Married By Incident

Married By Incident
Suamiku, Lelakiku, Surgaku....



Pagi hari Dev merasakan badannya seperti tertindih barang berat, perlahan dia membuka matanya. Betapa terkejutnya ketika melihat ada lengan Yudha melingkari pinggangnya, dengan satu kaki berada di atas pahanya. Yang lebih mengejutkan lagi guling pembatas tidur yang dia pasang ditengah sudah pindah ke sisi kirinya, dan posisi tidurnya sangat memalukan. Tanpa dia sadari badannya sudah merapat ke sisi kanan di sebelah Yudha. Perlahan dia menyingkirkan lengan dan kaki Yudha dari badannya, kemudian dengan muka memerah dia melangkah ke kamar mandi.


Dia berjalan seperti tidak terjadi apa-apa, dan sampai di kamar mandi dia memeriksa pakaian dan badannya.


"Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, aku masih utuh," bisiknya penuh kelegaan pada dirinya sendiri.


Dia sangat yakin bahwa semalam tidak terjadi apa-apa, karena berdasarkan artikel yang pernah Dev baca, seorang perempuan yang habis melakukan hubungan pada malam pertama, akan merasakan kesakitan pada bagian intinya dan akan bertambah sakit jika digunakan untuk berjalan. Kondisinya saat ini masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Pakaian dalam yang dia kenakan masih utuh, demikian juga kancing baju piyama yang dia kenakan masih lengkap terpasang pada tempatnya.


Kemudian dia segera mandi karena harus ke apartemennya dulu untuk mengambil perlengkapan kerjanya.


Di tempat tidur, Yudha yang pura-pura masih tertidur dan memejamkan matanya tersenyum seorang diri. Dia mengingat bagaimana semalam dirinya harus berusaha sekuat tenaga menahan gejolak warisan purba yang tiba-tiba muncul dari dalam otaknya. Dia masih laki-laki normal dengan semua panca indera yang lengkap.


Tengah malam setelah dia membereskan semua urusannya, dia bermaksud untuk segera tidur. Baru saja dia merebahkan badannya, Dev tiba-tiba menggeliat dan merapatkan badannya ke badan Yudha. Seolah menemukan rasa hangat, Dev langsung meringkuk tenang dan menyembunyikan wajahnya di dada Yudha.


Menyaksikan istrinya yang mendapatkan kenyamanan di dadanya, Yudha tidak mau mengabaikannya. Dia ikut merapatkan badannya dan memeluk erat istrinya, meskipun ada desakan dari dalam perutnya yang meronta untuk berlari bebas. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya, dia tidak akan memaksa Dev kecuali karena kerelaan Dev sendiri. Dengan lembut dia mencium kening istrinya, dan segera ikut memejamkan matanya.


****


Seusai mandi, karena melihat Yudha masih tertidur pulas, Dev pergi ke dapur untuk memasak air. Kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan sehari-hari adalah satu gelas teh Nasgithel (panas kental manis) untuk mengawali harinya. Kemudian dia merebus air untuk membuat teh Nasgithel.


Sembari menunggu air mendidih, perlahan dia membuka kulkas, dan sedikit tertegun karena kulkas yang tadi malam dalam keadaan kosong sekarang sudah penuh terisi.


"Ah.. paling bi Siti yang berbelanja." pikir Dev.


Setelah diam sejenak, Dev memutuskan untuk membuat sop ayam, sambal tomat dan perkedel untuk sarapan. Dengan cekatan tangannya memotong sayuran, daging ayam, serta mengupas kentang. Satu jam kemudian semua masakan sudah siap untuk disajikan.


"Pagi istriku..., aku mencium bau harum masakan mengisi rongga paru-paruku pagi ini. Ternyata istriku sudah sibuk menyiapkan sarapan." sapa Yudha tiba-tiba. Bau harum sabun mandi bercampur maskulinitas laki-laki tercium di hidung Dev.


"Duduklah dulu, aku tidak tahu apa kebiasaanmu di pagi hari. Kalau kebiasaanku setiap pagi adalah teh manis panas, sarapan dan baru siap untuk aktivitas selanjutnya."


"Jadi maaf, aku belum menyiapkan minuman untukmu. Katakan apa yang pagi ini harus kusiapkan, aku akan membuatnya sekarang." ucap Dev.


"Buatkan aku kopi panas dengan brown sugar. Aku tidak memiliki kebiasaan makan nasi di pagi hari, jadi siapkan roti gandum tawar saja dioles selai kacang."


"Tunggu sebentar akan kusiapkan. Karena pagi ini aku masak cukup banyak, aku akan membawanya sebagian ke tempat kerja."


"Kalau begitu, Bi Siti tidak perlu menginap disini. Dia hanya datang untuk membersihkan rumah, laundry dan pekerjaan berat lainnya. Aku ingin setiap hari kamu yang melayaniku, dan rumah ini khusus privacy kita."


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, aku ngikut saja."


*****


Yudha melirik istrinya yang dengan lahap menyantap sarapan nasi, sop ayam, perkedel dan sambal tomat. Kemudian dia melihati piringnya, dua potong roti saja dari tadi belum dia habiskan. Sangat kontras jika dibandingkan dengan kenikmatan yang dirasakan Dev.


"Apakah enak." tanya Yudha tiba-tiba.


"Mau...??? Aku tidak bisa mengatakan enak atau tidak, karena bagiku semua makanan hanya ada dua definisi. Yaitu enak dan enak banget. Nyammm....nyammm...nyammm." goda Dev.


Dengan segera Dev menyiapkan nasi untuk Yudha.


"Ini sedikit dulu ya. Takutku nanti ga habis, kan mubadzir."


Yudha menyendok sedikit dan memasukkan ke dalam mulutnya. Dia mulai mengunyah, dan berhenti sejenak.


"Kenapa, tidak enak ya? Sudahlah, tidak usah dihabiskan." seru Dev sambil berusaha mengambil piring Yudha. Reflek, Yudha menahan piringnya dan melanjutkan makannya.


"Enak banget masakannya. Siapkan juga di ******ware, hari ini aku akan membawanya untuk makan siang di kantor."


"Benarkah." tanya Dev kaget.


"Aku tidak akan mengulangi lagi perkataan ku."


Akhirnya pagi ini Yudha dan Dev untuk pertama kalinya sarapan bersama dengan menu rumahan. Bahkan Dev menyiapkan dua porsi di *****ware untuk bekal mereka makan siang.


*****


"Bersiap-siaplah, pak Sholeh akan mengantarkanmu ke kantor hari ini. Atau kalau kamu mau, nanti biar Pratama menyiapkan satu mobil untukmu." ucap Yudha setelah mereka selesai sarapan.


"Tidak perlu, aku akan naik ojek online saja. Lebih cepat dan lebih praktis." jawab Dev cepat.


"Ingat statusmu Dev. Kamu adalah istri dari Andhi Yudha Baskara. Kalau kamu tidak memilih satu opsi dari yang baru saja kutawarkan, aku sendiri yang akan mengantar jemput." tegas Yudha.


"Tidak perlu seperti itu. Baiklah hari ini aku memilih pak Sholeh yang akan mengantar dan menjemputku. Tapi sebelumnya, aku akan ke apartemen untuk mengambil perlengkapan ku." sahut Dev segera. Dia tidak ingin membuat Yudha marah, dan memutuskan untuk antar jemput ke tempatnya bekerja.


"Bisa geger dunia persilatan." pikir Dev.


Yudha tiba-tiba menarik Dev ke ruangan tengah, dan membuka pintu kamar. Kemudian tangannya menyalakan lampu saklar.


"Tidak perlu kemana-mana, kunci apartemenmu sudah dikembalikan Pratama ke pemiliknya. Semua barang dan perlengkapan milikmu sudah dipindahkan dan diatur di kamar ini."


"Bersiap-siaplah, pak Sholeh akan segera datang untuk mengantarmu." Yudha segera keluar dari kamar meninggalkan Dev.


Ternganga Dev melihat semua barang dan pernik-perniknya sudah berada di kamar ini. Bahkan semua barang sudah tersusun rapi tanpa kesulitan untuk mencarinya.


"Berarti semalam Yudha ijin untuk membereskan urusannya adalah untuk mengatur ini semua." bisik Dev terharu.


Kehangatan kembali merambati hatinya, matanya berkaca-kaca karena rasa haru yang menerpanya.


"Dia suamiku, dia lelakiku, dialah surgaku." Terimakasih ya Allah, atas anugerah yang telah Engkau limpahkan padaku. Aamiin." dalam hati Dev berdoa dalam keharuan.


*****