Married By Incident

Married By Incident
Pembukaan



Beberapa orang gelisah dan panik ikut datang ke rumah sakit untuk menunggu persalinan pewaris tahta PT. Globe Tbk. Yudha orang pertama yang paling panik dan pusing, dan Pratama adalah orang kedua yang ikut merasakan dampak perubahan emosi Yudha.


Dev sendiri merasa santai menunggu meskipun HPL sudah terlewati, rasa nyeri timbul hilang semakin sering datang mengganggunya. Beberapa dokter ditugaskan untuk memantau proses persalinan, dan dari hasil pemeriksaan dokter kondisi ibu dan janin semuanya baik-baik saja. Yudha semakin mudah marah dan merasa semakin menderita daripada Dev yang akan melahirkan.


"Bagaimana dokter, keadaan istri saya," tanya Yudha dengan cemas.


"Ibu Devina baik-baik saja dan dalam keadaan sehat."


"Tapi kapan bayi itu akan keluar. Dia sudah sangat menyiksa istri saya." kata Yudha memprotes situasi.


"Boss..., kasihan bayinya jangan diomeli boss." Pratama mengingatkan Yudha.


"Kamu tahu apa Pratama, tidak usah banyak bicara. Kamu belum menikah. Istriku kesakitan tapi kamu malah bicara tak berguna." Yudha gantian mengomeli Pratama.


Dokter saling berpandangan melihat perdebatan di depannya, mau tertawa tapi mereka tidak berani melakukannya.


"Pak Yudha, untuk persalinan normal kita tidak akan bisa memperkirakan kapan bayi akan keluar. Semua tergantung dari pembukaan alami pada jalur lahir pada leher rahim atau serviks. Saat ini pembukaan baru pada pembukaan tiga cm belum ada penambahan." dokter hati-hati menjelaskan pada Yudha yang nampak mudah tersulut emosi.


"Untuk bisa keluar, kira-kira berapa cm leher rahim istri saya harus membuka. Apa segede kepala bayi." tanya Yudha yang tambah cemas mendapatkan penjelasan dari dokter.


"Bisa sampai 10 pak, tapi biasanya kalau sudah pembukaan 6 cm ke atas, proses membukanya akan semakin cepat."


"Ya Allah..., berapa lama istriku akan menderita." ucap Yudha sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Atau mungkin mau menggunakan jalan operasi agar ibu tidak menjalani proses persalinan normal." dokter menawarkan solusi.


"Apa kalian pikir, perut istri saya itu perut ikan yang dengan mudah digunakan sebagai mainan." kata Yudha dengan nada tinggi.


Melihat emosi cucunya, Baskara segera menenangkan Yudha.


"Temani Istrimu di dalam, mungkin dia dan anakmu butuh teman bicara." kata Baskara lembut.


Tersentak mendengar nasehat Baskara,. Yudha segera masuk ke kamar menjumpai Dev. Dokter dan beberapa orang yang berada di situ terlihat tersenyum dan mengambil nafas lega.


Begitu masuk ke dalam kamar, Yudha melihat Dev terlihat santai memainkan ponsel di tangannya. Segera Yudha duduk di samping Dev, kemudian mengusap perut istrinya.


"Hey... kalau berani ayo segera keluar, bertarung dengan Daddy. Jangan siksa mommy seperti ini." kata Yudha sambil mendekatkan bibirnya di perut Dev.


Hati Dev mendadak nyeri melihat cekungan hitam di bawah mata suaminya.


"Tidurlah disini sayang, sambil menenangkan baby agar segera keluar." ucap Dev.


"Aku takut akan mendesakmu." kata Yudha.


"Naiklah... ini bukan single bed sayang, ini ukuran queen cukup untuk kita berdua. Saat ini mommy pingin dipeluk sama Daddy." Dev merayu Yudha, agar hatinya menjadi tenang dan beristirahat.


Tanpa menunggu diperintah dua kali, Yudha naik dan segera merebahkan tubuhnya di samping Dev. Tangannya memeluk perut Dev yang sedang duduk.


"Kira-kira kapan ya si Mucil ini akan keluar ya Mom...," tanya Yudha.


"Awas saja kalau sudah keluar nanti, akan Daddy hukum karena sudah menyiksa istri Daddy."


Dev tersenyum melihat sifat kekanak-kanakan Yudha, kemudian dia mengelus rambut suaminya. Tidak lama Yudha tertidur pulas di samping Dev. Pintu dibuka dari luar, Baskara dan Pratama tersenyum memandang si trouble maker tertidur pulas disamping Dev


"Ini siapa yang nunggu dan siapa yang ditunggu." gumam Baskara pusing melihat kelakuan cucunya.


"Tidak apa-apa kek, mungkin suami Dev kecapaian. Kakek pulang saja istirahat di rumah. Sudah ada Yudha yang nemani Dev disini." kata Dev meminta Baskara menunggu di rumah.


"Aku tidak akan kehilangan momen menyaksikan buyutku untuk pertama kalinya hadir di dunia ini. Kakek tidak akan mengganggu kalian, aku akan diluar istirahat di sofa dengan Pratama."


Pratama tersenyum menganggukkan kepala.


******


Pukul sebelas malam, Dev merasakan kontraksi yang hebat. Tidak mau membuat keributan, Dev menekan tombol emergency untuk memanggil dokter jaga. Bibirnya mendesis menahan nyeri hebat di perutnya, dengan paru-paru yang seperti terpompa cepat. Tangannya mencengkeram erat sprei di bawahnya.


"Bagaimana Bu, apa yang dirasakan." tanya dokter yang segera datang dan didampingi seorang perawat wanita. Keduanya bertatap mata melihat Yudha yang tidur pulas di ranjang pasien. Tapi mereka tahu, bahwa suami pasien bukan orang yang bisa mereka tegur dengan sembarangan.


"Perut saya kontraksi lagi Dokter." ucap Dev lirih sambil menggigit bibirnya menahan nyeri.


Merasakan ada gerakan, spontan Yudha terbangun dan begitu melihat dokter dan perawat dia menjadi panik kembali.


"Kami cek dulu ibu. Tolong lututnya ditekuk ke atas dengan posisi mengangkang ya Bu, untuk memudahkan kami memeriksa pembukaan." kata Dokter. Dev menuruti anjuran dokter, dan segera dengan mengenakan sarung tangan, dokter memasukkan jarinya ke bagian inti Dev.


Melihat treatment dokter pada istrinya,. Yudha mulai naik emosinya.


"Kamu apakan istriku dokter," bentaknya dengan nada tinggi.


"Tolong bekerjasama sayang, aku hanya akan melahirkan, bukan sakit karena penyakit tertentu." kata Dev yang menahan sakit tapi masih harus menenangkan suaminya.


"Aku janji padamu sayang, aku dan bayi kita akan baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu denganku, aku bebaskan kamu untuk melakukan apapun." Dev melanjutkan perkataannya.


Mendengar kegaduhan di dalam, Baskara dan Pratama segera masuk ke ruangan.


"Sudah bukaan tujuh, tolong persiapkan semuanya." seru dokter memerintah perawat.


"Keluarlah sayang, aku tidak mau kamu terganggu psikologis jika menyaksikan proses persalinan." ucap Dev sambil meringis kesakitan. Kembali tangannya meremas sprei rumah sakit.


Mendengar perkataan Dev, Pratama dan Baskara dengan sigap menarik Yudha dan membawanya keluar ruangan. Tanpa melawan Yudha pasrah dibawa keluar.


Begitu Yudha keluar, rasa sakit dan nyeri hebat kembali datang, bahkan Dev merasa paru-parunya sudah tidak mampu bernafas lagi. Tangan Dev berpegangan erat dengan pinggiran queen bed.


Di luar ruangan, Yudha Wira Wiri jalan di depan pintu dengan gelisah. Rasa takut akan kehilangan Dev betul-betul menyiksanya. Dia berpikir jika tahu bagaimana istrinya kesakitan, dia tidak akan mengijinkan istrinya memiliki anak. Yudha yang terbiasa arogan, garang dan tegar, saat ini dia tampak seperti kayu lapuk yang mudah hancur.


Pratama dan Baskara sudah tidak dapat mengendalikan Yudha, mereka berdua hanya melakukan pengawasan gerak geriknya.


*******