
Upacara pemakaman Baskara langsung dilaksanakan hari itu juga, karena sudah tidak ada lagi keluarga yang ditunggu. Beberapa kolega Baskara sebenarnya menyarankan untuk menjalankan prosesi beberapa hari dengan mengadakan proses penyemayaman terlebih dahulu. Tetapi mendasarkan pada agama yang dianut Baskara, maka lebih cepat dikebumikan lebih baik.
" Sabar ya Yudh..., semua sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Untung pas Om juga ada di Australia, jadi bisa langsung menuju kesini." Andrew memegang pundak Yudha, sejak mendapatkan kabar jika Baskara tidak ada, Andrew langsung terbang ke New Zealand.
Saat jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka, Andrew sampai di rumah Baskara.
"Terima kasih Om Andrew." ucap Yudha, tampak jelas kesedihan masih melingkupi Daddy dua putra itu. Dia kemudian bangkit dari tanah, dan melihat suaminya berdiri, Dev bersama ketiga putranya segera datang mendekati.
"Kita ke rumah saja dulu Om," Dev mengajak Andrew untuk mampir ke rumah.
"Daddy sudah ikhlas kan? Ikhlaskan kakek Dadd, agar jalan kakek di alam sana menjadi lebih tenang." Dev memegang tangan Yudha, dan Yudha memandang Dev kemudian memberikan kecupan di kening istrinya.
"Maafkan Daddy ya, sudah mengabaikan kalian semua!" Yudha merentangkan tangannya, kemudian memeluk Dev dan ketiga putranya.
"Tidak apa sayang, Ayuk kita ke rumah saja. Kasihan Om Andrew dari Australia langsung ikut ke makam. Beliau belum istirahat." ucap Dev mengingatkan.
"Tidak apa-apa Dev, Om juga tidur di pesawat. Ayok, kemungkinan Bianca dan Reno juga akan segera sampai nanti malam." kata Andrew.
Mereka kemudian bersama-sama bergegas meninggalkan pemakaman, dan langsung menuju mobil yang sudah siapa menunggu mereka.
"Bianca Om.., bukannya Bianca dan Reno ada di Jogja Om?" tanya Dev tidak percaya. Dia memandang pada wajah Andrew. Laki-laki tua itu tersenyum.
"Sudah satu Minggu, Bianca ikut Reno ke Australia. Ada acara keluarga di keluarganya Reno, sekalian mau adakan pesta ulang tahun si Danisa. Kakeknya yang meminta untuk diadakan di Sydney."
"Bagus Om kalau begitu. Besok Dev punya teman di kota ini. Nanti Danisa bisa menemani Aileen, karena anak itu sangat dekat dengan Daddy-nya. Padahal besok masih banyak letter yang harus kami urus." kata Dev terlihat senang, mendengar Bianca akan datang.
Sopir segera menjalankan mobil langsung ke rumah yang ditempati Baskara. Masih terlihat kesedihan pada Yudha, sehingga tangan Dev selalu dia usap-usapkan di punggung suaminya. Zidan dan Vian, serta Aileen juga masih diam mengenang kebersamaan mereka dengan kakek buyutnya itu.
Meskipun keinginan Baskara untuk dimakamkan menyatu dengan nenek Yudha, beserta kedua orang tuanya, tetapi kesedihan tidak dapat dihindarkan. Tidak berapa lama kemudian, mobil sudah berhenti di depan rumah.
"Mari Om Andrew.., kita masuk dulu! Om Andrew langsung ke kamar dulu saja ya untuk bersih-bersih, demikian juga dengan kami." Dev mengarahkan sahabat dari kakek Baskara itu, agar dapat istirahat dengan baik.
Dia melambaikan tangannya memanggil Nanny rumah, dan segera Nanny dengan hormat mendatangi mereka.
"Laura..., take Uncle Andrew to the guest room, okay! Serve him well!"Dev meminta Laura untuk mengantarkan Andrew ke kamar tamu, dan memintanya untuk memberikan pelayanan dengan baik.
"Fine Madam.., I will escort her to the room. Come on Mr. Andrew, I'll take you to the guest room."Laura langsung mengajak Andrew ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
"Vian.., Zidan.., kalian berdua langsung mandi ya! Sekalian antar Aileen ke kamarnya. Mommy mau menemani Daddy dulu di kamar,"
*********
Lawyer Baskara membacakan surat wasiat yang dituliskan almarhum, dan menunjuk kedua cucunya Vian dan Zidan untuk mewarisi semua asset Baskara yang ada di New Zealand. Sedangkan Aileen mendapatkan pembagian asset yang ada di Jakarta. Setelah menandatangani persetujuan surat wasiat tersebut, lawyer segera pamit. Dalam waktu singkat, atas pesan dari Yudha untuk segera melegalkan kepemilikan asset atas nama putranya masing-masing.
"Kalian kecil-kecil cabe rawit ya, sudah menjadi triliuner." goda Bianca pada ketiga putra Yudha dan Dev
"Apa itu triliuner aunty?" tanya Ailee dengan polosnya.
"Triliuner itu Boba tea pakai puding di dalamnya, seperti minuman kesukaan kamu itu Leen. Gulanya pakai gula aren." sahut Zidan mengerjain adiknya.
"Kak Zidan mah sukanya begitu, suka ngeledek terus kalau sama Aileen. Danisa.., ikut Aileen saja yuk!" Aileen langsung menarik tangan Danisa dan mengajaknya mainan di kamar.
Kedua gadis kecil yang sama-sama imut itu, bergandengan tangan memasuki kamar. Kedua kakaknya hanya tertawa melihat Aileen ngambek dan meninggalkannya. Aileen dan Danisa memiliki usia beda 1,5 tahun, agak tuaan Aileen.
Bianca dan Reno mendatangi Yudha dan Dev. Suami sahabatnya itu terlihat seperti masih ada garis kesedihan di wajahnya. Dan Dev dengan setia terus menguatkan suaminya itu. Sedikitpun Dev tidak membiarkan Yudha melakukan apa-apa sendiri. Dia akan selalu tanggap dengan apa yang diinginkan pasangannya.
"Sorry ya Bia.., Reno.., aku dari tadi masih tidak mempedulikan kalian." melihat kedatangan kedua temannya, Dev kemudian menyapanya. Saat ini Dev duduk di sofa, dengan Yudha yang tidur dengan menggunakan pangkuan Dev sebagai bantalan.
"Halah..., santai saja kali. Kita juga maklum, karena masih banyak yang harus dibereskan. Apalagi kakek tinggal jauh dari kalian, asset dimana saja, kalian juga tidak tahu kan." kata Reno memaklumi penyambutan mereka.
"Iya sih Ren.., tapi alhamdulilah. teman-teman maupun employee perusahaan kakek Baskara langsung menemui Daddy-nya anak-anak. Mereka menyampaikan dan melaporkan dimana saja asset kakek, yang sampai sekarang Yudha sendiri juga tidak tahu." Dev menjelaskan, sambil sesekali tangannya mengusap lembut rambut suaminya.
"Biasanya employee akan memperlakukan kita, sama seperti bagaimana kita memperlakukan mereka. Itu kan Dev, yang selalu kamu ingatkan padaku. Agar aku tidak boleh semena-mena memperlakukan karyawan di perusahaan kita." Bianca mengingatkan kembali tentang kalimat yang selalu disampaikan Dev padanya.
********
Satu minggu dihabiskan Yudha dan Dev untuk pengambilan alihan asset-asset Baskara, dan langsung diatas namakan pada ketiga putra-putrinya. Meskipun asset baru akan secara resmi mereka miliki sepenuhnya, jika mereka sudah berusia 17 tahun.
"Sudah siap Dadd.., nanti malam kita jadi terbang kan? Kita pulang kembali ke Jogja?" Dev menanyakan kesiapan suaminya untuk meninggalkan New Zealand.
"Iya Momm..., karena tidak mungkin juga kita akan meninggalkan perusahaan di Jogja lama-lama. Kasihan Pratama jika harus mengurusnya sendirian." jawab Yudha. Dia memandang Dev dengan penuh kasih, kemudian tanpa diduga, dia memeluk erat tubuh Dev dan menghujaninya dengan ciuman.
"Terima kasih Momm.., betul-betul Mommy adalah wanita kiriman Tuhan untukku."
**********