laki-laki Bianca. Kalau anak kita perempuan, maka aku yang akan memberinya nama. Tapi kalau laki-laki, Daddy nya yang harus memberi nama. Aku suka kok nama yang diberikan Daddy nya untuk bayi-bayi kami." ucap Dev yang selalu menyelamatkan suaminya.


Melihat istrinya patuh, lagi-lagi Yudha memberikan kecupan lembut, dan kali ini memberikan kecupan sekilas di bibir istrinya.


"Ihhh....., kak Yudha mesum." teriak Bianca sambil menyembunyikan mukanya di dada Reno.


"Mesum apa, kami pasangan halal. Sedangkan lihat kamu yang mempermalukan om Andrew. Bukan muhrim, dari tadi menempel kayak perangko sama laki-laki." ucap Yudha yang seperti menampar muka Reno, dan menjadikan mukanya merah padam.


"Doakan kami ya pak Yudha, dalam waktu dekat kami juga akan segera melangsungkan akad nikah." kata Reno yang langsung mengagetkan Bianca dan Andrew.


"Benarkah Ren," tanya Bianca lirih sambil menatap mata Reno.


Reno mengangguk mantap, kemudian tiba-tiba Reno duduk di lantai melipat kedua lututnya dan memegang tangan Bianca.


"Bianca..., maukah kamu menikah denganku." tanya Reno mantap sambil menatap mata kekasihnya.


Dengan rasa tak percaya Bianca menganggukkan kepala.


"Aku bersedia Ren," jawabnya lirih.


Setelah mendengar jawaban Bianca, Reno bersimpuh di kaki Andrew.


"Om.., aku memohon Bianca untuk aku nikahi om. Bolehkah." tanya Reno dengan suara tercekat.


Tanpa menjawab, Andrew mendirikan dan menegakkan tubuh Reno agar sejajar dengannya, kemudian memeluknya erat sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Aku menunggu waktu ini tiba anakku, Aku merestui kalian."


Akhirnya suasana bahagia di kamar rumah sakit karena kelahiran Favian dan Zaidan berubah menjadi suasana keharuan dan bahagia karena lamaran Reno pada Bianca.


********