
Seorang kurir dari PT. Kalingga menitipkan Surat pada security di pos penjagaan Hyatt Regency. Saat itu juga, dengan sigap security mengantarkan langsung surat ke kediaman Yudha.
"Ada apa Bi Siti," tanya Dev melihat Bibi Siti tergesa-gesa mendatanginya.
"Ada titipan surat dari security komplek, katanya untuk Nyonya Muda." kata Bi Siti sambil menyerahkan amplop panjang warna putih pada Dev.
"Makasih Bi," Dev tersenyum menerima surat dengan logo PT. Kalingga. Dia sudah bisa menerka isi yang tertulis di balik amplop tersebut, dan bahkan tidak berminat untuk membaca isinya.
"Bibi kembali ke belakang ya Nyonya Muda, mau bantu-bantu pak Karta bersihkan tanaman di taman belakang." pamit Bi Siti.
"Iya Bi, apa kakek sudah pergi Bi, atau masih berada di dalam kamar."tanya Dev. Karena dari pagi dia merasa belum ketemu kakek Baskara.
"Tadi keluar cuman jalan kaki. Dengar-dengar dari ART depan rumah, katanya pak Baskara sering meninjau pembangunan rumah di sebelah rumah ini." kata Bi Siti.
Dev berpikir sejenak, tapi akhirnya dia hilangkan pikirannya. Nanti kalau Yudha ada di rumah dia bisa menanyakan pada suaminya langsung. Kemudian Dev membuka laptop, dan menelusuri email-nya satu persatu. Satu jam lebih tidak terasa dihabiskan Dev di depan komputer, sampai Baskara yang duduk di sampingnya dari tadi tidak diperhatikannya.
"Istirahatkan dulu matanya Dev, nanti mulai lagi kalau sudah segar kembali." Baskara mengingatkan Dev.
"Maaf kek, Dev tidak nyadar kalau ada kakek disini." Dev menghentikan aktivitasnya di depan laptop. Kemudian memandang ke arah Baskara.
"Tidak apa-apa. Surat apa ini," tanya Baskara sambil mengambil dan mengamati surat yang dikirimkan PT. Kalingga untuk Dev.
"Dibaca saja tidak apa-apa kek, paling surat PHK," jawab Dev santai dan tidak punya beban.
Baskara kemudian membaca isi SP I yang ditujukan untuk cucu menantunya.
"Ha...ha.. ha.., ternyata kamu asset berharga ya bagi perusahaan. Ini bukan surat PHK tapi SP I, jadi kamu masih punya kesempatan untuk balik kesana Dev. Tapi kamu harus konfirmasi dulu." kata Baskara membacakan perihal pokok isi surat, kemudian kembali merelakannya di atas meja.
"Tanpa ada surat itupun, sebenarnya Dev mau konfirmasi kek. Tapi kakek lihat sendiri kan, bagaimana posesif nya suami Dev. Semenjak pulang dari Rumah sakit Dev tidak diijinkan kemana-mana." tanpa sadar Dev curcol pada Baskara.
Baskara tersenyum menanggapi curcol Dev.
"Posesif itu artinya Yudha sangat peduli padamu, dia khawatir jika Istrinya terkena apa-apa. Apalagi ada bayinya dalam perutmu."
"Iya juga sih kek." sahut Dev.
"Dev.., kakek ada usul. Itu juga kalau kamunya setuju" tiba-tiba Baskara serius memperhatikan Dev.
"Perihal apa kek," Dev menengok ke arah Baskara.
Baskara terdiam sejenak kemudian mengambil nafas.
"Begini Dev, kakek berencana ingin balik ke luar negeri. Tapi nanti, setelah aku melihat cucu buyutku lahir ke dunia ini." Baskara tersenyum membayangkan lahirnya generasi penerusnya.
"Kakek tidak kerasan tinggal dengan Dev saat ini" tanya Dev penuh selidik.
"Bukan Dev, kakek sudah tua. Kakek akan menghabiskan masa tua di tempat kelahiran kakek. Selain itu, aku sudah tidak mau lagi repot-repot mengurus perusahaan." Baskara menghentikan perkataannya.
Dev mendengarkan setiap perkataan Baskara dengan penuh antusias.
"Kakek ada saham di PT. Diamond, dan duduk sebagai Board of Directors. Kakek bermaksud untuk mengalihkan kepemilikan saham atas namamu, yang otomatis kamu bisa ikut mengelola perusahaan itu bersama dengan Bianca. Kamu bisa menjadi salah satu Direksi di perusahaan itu." Baskara melanjutkan perkataannya.
Dev kaget dengan putusan sepihak Baskara. Tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk menolak secara langsung, sehingga dia berusaha menyampaikan argumentasi pada Baskara.
"Tapi apakah Dev mampu? Dev sangat menyukai pekerjaan kreatif di perusahaan sekarang, dan Dev juga di support oleh tim kreatif yang luar biasa handal. Dev akan kehilangan mereka, jika tidak ada di perusahaan itu lagi." Dev memikirkan bagaimana dia bisa bekerja jika tidak ada support dari timnya.
Baskara tersenyum kemudian menatap cucu menantunya itu.
"Dev, kakek tidak memaksa kamu untuk memberikan jawaban saat ini juga. Kamu itu hanya tidak mempercayai kemampuanmu sendiri."
"Dan kakek sudah lama mengamatimu, kamu jauh lebih bisa memimpin perusahaan, bahkan capability yang kamu miliki jauh melebihi Bianca." kata Baskara tidak bermaksud merendahkan Bianca.
Dev diam dengan berbagai tanya dalam pikirannya.
"Kek, beri waktu Dev untuk berpikir ya. Dev akan fokus dulu pada persalinan nanti." jawab Dev tersenyum lembut.
"Bagus Dev, itu yang utama untuk saat ini. Tapi, apapun jawabanmu, kakek tetap akan melimpahkan semua tanda kepemilikan kakek di PT. Diamond atas namamu. Kamu tidak boleh untuk menolak." sahut Baskara tegas kemudian berdiri dan meninggalkan Dev sendiri.
Dev hanya bengong melihat sikap Baskara.
"Kakek, cucu sama saja. Keras pendirian kalau punya kemauan." gumam Dev.
*******
Di dalam ruang diskusi sedang berkumpul Anggota Web Designer and Creative Team dari divisi yang dipimpin Dev. Sejak pagi mereka seperti kehilangan gairah dan semangat dalam bekerja. Isu yang membicarakan tentang kemungkinan Dev diberhentikan dari perusahaan, bergulir seperti bola panas yang tidak bisa dicegah.
"Bagaimana rencana kita selanjutnya Team," tanya Corry lesu.
"Aku tidak ikut berpendapat ya. Karena permohonan resign ku dari perusahaan ini sudah aku buat. Mungkin besok lusa akan aku masukkan ke HRD," sahut Icha.
"Jadi beneran apa yang kudengar selama ini," kata Koko memandang Icha dan Bertho. Mereka yang dilihati akhirnya menganggukkan kepala.
"Iya Ko.., maafkan kami yang tidak berani cerita dengan kalian semua. Kami sudah menikah tujuh bulan yang lalu, dengan dibantu Dev dan asisten suaminya pak Pratama." kata Bertho lirih.
"What the ****," teriak Koko merasa tak percaya. Corry apalagi, dengan ekspresi mata melotot.
Akhirnya Bertho bercerita dengan timnya kronologi mereka bisa menikah. Perasaan lega hadir di hati Bertho dan Icha karena sudah bisa mengeluarkan beban berat yang selama ini mereka tutup dengan rapat. Bertho menggenggam erat tangan Icha untuk memberi kekuatan padanya.
"Kenapa semua seperti sinetron. Dev menikah tidak sengaja, tapi ternyata suaminya luar biasa. Dan sekarang kalian berdua, menikah juga dengan tiba-tiba. Terus kapan ya aku bernasib mujur seperti kalian," Corry bergumam.
"Hei..., bangunlah jangan mengigau siang bolong." kata Koko sambil menaruh telapak tangan di depan muka Corry sambil digerakkan naik turun.
Keempat sahabat itu tertawa bersama.
"Baiklah..., mungkin kita ikut alur saja dulu. Ko.., Corr .. kalian tidak perlu khawatir. Tiga personil tambahan divisi kita juga luar biasa mereka. Tinggal mengasah sedikit saja, mereka akan menunjukkan hasilnya." sahut Bertho.
Akhirnya mereka pasrah dan mengikuti alur yang ada di perusahaan
******