
Yudha memanggil Pratama dan Kapolda untuk segera datang ke rumah sakit. Untuk mengendalikan emosinya demi menjaga perasaan Dev, Yudha meminta Pratama dan Kapolda untuk menjelaskan kekejaman Tiara pada Burhanuddin.
"Yudha..., ceritakan pada papa nak. Apa yang sebenarnya terjadi." tanya Burhanudin mendesak Yudha.
Melihat kondisi Dev, dia tidak mungkin memaksa putrinya untuk menceritakan semua. Dev terisak tidak tega melihat wajah papanya, dimana dalam usia tua harus menghadapi kenyataan. Dalam hati, Dev memiliki banyak hal yang perlu dijawab terkait hubungan Tiara dengan papanya. Namun, melihat keadaan Burhanuddin, hatinya sebagai seorang putri tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
"Tunggu orang-orang Yudha sebentar pa. Mereka yang akan menjelaskan pada papa."jawab Yudha tanpa memandang wajah Burhanuddin.
Sementara itu, Sonya tetap berada di lantai menangis memohon pengampunan untuk putrinya.
"Tok...tok...tok...," terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk," seru Yudha mempersilakan masuk.
Terlihat Pratama dan Kapolda masuk ke kamar tempat perawatan Dev.
"Selamat siang pak Yudha." sapa Kapolda.
"Siang pak Kapolda," jawab Yudha singkat.
Kemudian Yudha memberi kode pada Pratama untuk mengajak Burhanuddin keluar dari kamar. Pratama memahami kode yang diberikan bosnya.
"Mari ikut kami sebentar pak Burhan," kata Pratama mengajak Burhanuddin keluar. Burhanuddin membangunkan Sonya, dan mengajaknya keluar mengikuti Pratama dan Kapolda.
Pratama dan Kapolda menceritakan kronologi dari awal mula kejadian, bagaimana Tiara menggunakan Bukman sebagai alat untuk mencapai Dev.
"Benarkah apa yang saya dengar nak." tanya Burhanuddin dengan suara bergetar menahan emosi pada Pratama.
Dia tidak percaya jika putrinya berubah menjadi monster yang tega menghabisi nyawa seseorang. Meskipun Dev dan bayinya dinyatakan selamat, tapi mengingat putri sulungnya hampir menemui ajal karena ulah Tiara menjadikan emosinya meningkat.
Pratama menganggukkan kepala. Tiba-tiba Sonya kembali menjatuhkan badannya di lantai, kemudian mencium kaki Burhanuddin.
"Selamatkan Tiara pa, dia putri kandungmu juga. Dia sudah lama menderita pa." kata Sonya sambil bersimpuh mencium kaki Burhanuddin.
Burhanuddin mengibaskan Sonya ke samping.
"Kamu bilang Tiara menderita? Tapi bagaimana dengan Dev. Putri sulungku tinggal terpisah dan hidup sendiri selepas SMA, apakah kamu sama sekali tidak merasakan penderitaannya." Burhanuddin berkata dengan nada tinggi.
Tiba-tiba Kapolda mengingatkan bahwa saat ini mereka berada di rumah sakit yang membutuhkan suasana tenang. Burhanuddin berusaha mengendalikan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Tiara tidak salah pa, salahkan semua pada mama. Bebaskan Tiara pa." Sonya terus menangis memohon agar Burhanuddin membantunya.
Dengan mata merah, Burhanuddin menatap Sonya.
"Berarti kamu mengetahui semua ini Sonya," tanya Burhanuddin. Sonya tidak menjawab iya, tetapi juga tidak menjawab tidak.
"Aku membesarkan seorang pembunuh selama ini," kata Burhanuddin sambil menjambak rambutnya.
Pratama dan Kapolda saling berpandangan, mereka bingung bagaimana mereka harus bersikap. Mereka hanya bisa menunggu instruksi lanjutan dari Boss Yudha.
"Pak Tama, saya balik ke Polda dulu. Karena saya harus memimpin rapat koordinasi. Untuk informasi lanjutan nanti bisa disampaikan via panggilan telepon atau nanti saya mengirimkan tim saya ke lokasi." Kapolda minta ijin duluan.
"Siap, nanti kita kondisikan." jawab Pratama.
Setelah berjabatan tangan, Kapolda meninggalkan rumah sakit.
Sementara itu Sonya masih terus memohon pada Burhanuddin untuk membantunya membebaskan Tiara.
"Aku akan membuka semua kebejatan yang kamu lakukan selama ini. Kamu telah mengingkari keberadaan Tiara sebagai putri kandungmu sendiri
Label sebagai anak haram, sangat membekas dan menyakitkan hatinya sampai saat ini."
"Kamu yang menjadi akar masalah dari semuanya pa. Tiara adalah korban dari keegoisanmu yang tidak memiliki nyali untuk mengakui perbuatan bejatmu." dengan berapi-api Sonya mengungkapkan kekesalan dan isi hati yang dipendamnya selama ini.
Burhanuddin terdiam mendengar ungkapan hati Sonya. Hati seorang ibu yang menginginkan pembelaan untuk putrinya.
Pratama terhenyak mendengarkan perdebatan antara Burhanuddin dan Sonya.
Akhirnya Burhanuddin dan Sonya mendengarkan arahan Pratama, kemudian mereka berdua kembali ke kamar.
********
Dev sudah duduk di sofa dengan didampingi Yudha.
"Apa yang kamu inginkan, aku akan mengikutimu. Perasaanmu adalah hal yang utama yang harus aku jaga." tanya Yudha pelan.
"Terus terang aku dibuat bingung dengan situasi ini. Maafkan aku," kata Dev dengan mata berkaca-kaca.
Yudha memeluk Dev untuk menguatkan hatinya.
Tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Yudha melepaskan pelukannya kemudian membantu Dev menegakkan badannya. Burhanuddin masuk diikuti Sonya dan Pratama di belakangnya. Dengan muka pucat, Burhanuddin mendekati Dev kemudian memeluknya erat.
"Maafkan papa nak, kamu selalu menderita sampai selama ini, karena ketidak becusan papa untuk menjadi orang tua yang baik." Burhanuddin tidak dapat menahan air matanya.
"Papa, jangan menangis. Semoga ada hikmah di balik ini semua." kata Dev sambil memeluk balik Burhanuddin.
"Mohon maaf sebelumnya, saya hanya mau menyampaikan pesan dari Kapolda. Nyonya Muda selaku korban dalam hal ini, dimohon untuk segera memutuskan. Apakah kasus ini, mau ditangani sendiri ataukah mau dilimpahkan kepada pihak kepolisian."
Pratama menyela percakapan Burhanuddin dan Dev. Hal ini dia lakukan, agar intervensi Burhanuddin dan Sonya tidak membuyarkan keadilan yang harus diterima Dev.
Sonya menangis sesenggukan mendengar perkataan Pratama, tapi dia tidak dapat berbuat banyak. Dari dulu dia tidak pernah melakukan Dev dengan baik, dan saat ini hanya suaminya tempat untuk menggantungkan nasib Tiara.
"Dev..., maafkan papa. Semua kekacauan ini berakar pada papa sendiri." akhirnya Burhanuddin membuka masa lalunya.
"Maksud papa," kata Dev fokus memperhatikan papanya bicara.
"Tiara membalas dendam atas perlakuanku kepadanya padamu nak. Papa yang harus disalahkan."
"Tiara sebenarnya anak kandung papa sayang, sama sepertimu. Saat mama Larasati melahirkanmu, hampir satu tahun mamamu tidak bisa menjalankan tugasnya selaku seorang istri."
"Dan papa tidak mampu mengendalikan diri papa sendiri, akhirnya papa telah jahat memperkosa mama Sonya, dan akhirnya lahirlah Tiara." Burhanuddin mengakui perbuatannya pada Dev, dan tiba-tiba Dev merasakan sesak menghantam dadanya.
"Sayang, kamu kuat. Kuatkan dirimu sayang, ada aku yang selalu berada di sampingmu." bisik Yudha menguatkan Dev, kemudian memberikan satu gelas air putih untuk menenangkannya.
Setelah menelan seteguk air, Dev kembali memandang wajah Burhanuddin. Kemudian dia mengisyaratkan agar Papanya melanjutkan ceritanya.
"Karena sikap pengecut papa, papa tidak berani membuat pengakuan dan melakukan pembiaran Tiara menyandang status sebagai anak haram. Bahkan sampai saat ini." kata Burhanuddin sambil terisak.
"Papa telah mengkhianati mama Larasati nak, dan papa juga bersalah pada Sonya dan Tiara. Papa pasrah, putusan apapun yang kamu ambil, papa tidak akan melarang nak. Tapi papa merasa tenang, setelah membuat pengakuan ini." kata Burhanuddin lemah.
Sonya terkejut mendengar perkataan suaminya, tetapi diapun tidak mampu berbuat banyak. Semua terdiam mendengar pengakuan Burhanuddin, hanya suara Isak tangis yang terdengar di ruangan itu.
Setelah beberapa saat, Dev mengambil nafas panjang kemudian mulai berbicara.
"Terima kasih pa, atas kejujuran papa. Rasanya sakit dan tidak percaya kalau papa tega mengkhianati mama Larasati."
"Tapi semuanya sudah terlanjur, mama Larasati sudah tenang di alamnya. Dev yakin, mama Larasati bahagia disana setelah tahu semuanya sudah terbongkar." ucap Dev lirih.
"Mama Sonya, maafkan papa Dev ma. Maafkan atas ketidak adilan yang mama dan Tiara terima selama ini."
"Tapi untuk masalah Tiara yang mencoba untuk meracuniku, mohon maaf ma. Aku bisa memaafkannya, tetapi proses hukum biarlah berjalan secara alami." kata Dev tegas akhirnya.
Sonya kaget kemudian menatap Dev dengan tatapan tidak senang.
"Tapi aku akan minta pada suamiku, untuk membantu Tiara meringankan hukumannya. Ini sebagai shock theraphy, agar kita hati-hati mengambil keputusan di saat amarah menguasai kita." Dev mengakhiri perkataannya.
Sebelum Sonya dan Burhanudin bicara lebih lanjut, Yudha mengambil sikap tegas.
"Saya rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Pratama, antar papa dan Bu Sonya kembali ke hotel, sudah saatnya istriku istirahat."
Tiara ada yang berani membantah perkataan Yudha. Akhirnya semua kembali ke keheningan. Pratama mengarahkan Burhanuddin dan Sonya untuk meninggalkan rumah sakit.
*******,