
Hari-hari Dev diisi dengan kebosanan. Kamar atas, dapur, halaman belakang rutinitas Minggu ini yang dikunjungi Dev untuk melepaskan rasa bosannya. Yudha betul-betul sangat protektif menjaga Dev dan kandungannya. Meskipun istrinya masih terikat pekerjaan dengan PT. Kalingga, Yudha tidak mempedulikan. Bahkan jika ada tuntutan penalti yang harus dibayar karena kemangkiran Dev, Yudha siap untuk membayar.
"Nyonya Muda..., hari ini mau dimasakkan apa. Kebetulan bibi mau keluar dulu belanja isi kulkas, mau diantar pak Sholeh." tanya Siti pada Dev.
"Lagi tidak ada selera Bi. Aku bosan di rumah terus," kata Dev dengan muka tidak ceria seperti biasanya.
"Tidak boleh begitu Nyonya Muda, yang dipikirkan kalau makan sekarang adalah bayi yang ada di kandungan Nyonya Muda. Baiklah, bibi siapkan salad buah mix sayuran ya, untuk menghilangkan rasa eneg di perut." dengan sabar, Siti menasehati majikannya.
"Iya Bi.., terima kasih."
"Tet...tet..tet..," tiba-tiba bel pintu berbunyi.
Bibi Siti segera bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Sedangkan Dev tidak mempedulikan, dia tetap asyik melihat berita online dari ponselnya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Hyatt Regency tanpa ijin dari penghuni komplek. Jadi Dev menduga, orang yang memencet bel masuk, pastilah orang-orang yang terbiasa memiliki akses keluar masuk.
"Selamat siang Bi, Dev ada," tanya Bianca pada Bibi Siti begitu pintu dibuka.
"Ada, mari masuk Non. Pasti Nyonya Muda senang mendapat kunjungan hari ini." kata Bibi Siti mempersilakan Bianca, Reno dan Sasa masuk ke dalam rumah. Reno menyerahkan keranjang buah pada Bi Siti.
"Siapa Bi yang datang," tanya Dev mendengar Bibi Siti berbicara Sam seseorang.
"Teman-teman Nyonya Muda datang berkunjung." jawab Bibi Siti.
Bianca menaruh jari telunjuk di depan mulutnya, memberi isyarat pada Bibi Siti, agar tidak memberi tahu kedatangan mereka pada Dev.
"Non..., maaf ya. Bibi ijin mengingatkan. Nyonya Muda baru pulih dan habis dirawat dari Rumah sakit. Mohon jangan membuat Nyonya Muda terkejut." kata Bibi Siti mengingatkan mereka.
Mereka langsung tersadar, kemudian minta maaf sama Bibi Siti.
"Oh iya maaf Bi. Untungnya Bibi mengingatkan." sahut Sasa.
Kemudian dia langsung ke ruang tengah mengikuti Bibi Siti untuk menemui Dev, dengan Reno dan Sasa di belakangnya. Dev menyambut mereka dengan senyuman lebar.
"Ya Allah, terima kasih atas karunia hari ini. Akhirnya aku tidak gabut sendirian" ucap Dev sambil mengusap mukanya dengan kedua tangan.
Sasa dan Bianca langsung mendatangi Sofa tempat duduk Dev, kemudian memeluk Dev dengan penuh kerinduan.
"Kok bisa datang barengan." tanya Dev sambil menunjuk mereka satu persatu.
"Iya, kemarin Bianca ngasih tahu kalau kamu ada di RS **thesda. Tapi kami satupun tidak ada yang boleh masuk berkunjung." ucap Reno.
"Iya, maafkan. Suamiku sangat protektif menjagaku, bahkan aku tidak boleh kemana-kemana." kata Dev dengan muka muram.
"Tidak apa-apa Cint, itu tandanya suamimu sangat menyayangimu." kata Sasa menghibur sahabatnya.
"Iya sih, tapi aku juga belum melakukan serah terima pekerjaan di perusahaan. Mereka pasti mengomeliku."
"Sudah tidak usah dipikirkan. Tadi pak Baskara yang memberikan ijin aku main kesini. Akhirnya aku hubungi Reno untuk kesini sama-sama." kata Bianca.
Keempat sahabat itu berbincang tentang banyak hal. Dev sekilas menceritakan tentang kejadian naas yang menimpanya. Begitu juga dengan mereka. Bahkan saat ini, Bianca dan Reno akhirnya memutuskan untuk berkomitmen bersama.
"Aaaahhh." tiba-tiba Dev berteriak seperti kesakitan. Kemudian dia mengusap perutnya dengan tangan kanannya.
"Ada apa Dev...," tanya mereka penuh kekhawatiran.
"Kamu belum mau melahirkan kan Cint," Sasa ikut mengusap perut sahabatnya.
Dev tersenyum melihat kekhawatiran teman-temannya.
"Tidak apa-apa, HPL nya masih lama. Ini hal.yang biasa terjadi, bayiku biasa menendang perutku. Tapi ini tadi agak keras dia nendangnya." ucap Dev menenangkan teman-temannya.
"Tidak sekalian lagi lari-lari. Memangnya kamu pikir perut Dev itu lapangan olah raga." sahut Reno geli melihat tingkah teman-temannya.
Mereka tertawa bersama.
"Adik bayi..., kapan kamu mau keluar menjumpai aunty sayang," tanya Bianca sambil mendekatkan mulutnya ke perut Dev.
Tiba-tiba Reno menarik lembut leher Bianca.
"Jangan dekat-dekat berisik. Kalau bayinya bangun, nanti perut Dev bisa ditendang lagi " kata Reno.
"Iya, iya...," sahut Bianca sewot.
"Dev..., jam segini kamu belum istirahat." tiba-tiba Dev mendengar suara Yudha dari arah pintu.
Sontak Dev dan teman-temannya menengok ke arah sumber suara. Sasa tanpa sadar terbengong melihat seorang laki-laki tinggi gagah dan berwajah tampan berdiri di ruangan itu.
"Lho... kok sudah di rumah sayang," kata Dev sambil berusaha berdiri untuk menyambut kedatangan suaminya.
Yudha langsung tanggap, dia menghampiri istrinya. Kemudian dia memeluk dan memberikan kecupan di kening Dev. Sasa dan Reno tercekat tenggorokannya tidak mampu berkata-kata melihat pemandangan manis di depannya.
"Aku sengaja pulang siang untuk memastikan kalau istriku istirahat dengan baik." katanya sarkasme sambil melihat ke arah teman-teman Dev satu persatu.
Merasa ada tanda-tanda kekesalan suaminya, Dev kemudian memeluk Yudha dan memberikan ciuman di pipinya.
"Sayang, aku bisa mati kesepian kalau dikurung terus tanpa diijinkan komunikasi dengan orang lain." ucap Dev dengan mata suram.
"Mereka datang kesini karena diundang kakek Baskara. Ternyata kakek lebih memperhatikan perasaan Dev, daripada suamiku sendiri." lanjutnya lagi.
"Bukan begitu sayang. Tubuhmu baru saja pulih, kamu harus istirahat cukup. Kalau kondisimu sudah stabil, kamu baru boleh aktivitas lagi." sahut Yudha sambil membelai rambut Dev.
"Pak Yudha, mohon maafkan kami ya. Secepatnya kami akan berpamitan."
"Dan khusus, saya mewakili keluarga kami, saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan pak Yudha yang telah membantu menanamkan modal je perusahaan kami. Alhamdulillah cash flow perusahaan sudah mulai berjalan lancar." kata Reno sambil berdiri dan menjabat tangan Yudha.
Yudha menerima jabat tangan dari Reno, kemudian kembali fokus memperhatikan Dev.
"Kami pulang ya Cint..., jangan kapok menerima kami kembali," kata Sasa sambil melirik Yudha.
Dev melepaskan pelukan Yudha, kemudian mendatangi Sasa dan lainnya.
"Padahal kangenku belum habis, kalian sudah pada pamit pulang." kata Dev.
"Iya.., nanti lain waktu kita kesini lagi. Takut sama bodyguard mu Cjnt... sangar." bisik Sasa di telinga Dev.
"Ha...ha..ha.., iya iya... janji ya pada main sini lagi." Dev tertawa lebar kemudian mengantarkan teman-temannya sampai ke depan pintu.
"Naik apa Sa kesininya." tanya Dev karena tidak melihat mobil Sasa.
"Tadi bareng aku Dev, aku jemput Reno terus kita jemput Sasa." sahut Bianca.
Kemudian mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Bia..., Reno nya diikat ya, diawasi jangan dilepaskan." seru Dev sambil melihat Reno.
Reno hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol, kemudian menjalankan mobilnya.
********