
Tiba-tiba dari arah Ringrod Barat Yudha membelokkan arah mobil ke kanan, dan setelah melewati seratus meter. putar bakik ke utara dan memasuki hotel Rich *ogja"
"Kita mau kemana Yudh." tanya Dev penuh pertanyaan.
"Sudah ngikut saja." jawab Yudha sambil senyum-senyum.
Yudha menghentikan mobil di depan lobby hotel dan menyerahkan kunci kepada petugas valley. Dengan tergesa Yudha menarik tangan Dev, kemudian membawanya menuju receptions.
Di depan petugas, Yudha mengeluarkan VIP member card, dan tak lama satu kartu akses diberikan petugas kepada Yudha.
"Permisi pak, kamarnya Presidential suite lantai tujuh bapak, dengan senang hati petugas room service akan melayani. Selamat sore." kata petugas receptions dengan ramah.
Setelah menerima kartu akses Yudha segera membawa Dev memasuki lift dan langsung menuju lantai tujuh. Dev yang bengong tidak memahami rencana Yudha, hanya mengikuti kemana suaminya akan membawanya.
"Yudh..., jangan gila. untuk apa kamu membawaku kesini."
"Aku belum membawamu pergi bulan madu sayang, untuk sementara kita disini dulu ya malam ini. Aku menginginkan suasana yang lain." Yudha menjelaskan kepada Dev tujuannya, dengan tatapan mesum.
"Hush... aku tidak membawa baju." bisik Dev.
"Gampang, sebentar lagi Pratama akan mengirimkan nya kesini." jawabnya sambil tersenyum.
Mereka memasuki kamar Presidential suite, dan Dev dibuat terpaku dengan kemewahan yang tersaji di depannya. Kamar ini memiliki balkon yang luas dengan menghadap ke Utara dengan view Gunung Merapi.
Dev membuka pintu balkon untuk menikmati keindahan sore dengan warna semburat cakrawala di sisi barat dan lukisan gunung di sisi Utara. Tak berapa lama Dev merasakan pelukan suaminya dari belakang, dan tercium aroma harum sabun mandi suaminya.
"Masuklah, disini dingin banyak angin. Nanti kamu sakit." bisik Yudha di telinga Dev. Pikiran Dev seperti melayang, saat hembusan nafas Yudha menyapu telinganya. Tanpa dia sadari, Dev mengalungkan satu tangan di leher suaminya, dan tangan satunya memegang pinggang Yudha. Dev menempelkan pipinya di dada telanjang suaminya.
Sambil tetap berpelukan erat, mereka memasuki kamar dan menutup pintu ke arah balkon.
Dev memberanikan diri mengangkat wajahnya, dan sedikit berjinjit tiba-tiba dia menyentuhkan bibirnya di bibir suaminya. Terkejut Yudha akan tindakan proaktif istrinya, dan untuk memudahkan istrinya Yudha sedikit menurunkan tubuhnya. Ciuman manis yang diinisiasi Dev berlangsung untuk waktu yang lama. Mereka seakan tidak memiliki rasa capai dan bosan terus menyatukan lidah dan bibir untuk menikmati rasa manis bersama.
Tanpa mereka sadari handuk yang melilit bagian bawah Yudha sudah teronggok lepas di lantai. Yudha tiba-tiba berbisik lembut di telinga istrinya.
"Dev istriku... apakah kamu sadar kalau aku tidak mengenakan apapun."
Dengan tubuh serasa mengalirkan listrik dan getaran, akhirnya Dev menengok ke bawah. Akhirnya dengan muka memerah menahan malu, Dev berusaha melepaskan pelukannya dan ingin bersembunyi di kamar mandi.
Tapi tangan Yudha reflek mencegah istrinya lari meninggalkannya.
"Kamu yang mulai membangunkan ular di dalam tubuhku, saatnya kamu yang harus menidurkannya kembali," bisik mesra Yudha kembali mengisi telinga Dev.
"Aku belum mandi." ucap Dev lirih malu-malu.
Tanpa menjawab, Yudha mengangkat tubuh Dev dengan bridal style dan membawanya ke kamar mandi. Di bawah guyuran shower, Yudha tidak ada puasnya memainkan setiap jengkal kulit lembut istrinya. Akhirnya setelah bermain-main untuk waktu yang cukup lama, keduanya melakukan penyatuan dan pelepasan bersama. Dev merasa lemas dan lelah di semua badannya.
Yudha dengan lembut membungkus tubuh istrinya dengan handuk, kemudian mengangkatnya dan membaringkan tubuh istrinya di atas king size bed. Setelah melepas handuk yang melilit di tubuh Dev, Yudha menyelimuti dan mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Istirahatlah dulu, aku akan memesan makanan dan menunggu Pratama di sofa untuk mengantarkan pakaian."
Dev menganggukkan kepala, kemudian mulai memejamkan matanya. Yudha merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia dapatkan selama ini. Sejenak dia menatap istrinya yang sudah terlelap di sampingnya.
"Terimakasih sayang atas kebahagiaan ini."
Yudha menunggu Pratama di sofa sambil membuka laptop untuk memeriksa pekerjaan yang tadi dia tinggalkan. Kamar kelas Presidential suite ini memiliki ruang tamu sendiri yang berisi dua sofa yang saling berhadap-hadapan.
*****
"Boss itu tambah hari tambah Bucin. Apa coba maksudnya menyuruh seorang lajang untuk datang ke kamar hotel yang sedang digunakan untuk bulan madu."
"Apa memang mereka mau menyiksaku." Pratama mengumpat dalam hati.
Yudha tiba-tiba menelponnya untuk datang ke hotel. Yang lebih parah adalah dia diminta membawakan baju ganti untuk dirinya dan juga untuk Dev. Baju yang diminta lengkap sepaket dengan pakaian dalam.
Sesampainya di depan pintu kamar hotel, Pratama menekan pintu. Tidak berapa lama Yudha yang menggunakan pakaian kimono handuk membukakan pintu.
"Selamat malam boss," sapanya sambil meletakkan paper bag berisi makanan di atas meja dan satu tas troly ukuran kabin di bawah sofa.
"Duduklah dulu." perintah Yudha. Pratama akhirnya duduk di atas sofa, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tapi dia tidak menemukan Dev, jika dia menemukannya Pratama sudah memiliki rencana untuk menggoda Dev.
"Jaga matamu, apa yang kamu lihat,"
"Awas kalo kamu melihati istriku. Dia baru saja tertidur lelap, maklum kecapaian karena kita baru saja selesai bekerja keras." ucap Yudha yang bermaksud untuk pamer dan memanasi hati Pratama.
Pratama merasa muak mendengar kesombongan Yudha. Dia hanya diam tidak membalasnya ocehan bossnya.
"Bagaimana kabar perusahaan, dan kabar si cecunguk Wijaya." tanya Yudha geram.
"Perusahaan aman, dan mengenai Wijaya kabarnya malam ini dia sudah kembali ke Jakarta."
"Mengenai jatah Direksi untuk keluarga Hendarto, sepertinya bukan Wijaya yang akan menduduki, tetapi anak pak Hendarto yang lain. Dan anak pak Hendarto katanya seorang perempuan."
"Syukurlah kalau begitu, sainganku berkurang satu."
"Kemudian untuk rencana dua Minggu ke depan kepergian boss dan Nyonya Muda ke kota "P" di Sumatera Selatan, semua sudah terkondisi."
"Tiket penerbangan dan kamar hotel sudah disiapkan oleh orang kita dari cabang perusahaan yang ada disana."
"Mengenai informasi tentang papa Nyonya Muda, ternyata saat ini beliau dalam keadaan sakit dan sedang opname di Rumah Sakit Swasta milik PT. Pertamina. Tbk."
"Sakit?"
"Iya boss, dan sepertinya Nyonya Muda belum tahu kalau papanya dalam keadaan sakit." lanjut Pratama.
"Dev akan sedih jika dia tahu papanya sedang sakit."
"Pratama, reschedull keberangkatanku ke kota "P", geser di weekend ini. Aku tidak akan membiarkan Dev menyesal karena terlambat mengetahui keadaan papanya." instruksi Yudha mendadak.
"Siap boss."
"Apa lagi yang bisa saya lakukan boss."
"Cukup, pergilah sekarang. Aku akan melanjutkan permainan dengan istriku yang imut." kata Yudha tidak tahu malu mengusir Pratama pergi.
Dengan menaham rasa geram akan rasa narsisme Yudha, Pratama segera pergi meninggalkan ruangan itu. Dia merasa seperti habis manis sepah dibuang.
******