Married By Incident

Married By Incident
Penyatuan



"Bagaimana kabarmu Dev, mengapa kamu pindah tanpa memberi tahu kita," tanya Sasa. Mereka berempat Sasa, Ivan, Reno dan Dev saat ini sedang berkumpul bareng makan nasi Hainan bebek di Kopi *M Jati kencana.


"Kemaren aku tidak sempat berpikir Cint...kamar akan segera ditempati yang punya apartemen. Karena aku bayarnya bulanan, yah mau tidak mau aku harus pindah segera."


"Itupun tanpa persiapan aku pindahnya, hanya semalam kamar harus sudah dikosongkan." Dev mencari alasan untuk teman-temannya agar mereka tidak curiga.


"Sekejam itukah pemilik apartemen yang kamu tempati." kata Ivan.


"Bukannya kejam Van, memang sudah sejak tiga bulan yang lalu ibu pemilik apartemen sudah menyampaikan jika setelah anaknya menikah, apartemen tidak akan disewakan."


"Tapi pikirku nikahnya masih lama, ternyata yah.. beginilah jadinya aku." Dev merasa berdosa telah berbohong, bahkan menggunakan alasan pemilik apartemen untuk meyakinkan teman-temannya.


Padahal Yudha membayar mahal kepada pemilik apartemen, karena membatalkan kontrak sewa kamar secara sepihak.


"Sekarang kamu tinggal dimana." sahut Reno sambil menjepit potongan daging bebek menggunakan sumpit.


"Aku sementara tinggal di tempat keluargaku di Hyatt Regency. Dan sepertinya ke depan, aku akan jarang kumpul-kumpul dengan kalian kalau waktunya malam hari."


"Buset...jangan bilang loe dikurung Dev." Sasa kaget sampai mau keselek mendengar ucapan Dev. Dengan penuh perhatian, Ivan memberikan air minumnya kepada Sasa.


"Bukannya dikurung Cint, tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana keamanan di komplek Hyatt Regency. Tidak semua orang bisa keluar masuk komplek tanpa ada ijin dari pemilik rumah."


"Aku dibolehkan tidak Dev maen ke sana?" tanya Reno.


"Ehmmm..., ehmm... ada yang modus nih." ledek Sasa sambil mengedipkan sebelah matanya.


"He...he... bukan modus Sasa usil, Khan lagi berupaya." sahut Reno.


"Inshaa Allah boleh Ren, tapi harus kasih tahu dulu ya. Siapa tahu pas kamu main, akunya malah sedang tidak di rumah." Dev berencana akan minta pada Yudha untuk mengijinkan teman-temannya berkunjung.


"Udah ah ngobrolnya, Ayuk makan dulu."


Keempat sahabat itu menghabiskan sore dengan bersenda gurau bersama. Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 17.45. Khawatir akan suaminya yang posesif, Dev mengajak teman-temannya untuk pulang.


"Aku antar Dev," Reno menawarkan untuk mengantar Dev pulang.


"Aku sudah dijemput Ren, itu sopirnya sudah nunggu di tempat parkir." Dev menunjuk pak Sholeh yang sedang menunggunya di samping mobil **Nova Reborn.


"Siapa itu"


"Dia sopir keluargaku, namanya pak Sholeh."


"Dev, tolong jujur padaku ya. Sejak kapan kamu punya keluarga di kota ini." tanya Reno penuh selidik.


"Sebenarnya ada Ren, cuman aku tidak pernah menceritakannya pada kalian semua. Sudah ya, aku duluan. Kasian pak Sholeh sudah menunggu dari tadi." jawab Dev mengakhiri pembicaraan.


Reno mengantarkan Dev sampai di tempat parkir. Dia membukakan pintu untuk Dev.


"Hati-hati ya. Kabari kalau sudah sampai."


"Ok, makasih. Assalamualaikum," pamit Dev.


"Wa Alaikum salam."


*****


Sampai di halaman rumah, Dev melihat Porsche Cayman sudah parkir di garasi yang menandakan bahwa suaminya sudah ada di rumah.


"Tuan ada di belakang Nyonya Muda, sedang treadmill di teras belakang dari tadi jam 17.00." Bi Siti memberi tahu keberadaan Yudha.


"Iya Nyonya Muda, saya tidak enak meninggalkan Tuan sendiri, khawatirnya Tuan membutuhkan sesuatu. Karena saat ini Nyonya Muda sudah pulang, bibi ijin balik ke rumah besar ya."


"Baik bi... hati-hati ya." Dev segera menyusul Yudha di teras belakang.Yudha masih lari diatas treadmill. Terlihat peluh mengalir di tubuh Yudha yang gagah dengan roti sobek di perutnya.


"Ternyata suamiku sangat tampan jika tidak mengenakan baju." Dev tersipu sendiri ketika membayangkan tubuh gagah suaminya.


Melihat kehadiran Dev, Yudha menghentikan olahraga dan menghampiri istrinya. Dev mengulungkan botol air mineral, kemudian Yudha menghabiskannya sekaligus.


"Sudah lama sampainya di rumah Yudh. Maaf ya aku pulang terlambat, karena tadi diajak kumpul sama teman-teman baikku." kata Dev menyampaikan alasan keterlambatan nya.


Dia mengambil handuk kecil yang tersimpan di lemari kecil pojok ruangan, kemudian perlahan menyeka keringat di tubuh suaminya. Yudha tersenyum bahagia menerima perhatian kecil dari istrinya.


"Yah, tadi jam 16.00 sudah sampai. Kebetulan tadi ketemu mitra, dan pulangnya arah sini, yah akhirnya sekalian pulang deh."


"Masuk yuk, dah Maghrib." ajak Yudha sambil merengkuh bahu Dev dan membawanya menaiki tangga ke atas.Dev membiarkan Yudha merangkulnya sambil berjalan, meskipun badan suaminya penuh keringat.


Yudha juga sedikit mulai memahami kepentingan Dev, meskipun dalam hati kecilnya kurang setuju jika istrinya pulang terlambat. Namun untuk mengambil hati Dev, dia mencoba untuk mengalah.


Di lantai atas


"Mandilah terlebih dahulu, aku akan mengeringkan keringatku."


" Dan kamu tdak perlu menyiapkan makan malam, tadi Bi Siti sepertinya sudah meninggalkan masakan. Kalau kamu ingin makan dalam keadaan panas, tinggal memanaskan sebentar di microwave." ucap Yudha kepada Dev.


"Kebetulan aku sudah makan tadi sama teman-teman. Tapi, nanti kalau kamu ingin makan, aku akan menemanimu."


Baiklah, aku akan mandi dulu." sahut Dev, kemudian dia mengambil handuk kimono dan melangkah ke kamar mandi. Setelah menutup pintu kamar mandi, Dev mengalirkan air hangat ke bath up. Perlahan dia melepaskan bajunya satu persatu, dan masuk kedalam bath up untuk berendam.


Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Tanpa disadari oleh Dev, suaminya sudah berada di dalam kamar mandi yang sama. Dev memejamkan air matanya menikmati kenyamanan berendam air hangat.


Yudha terpaku penuh keinginan melihat untuk pertama kalinya tubuh Dev terekspos tanpa satupun penutup. Kulitnya putih bersih tanpa cela seakan mengundang Yudha untuk melihatnya tanpa berkedip. Hasrat warisan manusia purba yang bersarang di dalam tubuh Yudha, meletup-letup dan meronta untuk keluar.


Dev merasa ada sepasang mata yang mengawasinya, perlahan dia membuka matanya.


"Aaaa." Dev berteriak terkejut karena melihat Yudha berdiri di depannya. Seketika dia kebingungan mencari sesuatu untuk menutupi badannya.


"Ssttt...., tidak perlu berteriak Dev. Dan tidak perlu mencari penutup, karena aku sudah melihat setiap inci dari tubuhmu."


"Apakah aku boleh bergabung." tanya Yudha lembut. Yudha menurunkan tubuhnya yang tinggi kemudian duduk melipat kakinya ke belakang di samping bath up. Matanya terus melihat dan mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depannya tanpa berkedip.


Dev tidak berani menatap Yudha, hanya kepanikan yang saat ini dia rasakan.


"Apakah aku sudah siap untuk mengabdi seutuhnya pada suamiku." tanya Dev dalam hati. Setelah memantapkan hatinya, dengan malu-malu Dev memberanikan diri menatap suaminya. Mata keduanya bertemu, dan Dev menganggukkan kepalanya.


Yudha tersenyum lembut, kemudian mencium mesra kening Dev dan membawa Dev untuk berdiri. Tangannya dengan sigap menyalakan kran shower, kemudian memeluk erat tubuh Dev di bawah guyuran air shower. Di bawah pancuran air, Dev betul-betul merasa gugup. Dengan satu tangan, Yudha meraih tangan Dev di pinggangnya kemudian mengangkatnya dan menempelkan di bibirnya.


Ribuan lebah seperti berdengung di telinga Dev. Untuk pertama kalinya dia merasakan tubuhnya lemah lunglai tak bertenaga. Dev belum pernah merasakan ciuman sebelumnya dengan laki-laki manapun. Ciuman lembut suaminya di telapak tangannya membuatnya seperti hilang kendali. Di bawah pancuran shower, Dev terpesona melihat wajah tampan suaminya.


"Dev ..aku tidak bisa kembali." bisik Yudha di telinga Dev yang memerah.


Kemudian Yudha mengambil handuk, dan membalut tubuh Dev. Dengan romantis Yudha mengangkat tubuh Dev dengan gaya bridal style dan membawanya keluar dari kamar mandi. Dia meletakkan tubuh Dev di atas king size bed. Setelah terjadi pergulatan yang manis, Yudha berbisik lembut.


"Apakah kamu sudah siap," setelah memastikan Dev mengangguk setuju, Yudha melakukan penyatuan. Dev merintih kesakitan, karena yang terjadi di malam ini merupakan pengalaman baru dan pertamakali bagi dirinya. Yudha berhenti sejenak, tapi Dev mengisyaratkan untuk melanjutkan nya. Akhirnya malam ini, Dev sudah menyerahkan diri seutuhnya kepada suaminya.


****