Married By Incident

Married By Incident
Rutinitas Hari



Satu minggu sesudahnya Pratama kembali ke kota ini dengan kabar tuntas. Dia mengabarkan bahwa, Bukman akhirnya benar-benar dipenjarakan kembali disana dengan tambahan tuduhan baru, perampasan barang PT. Globe Tbk. Dia menyaksikan sendiri proses jalannya sidang, bahkan beberapa pejabat kepolisian, penjara yang berulang memberikan ijin keluar untuk Bukman juga terkena imbasnya.


"Icha...., flyer untuk acara di JEC besok sudah jadikah." Dev bertanya pada Icha.


Setelah Dev bergabung dengan PT. Diamond, satu Minggu sesudahnya Icha mengikuti jejaknya dengan menggabungkan dirinya ke perusahaan tersebut. Sehingga Dev bisa menjadi lebih santai, karena ada tim lama yang sudah terlatih bekerja under pressure bersamanya.


"Sudah, hari ini sudah naik cetak. Kita tinggal tugaskan marketing team untuk approach sama calon konsumen besok disana." Icha menjawab pertanyaan yang diajukan Dev padanya.


"Untuk plennary session besok siapa jadinya yang akan tampil. Kalau menurutku sih mendingan kamu sendiri saja Dev, jangan dari yang lain." lanjutnya lagi.


"Aku belom siap konsep Cha, kalau harus aku yang tampil. Coba pilih anak-anak marketing saja, besok aku juga akan sempatkan datang ke lokasi jika urusanku dah kelar semua." sahut Dev sambil matanya membaca beberapa dokumen di atas mejanya.


Selama Bianca mengurus pernikahannya, memang dia yang harus handle semua divisi di perusahaan ini. Semula dia agak kebingungan mencoba memahami semuanya, tapi lama-lama akhirnya dia paham juga.


"Untuk kampus ST**TC, apakah sudah ada follow up kesini, Jika belum kita harus lebih proaktif, karena di awal approach, Bianca yang mulai mendekati mereka. Aku tidak mau, nanti Bianca datang malah kita gagal menindak lanjuti ya." tanya Dev.


"Sudah selesai belum Buuu, koreksi dokumen di depannya, perasaan ada deh konsep Surat Perjanjian Kerja dengan kampus itu." sahut Icha sambil tersenyum menggoda Dev.


"Wow iyakah, sorry sorry Cha, aku belum selesai baca semua dokumen ini. He..he..he..," kata Dev sambil tersenyum malu.


"Iya...iya..., aku juga paham. Bossku ini belum istirahat dari tadi, dilihat-lihat dulu. Jika ada revisi, call me. Aku akan selesaikan sekarang juga." sahut Icha tersenyum manis.


"Okay...okay.., don.t distrub me. Aku akan review sebentar, kamu tetap di ruangan ini sebentar."


Dev kembali fokus melakukan review semua dokumen yang menumpuk di depannya. Sesekali keningnya tampak berkerut, tapi kemudian dia seperti menemukan solusinya. Icha membuka laptop di sofa depan meja kerjanya, mempelajari draft kerjaan awal yang dilakukan oleh tim dalam divisinya. Dua gadis dari PT. Kalingga itu, tampak serius meskipun kerjaan yang mereka urus di perusahaan ini, jauh lebih rumit dan lengkap.


Hampir satu jam kemudian, akhirnya Dev selesai melakukan review tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya.


"Cha.., sini sebentar." Dev memanggil Icha untuk mendekat ke meja kerjanya.


Tanpa menunggu pengulangan perintah, Icha langsung menghampiri Dev di meja kerjanya.


"Ini sudah aku kelompokkan dokumen tadi dalam tiga tumpukan. Yang tumpukan ini ok, yang tengah revisi sedikit, dan yang tumpukan ketiga ini No." Dev menjelaskan klasifikasi terhadap dokumen.


"Okay, aku bawa keluar dulu. Biar segera dibenahi sesuai peruntukan masing-masing." Icha langsung mengambil tiga tumpukan dokumen.


"Di laptop ada kerjaan apa Cha, sekalian aku tengok ya." kata Dev.


Sambil mengangguk, Icha keluar ruangan Dev. Sedangkan Dev langsung berpindah tempat duduk ke arah sofa, untuk melihat draft awal kerjaan anak-anak.


*************


Pukul empat sore Dev masih duduk manis di belakang meja kerjanya, tambahan dokumen yang ditaruh Icha terlalu menarik untuk ditinggalkan. Tiba-tiba pintu ruangan kerjanya didorong dari luar tanpa ada ketukan terlebih dahulu.


"Ada apa lagi Cha, besok lagi kalau mau nambahin kerjaan." tanya Dev tanpa melihat siapa yang datang.


"Siapa yang kamu cari, ayo segera pulang. Anak-anak sudah menanti kita di rumah." ucap Yudha perlahan.


Dia sudah berdiri di belakang kursi kerjanya, dengan tangan yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.


"Sayang, di ruangan ini ada CCTV, jangan aneh-aneh." bisik Dev malu.


"Asalkan kamu mau, aku tidak peduli mau ada CCTV ataupun tidak. Bagiku semua tidak ada pengaruhnya." ucap Yudha tanpa mengenal rasa malu.


"Iya...iya.., ini aku akhiri semua kerjaanku sayang." Dev akhirnya memilih mengakhiri semua pekerjaannya, daripada suaminya mengganggu di ruangan ini.


Dev kemudian berdiri, tetapi tubuh Yudha belum mau beranjak pergi dari posisinya terakhir kali.


"Daddy sayang..., ayo minggir sebentar dong. Katanya anak-anak keburu menunggu kita di rumah." kata Dev lembut.


"Tapi sepertinya tiba-tiba aku ingin meninggalkan jejak di ruangan ini sayang." ucap Yudha semakin berani.


Menyadari jika ruangan kerjanya terkoneksi dengan CCTV, Dev berusaha menjauhkan diri dari jangkauan Yudha. Dia kemudian hendak berjalan keluar ruangan, sambil menarik tas kerjanya. Sambil tertawa akhirnya Yudha mengikuti di belakang Dev, mereka segera bergegas meninggalkan ruangan kerja tersebut.


Tanpa mengenal malu, Yudha merangkul Dev di depan tatapan anak buahnya di sepanjang kantor PT. Diamond. Dia seperti menunjukkan status kepemilikan terhadap Dev, dan sebagai seorang istri yang sangat memahami suaminya, Dev hanya tersenyum pada anak buahnya.


Sampai depan lobby, Yudha langsung membukakan pintu mobil bagian depan. Dev segera masuk, kemudian Yudha masuk dan duduk di setir kemudi dan langsung menginjak pedal gas mobil.


"Sayang...., kok tiba-tiba aku pingin Carquake ya," tiba-tiba Yudha memiliki keinginan yang sangat gila di sore itu.


"What, hari ini kamu tidak salah makan kan," tanya Dev heran dengan keinginan Yudha.


"Ayolah sayang, aku benar-benar pingin. Penuh sensasi sepertinya, dimana kita akan lakukan." Yudha ganti bertanya pada Dev.


"Ini jalanan baru rame sayang. Mau, tiba-tiba kita didatangi sama Satpol PP. Ogah maluuuuuu." seru Dev sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kita quickie play saja, ayo kita rasakan sensasi ketahuan." Yudha terus mengejar Dev.


Tangan kiri Yudha tiba-tiba sudah berada di atas paha Dev, kemudian Dev mengangkat tangan tersebut dan mengembalikannya di atas setir kemudi.


"Daddy sayang..., terlalu beresiko sayang. Ini hari juga masih terang, nanti malam aku janji deh. Aku mau turutin keinginan Carquake." ucap Dev akhirnya untuk menghentikan keinginan gila suaminya.


Dia tidak mau, saat ini banyak CCTV di jalanan atau satpol PP tiba-tiba menggiring mereka. Yudha tersenyum penuh makna, karena keinginannya mendapatkan gayung bersambut hari ini.


"Okay, nanti malam jangan lupa janjinya." kata Yudha sambil meletakkan tangannya kembali di atas paha Dev. Sedangkan Dev sudah tidak mau lagi mengangkat kembali tangan suaminya, dia malah pura-pura memejamkan mata.


****************