Married By Incident

Married By Incident
Berkumpul Bersama



Tahun berganti tahun.., usia putra dan putri Dev dan Yudha sudah semakin besar. Pratama juga sudah memiliki satu putri yang sangat imut, dan mereka sering menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama. Seperti saat ini, mereka menghabiskan waktu mereka di Cangkringan, di gallery Dev sambil menikmati pemandangan alam.


"Vian..., baru mengerjakan apa sayang?? Tidak bisakah sebentar saja.., kamu taruh Ipad nya. Kan sayang...., mumpung kita sedang kumpul bareng nak." Dev menghampiri Vian yang dari tadi terlihat sibuk sendiri dengan Ipadnya. Padahal saat ini mereka sedang berkumpul bareng di ruang keluarga.


"Bentar ya Momm..., belum finish soalnya. Ini tidak bisa di pause, kalau Vian save ya sekalian keluar." Vian menjawab pertanyaan Mommy nya.


"Kak Vian punya janji mau ajari Aileen Coding sama bahasa pemrograman.. tapi belun juga sampai sekarang. Kapan kak ngajarinnya?" Aileen malah ikut gabung Mommy nya mengganggu Vian.


"Nanti Aileen sayang... mintalah bantuan sama kak Zidan. Dia lebih jago untuk coding, kalau kakak tidak begitu paham." sahut Vian dengan mata dan tangannya tetap fokus pada Ipad yang berada di tangannya.


"Mulai nih.., mulai..., memang pada ga suka ya, kalau melihat Zidan santai sedikit saja. Lagian kamu itu Vian..., ga ada sopan-sopannya gitu. Baru juga kita bisa kumpul, Ipad saja yang kamu lihat." protes Zidan yang lagi asyik mengupas kacang tanah dan menikmatinya sendiri.


Vian mengabaikan protes dari Zidan, dia tetap melanjutkan pekerjaannya. Yudha tersenyum melihat keakraban mereka, kemudian dia langsung mengangkat Aileen dan membawanya ke pangkuan.


"Aaaah Daddy..., sukanya gangguin Aileen. Kan Aileen lagi mau lihatin kak Vian kerja." teriak Aileen sambil memukul punggung Daddy nya.


Yudha tetap tidak mengijinkan Aileen pergi dari pangkuannya, dia malah menggelitiki putri cantiknya itu.


"Daripada kamu gangguin kakak-kakakmu.., main sama Daddy saja sayang." ucap Yudha.


"Daddy nakal Momm..., selalu ngusilin Aileen." teriak Aileen sambil tertawa-tawa.


"Daddy itu sangat sayang sama putri cantiknya. Mommy saja jadi kalah sama kamu Aileen.." Dev ikut menggoda Aileen.


"Gimana Mommy bilang sayang. Sekarang Aileen yang gantiin Mommy..." Yudha semakin menggoda putri satu-satunya itu.


"Ya sudah.., kalian lanjutkan aktivitas kalian masing-masing dulu. Mommy mau ke kamar dulu, mau melihat ada email masuk tidak, soalnya ponsel ketinggal di kamar." Dev berdiri meninggalkan mereka, dan berjalan masuk ke dalam kamar.


 


 


*****************


 


Dev berjalan ke samping gallery lewat paviliun. Dia merentangkan kedua tangannya, dan menghirup kesegaran udara dingin di tempat itu. Di kejauhan dia melihat Pratama beserta istri dan anaknya sedang berjalan-jalan di pinggir sawah. terlihat Kinan melambaikan tangannya memanggil Dev untuk bergabung.


"Oke.., tunggu aku ya. Aku akan kesana." dengan mengenakan sandal jepit, Dev segera menurunkan kakinya ke halaman dan segera menuju tempat Kinan memanggilnya.


"Ya Allah..., anugerah luar biasa pemandangan di depan kita Kinan. Merapi tampak jelas terlihat di depan kita, sedikitpun tidak ada awan yang menutupnya." seru Dev saat tangan Kinanthi menunjuk ke arah utara, tempat gunung Merapi tegak berdiri.


"Iya Kak.., bagus banget. Itu lihat di sebelah timur kak.., pohon kelapa mempercantik pemandangan." sahut Kinanthi.


"Aunty..., Aileen mana, kok ga ikut aunty??" putri Pratama dan Kinan yang bernama Meisha mendatangi Dev.


"Baru bercengkerama sama Daddy nya Mei..., kakak-kakaknya sudah pada punya kesibukan sendiri-sendiri. Yah.. daripada aunty jadi obat nyamuk, mending keluar jalan sendiri saja." Dev merespon pertanyaan Meisha.


"Papa istirahat dulu ya... Sesama perempuan pada ngumpul, giliran papa yang jadi obat nyamuk." Pratama berpamitan masuk, karena kedatangan Dev.


"Sorry Tam.., aku ganggu kalian ya?? Ya sudah.., kalian lanjutkan saja. Aku mau jalan sendiri kesana, mau lihat-lihat lapangan Golf.., siapa tahu ada pengusaha muda yang menarikku untuk main bareng. He..he..he..." sahut Dev.


"Ga Nyonya Muda.., saya hanya bercanda saja." Pratama jadi merasa tidak nyaman.


Dev menghampiri ibu-ibu petani yang baru memetik cabe di sawah. Dia turun ke sawah yang sudah dikeringkan karena untuk menanam cabai.


"Banyak bu panenan cabainya?" Dev menyapa petani perempuan itu.


"Eh ada mbaknya. Iya ini mbak.., lumayan untuk panenan sekarang. Tidak banyak hama yang menyerang, tidak seperti panenan tahun lalu, banyak yang kering duluan, padahal cabainya belum siap panen." petani perempuan itu menjawab pertanyaan Dev.


"Mungkin juga karena pengaruh cuaca ya bu?? Jadi bisa berpengaruh pada kualitas hasil panennya."


Perempuan itu kemudian menggeser hasil panenannya ke pinggir, kemudian berisitirahat sambil menikmati bekal yang sudah dia persiapkan dari rumah.


"Sini mbak.., tapi jangan ikut duduk seperti saya. Kotor.., tidak pakai alas." perempuan itu menawari Dev.


"Saya berdiri saja ga pa pa Bu. Dari tadi pagi sudah duduk-duduk terus, ternyata malah badan jadi pegal dan capai." Dev menerima tawaran perempuan itu, ikut menemaninya istirahat.


"Rumahnya dimana mbak, kok bisa jalan-jalan sampai sini?"


"Saya tinggal di gallery Ibu. Kebetulan pas kami libur ga ada aktivitas, anak dan suami saya mengajak untuk menginap di Gallery. Untuk tinggal sehari-hari, kami di kota." jawab Dev sambil tersenyum.


"Lho berarti mbak ini apanya Tuan Baskara? Dulu setahu saya Tuan Baskara menyampaikan pada masyarakat yang tinggal disini, katanya membeli Gallery ini untuk memantunya. Beruntung sekali ya yang jadi menantunya."


"Ibu tahu kakek Baskara??? Beliau itu kakek kami Bu.., saya cucu menantunya yang mendapat penghormatan menerima hadiah gallery ini dari beliau." sambil tersenyum manis, Dev menjelaskan hubungannya dengan Baskara.


"Owalah..., maaf ya Non.. Ibu tidak tahu, kalau Non itu ternyata cucu menantunya Tuan. Hampir semua penduduk di desa ini tahu beliau Non, orangnya baik dan suka bagi-bagi sama warga masyarakat yang membutuhkan." perempuan itu menceritakan kebaikan Baskara.


"Kok panggilannya diganti Bu.., tadi mbak. Kok sekarang dirubah jadi Non. Yah.., memang beliau itu sangat baik Bu.., mohon doa untuk beliau ya Bu. Semoga kakek selalu diberikan keberkahan dan manfaat."


"Aamiin... Tuan Baskara orang baik Non. Pasti tidak Non minta.. yang mendoakan juga orang banyak. Maaf ya Non tadi, saya memanggil Non dengan sebutan mbak, karena saya pikir Non hanya nyasar jalan-jalan kesini. Ternyata pemilik Gallery itu." perempuan itu malah minta maaf pada Dev.


"Sama saja Bu.., mau panggil saya apapun. Padahal sebutan mbak, tadi malah saya serasa lebih awet muda dan terlihat lebih karab lho Bu."


 


*************************


PENGUMUMAN


Bantuin Author Yukk


Author ikut Lomba Pemain Pria


Cek ya, baca dan jangan lupa LIKE


1. Sang Petarung


2. Revenge: Terlahir Kembali


Semua karya Mamah AllRey


 


Terima kasih