Married By Incident

Married By Incident
Obrolan Malam



Jam dua siang setelah rapat rutin mingguan, Dev sedikit memiliki waktu santai di kantor. Tiba-tiba ada message masuk ke ponselnya.


"Cint..., aku kangen. Kita ketemuan yukkkk," tiba-tiba Sasa mengirim WhatsApp ke Dev.


Sasa sudah dua Minggu tidak terdengar kabarnya. Karena kesibukan, Dev juga tidak sempat menghubungi Sasa.


Akhirnya Sasa, Reno, dan Dev mengatur janji ketemuan di Pendhopo Coffe & Eatary selepas Ashar. Dev sampai di lokasi, ternyata Sasa sudah menunggu di tempat dan saat ini sedang memilih menu.


"Hai Sa..kemana aja baru nongol, ga ada kabar ga ada pesan main pergi aja." sapa Dev sambil menepuk bahu Sasa.


"Iya Dev. Papa tiba-tiba sakit, ternyata gula darah papa tinggi, ditambah ada pembengkakan jantung. So gue merasa panik banget, ga sempat kabar-kabar." jawab Sasa mengabarkan papanya yang sakit.


"Ya Allah..., sorry Sa aku ga tahu, sekarang gimana papa, dah baikan?"


" Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik, makanya gue berani balik sini."


"Syukurlah kalau begitu." sahut Dev.


Sasa memanggil waiters untuk menyampaikan pesanan.


"Loe pesen apa Dev,"


"Wedang sereh, tahu isi sayur 1 porsi," sahut Dev.


"Kopi Pendhopo 2, wedang sereh 1, cireng bumbu lotis 1, nasi bakar ikan pindang 1, tahu isi sayur 1 porsi ya mas,"


"Ya mbak, sudah saya catat. Tunggu sebentar ya." kata waiters.


Setelah waiters pergi, mereka kembali berbincang.


" Trus gimana kabar Loe Cint...., dengar-dengar loe ada insiden ya sama Andre." tanya Sasa.


"Sewaktu nungguin papa, Andre sempat nelpon gue, dia menyesal banget dah bikin Loe salah paham. Emang ada apaan."


Dev diam, sebenarnya dia sudah males banget ada urusan dengan Andre lagi.


"Memang Andre cerita apaan sama kamu Sa."


"Intinya Andre menyesal banget telah nyakitin Loe, dan pingin banget ketemu Loe untuk minta maaf."


"Dan kamu percaya dia Sa,"


"Ya gimana ya Cint, dia mendesak gue untuk atur janji buat kita ketemu sama-sama." kata Sasa.


"Sa..., jadi lama banget kamu pergi ga ada kabar, sekarang mengajak aku ketemu, hanya karena bawa amanah dari Andre ya. Dirimu tega banget sama aku Sa." protes Dev dengan rasa jengkel.


"Bukan Dev..., swear." kata Sasa sambil mengangkat dua jari kanannya ke atas.


"Tolong loe jangan salah paham sama gue ya. Kali ini gue beneran kangen banget, kan dah lama kita ga kumpul-kumpul bareng."


Dev diam dan agak jengkel dengan Sasa. Dari arah pintu terlihat Reno terburu-buru masuk.


"Sorry aku telat, banyak hambatan untuk bisa melarikan diri." ucap Reno.


"Yupz diampuni," jawab Sasa judes.


Waiters datang mengantarkan pesanan mereka. Kemudian mereka mulai menikmati makanan sebentar.


"Ren, Loe kenapa, ada masalah? Tidak tumben-tumbenan penampakan Loe kucel ." tanya Sasa.


Reno terdiam, kemudian dia meminum kopi dari cangkirnya.


"Iya, kenapa Ren. Gantengnya hilang lho, kalau acak-acakan kayak gini." kata Dev ikut menimpali.


"Iya, baru banyak masalah di kantor papa. Mungkin nanti kita agak lama tidak bisa ketemu." ucap Reno pelan.


"Memangnya kamu mau ngumpet kemana Ren? Ke planet Mars." sahut Sasa.


Reno diam seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Cerita donk Ren, kita bersahabat sudah lama kan. Bukannya setahun atau dua tahun kita kenalnya. Siapa tahu kita bisa berbagi dan saling membantu." kata Dev.


"Apa ini rentetan dari kejadian yang menimpa om kemaren Ren," tanya Sasa.


Reno mengangguk.


"Kejadian apa." tanya Dev penasaran.


"Ada somasi atas tuduhan wan prestasi terhadap perusahaan kami Dev. Padahal bukan kami yang melakukan apa yang mereka tuduhkan itu."


"Perusahaan Kusuma minta ganti rugi 200 milyar, belum lagi kerugian yang masih harus kita tutup dengan financial assets yang masih kita punya.Total kebutuhan dana yang harus kita sediakan saat ini adalah 1,2 trilliun."


Reno mengambil nafas sebentar dan menyeruput kopinya.


"Tapi kas perusahaan tidak ada senilai itu. Papa sudah berusaha mengeluarkan obligasi, tetapi suku bunga perbankan sedang tinggi. Jadi peminatnya tidak mencapai target."


"Sudah mencoba melakukan Initial Public Offering belum Ren," tanya Dev.


"Kemarin sempat mau kepikiran mau melakukan IPO, tapi kami susah mencari underwriter dan bank Kustodian. Mereka hanya bersedia menjamin perusahaan yang belum memiliki riwayat keuangan decline dalam tiga tahun terakhir." Reno menyampaikan kesulitan untuk mendapatkan dana dari IPO.


"Om sudah bicara dengan papa belum Ren," tanya Sasa


"Mama tidak mengijinkan Sa, karena dengar kabar kalo om masuk Rumah sakit."


"Trus rencanamu selanjutnya bagaimana. " tanya Dev.


"Hasil rembug keluarga, perusahaan di kota ini mau diikhlaskan. Papa mau menjual asset yang masih bisa diselamatkan. Terus aku dikirim ke New Zealand untuk menyusul mbak Ocha disana." kata Andre tertunduk lesu.


"Kan kamu bisa membantu mengelola perusahaan mbak Ocha disana, sambil menyiapkan tabungan Ren. Jika sudah terkumpul, balik ke Indonesia untuk merintis perusahaan disini." kata Sasa memberikan solusi untuk sepupunya.


"Bukan masalah itu Sa, aku hanya belum ikhlas perusahaan yang dirintis papa dari nol harus berakhir karena kelicikan teman papa." kata Reno lirih.


Mereka bertiga terdiam.


"Total cash money yang dibutuhkan berapa Ren, coba nanti aku tanya suamiku. Daripada perusahaan papamu jatuh ke orang yang tidak baik, kalau suamiku berminat akan lebih kalau diakuisisi perusahaan suamiku. Kita masih bisa kumpul sama-sama." kata Dev tiba-tiba.


Sasa dan Reno saling berpandangan, mereka berusaha menebak-nebak siapa suami Dev sesungguhnya.


"Tapi apa keluarga suamimu yang lain mengijinkan Dev," tanya Sasa khawatir. Saat ini Sasa dan Reno masih berpraduga jika Dev adalah istri kedua atau istri dari laki-laki yang sudah tua.


"Kalau belum berusaha kita tidak akan tahu jawabannya Sa.Nanti malam aku bicarakan dengan suamiku, tapi melihat mood nya dulu ya. Karena semalam suamiku juga baru ada masalah perusahaan di kantor cabang."


"Suit...suitt... hot night donk." celetuk Sasa.


"Maksudnya Sa,"


"Mari kita selesaikan pembicaraan di tempat tidur. Lancar pokoknya, ha..ha..ha..," jawab Sasa sambil ketawa ngakak.


******


"Ren, by the way... gimana nih Bianca," tanya Dev mengalihkan pembicaraan.


"Bianca...siapa lagi Ren, baru dua Minggu kita ga ketemu. Ada kamus baru Bianca." seru Sasa.


"Alah..bukan siapa-siapa Sa. Itu akal-akalan Dev saja, " sahut Reno kelimpungan.


"Drt...drt...," tiba-tiba ponsel Dev bergetar.


"Panjang umur, Bianca telpon," bisik Dev.


"Selamat siang Bia..." sapa Dev pada Bianca.


Mendengar nama Bia disebut, Reno menaruh telunjuk di depan bibirnya. Dev senyum-senyum melihat Reno mati gaya.


"Siang, Dev..lagi dimana?"


"Lagi keluar nih sama teman-teman. Biasa ngopi."


"Kok aku ga diajak, aku jenuh sendirian di kantor. Share location dong, aku boleh nyusul."


"Bentar aku tanya teman-teman dulu ya masih lama ga kita disini. Khawatirnya Bia Dateng, kita sudah pergi."


"Ok, kutunggu ya. Aku tutup dulu."


Setelah menutup telpon, Dev bertanya pada Sasa dan Reno.


"Sa, Ren... Bianca mau join boleh tidak. Kalau ok, aku share loc."


Sasa dan Dev melihat Reno. Reno diam, tapi akhirnya menggerakkan dua bahunya ke atas.


"Aku juga penasaran sih Dev, karena Reno no response, kirim share loc ke Bianca." kata Sasa.


"Siappp, laksanakan."


Dev mengirimkan share loc Pendhopo Coffe & eatery ke Bianca. Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan.


******